NovelToon NovelToon
JANJI ULAR PUTIH (IKRAR ABADI)

JANJI ULAR PUTIH (IKRAR ABADI)

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:222
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Lian Yue terbangun tanpa ingatan dan segera menyadari dirinya bukan manusia biasa. Di sisi lain, Shen Rui adalah pemburu siluman yang sejak kecil diajarkan untuk membunuh Ular Putih.

Namun saat mereka bertemu, keduanya justru merasa seolah pernah saling mengenal.

Sedikit demi sedikit, terungkap bahwa selama seribu tahun mereka selalu dipertemukan, jatuh cinta, lalu dipisahkan oleh kematian.

Kini Lian Yue dan Shen Rui harus memilih: tunduk pada kutukan lama, atau melawan takdir demi satu kehidupan bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: JANGAN BIARKAN DIA MELIHAT BULAN

Malam makin larut di Desa Wuxi, menyisakan derit kayu gubuk yang terus dihantam hawa dingin dari luar. Di dalam ruangan temaram itu, Shen Rui belum juga memejamkan mata. Ia duduk bersandar di kursi kayu dekat pintu, memangku pedangnya yang terbungkus kain. Matanya yang tajam menatap tidak lepas ke arah tempat tidur, memperhatikan setiap helai napas dari perempuan misterius yang kini tertidur lelap.

Reaksi sisik kristal perak di pergelangan tangan perempuan itu beberapa saat lalu terus membakar isi pikiran Shen Rui. Mengapa seorang siluman yang memancarkan esensi murni ular putih tidak memiliki ingatan, tidak menunjukkan hawa membunuh, dan yang paling membingungkan—mengapa Pedang Zhaoyang milik Paviliun Tianjian enggan merobek tenggorokannya?

Suara ketukan halus pada pintu gubuk mendadak mengagetkan lamunan Shen Rui.

Tuk. Tuk. Tuk.

Ketukan itu pelan, nyaris tenggelam oleh desis angin malam, tetapi bagi indera seorang pemburu bertaraf tinggi seperti Shen Rui, getaran itu sangat jelas. Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, Shen Rui bangkit dari duduknya. Jemari tangan kanannya langsung mengunci gagang pedang di pangkuannya, sementara tangan kirinya perlahan membuka selot kayu pintu.

Pintu terbuka sedikit. Di luar gubuk, berdiri seorang nenek tua warga desa. Tubuhnya bungkuk, terbungkus kain linen kusam bersulam benang hitam yang sudah aus. Nenek itu membawa sebatang tongkat kayu jati yang dipasang lentera minyak kecil di ujungnya. Wajahnya yang keriput seperti kulit kayu tua tampak tegang, sementara mata kaburnya menatap lurus ke dalam gubuk—tepat ke arah tempat tidur di mana sang perempuan terbaring.

"Tuan Pemburu..." suara nenek itu gemetar, serak dan penuh kewaspadaan yang tidak wajar.

Shen Rui menggeser tubuhnya sedikit, menghalangi pandangan nenek tua itu ke dalam ruangan. "Nenek? Ini sudah tengah malam. Ada keperluan apa kau mendatangi gubuk ini?"

Nenek tua itu tidak langsung menjawab. Ia justru mendekatkan kepalanya, menghirup udara di sekitar celah pintu dengan hidungnya yang kempot. Bau minyak bunga yang lembut bertaut di udara, membuat mata tua nenek itu melotot mendadak.

"Gadis itu..." bisik sang nenek seraya mencengkeram lengan baju jubah Shen Rui dengan jarinya yang kurus kering bagai cakar burung. "Gadis yang kau bawa dari lereng Wuyin... dia bukan manusia biasa, bukan?"

Mata Shen Rui menyempit dingin. "Itu bukan urusan warga desa. Pergilah kembali ke rumahmu."

"Dengarkan orang tua ini, Tuan Pemburu!" desak nenek itu lebih keras, suaranya naik satu nada penuh ketakutan yang mendalam. "Empat puluh tahun lalu, sewaktu aku masih kecil, legenda Gunung Wuyin pernah memakan korban seluruh rombongan pedagang di Lembah Karang. Mereka menemukan seorang perempuan bergaun putih tergeletak di tengah salju... sama seperti yang kau temukan hari ini!"

Shen Rui menegang. "Lalu?"

"Malam ini adalah malam transisi puncak," potong sang nenek, jarinya menunjuk ke arah langit malam di atas gubuk. "Awan kelabu di atas Wuyin sebentar lagi akan tersapu angin. Bulan purnama perak akan menyinari seluruh lereng ini. Jika kau ingin perempuan itu tetap berwujud manusia... jangan biarkan dia melihat bulan!"

"Apa maksudmu?" Shen Rui menatap tajam.

"Cahaya bulan purnama adalah pemantik esensi murni siluman ular!" bisik nenek itu ketakutan. "Jika terpaan sinar bulan menyentuh matanya sebelum ingatannya kembali, jiwa manusianya akan tergerus oleh racun naluri binatangnya. Dia akan berubah menjadi monster yang menghancurkan apa saja di depannya!"

Sebelum Shen Rui sempat mempertanyakan lebih jauh, nenek tua itu mendadak melepaskan cengkeramannya pada baju Shen Rui. Dengan langkah terburu-buru dan napas terengah-engah, ia berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan lorong desa, meninggalkan bunyi gemeretak tongkat kayunya yang menjauh cepat.

Shen Rui berdiri terpaku di ambang pintu. Kata-kata sang nenek bergema liar di kepala sang pemburu. Ia melangkah keluar gubuk sejenak, mendongak menatap langit.

Benar saja. Awan tebal yang sejak tadi membungkus puncak Gunung Wuyin dan Desa Wuxi mulai terbelah oleh tiupan angin utara. Pendar perak bulan purnama—bulat sempurna dan memancarkan cahaya dingin yang ganjil—perlahan menembus celah awan hitam, meluncur deras menembus kegelapan malam.

Kring!

Tiba-tiba, suara retakan halus terdengar dari dalam gubuk.

Shen Rui langsung memutar tubuhnya dan menerobos masuk ke dalam ruangan. "Buka matamu!" serunya tegas.

Namun tempat tidur kayu itu sudah kosong.

Kain linen kasar terlempar ke lantai, sementara jendela kayu gubuk di sudut ruangan telah terbuka lebar, melambai-lambai dihantam angin malam yang dingin. Kehangatan aroma minyak bunga yang tadi memenuhi gubuk mendadak lenyap, berganti dengan aroma pekat tanah basah dan qi misterius yang berhembus kencang menuju arah rimba tua di luar desa.

Perempuan itu telah menghilang tanpa jejak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!