NovelToon NovelToon
Dulu Pemulung Kini Raja Dua Dunia

Dulu Pemulung Kini Raja Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Prajurit terdepan yang membawa perisai kayu berlapis tembaga itu langsung terpental ke belakang.

Brak!

Peluru tajam kaliber tujuh koma dua enam itu menembus perisai kayu mereka seperti menembus kertas tisu yang basah.

Zirah besi kasar yang mereka banggakan langsung berlubang ditembus timah panas dengan sangat mudah.

"Aaaakh!"

"Tolong! Perutku berlubang!"

Jeritan kesakitan dan kematian langsung menggantikan suara teriakan perang mereka dalam hitungan detik.

Puluhan prajurit di barisan depan ambruk ke tanah dengan tubuh bersimbah darah sebelum mereka sempat menyentuh gerbang desa.

Barata yang masih duduk di atas kudanya terbelalak melihat pasukannya dibantai dari jarak jauh tanpa ampun.

"Apa yang terjadi? Senjata sihir apa yang memuntahkan petir kecil itu!" teriak Barata panik menarik tali kekang kudanya.

Kudanya meringkik ketakutan mendengar suara letusan senapan api yang sangat bising dan asing di telinganya.

Ratatatata! Dor!

Hujan peluru gelombang kedua kembali ditembakkan oleh Boris dan kawan-kawan yang mulai ketagihan membunuh.

Mereka melihat betapa mudahnya prajurit sombong kerajaan itu jatuh ke tanah tanpa bisa membalas satupun serangan.

"Mati kalian semua anjing kerajaan! Rasakan petir murka dari Dewa kami!" teriak Boris tertawa histeris sambil terus menembak.

Barisan prajurit yang tersisa langsung menghentikan lari mereka dan berbalik arah dengan wajah pucat pasi.

Mereka menjatuhkan perisai dan tombak mereka ke tanah agar bisa berlari kabur lebih cepat.

"Lari! Mundur! Sihir mereka terlalu kuat!" teriak salah satu komandan pasukan yang bahunya tertembak.

Barata mencoba mengendalikan pasukannya tapi kudanya yang panik malah melempar tubuh jenderal itu ke tanah.

Bruk!

Barata jatuh terguling dengan baju zirah peraknya kotor oleh tanah lumpur yang bercampur darah pasukannya sendiri.

Ia merangkak ketakutan dan bersembunyi di balik sebuah batu besar tidak jauh dari gerbang desa.

"Berhenti menembak! Hemat peluru kalian," perintah Raka mengangkat tangannya ke atas.

Suara letusan senapan langsung berhenti menyisakan suara rintihan kesakitan dari puluhan prajurit yang sekarat di tanah.

Asap mesiu mengepul tipis dari atas tembok beton menciptakan bau belerang yang menyengat hidung.

Raka melihat ke arah batu besar tempat Jenderal Barata bersembunyi dengan senyum mengejek.

"Hei Jenderal pengecut! Tadi kau bilang mau memenggal kepalaku kan?"

Raka menunjuk batu itu dengan laras senapannya yang masih panas.

"Keluar dari persembunyianmu dan maju kemari sendirian kalau kau benar-benar ksatria berdarah murni."

Barata mengintip dari balik batu itu dengan tubuh gemetar ketakutan melihat puluhan mayat pasukannya.

Baru beberapa menit yang lalu ia merasa paling berkuasa di dunia, sekarang ia merasa lebih rendah dari cacing tanah.

"T-tolong jangan bunuh aku Tuan Sihir! Aku cuma mengikuti perintah raja untuk mencari ginseng itu!" mohon Barata dengan suara parau.

Raka melompat turun dari atas tembok beton setinggi tiga meter itu dengan gerakan yang sangat ringan.

Tap.

Raka mendarat di luar gerbang dan berjalan santai mendekati batu tempat Barata bersembunyi.

Sepuluh penembak jitu desa di atas tembok langsung bersiaga menodongkan senjata mereka melindungi dewa pujaan mereka.

"Keluar sekarang atau kuhancurkan batu ini beserta kepalamu Jenderal," ancam Raka berhenti sepuluh langkah dari batu itu.

Barata perlahan merangkak keluar dari balik batu dan langsung bersujud di tanah menanggalkan semua harga dirinya.

Zirah peraknya yang mengkilap kini terlihat sangat menyedihkan di depan kaos oblong putih yang dipakai Raka.

"Ampuni nyawaku Tuan Dewa, aku bersedia memberikan apapun asal kau membiarkanku hidup pulang ke kota," tangis Barata memelas.

Raka menendang pedang besar milik Barata yang terjatuh di dekatnya hingga terlempar jauh.

"Aku tidak butuh hartamu Jenderal, aku punya uang lebih banyak dari yang bisa dibayangkan rajamu itu."

Raka menempelkan moncong senapan AK-47 yang masih hangat itu tepat ke dahi Barata.

"Tapi aku butuh seseorang untuk mengirimkan pesan singkat pada rajamu yang tamak itu."

Barata menelan ludah paksa merasakan ujung besi panas menempel di kulit dahinya.

"P-pesan apa Tuan Dewa? Aku akan menyampaikannya kata demi kata pada raja," janji Barata cepat.

