Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.
Namun suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan bahkan anak dari wanita lain.
Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangis yang Tertahan
Luna tengah membereskan pakaian-pakaian milik Raka. Satu per satu, kemeja yang sudah diseterika dilipat kembali dengan rapi dan memasukannya ke dalam koper warna hitam. Sesekali ia mengecek barang yang harus dibawa agar tidak ada yang tertinggal.
Besok pagi rencananya sang suami akan pergi ke luar negeri untuk urusan pekerjaan. Membayangkannya saja sudah membuat dada Luna terasa sesak. Ia sebenarnya ingin ikut, tetapi Raka melarang dengan alasan perjalanan kali ini terlalu padat dan melelahkan.
Tanpa Luna ketahui, sebenarnya Raka pergi bukan untuk perjalanan bisnis saja. Raka telah merencanakan untuk menghabiskan waktu bersama Vanessa dan putri kecil mereka, Ciara. Tahun baru kali ini, Raka kembali memilih keluarga yang selama ini ia sembunyikan.
"Sudah selesai, Mas," ucap Luna seraya menutup kopernya sampai terdengar bunyi klik. Setelah itu Luna mendorongnya ke sudut ruangan.
Raka mendekat. Tatapannya sempat melembut ketika melihat Luna yang nampak murung. Ia menggenggam pergelangan tangan Luna, ia tahu sang istri kecewa lantaran ia tak memperbolehkannya ikut.
Jelas saja, jika Luna ikut dirinya tak mungkin bisa menghabiskan waktu bersama Vanessa dan Ciara. Ia lebih memilih Luna menderita dari pada harus menolak keinginan Vanessa.
"Maafkan aku, Luna," ucap Raka pelan, mencoba menenangkan Luna.
Luna sendiri menggeleng pelan. "Sudahlah, Mas. Gak usah dibahas lagi. Aku gak apa-apa tetap di rumah." Senyum Luna terukir, meski terlihat dipaksakan. "Toh setiap tahun juga aku selalu sendiri."
"Luna …" Raka membawa Luna masuk ke dalam pelukannya. Tangannya bergerak naik turun di lengan Luna, berusaha menenangkannya, meski tahu, ketenangan itu tak mampu ia berikan. "I'm so sorry."
Luna mengangguk pelan dan kembali tersenyum. Senyum yang terkesan dipaksakan.
"Ini sudah malam. Lebih baik kamu istirahat. Besok kamu harus berangkat pagi-pagi buta," ucap Luna.
Raka melepaskan pelukannya. "Ya, kamu benar," balas Raka. "Ayo kita tidur saja," balas Raka disambut anggukkan oleh Luna.
Malam itu, keduanya berbaring di atas ranjang yang sama, tidur saling memunggungi, seolah hati keduanya terasa begitu jauh.
-
-
Tidur Luna terusik saat mendengar suara air mengalir. Ia mengucek mata dengan punggung tangannya dan berkedip beberapa kali agar matanya bisa beradaptasi dengan cahaya yang ada di ruangan itu.
Beberapa saat kemudian kesadarannya sepenuhnya terkumpul. Luna bangun lalu mengambil posisi duduk. Pada saat yang bersamaan, Raka keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Kenapa gak bangunin aku?" tanya Luna dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Raka tersenyum tipis. "Kamu tidurnya keliatan nyenyak banget. Aku gak tega bangunin kamu."
Luna tersenyum tipis.
"Ya sudah, aku buatkan kamu kopi dan sarapan dulu," ucap Luna.
"Oke, terima kasih," balas Raka.
Luna turun dari tempat tidur, melangkah ke luar kamar. Udara pagi terasa dingin. Rumah pun masih sunyi karena penghuni lain masih tidur.
Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi oleh satu keinginan dan ia ingin mengutarakannya kepada Raka sejak lama. Hanya saja ia belum memberanikan diri. Akan tetapi semalam ia berpikir untuk mengatakannya pada Raka sebelum sang suami pergi.
Hari ini rasanya adalah hari yang tepat.
Luna menghela napas saat sampai di dapur. Pikirannya teralihkan. Ia mencoba mengesampingkan kegelisahannya untuk membuat makanan dan minuman untuk sang suami.
Aroma roti panggang memenuhi ruangan bercampur dengan aroma kopi yang baru saja diseduh memenuhi ruangan. Luna menyiapkan semuanya dengan telaten seperti biasanya.
Semuanya selesai hanya dalam waktu beberapa menit. Ia meletakkan keduanya ke atas nampan lalu membawanya ke kamar.
Sampai di kamar terlihat Raka sedang mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Luna kemudian meletakan sarapan untuk Raka yang ia bawa ke meja di sudut ruangan.
Ia sesekali memandang ke arah Raka, menunggu waktu yang pas untuk mengutarakan keinginannya.
