NovelToon NovelToon
Brondong Konglomerat Sang Janda

Brondong Konglomerat Sang Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Janda / Mandul
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32

Lulus Ujian Keluarga

Satu suara pendek Engkong membuat ruangan semakin sunyi.

Popo Meilin memecah ketegangan dengan menyuruh Leon menyiapkan makan malam. "Pertanyaan bisa dilanjutkan sambil makan. Karina tidak boleh terlambat mengisi perut."

Di ruang makan, sebuah mangkuk sup asam pedas diletakkan khusus di depan Karina. Aromanya segar dan cukup tajam untuk membangkitkan selera yang sering hilang.

"Anna bilang kamu suka rasa asam sejak hamil," kata Popo.

"Terima kasih, Popo."

Karina mencicipi sesendok dan matanya langsung cerah. Nathan ikut mengambil mangkuknya, tetapi Popo menepuk tangan cucunya dengan sendok saji.

"Itu untuk istrimu. Kamu makan yang lain."

"Aku cuma memastikan tidak terlalu pedas."

"Lidahmu bukan alat pemeriksaan kehamilan."

Cik Anna menahan senyum. Engkong tetap diam, tetapi sudut bibirnya bergerak tipis.

Popo terus melirik perut Karina. "Orang dulu bilang suka asam berarti anak laki-laki, suka pedas berarti perempuan. Kamu suka dua-duanya."

"Popo, itu bukan ilmu," kata Cik Anna.

"Aku tahu. Tapi dia membawa tiga. Masa satu pun tidak cocok dengan tebakanku?"

Karina tersenyum. "Jenis kelaminnya belum pasti, Popo. Yang penting sehat."

"Benar. Tapi aku tetap boleh menyiapkan baju semua warna."

Percakapan mulai mengalir. Engkong bertanya tentang Metamorfosa, target pembaca, dan sumber pendanaan. Karina menjelaskan model awalnya tanpa membesar-besarkan. Ia mengakui platform itu belum menghasilkan dan perlu enam bulan untuk menguji pasar.

"Kamu tidak meminta modal Nathan?" tanyanya.

"Tidak untuk sekarang. Livia membawa modal awal, saya membawa keahlian dan kerja. Kalau nanti butuh investasi, semua harus melalui valuasi serta perjanjian."

Engkong mengangguk sekali. Nathan terlihat ingin berkata sudah memberikan saham perusahaan teknologi, tetapi Karina menekan lututnya di bawah meja agar diam.

"Kamu juga pemegang saham di perusahaan Nicholas," kata Cik Anna, membongkar rahasia itu tanpa merasa bersalah.

Engkong mengangkat alis. Karina terpaksa menjelaskan sumber dana dari ganti rugi balapan, valuasi, porsi sepuluh persen, serta klausul laporan triwulanan yang ia minta ditambahkan.

"Kamu membaca perjanjiannya sendiri?"

"Saya membaca, lalu mengonfirmasi kepada pengacara. Saya tidak memiliki latar teknologi, jadi saya hanya menyetujui setelah pendiri menjelaskan risiko arus kas dan perlindungan pemegang saham minoritas."

Engkong menatap Nathan. "Siapa yang mengajari istrimu?"

"Dia sudah pintar sebelum bertemu aku."

Jawaban itu membuat Karina menoleh. Nathan tidak mencoba mengambil pujian karena memberinya kesempatan. Di depan keluarga besar, ia justru menegaskan kemampuan Karina sebagai miliknya sendiri.

"Bagus," kata Engkong. "Jangan hanya menyimpan sertifikat. Minta hakmu dihormati."

Popo menyela pembicaraan investasi dengan menambah nasi ke piring Karina. "Bicara uang membuat bayi lapar."

"Bayi belum mendengar valuasi, Po," kata Nathan.

"Kamu tahu dari mana? Mungkin satu akan jadi bankir, satu desainer, satu dokter."

"Kalau semuanya pembalap?"

Cik Anna dan Karina menjawab bersamaan, "Tidak boleh."

Semua orang tertawa, termasuk Engkong. Karina baru sadar bahwa dirinya ikut menyatakan aturan bagi anak-anak di rumah yang beberapa jam lalu terasa asing.

Setelah hidangan utama, Popo mengajak mereka kembali ke ruang duduk. Karina membawa kotak bunga dan menyerahkannya dengan kedua tangan.

"Saya baru belajar merangkai hari ini. Tidak sempurna, tapi saya memilih daun dan bunga yang melambangkan umur panjang serta kesehatan."

