NovelToon NovelToon
Sang Duke Inggris yang Kupanggil Daddy

Sang Duke Inggris yang Kupanggil Daddy

Status: tamat
Genre:Romantis / Dark Romance / Sugar daddy / Healing / Beda Usia / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Nadira Prameswari hanya ingin pulang malam itu. Namun hujan London turun tanpa ampun, kereta terakhir sudah berangkat, dan mahasiswi seni asal Indonesia berusia dua puluh satu tahun itu terjebak sendirian dalam keadaan basah kuyup dan menggigil.
Lalu sebuah Rolls-Royce hitam berhenti di hadapannya.
“Masuklah. Di luar dingin.”
Pria di kursi belakang itu bukan sekadar orang kaya. Caesar Leicester, tiga puluh tahun, adalah seorang hereditary Duke—pewaris dinasti old money Inggris, pemilik mansion berusia ratusan tahun, dan lelaki berdarah biru yang dipanggil Your Grace oleh seluruh kalangan elite London.
Seharusnya pertemuan mereka berakhir setelah satu tumpangan. Namun keesokan harinya, pemanas apartemen Nadira sudah diperbaiki. Sarapan hangat menunggunya. Rolls-Royce milik Caesar kembali muncul di depan kampus, seolah menjemput Nadira telah menjadi bagian dari jadwal sang Duke.
Caesar selalu tenang, sopan, dan nyaris tak tersentuh. Tetapi ketika hanya ada mereka berdua, tatapannya menjadi lebih gelap, sentuhannya semakin berani, dan kendalinya retak setiap kali satu panggilan manja meluncur dari bibir Nadira.
“Daddy…”
Bagi dunia, Caesar Leicester adalah Your Grace.
Bagi Nadira, dia adalah lelaki yang memanjakannya tanpa batas, melindunginya dengan seluruh kekuasaan keluarga Leicester—dan menginginkannya dengan hasrat yang tak pernah ia berikan kepada perempuan mana pun.
Caesar tidak berhenti di tengah hujan untuk membiarkan Nadira pergi. Begitu sang British Duke menemukan perempuan yang diinginkannya, ia berniat menjadikannya miliknya, rumahnya, dan satu-satunya Duchess di sisinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3

Kebetulan Searah

Malam itu Nadira Prameswari tidak bisa tidur nyenyak.

Pemanas kamarnya rusak. Udara di dalam apartemen sedingin ruang es, membuatnya meringkuk di sudut ranjang dengan dua lapis selimut dan terbangun berkali-kali. Setiap kali membuka mata, tangan dan kakinya terasa dingin. Ia harus lama-lama bersembunyi di balik selimut sebelum bisa tertidur lagi.

Alarm membangunkannya selepas pukul tujuh pagi.

Begitu keluar dari selimut, udara dingin langsung menerpa wajahnya dan membuat seluruh tubuhnya menggigil. Nadira buru-buru menarik sweter, lalu mengenakan mantel di atasnya hingga tubuhnya terbungkus tebal.

Saat mencuci muka, ia melihat bayangannya di cermin. Rambutnya kusut, ada lingkaran samar di bawah mata, dan wajahnya tampak pucat. Ia menepuk-nepuk pipinya agar terlihat sedikit lebih segar.

Pagi ini ada kelas. Ia tidak boleh terlambat.

Nadira mengemasi barang-barangnya dan baru menyadari hujan masih turun ketika tiba di pintu gedung apartemen. Hujannya lebih ringan daripada tadi malam, tetapi udara tetap menusuk. Ia membuka payung hitam bergagang panjang itu, lalu berjalan menuju stasiun kereta bawah tanah.

Payung tersebut cukup berat. Pegangannya terasa kokoh, dan kanopinya begitu lebar hingga melindungi seluruh tubuhnya dari hujan.

Sambil berjalan, Nadira menatap payung di tangannya dan teringat bahwa benda itu milik pria semalam.

Ia harus mencari cara untuk mengembalikannya hari ini.

