NovelToon NovelToon
Adik Titipan, Incaran Hatiku

Adik Titipan, Incaran Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Amara Bulan

**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.

Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.

Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.

Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**

Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*

Dan itu baru permukaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23: Demam

Bibir Reynard terasa dingin karena hujan.

Hanya sesaat.

Begitu Keira menyadari apa yang ia lakukan, sebuah pekikan kecil lolos dari tenggorokannya. Ia mendorong dada Reynard, turun dari meja konsol, lalu berlari keluar tanpa mengambil jaket yang masih tersampir di bahunya.

"Ci Kei!"

Keira memasukkan kode unit 8B dengan jari gemetar. Ia menyelinap masuk dan mengunci pintu, kemudian menempelkan punggung ke sana sambil menutup mulut.

Ia baru saja mencium adik sahabatnya.

Lebih buruk lagi, ia yang memulai.

Ketukan pelan terdengar dari luar.

"Ci Kei, buka sebentar. Kamu harus ganti baju."

Keira tidak menjawab. Wajahnya begitu panas sampai ia tidak tahu apakah itu akibat malu atau kedinginan.

Reynard mengetuk sekali lagi, lalu berhenti. Ia tidak mencoba memasukkan kode yang selama ini diketahuinya. Beberapa saat kemudian, suaranya terdengar tenang dari balik pintu.

"Aku taruh handuk dan minuman hangat di depan. Aku akan di ruang tamu unitku. Kalau butuh apa pun, panggil aku."

Langkahnya menjauh.

Keira menunggu hampir lima menit sebelum membuka pintu selebar telapak tangan. Sebuah handuk bersih, termos kecil, dan jaket kering terlipat di lantai. Tidak ada Reynard.

Entah mengapa, kelegaan itu justru terasa seperti kecewa.

Keira mandi air hangat, mengeringkan rambut, lalu berbaring sambil menarik selimut sampai kepala. Setiap memejamkan mata, ia kembali merasakan sentuhan singkat di bibirnya. Reynard bahkan belum sempat membalas. Wajah laki-laki itu masih membeku ketika ia kabur.

Malam itu Keira hampir tidak tidur.

Pagi berikutnya, kepalanya terasa seperti diisi batu. Tenggorokannya terbakar dan tubuhnya menggigil di bawah selimut. Ia bangun karena ingin minum, tetapi lantai seolah bergoyang saat telapak kakinya menyentuh ubin.

Pintu kamar terbuka tepat ketika lututnya lemas.

Reynard menangkap bahunya. "Ya Tuhan, Ci Kei."

Keira terlalu pusing untuk bertanya bagaimana ia masuk. Mungkin ia lupa mengunci kembali pintu setelah mengambil barang semalam.

Telapak tangan Reynard menempel di dahinya. "Kamu panas banget. Kita ke rumah sakit."

"Cuma flu."

"Kamu hampir jatuh."

"Aku bisa jalan."

Keira membuktikannya dengan satu langkah, lalu pandangannya menghitam. Reynard berjongkok membelakanginya tanpa berdebat lagi.

"Naik."

"Aku berat."

"Aku pernah menggendong Vincent setelah latihan basket. Kamu jauh lebih ringan."

Dalam keadaan lain, Keira pasti tersinggung dibandingkan dengan adiknya. Kini ia hanya mampu melingkarkan lengan ke bahu Reynard dan membiarkan laki-laki itu membawanya turun.

Di RS Harapan Sejahtera, Reynard mengurus pendaftaran, pembayaran, dan antrean sambil terus mengecek suhu Keira. Ia menyelipkan botol air ke tangannya, menarikkan masker dengan hati-hati, lalu memindahkan Keira ke kursi yang jauh dari hembusan pendingin.

"Duduk di sini. Aku ke loket sebentar."

"Aku ikut."

"Untuk apa?"

"Itu dataku."

"KTP-mu ada di dompet kecil warna krem, kartu asuransi di sisi belakang, dan nomor darurat masih nomor Papa. Benar?"

Keira mengerjap. "Kamu tahu dari mana?"

"Waktu Ricky bikin masalah, kamu pernah menyuruhku ambilkan kartu identitas. Aku ingat."

Reynard berjongkok di depannya dan merapikan helaian rambut yang menempel di masker. "Lima menit saja. Jangan ke mana-mana."

"Aku bukan anak kecil."

"Aku tahu." Tatapan Reynard melembut. "Tapi hari ini biarkan aku yang mengurus semuanya."

Keira tidak punya tenaga untuk berdebat. Ia melihat Reynard berpindah dari mesin antrean ke loket administrasi, bertanya dengan bahasa yang sopan dan ringkas, lalu kembali membawa formulir yang sudah terisi. Gerakannya begitu teratur seolah ia sudah berkali-kali melakukan hal itu untuk Keira. Padahal ini pertama kalinya.

