Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.
Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.
Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**
Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.
Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.
Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.
Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15
Masa Lalu di Desa
Hujan turun tepat setelah Isya pada hari kedua puluhku di rumah Adiwijaya.
Aku sudah menyelesaikan pekerjaan ketika listrik taman sempat padam. Bu Nah meminta semua jemuran diperiksa. Setelah mengangkat kain terakhir, aku berteduh di pendopo kecil dekat teras karena hujan berubah deras.
Den Nara berada di sana lebih dulu.
Dia duduk di kursi rotan dengan laptop tertutup, memandang air yang mengalir dari genting. Ruang itu terbuka pada tiga sisi dan terlihat dari jendela ruang keluarga. Aman dari omongan, tetapi cukup jauh dari suara rumah.
"Duduk," katanya. "Hujannya belum reda."
Aku memilih kursi di seberang, bukan di sampingnya.
Beberapa menit kami hanya mendengar hujan. Bau tanah basah mengingatkanku pada Desa Sukorejo, pada jalan becek di depan rumah, dan pada malam ketika aku berlari tanpa sandal.
"Den membaca tentang gudang kayu," kataku akhirnya.
Dia menutup laptop lebih rapat. "Saya tidak akan bertanya kalau kau tidak ingin bicara."
"Saya ingin Den mendengar dari saya, bukan dari laporan."
Tatapannya menetap, tenang. Dia tidak mengatakan siap atau memaksaku mulai. Dia hanya menunggu.
***
Ibu meninggal ketika aku berusia tujuh tahun. Namanya Sari. Setelah itu, rumah tidak lagi punya orang yang menghalangi tangan Bapak.
Ingatan terjelasku tentang Ibu adalah aroma minyak kelapa di rambutnya. Dia biasa menyisihkan bagian telur paling besar untukku, lalu berbohong bahwa dirinya tidak lapar. Ketika demam merenggutnya, Bapak menjual kambing untuk biaya berobat, tetapi uangnya habis sebelum kami sampai rumah sakit kabupaten.
Selama beberapa bulan setelah pemakaman, Bapak masih memelukku saat malam. Lalu duka berubah menjadi minuman, utang, dan marah. Aku belajar memasak sebelum mampu mengangkat panci penuh. Aku belajar membaca suasana dari cara sandalnya dilempar di depan pintu.
Sukir tidak selalu mabuk. Kadang dia pulang membawa gorengan dan memanggilku anak manis. Hari lain, uang habis di warung dan semua yang kulakukan salah. Nasi terlalu lembek. Lantai kurang bersih. Aku terlalu lambat membawa rumput.
"Waktu umur sebelas, saya menjatuhkan kendi," ceritaku. "Bapak mengunci saya di gudang kayu sampai pagi."
Den Nara tidak bergerak, tetapi jarinya mengencang pada sandaran kursi.
"Gelap sekali. Ada tikus. Saya berteriak sampai suara habis. Tetangga mendengar, tapi tidak ada yang datang. Besoknya Bapak membuka pintu dan menyuruh saya berhenti membuat malu keluarga."
"Apa yang kau lakukan di dalam?" tanya Den Nara.
"Menghitung azan. Magrib, Isya, lalu Subuh. Saya mengulang Al-Fatihah supaya tidak mendengar suara tikus. Setelah pintu dibuka, saya minta maaf meski tidak tahu kesalahan saya."
Hujan memukul genting lebih keras. Den Nara menunduk. Saat mengangkat wajah lagi, kemarahan di matanya hampir membuatku berhenti.
"Saya tidak marah kepadamu," katanya, seolah membaca ketakutanku. "Lanjutkan hanya kalau kau sanggup."
Hujan menutup getar suaraku.
Tubuhku mulai sering demam setelah itu. Mbah Sari menemukanku pingsan di pematang dan memberi ramuan. Dia tidak meminta bayaran. Ibu pernah menolongnya melahirkan cucu, jadi katanya dia sedang membalas budi.