"Katakan pada rajamu, desa ini sekarang adalah wilayah suci milikkku dan siapapun yang melanggar batas akan bernasib sama seperti pasukanmu ini."

Raka menunjuk lautan mayat prajurit yang bersimbah darah di sekeliling mereka dengan pandangan dingin.

"Dan kalau raja bodohmu itu masih berniat mengirim pasukan lagi, aku sendiri yang akan datang meratakan istananya dengan petir langitku."

Barata mengangguk kuat-kuat beberapa kali seperti burung pelatuk yang sedang mematuk pohon.

"Aku mengerti Tuan Dewa! Aku berjanji raja tidak akan pernah mengganggu desa ini lagi selamanya!"

"Bagus, sekarang bawa sisa pasukanmu yang masih hidup dan pergi dari pandanganku sebelum pelatuk ini kutarik."

Raka menjauhkan laras senapannya dari dahi Barata dan membalikkan badannya berjalan kembali ke arah gerbang.

Barata buru-buru bangkit berdiri dan berlari terbirit-birit menjauh memanggil sisa pasukannya yang bersembunyi.

Tidak ada rasa malu lagi di wajah jenderal itu, yang ada hanyalah insting untuk bertahan hidup dari monster berbaju aneh ini.

Pintu gerbang desa dibuka dari dalam dan Raka melangkah masuk disambut sorak sorai kemenangan dari seluruh warga.

"Hidup Dewa Raka! Hidup pelindung abadi kita!"

Suara teriakan puja-puji itu menggema menembus langit desa yang mendung seolah mengusir awan kelabu.

Boris dan Karta berlari turun dari tembok dan langsung memeluk kaki Raka dengan air mata kebahagiaan.

Mereka yang awalnya ragu kini benar-benar yakin bahwa dewa mereka adalah entitas paling kuat di seluruh benua ini.

Lin berdiri di kejauhan memegang keranjang buah dengan senyuman paling manis yang pernah ia buat.

Raka menatap senjatanya yang sedikit kotor oleh asap mesiu lalu tersenyum puas.

"Senjata dari dunia modern memang selalu bisa diandalkan untuk menundukkan dunia kuno."

Dengan ancaman kerajaan yang berhasil ditumpas telak hari ini, monopoli ginseng di desa ini sudah terjamin keamanannya seratus persen.

Tidak akan ada lagi bandit gunung atau tentara kerajaan yang berani menyentuh sehelai rumput pun di dekat tembok beton ini.

Raka merasa tugasnya membangun fondasi pertahanan di dunia kuno sudah selesai untuk sementara waktu.

[Pemberitahuan Sistem: Wilayah Kekuasaan Dunia Kuno berstatus Aman Mutlak.]

[Otoritas Dewa Naga meningkat. Pengguna kini diakui sebagai entitas penguasa wilayah sejati.]

Layar biru transparan muncul berkedip memberikan konfirmasi atas keberhasilan Raka mendominasi medan perang perdananya.

"Sekarang saatnya fokus mengurus Kevin dan grup bisnis sialannya di dunia nyata," batin Raka merencanakan langkah selanjutnya.

Pelelangan sudah membuktikan kelemahan Kevin, tapi Raka butuh pukulan mematikan untuk menghancurkan Grup Naga Mas sampai ke akar-akarnya.

Dan Raka tahu persis Sasa pasti sudah menyiapkan rencana licik lainnya di kantor farmasinya saat ini.

1
Astiana 💕
🤣🤣Astaga, aku ngakak di bagian ini
kiyoe: hehehe 🙏👍
total 1 replies
Was pray
gak punya harta hidup sengsara karena sulit untuk makan, setelah kaya hidupnya gak semakin nyaman tapi semakin runyam, kamu terlalu mengumbar kekayaannya didepan publik Raka apa gunanya punya harta banyak tapi hidup selalu was was ? langkah awalmu di pelelangan gingseng dengan memunculkan identitas sebagai pemilik gingseng adalah kesalahan besar mu, sehingga kamu jadi incaran para mafia konglomerat,sifat Sik pamer adalah bumerang
Was pray
kuat dan pintar itu syarat utama sukses Raka. kaya aja gak cukup, otot dan otak bersinergi akan menghasilkan manusia tangguh
Was pray
satu keteledoran Raka lagi, membawa karung gingseng di depan publik
Was pray
aku kasih like kalau Raka udah cerdas gak blo'on lagi
Was pray
makanya belajar cerdas Raka, jangan miskin ganda , miskin harta dan miskin ilmu. harta mu akan musnah sia2 kalau kamu terlalu polos, kamu jadi ATM berjalan bagi orang yg rakus seperti sasa
Was pray
menang goblog si Raka ini, ngapain seratus gingseng langsung dikeluarkan bersamaan!? kalau langsung banyak ya kamu gak bisa main harga.... ah dasar jiwa miskin ya tetap miskin.... otaknya juga miskin
Was pray
kamu dibodohi dan diperalat Sasa gak nyadar kah Raka? berpikir mu terlalu pendek
Was pray
sasa lebih kejam dari preman pasar, dada mafia kelas kakap yg berkedok pengusaha kalau raka tetap polos tentang dunia mafia ya bisa mati jadi rempeyek...
Rifqy Channel
kok aku makin gak suka ya sama sasa itu selalu saja dipantau terus mana lagi disogok tuh 😒😒😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!