Perasaan aman datang bersamaan dengan rasa bersalah. Semalam ia menciumnya, lalu kabur tanpa memberi penjelasan. Pagi ini Reynard masih datang, masih memeriksa apakah ia sudah minum, bahkan tidak menuntut satu jawaban pun.

Dokter jaga memeriksa tenggorokan dan paru-parunya. "Ada alergi obat?"

Keira mencoba mengingat, tetapi kepalanya lamban.

"Amoksisilin pernah bikin ruam waktu SMA," jawab Reynard lebih dulu. "Parasetamol aman. Dia juga punya maag ringan kalau telat makan."

Dokter menatap mereka bergantian. "Lengkap sekali catatannya."

"Dia yang terlalu sering lupa," kata Reynard.

Keira meliriknya. Ia sendiri hampir melupakan kejadian amoksisilin itu.

Setelah konsultasi, mereka menunggu obat di dekat loket farmasi. Seorang perawat menyerahkan nomor antrean dan tersenyum kepada Keira.

"Pacarnya perhatian sekali. Jangan lupa berterima kasih setelah sembuh."

"Dia bukan..."

Suara Keira habis menjadi batuk. Reynard menepuk pelan punggungnya dan menerima nomor antrean dari perawat.

"Terima kasih, Bu," jawabnya tanpa membantah.

Keira menatap profil wajahnya. Reynard pura-pura sibuk membaca papan informasi, tetapi ujung telinganya merah.

Dalam perjalanan pulang, obat penurun panas mulai membuat Keira mengantuk. Kepalanya jatuh ke bahu Reynard di kursi belakang taksi. Laki-laki itu menggeser tubuh agar posisi lehernya lebih nyaman, lalu merangkul bahunya.

"Rey," panggil Keira lirih.

"Hm?"

"Tentang semalam... kamu marah?"

Lengan Reynard mengencang sedikit. Ia menatap lurus ke depan, seolah jawaban pertanyaan itu terlalu rumit untuk diucapkan di dalam mobil.

"Tidur dulu," katanya. "Setelah bangun, baru kita bicara."

"Kamu belum jawab."

"Aku nggak marah."

"Lalu?"

Reynard menarik kepala Keira lebih dekat ke bahunya. "Aku takut kalau menjawab sekarang, kamu akan kabur lagi."

Keira ingin membantah, tetapi kantuk menyeretnya lebih dahulu.

Sesampainya di apartemen, Reynard membuat bubur, mengatur obat berdasarkan jam minum, lalu menulis suhu Keira setiap dua jam di selembar kertas. Keira hanya mengingat potongan-potongan kecil: sendok menyentuh bibirnya, handuk dingin di dahi, dan suara Reynard yang menyuruhnya minum sekali lagi.

Sekali, saat setengah sadar, Keira menggenggam pergelangan tangannya agar tidak pergi. Reynard kembali duduk tanpa bertanya. Ia membiarkan Keira memegangnya sampai napas perempuan itu kembali teratur.

"Aku di sini," bisiknya. "Nggak akan ke mana-mana."

Ketika terbangun menjelang malam, demamnya sudah turun. Reynard duduk di sisi ranjang sambil mengupas apel. Kulit buah itu membentuk pita panjang yang hampir tidak putus.

"Kamu belum pulang ke sebelah?" tanya Keira.

"Belum."

"Kuliahmu?"

"Sudah izin."

"Karena aku?"

Reynard mengangkat bahu. "Karena ada pasien keras kepala yang nggak bisa ditinggal."

Di meja, obat tersusun rapi di samping catatan suhu. Keira menyentuh kertas itu dan dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang lebih lembut daripada sakit.

"Tidur lagi," ujar Reynard. "Aku buat bubur baru."

Setelah ia keluar kamar, Keira mencoba bangun untuk mengambil air. Dari pintu balkon yang terbuka sedikit, ia mendengar suara Reynard sedang menelepon.

"Aku tahu," katanya sangat pelan. "Aku akan cari kesempatan untuk menjelaskan semuanya kepadanya."

Keira berhenti.

Ia tidak bisa mendengar jawaban dari seberang. Reynard menutup telepon beberapa detik kemudian dan masuk membawa mangkuk bubur, wajahnya kembali tenang seolah percakapan tadi tidak pernah terjadi.

"Sudah bangun? Bagus. Makan dulu."

Keira menerima sendok darinya, tetapi satu pertanyaan baru kini menetap di kepala.

Apa sebenarnya yang hendak Reynard jelaskan kepadanya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!