Namun, ia bahkan tidak tahu nama pria itu.

Nadira merasa kesal pada dirinya sendiri. Semalam ia terlalu sibuk mengucapkan terima kasih sampai lupa menanyakan nama. Di ponselnya pun kontak pria itu hanya tersimpan sebagai “Tuan”. Ia bahkan tidak tahu nama keluarganya.

Setibanya di kampus, Nadira lebih dulu menaruh tugas di studio, lalu masuk kelas.

Profesor menjelaskan teori warna. Nadira mencatat beberapa poin penting, tetapi pikirannya terus melayang ke hal lain—misalnya ucapan pria itu, “Besok akan kusuruh seseorang memeriksa pemanasmu.”

Entah pemanasnya sudah diperbaiki atau belum. Saat berangkat pagi tadi, kamar masih dingin dan ia tidak sempat menghubungi pemilik apartemen.

Selepas kelas siang, Nadira menyampirkan tas di bahunya dan berjalan menuju gerbang kampus. Ia berniat membeli makan siang di kedai sandwich dekat sana, lalu kembali ke studio untuk melanjutkan lukisan.

Hujan belum berhenti. Tidak deras, tetapi cukup untuk membasahi pakaian jika ia tidak memakai payung.

Nadira membuka payung dan berjalan keluar sambil menundukkan kepala.

Di dekat gerbang, sudut matanya menangkap sebuah mobil yang terparkir di tepi jalan.

Hitam, besar, dan nyaris tanpa suara.

Awalnya ia tidak memedulikannya. Mobil yang menjemput mahasiswa sering berhenti di depan kampus. Namun, setelah berjalan dua langkah, Nadira merasa ada sesuatu yang tidak beres. Mobil itu tampak… tidak asing.

Ia berhenti dan menoleh.

Bodi hitam dengan garis-garis sederhana, bersahaja, tetapi jelas memiliki kemewahan yang mahal.

Rolls-Royce.

Mobil yang sama dengan yang ditumpanginya semalam.

Nadira terpaku di tengah hujan, memegang payung hitam itu dan memandangi mobil di tepi jalan dengan pikiran kosong.

Mengapa mobil itu ada di sini lagi?

Kebetulan?

Saat ia masih berdiri kebingungan, jendela kursi belakang turun perlahan.

Wajah rupawan yang nyaris tidak masuk akal itu kembali muncul di hadapannya. Sepasang mata biru keabu-abuan menatapnya. Ekspresi pria itu tetap tenang, tetapi suaranya lembut.

“Kelasmu sudah selesai?”

Nadira membuka mulut. Butuh beberapa saat sebelum ia berhasil menjawab, “…Sudah.”

“Masuklah. Aku akan mengantarmu pulang.”

Nadira berkedip dan tidak bergerak.

Ada ribuan pertanyaan di kepalanya. Apakah pria itu sengaja datang mencarinya? Namun ia tidak berani menanyakannya begitu saja. Pria itu telah menolongnya; tidak pantas jika ia malah menginterogasinya.

“Maaf… kenapa Anda berada di sini?” akhirnya ia memilih pertanyaan yang paling aman.

“Kebetulan searah,” jawab pria itu. “Aku ada rapat di dekat sini.”

Nadira memandang mobil itu, lalu menatapnya lagi.

Kebetulannya terlalu tepat.

Tetapi ia terlalu sungkan untuk bertanya lebih jauh. Ia mengangguk, membungkuk, lalu masuk ke mobil.

Bagian dalam mobil masih sehangat semalam dan tetap dipenuhi aroma cedar yang menenangkan. Nadira tidak setegang sebelumnya, meski ia juga belum berani benar-benar santai. Ia duduk rapi dengan kotak peralatan lukis di dekat kakinya.

“Sudah makan?” tanya pria di sebelahnya.

Nadira menggeleng. “Belum. Saya hendak membeli sandwich, lalu kembali ke studio.”

Pria itu mengernyit tipis. Gerakannya begitu cepat hingga nyaris tak terlihat.