Ramuan itu membuatku sehat. Aku bisa bekerja, makan tanpa muntah, dan tumbuh seperti anak lain. Lalu aroma manis muncul ketika aku kenyang.
Awalnya orang menganggapnya lucu. Setelah tubuhku berkembang, nada mereka berubah.
Ibu-ibu bilang aku memakai minyak pemikat. Lelaki di warung bersiul. Bapak memukulku karena seorang lelaki beristri pernah menunggu di jalan, seolah aku yang mengundangnya.
"Mbah Sari bilang bukan salah saya," ucapku. "Tapi setiap hari semua orang mengatakan sebaliknya. Jadi saya belajar lapar. Kalau tubuh saya lemas, baunya berkurang. Kalau pakaian saya kusam dan longgar, orang lebih jarang melihat."
"Kau masih anak-anak," kata Den Nara. Suaranya rendah dan tajam.
"Di desa, tubuh perempuan tumbuh lebih cepat daripada belas kasihan orang."
Dia memalingkan wajah ke hujan. Rahangnya kaku.
Aku melanjutkan sebelum keberanian hilang.
Ketika berusia dua puluh dua, utang Bapak semakin banyak. Seorang kreditur itu menawarkan melunasi sebagian jika aku menikah dengannya. Usianya lebih tua daripada Bapak dan sudah pernah menikah dua kali.
Aku menolak. Bapak mengambil ponsel dan mengurungku tiga hari. Bu Tumi datang membawa beras, melihat jendela kamarku dipaku dari luar, lalu diam-diam menyelipkan kunci dan uang bus.
Kreditur itu datang pada hari kedua membawa kain kebaya merah dan gelang emas. Dia meminta melihatku berjalan, lalu berkata kepada Bapak bahwa tubuhku cocok melahirkan banyak anak. Aku berdiri di balik pintu mendengar mereka menawar jumlah utang seperti menawar sapi.
Malamnya, Bapak memaksaku mencoba kebaya. Aku merobek bagian lengan saat melawan. Dia menamparku, lalu berkata tidak ada lelaki lain yang mau menerima perempuan pembawa aib seperti aku.
Bu Tumi melihat bekas jari di wajahku keesokan harinya. Saat itulah dia berhenti menasihati agar aku sabar dan mulai merencanakan jalan keluar.
Malam sebelum akad yang mereka rencanakan, aku keluar lewat dapur, memanjat tembok, dan lari ke jalan raya. Tas kanvas sudah kusembunyikan di kebun singkong.
"Bapak mengejar?" tanya Den Nara.
"Saya dengar motor setelah sampai jalan. Saya masuk ke bak pikap sayur sampai terminal. Bu Tumi menunggu di sana."
"Mengapa kau tidak melapor?"
Aku tersenyum pahit. "Melapor dengan bukti apa? Bapak akan bilang itu urusan keluarga dan saya anak durhaka. Saya juga takut dipulangkan sebelum punya tempat aman."
Den Nara menerima jawabannya. "Sekarang kau punya nomor laporan lain, pendamping, dan tempat aman. Kalau kau mau melaporkan kekerasan itu, kita cari bantuan hukum. Kalau tidak, tidak ada yang memaksa."
"Saya belum siap."
"Baik."
"Den tidak kecewa?"
"Keberanian bukan ujian yang harus kau luluskan untuk mendapatkan perlindungan. Bertahan hidup sampai di sini sudah keberanian. Langkah berikutnya milikmu."
Aku menatap hujan agar air mata tidak segera terlihat. Selama ini bantuan selalu punya syarat: patuh, diam, atau membayar kembali. Den Nara memberiku pilihan bahkan ketika pilihanku adalah belum melakukan apa-apa.
Sederhana. Tidak ada kekecewaan karena aku belum cukup berani menurut standarnya.
Air mata yang kutahan akhirnya jatuh.
"Saya sering berpikir semua ini terjadi karena saya membawa masalah," kataku. "Kalau tubuh saya biasa, Bapak mungkin tidak melihat saya sebagai barang yang bisa ditukar. Kalau saya tidak melawan, desa tidak akan membicarakan keluarga kami."