Popo membuka penutup. Rangkaian hijau dan merah muda muncul, sederhana namun seimbang. Ia menyentuh satu anyelir, lalu membaca kartu kecil buatan Karina.

"Kamu membuat sendiri?"

"Iya. Cik Anna dan florist membantu mengajarkan tekniknya."

"Pertama kali?"

"Pertama kali."

Wajah Popo melunak sepenuhnya. "Leon, bawa ke ruang bunga. Taruh di meja dekat jendela, jangan di aula yang kena angin pendingin."

Leon menerima kotak itu dengan hati-hati. Popo kemudian memegang tangan Karina.

"Lain kali aku ajari merangkai dengan bunga dari kebun. Tidak perlu beli mahal."

"Saya akan senang sekali."

Nathan membungkuk ke telinga Karina. "Itu undangan resmi. Kamu sudah menang setengah."

"Jangan berbisik di depan orang tua," tegur Engkong.

Nathan segera duduk tegak.

Hadiah kedua lebih berisiko. Karina mengeluarkan tempat kuas kayu tua dari kotak kain dan meletakkannya di meja Engkong. Lelaki tua itu awalnya mempertahankan wajah datar. Lalu matanya menyipit.

Ia mengambil kaca pembesar dari laci, memeriksa ukiran awan, dasar kayu, dan cap pembuat yang hampir pudar.

"Dari mana kamu mendapat ini?"

Karina menyebut nama kolektor yang dikenalkan pemilik toko. Engkong membalik benda itu sekali lagi.

"Dia masih menyimpan seri ini?"

"Katanya ini barang terakhir yang bersedia dia lepas. Saya tidak tahu Engkong sudah mencarinya. Cik Anna hanya bilang Engkong suka kaligrafi."

Engkong tiba-tiba tertawa. Suaranya begitu keras hingga Leon yang baru kembali berhenti di pintu.

"Biar si Willem sebelah iri! Dia pamer punya satu, padahal ukirannya dari produksi ulang. Yang ini batch lama asli."

Semua orang menatapnya. Engkong sadar dirinya kehilangan sikap, lalu berdeham.

"Maksudku, pilihanmu cukup baik."

Nathan menunduk untuk menyembunyikan tawa. Cik Anna sama sekali tidak membantu. "Papa boleh mengaku senang. Tidak ada pemegang saham di sini."

"Aku hanya menghargai barang bersejarah. Leon, bawa ke ruang kerja. Jangan biarkan Nathan menyentuhnya."

"Aku bahkan tidak mau tempat kuas tua itu."

"Karena kamu tidak mengerti nilainya."

Ketegangan yang tadi memenuhi rumah lenyap. Popo meminta Karina duduk lebih dekat, lalu bertanya nama panggilan apa yang disiapkan untuk bayi. Karina menjelaskan mereka belum memilih nama karena Nathan ingin menunggu jenis kelamin.

"Jangan terlalu lama," kata Engkong. "Dan urusan pernikahan kalian harus segera dicatat di sini. Anak-anak tidak boleh lahir sementara administrasi masih menggantung."

Nathan menjawab, "Dokumen Singapura sedang dikirim. Begitu tiba, pengacara akan mengurus pelaporan ke Dukcapil. Pemberkatan dan resepsi menunggu kondisi Karina."

"Bagus. Jangan membuat perempuan hamil mengurus meja administrasi sendiri."

"Aku tidak akan."

Engkong menatap Karina. "Kami tidak bisa mengubah bahwa semuanya terjadi cepat. Kami juga tidak bisa menghapus perbedaan usia kalian. Tapi kamu datang, menjawab pertanyaan, dan tidak mencoba membeli persetujuan dengan harga hadiah."

Karina menunggu.

"Kalau sudah menjadi istri Nathan, jaga keluarga ini. Dan kalau cucuku berbuat bodoh, beri tahu Anna sebelum masalahnya menjadi besar."

Itu bukan pelukan atau ucapan selamat datang, tetapi Karina memahami maknanya. Engkong telah memasukkannya ke dalam lingkaran orang yang berhak mengadu tentang Nathan.

Popo lebih langsung. Ia memeluk Karina dan mengusap perutnya. "Sering datang. Rumah ini terlalu sepi."

Air mata Karina hampir jatuh lagi. "Iya, Popo."

