Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Hembusan angin malam menyusup dari celah jendela kamar hotel Gibran yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka.
Gibran berdiri di balik pintu masuk kamarnya dengan napas yang sangat tenang dan teratur.
Otot-otot di sekujur tubuhnya masih berkedut pelan menyesuaikan diri dengan tenaga baru yang mengalir deras dari dalam darahnya.
Sistem Mata Sakti baru saja meningkatkan refleks fisiknya ke tingkat yang jauh melampaui batas manusia normal.
"Bratasena Mahendra benar-benar tidak sabaran ingin menjemput ajalnya sendiri," gumam Gibran sambil meregangkan lehernya ke kiri dan ke kanan.
Krek krek.
Suara tulang lehernya berbunyi renyah memecah keheningan di dalam kamar mewah bernuansa emas tersebut.
Di luar pintu kamarnya, lorong lantai dua belas hotel itu mendadak menjadi sangat sunyi tanpa ada satupun petugas yang melintas.
[Peringatan. Sepuluh target dengan senjata tajam telah mengepung area depan pintu Master.]
[Saran taktis: Ruang sempit di lorong akan membatasi pergerakan musuh, serang titik buta mereka dari jarak dekat.]
"Terima kasih atas sarannya, Sistem. Tapi aku lebih suka menyambut tamu secara langsung dari pintu depan," batin Gibran dengan seringai buas.
Tap tap tap.
Suara langkah kaki yang sangat pelan dan berhati-hati terdengar samar dari balik pintu kayu jati tebal di hadapan Gibran.
Seorang pria bertopeng hitam sedang menempelkan alat peretas elektronik ke gagang pintu kamar Gibran.
Klik.
Lampu indikator di gagang pintu berubah menjadi hijau menandakan kunci elektronik itu telah berhasil dibobol.
Pemimpin algojo itu memberi isyarat tangan kepada sembilan rekannya yang berdiri merapat di dinding lorong dengan belati terhunus.
"Hitungan ketiga kita serbu masuk, potong urat lututnya dulu agar dia tidak bisa lari," bisik pemimpin algojo itu dengan suara serak.
Satu.
Dua.
Tiga!
Brak!
Pintu kamar itu didobrak dengan sangat keras hingga engselnya nyaris terlepas dari bingkai pintu.
Namun sebelum pintu itu terbuka sepenuhnya, sebuah tendangan lurus yang sangat cepat melesat dari dalam kamar gelap tersebut.
Wush! Bugh!
Telapak kaki Gibran menghantam telak tepat di dada pemimpin algojo yang baru saja melangkahkan kakinya masuk.
"Argggh!"
Teriak pemimpin itu memuntahkan seteguk darah segar saat tulang rusuknya remuk seketika.
Tubuh pria besar itu terpental ke belakang seperti boneka kain yang rusak, menabrak tiga rekannya di lorong hingga jatuh berjatuhan.
Bruk bruk bruk.
Sembilan algojo yang tersisa langsung membelalakkan mata mereka karena terkejut melihat serangan balasan yang di luar nalar tersebut.
Target mereka sama sekali tidak tertidur pulas ketakutan seperti yang mereka harapkan malam ini.
Gibran melangkah keluar dari dalam kamarnya dengan gaya berjalan yang sangat santai menantang maut.
Ia hanya mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung sebatas siku, memperlihatkan otot lengannya yang kini jauh lebih padat.
"Keluarga Mahendra rupanya sangat pelit karena hanya mengirimkan sepuluh anjing kurus untuk menggigitku malam ini," ejek Gibran dengan suara bariton yang menggema di lorong.
Para algojo itu saling berpandangan sejenak menahan rasa kaget dan nyeri dari rekan mereka yang mengerang parah di lantai.
"Jangan dengarkan omong kosongnya! Dia hanya sendirian dan tidak membawa senjata apa pun!" teriak salah satu algojo berkepala plontos mencoba memprovokasi.
"Kepung dia dari dua arah, cincang dagingnya untuk Tuan Besar Bratasena!" komando algojo lainnya dengan sangat beringas.
Sembilan pria berwajah seram itu langsung maju serentak mengayunkan belati baja mereka ke arah tubuh Gibran.
Trang trang!
Gibran bahkan tidak mundur satu langkah pun dari posisinya berdiri di ambang pintu.
Matanya yang tajam menyapu seluruh gerakan senjata musuh dalam hitungan milidetik yang terasa sangat lambat di otaknya.
[Analisis lintasan senjata musuh selesai. Titik lemah terekspos pada ketiak kanan musuh pertama dan lutut kiri musuh kedua.]
Gibran memiringkan tubuhnya sedikit ke kanan, membiarkan ujung belati tajam musuh pertama lewat hanya satu sentimeter dari wajahnya.
Swush.
Tanpa ragu sedikit pun, Gibran mengangkat siku kanannya dan menghantamkannya sekeras batu tepat di bawah ketiak pria itu.
Krek!
"Aaaaargh! Lenganku lumpuh!"
Jerit algojo pertama itu menjatuhkan belatinya karena rasa sakit yang merobek saraf bahunya.
Gibran menangkap belati yang jatuh di udara itu dengan tangan kirinya dalam satu gerakan yang sangat mulus.
Trang.
Ia memutar tubuhnya seperti gasing dan menebaskan gagang belati tumpul itu ke arah lutut algojo kedua yang sedang menerjang.
Brak!
Lutut algojo kedua hancur seketika membuat pria itu tersungkur ke depan mencium karpet lorong hotel dengan suara debuman keras.
"Dua anjing sudah rebah, siapa lagi yang mau merasakan empuknya karpet hotel ini?" tawar Gibran sambil memutar belati di tangannya dengan gaya mengejek.
Tujuh algojo yang tersisa menelan ludah dengan susah payah karena keringat dingin mulai membasahi dahi mereka.
Target mereka ini bukanlah pemuda desa biasa yang kebetulan beruntung di pasar giok.
Pemuda di depan mereka ini adalah monster sungguhan yang memiliki insting membunuh sekelas prajurit bayaran elit.
"Maju bersamaan! Jangan beri dia ruang untuk membalas pukulan!" teriak algojo berambut gondrong mencoba memompa keberanian teman-temannya.
Tiga orang menyerang dari sisi kiri dengan ayunan menyilang, sementara empat orang lainnya menusuk dari arah depan dengan brutal.
Gibran hanya tertawa meremehkan melihat formasi keroyokan yang terlihat banyak celah di matanya itu.
"Kalian terlalu lambat dan gerakan kaki kalian sangat berantakan," kritik Gibran dengan nada bosan merendahkan.
Gibran merendahkan kuda-kudanya hingga posisinya nyaris menyentuh lantai lorong.
Wush!
Ia menyapu kaki kirinya dalam putaran penuh yang sangat cepat, menghantam pergelangan kaki tiga algojo di sebelah kiri sekaligus.
Bruk bruk bruk!
Ketiga algojo itu kehilangan keseimbangan dan jatuh telentang menabrak dinding lorong dengan punggung mereka.
Sebelum empat algojo di depannya sempat bereaksi, Gibran melompat bangun dan mencengkeram wajah algojo terdekat dengan telapak kanannya.
Brak!
Gibran menghantamkan belakang kepala algojo itu ke dinding pualam lorong hingga retak dan membuat korbannya langsung pingsan tak sadarkan diri.