Den Nara berdiri. Aku menegang, tetapi dia hanya memindahkan kotak tisu ke meja kecil di antara kami, lalu kembali duduk.
"Itu bukan salahmu, Kar. Tidak satu pun dari itu."
Dia pertama kali memanggilku Kar.
Tangisku pecah. Aku menekan tisu ke mulut agar tidak terdengar ke rumah. Den Nara tidak menyentuh atau menyuruhku berhenti. Dia menunggu sampai napasku kembali teratur.
"Ramuan menyelamatkanmu," katanya. "Tubuhmu tumbuh sehat. Orang-orang memilih membuatnya menjadi alasan untuk berbuat buruk. Pilihan mereka milik mereka. Bukan dosamu."
"Bagaimana kalau Den suatu hari juga merasa aroma ini merepotkan?"
"Saya sudah mimisan di depan satu rumah dan tetap di sini."
Tawa kecil keluar di sela tangis. Dia sengaja mengorbankan sisa wibawanya agar aku bernapas.
"Kalau merepotkan, saya yang belajar mengatasinya," lanjutnya. "Bukan kau yang harus menghilang."
Aku menatap tangannya di sandaran kursi. Jarak di antara kami tetap ada, tetapi untuk pertama kalinya aku ingin menyeberanginya, sekadar menyentuh punggung tangannya sebagai ucapan terima kasih. Aku tidak melakukannya. Kami belum punya nama untuk perasaan ini, dan rumah di belakang kami penuh mata.
Sebagai gantinya, aku berkata, "Terima kasih sudah mendengar tanpa bertanya mengapa saya tidak melawan lebih keras."
"Orang yang selamat tidak berutang penjelasan tentang cara dia bertahan."
***
Hujan melemah menjelang pukul sepuluh. Bu Nah membuka jendela ruang keluarga dan memanggil kami masuk sebelum masuk angin.
Aku berdiri dengan mata bengkak. Den Nara menyerahkan payung, meski jarak ke pintu hanya beberapa meter.
"Besok jangan bekerja terlalu pagi," katanya.
"Bu Retno akan marah."
"Saya yang bicara."
"Jangan. Nanti terlihat Den memanjakan saya."
Dia berpikir sejenak. "Bu Nah akan mengatakan jadwalmu diubah karena semalam mengangkat jemuran."
"Den cepat sekali membuat alasan."
"Saya belajar dari melon matang."
Aku tersenyum.
Kami berjalan masuk dengan payung terpisah. Di pintu, Den Nara berhenti.
"Sekar."
"Iya?"
"Kalau kenangan gudang itu datang lagi, kau tidak perlu menghadapinya sendirian."
Aku mengangguk, tidak mampu menjawab.
Malam itu, untuk pertama kali, aku tidur tanpa meletakkan kursi di belakang pintu kamar.
Aku tetap terbangun sekali ketika petir menyambar. Tanganku otomatis meraih sandaran kursi, lalu berhenti karena benda itu berada di sudut, bukan mengganjal pintu. Dari luar terdengar langkah patroli satpam dan suara rumah yang tenang.
Kutarik selimut sampai dada. Kalimat Den Nara kembali terdengar: bukan kau yang harus menghilang.
Untuk malam itu, aku mencoba mempercayainya.
Di teras yang baru kami tinggalkan, Den Nara berdiri lebih lama menatap hujan. Aku tidak mendengar sumpah yang dia ucapkan dalam hati.
Namun sejak malam itu, dia memutuskan tidak akan membiarkan Sukir atau siapa pun menyeretku kembali ke masa lalu tanpa lebih dulu berhadapan dengannya.
Aku belum mengetahui keputusan itu. Yang kutahu hanya suara hujan tidak lagi terdengar seperti malam pelarian, melainkan seperti sesuatu yang perlahan mencuci debu panjang dari jalan pulang yang baru di dalam hidupku mulai malam ini juga untuk selamanya.