Seolah menjawab, salah satu bayi bergerak di bawah telapak Popo. Perempuan tua itu terdiam, lalu memanggil Engkong dengan suara mendesak.

"Sini. Cepat."

"Aku sedang berdiri di sebelahmu."

"Pegang."

Engkong tampak canggung, tetapi akhirnya meletakkan tangan di sisi perut Karina setelah meminta izin. Tidak ada gerakan selama beberapa detik. Ia hendak menarik tangan ketika dorongan kecil terasa.

Wajahnya berubah lembut begitu cepat hingga hampir tidak terlihat.

"Kuat," katanya.

"Itu pasti yang paling mirip Nathan," kata Cik Anna.

"Jangan kutuk cucuku," balas Engkong.

Nathan meraih sisi lain perut Karina. Gerakan berikutnya membuatnya tersenyum lebar. Dalam lingkaran tangan tiga generasi itu, Karina merasakan untuk pertama kali bahwa anak-anaknya tidak hanya ditunggu karena nama keluarga. Mereka sudah dicintai sebagai kehadiran yang nyata.

Popo kemudian menunjukkan kamar lama Nathan. Di dalamnya masih ada rak mobil mini, sarung tinju anak, serta foto piala balapan pertama. Karina melihat satu bingkai tanpa ayah di samping Nathan dan Cik Anna. Ia tidak bertanya, tetapi kekosongan itu menjelaskan sebagian cara Nathan mengejar kendali atas hidupnya.

"Dia sering kabur ke garasi kalau dimarahi," kata Popo. "Kalau nanti dia diam terlalu lama, cari di tempat yang ada mesin."

"Po, aku sudah dewasa."

"Orang dewasa juga bisa kabur."

Karina menyimpan nasihat itu. Nathan mungkin tinggal bersamanya, menyerahkan uang, dan mengucapkan janji dengan mudah. Namun ada bagian hidupnya yang masih terkunci rapat, terutama setiap kali nama ayahnya hampir muncul.

Cik Anna meminta staf mengemas beberapa makanan untuk dibawa pulang. Popo menambahkan buah, sup, dan kue sampai Nathan protes mobil mereka tidak cukup besar.

"Kalau sempit, tinggalkan barangmu," kata Popo.

Di tengah keramaian itu, Karina memperhatikan foto-foto dan potongan percakapan. Steven memimpin beberapa perusahaan keluarga. Cik Anna memiliki rumah mode terkenal. Engkong mengenal tokoh bisnis yang hanya pernah Karina baca di majalah.

Nathan bukan sekadar mahasiswa dengan paman kaya. Ia lahir dari salah satu keluarga lama paling berpengaruh di Jakarta.

Namun setiap kali pembicaraan mendekati ayah Nathan, seseorang mengubah topik. Karina mendengar nama Singapura disebut sekali, lalu hilang di balik pembicaraan tentang pemeriksaan kandungan.

Menjelang pulang, Popo memasangkan selendang tipis pada bahu Karina agar tidak terkena angin malam. Engkong memberikan sebuah buku kosong dengan kertas tebal.

"Untuk mencatat rencana usahamu," katanya. "Hadiah tidak harus searah."

Karina menerima dengan kedua tangan. "Terima kasih, Engkong."

Di halaman, Nathan membukakan pintu mobil. Karina menoleh ke rumah dan melihat Popo masih melambaikan tangan. Rasa takut yang dibawanya sore tadi berkurang menjadi kehangatan yang nyaris tidak dipercaya.

Setelah mobil pergi, Engkong kembali ke ruang kerja. Nathan mengatakan akan mengambil tas yang tertinggal dan menyusul sendirian.

Engkong berdiri di depan jendela sambil memegang hadiah tempat kuas.

"Dokumen Singapura memakai nama Aries," katanya tanpa menoleh.

Nathan memasukkan tangan ke saku. "Iya."

"Marcus sudah tahu belum?"

Nathan menatap ukiran awan pada tempat kuas. "Belum dariku."

"Dia akan mendengar dari orang lain kalau kamu terus menunda."

"Biar. Dia selalu tahu cara mencari informasi."

Engkong akhirnya menoleh. "Ini bukan hanya tentang hubunganmu dengannya. Karina berhak tahu keluarga seperti apa yang dimasukinya sebelum laki-laki itu muncul di depan pintu."

Nathan tidak membantah. Namun ketika ia keluar dari ruang kerja, nama Marcus tetap tertinggal di antara mereka sebagai pintu yang belum bersedia ia buka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!