Apa jadinya jika pahlawan elit Rank-A meregang nyawa di dasar Dungeon hanya karena menenggak sebotol air garam?
Di dunia yang memuja sihir tempur, Arka hanyalah kuli Porter F-Rank. Nyawanya dihargai lebih murah dari selembar poster promosi Vanguard Guild. Tapi para elit arogan itu melupakan satu hukum mutlak: Jangan pernah merendahkan orang yang memegang kunci gudang obatmu.
Berbekal Skill [Logistics Grid], Arka meretas sistem dari dalam. Dia memanipulasi data manifes, menukar ramuan bernilai miliaran rupiah dengan air garam, dan memutus rantai pasokan tepat saat pasukan elit itu terjebak di hadapan bos monster mematikan.
Tanpa perlu mengangkat pedang, Arka membalikkan hierarki dunia Hunter. Saat Mana mengering dan taring monster mengincar leher, para pahlawan palsu itu dipaksa menangis, berlutut, dan menjual seluruh jiwa mereka hanya demi setetes ramuan dari tangan sang Porter.
Sistem telah diretas. Monopoli Grey Underground baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VANDEMIC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Merayap di Antara Timah Panas
DOR! DOR! DOR!
Timah panas merobek lantai seng berkarat hanya beberapa milimeter dari rahang Arka. Percikan api dari gesekan peluru dan logam memercik, membakar ujung alis kirinya. Udara di dalam lorong selebar empat puluh sentimeter itu seketika dipenuhi asap mesiu yang mencekik dan serpihan karat yang berhamburan.
Telinga kanan Arka berdengung hebat, seakan ada ribuan lebah yang terkurung di dalam gendang telinganya.
"Dia bergerak ke arah utara ventilasi! Tembak mengikuti garis plafon!" teriakan komandan tentara bayaran menggema dari bawah, teredam oleh dering di telinga Arka.
SREEEEEK! Arka merayap. Ia tidak lagi peduli pada suara yang ditimbulkannya. Menggunakan kedua siku dan ujung sepatu bot curiannya, ia mendorong tubuhnya maju dengan kecepatan tuyệt.
Lantai seng di bawah perutnya memanas akibat peluru yang terus-menerus menembus dari bawah. Setiap inci pergerakannya adalah siksaan neraka. Luka bakar stadium dua di dada kirinya tergesek brutal melawan logam kasar. Darah segar dan cairan getah bening merembes menembus coverall kanvasnya, meninggalkan jejak merah panjang di sepanjang lorong ventilasi yang gelap. Arka menggigit lidahnya sendiri untuk mencegah dirinya berteriak. Rasa anyir darah memenuhi rongga mulutnya.
Trak. Trak. Trak.
Suara langkah sepatu bot baja terdengar tepat di bawahnya, berjalan sejajar dengan pergerakannya. Mereka melacak suara gesekan tubuhnya.
Jika kecepatan berjalannya adalah satu koma lima meter per detik, dan jeda tembakan senapan serbu otomatisnya adalah...
BZZZZZT!
Pangkal leher Arka tersengat hebat. Pandangannya memutih selama sepersekian detik. Neural Feedback menghukumnya karena mencoba menghitung probabilitas matematis tembakan di tengah kepanikan ekstrem.
"Persetan dengan hitungan!" batin Arka, napasnya tersengal parah. Ia murni menggunakan insting hewaninya. Ia merayap membabi buta ke depan.
DOR! DOR! DOR!
Satu peluru baja menembus seng tepat di bawah lutut kirinya, menyerempet sol karet sepatunya hingga tercium bau karet terbakar.
Lorong di depannya berbelok tajam ke kanan. Arka memaksa bahunya memutar, mengikis kulit lengannya pada dinding seng yang sempit. Napasnya mulai pendek-pendek. Paru-parunya dipenuhi debu asbes tua dan asap mesiu.
Namun, tembakan membabi buta dari bawah sana membawa konsekuensi fisika yang tidak disadari oleh para penjaga. Struktur penyangga ventilasi itu tua dan rapuh. Rentetan peluru kaliber besar telah menghancurkan baut-baut penahan plafon di sekitar area itu.
Saat Arka baru saja berhasil melewati belokan, lantai seng di bawah perutnya tiba-tiba mengerang keras. Logam yang berlubang-lubang itu melengkung ke bawah.
"Plafonnya runtuh! Awas!" teriak seseorang di kejauhan.
Sebelum Arka sempat berpegangan pada dinding pipa, lantai ventilasi sepanjang dua meter itu ambruk sepenuhnya. Arka meluncur jatuh ke dalam kegelapan, diiringi bongkahan asbes, seng berkarat, dan awan debu putih yang tebal.
Ia bersiap menghantam lantai beton yang keras. Namun, tubuhnya justru jatuh menimpa permukaan karet keras yang berbau menyengat seperti belerang dan batu bara basah. Permukaan itu tidak diam. Permukaan itu bergerak.
Bruk!
Arka terbatuk hebat, memuntahkan debu dari paru-parunya. Ia berusaha membuka mata yang pedih.
Ia telah jatuh keluar dari area bunker dan mendarat tepat di atas sebuah conveyor belt (sabuk konveyor) raksasa selebar tiga meter. Mesin industri itu bergemuruh pelan, membawa tumpukan batu bara hitam dan limbah padat menuju ke suatu tempat di dalam pelabuhan Sektor 3.
Di atasnya, dari lubang plafon yang jebol, cahaya senter senapan mulai menyapu mencari tubuhnya.
"Dia jatuh ke jalur konveyor kargo B! Tutup ujung jalurnya! Jangan biarkan dia sampai ke area pembuangan!"
Arka memegangi dadanya yang berlumuran darah, menahan perih yang membuat pandangannya berputar. Ia tergeletak di atas tumpukan batu bara yang bergerak konstan. Ia lolos dari lubang jarum, namun kini konveyor ini membawanya langsung menuju jantung industri Sektor 3 yang lebih berbahaya. Ia melirik saku bajunya—kertas robekan jadwal "Living Mana" masih aman di sana.
Sekarang, ia hanya perlu bertahan hidup dari apa pun yang menunggunya di ujung sabuk konveyor ini.
***
**[AUTHOR NOTE]**Gila! Sumpah ini bab paling bikin jantungan! Arka benar-benar nggak dikasih napas. Dadanya yang melepuh harus digesek ke lantai seng sambil dihujani peluru dari bawah! Untung saja ventilasinya jebol dan dia jatuh ke sabuk konveyor. TAPI... konveyor ini mengarah ke mana?! Sitorus sudah menyuruh anak buahnya memblokir ujung jalur. Bisakah Arka lolos dari kejaran di tengah mesin-mesin raksasa pelabuhan Sektor 3? Drop komentar kalian, menurut kalian alat berat apa yang bisa di-hack Arka kali ini?!
kalian harus pada baca kawan kawan yang suka manga atau manhwa, please kepada editor mangatoon/noveltoon angkat ini jadi karya di platform ini karena di platform ini banyaknya cerita percintaan perempuan saja
Semangat thoorr😼