Setelah beberapa saat, Luna akhirnya menemukan waktu yang sekiranya pas untuk memulai pembicaraan. Luna lebih dulu menarik napas seolah mengumpulkan keberaniannya.
Ini saatnya.
"Mas ada yang mau aku bicarakan," ucap Luna akhirnya, saat melihat Raka tengah memakai jam tangannya.
"Bicaralah," balas Raka tanpa menghentikan aktivitasnya.
Luna menjeda ucapannya sesaat dan menggenggam jemarinya sendiri. Sempat ada keraguan, tetapi Luna segera membuang keraguan itu.
"Aku mau bekerja."
Kalimat itu membuat Raka seketika menghentikan gerakannya dan menatap Luna tidak suka.
"Gak usah." Jawaban Raka singkat, tegas, tanpa memberi ruang untuk berdiskusi.
"Seorang istri tugasnya di rumah. Bukan bekerja," lanjut Raka.
Ia kembali melanjutkan kegiatannya seolah pembicaraan itu sudah selesai.
Namun Luna tidak menyerah
"Mas, aku mohon. Kerjanya gak setiap hari dan aku janji akan pulang tepat waktu."
Raka menghembuskan napas panjang lalu memutar tubuhnya hingga menatap Luna sepenuhnya. Kedua tangannya bertolak pinggang.
"Gak, Luna." Nada bicara Raka jauh lebih dingin.
"Kita sudah pernah membicarakan ini sebelumnya. Dan jawabanku masih sama."
Ia kemudian mengambil salah satu berkas dan memeriksanya, mencoba untuk mengabaikan Luna.
"Tapi aku bosen di rumah, Mas."
"Kamu bisa melakukan apa pun, kecuali pergi bekerja."
Raka membalik halaman berkas tanpa melihat ke arah Luna.
"Kenapa, Mas?"
TAP
Raka menjatuhkan map kembali ke atas meja dengan sedikit kasar. Suara benturan itu reflek membuat Luna terdiam.
Tatapan Raka berubah lebih tajam.
"Apa uang yang aku kasih sekarang gak cukup hingga kamu ngotot mau bekerja?" Nada suara Raka terdengar lebih tinggi.
Luna menggeleng cepat.
"Mas, ini bukan masalah uang. Aku hanya bosan dan ingin membantu temanku," ucap Luna.
"Gak Luna."
"Tapi —"
Luna belum menyelesaikan ucapannya, tetapi Raka sudah lebih dulu memotongnya.
"Cukup, Luna!" Suara Raka menggema di kamar.
"Aku bilang gak ya gak."
Raka menatap Luna tanpa berkedip.
"Dan aku minta jangan bahas hal ini lagi. Aku gak suka."
Raka menarik napas kasar sebelum melanjutkan ucapannya.
"Ingat ini! Tugasmu hanya untuk melayani suami. Bukan mencari uang."
Ucapan itu membuat dada Luna terasa sesak.
"Mas, kamu ngerti gak sih kalau aku bosan," ucap Luna.
Matanya mulai berkaca-kaca. Tarikan napasnya tidak beraturan karena menahan emosi.
"Aku kesepian."
Luna menundukkan kepalanya.
"Andai saja ada anak di rumah ini. Aku pasti tidak akan merasa seperti ini."
Mendengar itu, Raka langsung menatapnya tajam.
"Jadi kamu sekarang menyalahkan aku?" Raka mulai memperlihatkan kemarahannya.
"Mas, bukan bagitu."
"Lalu apa?"
Luna memberanikan diri untuk mendongak.
"Kita bisa adopsi, kan?"
Rahang Raka mengeras seketika.
"Gak usah macam-macam, Luna."
"Aku gak macam-macam."
"Cukup, Luna. Jangan bicara lagi!"
Suara Raka kembali meningggi. Ia lalu mengambil tas kerja dan kopernya dengan kasar.
"Lama-lama aku muak sama kamu."
Ucapan itu menghantam hati Luna lebih keras dari bentakan sebelumnya.
Tanpa menoleh lagi, Raka melangkah keluar dari kamar. Pintu terbuka, lalu tertutup kembali dengan keras.
Luna berdiri mematung, sebelum menjatuhkan tubuhnya di kursi. Pandangannya beralih ke meja di hadapannya. Secangkir kopi masih mengepul uap tipis dan sepiring roti panggang yang ia siapkan dengan penuh perhatian belum tersentuh.
Perlahan Luna menghembuskan napas panjang. Matanya memerah, tetapi ia menahan genangan cairan bening yang sudah memenuhi matanya. Di tengah keheningan malam, Luna menatap pintu yang ditutup oleh Raka.
Ia juga bertanya-tanya di mana letak kesalahannya hingga suaminya berubah begitu dingin padanya.
emmmm kaya ga deh vanes ga jadi malu secara Raka mana mau lihat orang tersayang tersakiti
OMG kalau terjadi she so dammm sad man