“Makanlah lebih dulu.” Ia mengambil sebuah kantong kertas dari kompartemen di depan, lalu menyerahkannya. “Baru dibeli. Masih hangat.”

Nadira tertegun sebelum menerima dan membukanya.

Di dalamnya ada dua sandwich dan sekotak kecil buah yang tampak segar. Logo pada pembungkus sandwich berasal dari kedai yang biasa ia datangi—kedai di dekat kampusnya.

Ia mengangkat wajah dan menatap pria itu.

Ekspresinya tetap datar, seolah ia hanya memberikan sarapan yang kebetulan dibelinya, bukan makanan yang jelas-jelas dipilih dengan perhatian.

“Terima kasih,” ucap Nadira pelan. Ia mengambil satu sandwich dan menggigitnya.

Masih hangat dan rasanya enak.

Ia memang kelaparan. Tadi malam ia nyaris tidak makan, sementara pagi ini ia bangun terlambat dan melewatkan sarapan. Kehangatan makanan membuat seluruh tubuhnya terasa jauh lebih nyaman.

Nadira makan dengan tenang, menggigit sedikit demi sedikit hingga pipinya mengembung seperti hamster kecil.

Pria di sebelahnya melirik sekali, lalu mengalihkan pandangan.

Kabinnya hening. Hanya terdengar suara kecil saat Nadira mengunyah.

Setelah ia menghabiskan satu sandwich, pria itu mengambil termos, membuka tutupnya, lalu menuangkan minuman ke dalam sebuah cangkir dan menyodorkannya.

“Minumlah.”

Nadira menerimanya. Teh hitam.

Cangkir porselen putih itu hangat di telapak tangannya. Cairan berwarna kuning tua mengepulkan uap dan menguarkan aroma teh yang kaya—jelas bukan teh celup biasa.

Ia meniupnya perlahan dan menyesap sedikit.

Teh hangat meluncur melewati tenggorokannya. Kehangatannya menyebar dari perut, seolah akhirnya mengusir sisa dingin yang meresap ke tubuhnya sejak semalam.

“Enak,” katanya pelan. Matanya melengkung saat tersenyum.

Pria itu memandang senyumnya. Jari-jarinya bergerak sedikit di atas lutut.

“Syukurlah kalau kau suka.” Suaranya tetap tenang, tetapi terdengar lebih lembut.

Nadira memegang cangkir dengan kedua tangan dan minum sedikit demi sedikit. Pemanas mobil menghangatkannya, teh panas menghangatkan jemarinya, dan di sampingnya duduk seorang pria yang entah mengapa membuatnya merasa aman.

Tiba-tiba, malam yang nyaris membekukannya itu tidak lagi terasa begitu berat.

“Soal pemanas…” Nadira ragu sejenak. “Apakah Anda yang mengirim orang untuk memperbaikinya?”

“Ya.”

“Saat saya pergi pagi tadi, kamarnya masih dingin. Saya belum tahu apakah sudah diperbaiki.”

“Sudah,” jawab pria itu dengan pasti. “Orangnya datang pagi ini. Sekarang pemanasmu seharusnya menyala.”

Nadira menatapnya. Sebuah perasaan yang sulit dijelaskan memenuhi dadanya.

Pria itu bukan hanya mengirim orang untuk memperbaikinya, tetapi juga memastikan semuanya selesai. Masalah yang bahkan belum sempat ia urus sendiri telah dibereskan untuknya.

“Terima kasih,” kata Nadira sungguh-sungguh, suaranya semakin lembut. “Saya benar-benar sudah merepotkan Anda.”

“Tidak merepotkan.” Pria itu berhenti sejenak sebelum menambahkan, “Kau sendirian di sini dan tidak ada yang menjagamu. Kalau aku bisa membantu, akan kubantu.”

Ucapan itu sederhana, tetapi hidung Nadira mendadak terasa perih.

Tidak ada yang menjaganya.

