NovelToon NovelToon
Cemara Juga Punya Luka

Cemara Juga Punya Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Teen / Balas Dendam
Popularitas:425
Nilai: 5
Nama Author: Sifanursiami

Di balik rumah yang hangat, semua orang memakai topeng paling rapi
Bagi dunia luar, Haseena adalah remaja berprestasi kebanggaan Abah. Namun di balik tawanya, Haseena menderita gangguan kecemasan dan terpaksa meminum obat penenang secara sembunyi-sembunyi selama lima tahun lalu.
Haseena mengira hanya dia yang punya rahasia. Sampai suatu malam, dia menemukan botol obat misterius di saku jaket abangnya, melihat kode lampu senter berkedip tiga kali di kegelapan sawah belakang rumah, dan kakak perempuannya yang bersikeras ingin pergi jauh
"Kini, Haseena terjebak dalam sandiwara sempurnanya. Berpura-pura menjadi gadis ceria untuk menutupi paranoia, sambil diam-diam mengumpulkan kepingan teka-teki yang mungkin akan menghancurkan hidupnya selamanya. Haseena harus memilih: tetap menjadi 'Ahli Ngeles' yang dicintai publik, atau membuka kotak Pandora tentang hilangnya sang kakak—meskipun itu berarti ia harus kehilangan segalanya, termasuk pria yang baru saja ia percayai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifanursiami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

Halaman sekolah telah dipenuhi kendaraan sejak pukul tujuh pagi. Mobil, sepeda motor, hingga beberapa angkot berhenti silih berganti di depan gerbang. Hari itu bukan lagi hari belajar seperti biasanya. Hari itu adalah hari perpisahan. Hari terakhir para siswa mengenakan seragam sebagai murid sekolah itu.

Setelah mengikuti briefing singkat bersama seluruh panitia, Haseena dan Aretha membawa sebuah meja kecil ke dekat pintu masuk aula. Di atasnya telah tersusun buku tamu, daftar hadir, beberapa pulpen, dan denah tempat duduk yang akan dibagikan kepada para tamu.

Awalnya tugas mereka adalah mendokumentasikan acara sekaligus mengedit video setelah kegiatan selesai. Namun karena pekerjaan itu baru bisa dimulai ketika seluruh rangkaian acara berakhir, ketua panitia meminta mereka membantu divisi penerima tamu terlebih dahulu.

"Aku nggak nyangka kita jadi resepsionis sehari," bisik Aretha sambil merapikan buku tamu.

Haseena terkekeh pelan. "Lumayan, latihan jadi mbak-mbak EO."

"Kamu mah ada aja."

Mereka saling tersenyum sebelum tamu pertama datang.

"Selamat pagi, Pak. Selamat datang di acara Perpisahan Angkatan XII. Silakan mengisi buku tamu terlebih dahulu," sapa Haseena dengan senyum ramah.

"Oh, baik, Nak."

"Kalau sudah selesai, Bapak bisa langsung masuk lewat pintu sebelah kiri. Tempat duduk orang tua ada di barisan depan."

"Terima kasih."

"Sama-sama, Pak."

Belum sempat tamu pertama berjalan masuk, tamu berikutnya sudah berdatangan.

"Nak, toilet sebelah mana, ya?"

"Lurus saja, Bu, nanti belok kanan di ujung koridor."

"Terima kasih."

"Ruangan panitianya di mana?"

"Kalau panitia ada di belakang panggung, Pak."

"Ini tanda tangannya di sini?"

"Iya, Bu."

Pertanyaan demi pertanyaan terus berdatangan tanpa henti. Meski kedua kakinya mulai terasa pegal karena terus berdiri, Haseena tetap mempertahankan senyumnya. Hari itu ia ingin semua tamu merasa disambut dengan baik.

Di sela-sela kesibukan itu, seorang ibu paruh baya datang bersama suami dan dua orang anaknya. Mereka tampak begitu akrab. Sang ayah menggandeng anak bungsunya, sementara sang ibu membuka buku tamu dengan wajah penuh senyum.

"Nak..."

"Iya, Bu?"

"Kalau keluarga yang datang lengkap begini, tanda tangannya satu saja atau semuanya?"

Jantung Haseena mendadak berdegup lebih cepat.

Lengkap.

Hanya satu kata.

Namun kata itu seolah menariknya kembali ke beberapa minggu yang lalu.

Saat Ibu masih berdiri di dapur sambil menggoreng tempe.

Saat Kak Husna masih mengacak rambutnya setiap pagi.

Saat Abang masih tertawa tanpa menyimpan kemarahan.

Saat rumah itu... masih benar-benar rumah.

Tangannya yang memegang pulpen perlahan gemetar.

Pandangan Haseena mulai kosong.

Ia membuka mulut, tetapi tak satu pun kata berhasil keluar.

Aretha yang berdiri di sampingnya segera menyadari perubahan itu.

"Oh, satu saja tidak apa-apa, Bu," jawab Aretha sambil tersenyum. "Perwakilan keluarga juga boleh."

"Oh begitu ya? Terima kasih."

"Sama-sama, Bu. Silakan masuk."

Pasangan itu pun berlalu tanpa pernah tahu bahwa pertanyaan sederhana mereka baru saja menyentuh luka yang paling dalam.

Haseena masih menundukkan kepala.

Ia menggigit bibirnya pelan, berusaha menahan air mata yang mulai memenuhi pelupuk matanya.

Aretha menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat, lalu menggenggam tangan sahabatnya.

"Seen..."

Haseena menarik napas panjang sebelum tersenyum kecil.

"Aku nggak apa-apa."

"Kamu bohong."

Haseena terkekeh pelan meski suaranya terdengar bergetar.

"Nggak... aku cuma takut make up murahku luntur."

Aretha ikut tersenyum, tetapi matanya justru berkaca-kaca.

Ia tahu.

Yang ditakutkan Haseena bukanlah make up yang luntur.

Melainkan air mata yang tak lagi sanggup ia sembunyikan.

Di hadapannya, satu per satu teman mereka datang bersama keluarga masing-masing. Ada yang sibuk berfoto dengan ayah dan ibunya. Ada yang dipeluk kakaknya. Ada pula yang bercanda dengan adik-adiknya sambil tertawa lepas.

Tanpa sadar, pandangan Haseena mulai mencari satu sosok yang tak mungkin lagi datang.

Seseorang yang biasanya paling sibuk merapikan kerudungnya sebelum berfoto.

Seseorang yang selalu berkata, "Putri Ibu hari ini cantik sekali."

Namun hari ini...

Kursi itu akan tetap kosong.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Haseena benar-benar memahami bahwa kehilangan tidak selalu terasa saat seseorang pergi.

Kadang...

Kehilangan baru benar-benar terasa ketika kita melihat semua orang masih memiliki apa yang telah lama hilang dari diri kita.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!