Memang benar. Ia sendirian di kota ini. Ketika sakit, ia menahannya sendiri. Ketika kedinginan, ia juga menghadapinya sendiri. Saat lapar, ia makan seadanya.

Nadira tidak pernah merasa ada yang salah. Tinggal jauh dari keluarga adalah pilihannya, jadi ia tidak ingin mengasihani diri sendiri.

Namun, tiba-tiba ada seseorang yang menyadari bahwa ia sendirian, lalu diam-diam mengurus begitu banyak hal untuknya.

Nadira menundukkan kepala dan menatap teh di tangannya. Matanya terasa panas.

“Ada apa?” tanya pria di sampingnya.

“Tidak, tidak apa-apa.” Nadira menarik napas kecil, mengangkat wajah, lalu tersenyum. “Tehnya sangat enak.”

Pria itu memandangnya selama dua detik tanpa mengatakan apa pun.

Mobil berhenti di depan gedung apartemen.

Nadira mengembalikan cangkir, membereskan barang-barangnya, lalu bersiap turun.

“Bawa payungnya,” terdengar suara dari belakang. “Di luar masih hujan.”

Nadira ingin mengatakan bahwa payung itu memang milik pria tersebut, tetapi urung. Ia menggenggam gagang payung dan menoleh sebelum membuka pintu.

Pria itu duduk di kursi belakang. Rambut pirang gelapnya tampak lebih lembut di bawah cahaya kabin, sementara mata biru keabu-abuannya tertuju kepadanya.

“Tuan,” panggil Nadira untuk pertama kalinya secara langsung, “nama saya Nadira. Keluarga dan teman dekat biasa memanggil saya Dira.”

Telinganya memerah setelah memperkenalkan diri.

Pria itu mengangguk tipis. Sudut bibirnya membentuk lengkung yang nyaris tidak terlihat.

“Aku tahu sekarang, Nadira.”

Jantung Nadira seperti melewatkan satu detak.

Pria itu menyebut namanya dengan pengucapan yang hati-hati, seolah nama itu layak diperlakukan sebagai sesuatu yang berharga.

“Orang-orang di London biasanya memanggil saya Nadia,” katanya malu-malu.

“Kalau begitu, aku merasa terhormat menjadi orang pertama di sini yang memanggilmu Nadira.”

Dengan telinga merah, Nadira turun dari mobil. Ia berdiri di bawah payung, memandangi Rolls-Royce hitam itu hingga menjauh di tengah hujan.

Kali ini ia sempat melihat pelat nomornya. Sangat pendek—hanya satu huruf dan beberapa angka—dan tampak sama istimewanya dengan pemilik mobil tersebut.

Nadira tetap berdiri beberapa saat, mengulang cara pria itu mengucapkan namanya di dalam hati, lalu berbalik menuju apartemen.

Begitu membuka pintu, gelombang udara hangat menyambutnya.

Radiatornya panas. Seluruh kamar telah kembali hangat.

Nadira berdiri di ambang pintu, memandangi radiator itu, lalu tersenyum tanpa sadar.

Ia mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan kepada kontak yang masih tersimpan sebagai “Tuan”.

“Pemanasnya sudah diperbaiki. Terima kasih.”

Beberapa detik kemudian, balasan masuk.

“Ya. Besok siang aku akan menjemputmu lagi.”

Nadira membaca pesan itu dan detak jantungnya kembali tidak teratur.

Ia mengetik beberapa kata, menghapusnya, mengetik lagi, lalu menghapusnya sekali lagi. Pada akhirnya, ia hanya mengirim jawaban sederhana.

“Baik.”

Setelah pesan terkirim, Nadira mendekap ponsel ke dada, menyandarkan tubuh ke pintu, lalu perlahan duduk di lantai.

Pemanas memenuhi kamar dengan kehangatan, sama sekali berbeda dari ruang dingin semalam.

Nadira menyembunyikan wajah di antara lututnya. Kedua telinganya terasa panas dan merah.

Besok.

Pria itu akan datang lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!