NovelToon NovelToon
Cegil Andara: Mencintai Kakak Angkatku

Cegil Andara: Mencintai Kakak Angkatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Abi, tolong lamarin Kak Kafa untuk aku."
"Dara, kamu sadar gak kalau kamu itu perempuan?"
"Sadar, kenapa memang?"
"Ya mana ada perempuan yang meminta ayahnya untuk melamar seorang laki-laki untuk dirinya sendiri seberani itu?"
"Ada, dan itu aku."

***

"Kak Kafa, nikah yuk!"
"Kamu belum capek?"
"Tidak akan pernah capek."

Andara (20) si gadis cegil yang selalu terang-terangan mengatakan bahwa ia mencintai Kafa (30). Ia tidak akan berhenti sampai mendapatkan cinta sang Kakak.
Kafa adalah anak angkat dari Azzam dan Aira, orang tua kandung Andara.
Apakah Andara bisa mendapatkan hati dan cinta Kafa?
Awalnya tidak, namun takdir memihak Dara.

***

"Abi, aku akan menikahi Andara. Aku akan menyembuhkan segala traumanya."
Baca terus kisah mereka... Novel ini spin off dari buku 'Penawar Luka Aira'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sakit Hatinya Andara

"Aku menulis sebuah cerita yang didalamnya ada aku dan kamu. Di setiap katanya, tersimpan tentang cinta. Hingga aku tak sanggup menuliskan keburukan di dalamnya. Sebab bagiku, bahkan luka yang datang darimu terasa lebih lembut dibanding bahagia dari orang lain."

- Andara Fairouza Aileen Malik -

***

"Kafa mengundang Abi dan Bunda malam ini karena Kafa ingin meminta restu kalian."

"Kafa ingin segera melamar Giska."

Deg!

Seolah ada sesuatu yang menghantam dada Andara begitu keras. Jantungnya seperti berhenti berdetak sesaat. Tatapannya terkunci pada wajah Kafa. Kalimat yang baru saja didengarnya terasa begitu asing.

"Kafa ingin melamar Giska..."

Tangannya yang berada di bawah meja perlahan mengepal. Paper bag berisi scrapbook yang sejak tadi ia pangku mendadak terasa sangat berat.

Azzam dan Aira saling berpandangan. Mereka mengenal Giska. Gadis itu adalah putri dari salah satu rekan bisnis Azzam.

Secara keluarga, mereka tidak memiliki keberatan sedikit pun. Namun... ada hal lain yang membuat keduanya memilih diam.

Mereka sama-sama tau. Bahwa putri mereka mencintai Kafa dengan sepenuh hati. Selama ini mereka hanya berharap waktu akan menjawab semuanya. Tetapi malam ini kenyataan berkata lain.

Tatapan Aira perlahan beralih kepada Andara yang sejak tadi hanya menundukkan kepala. Hatinya ikut terasa sesak.

Azra pun tak kalah terkejut. Biasanya ia paling senang menggoda adiknya dengan sebutan "cegil".

Namun kali ini ia sama sekali tidak ingin meledek. Ia tau. Andara pasti sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.

Azzam akhirnya membuka suara. "Kamu serius, Kaf?"

Kafa mengangguk mantap. "Iya, Abi. aaf kalau semuanya terasa mendadak. Awalnya hubungan kami hanya sebatas urusan pekerjaan. Giska adalah teman sekaligus klien Kafa. Namun semakin lama kami semakin sering bertemu. Kami tidak pacaran tapi kami sudah berkomitmen. Karena itu Kafa ingin langsung datang meminta restu Abi dan Bunda."

Azzam mengangguk pelan. "Kapan rencananya?"

Giska menjawab dengan sopan. "Kami masih membicarakannya, Om. Semuanya memang masih sangat baru."

Suasana kembali hening.

Beberapa detik kemudian Azzam tersenyum tipis. "Kalau memang kalian sudah sama-sama yakin dan semua ini dilakukan dengan cara yang baik, Abi dan Bunda merestui. Asal itu memang membuat kalian nyaman dan bahagia."

"Terima kasih, Abi," ucap Kafa lega.

Namun, ucapan restu itu justru terasa seperti pisau yang perlahan mengiris hati Andara. Ia masih diam. Tidak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Yang terus terngiang di kepalanya hanyalah kejadian beberapa jam lalu di dalam mobil.

"Kakak gagal jagain kamu."

Sentuhan lembut di pipinya. Tatapan penuh rasa bersalah itu. Lalu... kecupan singkat yang membuatnya semalaman tak bisa memejamkan mata.

Dan dini hari tadi, ia bahkan mengirim voice note.

"Happy birthday... Love you, Kak."

Semua harapan yang sempat tumbuh ternyata hanya tinggal harapan. Tanpa sadar, Andara menggigit bibirnya pelan agar air matanya tidak jatuh.

Di seberang meja, Kafa melirik sekilas ke arahnya. Melihat kepala Andara yang terus tertunduk membuat dadanya ikut terasa sesak.

"Maafkan kakak, Dara..." batinnya. "Ini satu-satunya cara agar kamu berhenti menunggu seseorang yang tidak seharusnya kamu tunggu."

Andara menarik napas dalam-dalam. Lalu berdiri perlahan.

"Maaf semuanya..." Suaranya terdengar pelan. "Dara izin ke toilet sebentar."

Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik. Paper bag berisi hadiah ulang tahun untuk Kafa masih tertinggal di kursinya.

"Dara..." Aira spontan hendak bangkit.

Namun Azzam perlahan menahan pergelangan tangan istrinya.

"Biarkan. Nanti Azra yang menyusul."

Azra langsung berdiri. "Iya, Bi."

Ia segera berjalan cepat mengejar adiknya. Namun... mereka semua salah. Andara sama sekali tidak menuju toilet. Begitu keluar dari restoran, langkahnya berubah menjadi lari.

Semakin lama semakin cepat. Air mata yang sejak tadi mati-matian ia tahan akhirnya luruh tanpa bisa dicegah.

Ia tidak peduli lagi ke mana kakinya melangkah.nTidak peduli jika Abi dan Bundanya nanti marah karena ia pergi sendirian.

Saat ini ia hanya ingin menjauh. Menjauh dari restoran itu. Menjauh dari suara tawa. Dan menjauh dari laki-laki yang selama bertahun-tahun memenuhi seluruh isi hatinya tetapi malam ini memilih perempuan lain untuk menjadi pendamping hidupnya.

***

Sudah hampir sepuluh menit berlalu. Namun Andara tak kunjung kembali dari toilet.

Azra yang sejak tadi berdiri di depan pintu toilet wanita mulai gelisah.

Ia melirik jam tangannya berkali-kali. "Dara lama banget..."

Akhirnya ia menghampiri seorang petugas kebersihan yang baru saja keluar.

"Permisi, Bu."

"Iya, Mas?"

"Tadi ada perempuan berhijab warna krem masuk ke toilet. Masih di dalam, ya?"

Ibu itu menggeleng. "Nggak ada, Mas. Toiletnya kosong."

Azra mengernyit. "Kosong?"

"Iya. Dari tadi nggak ada orang."

Wajah Azra seketika berubah pucat. Tanpa pikir panjang ia langsung berlari kembali ke ruang makan.

"Abi!"

Azzam dan Aira yang sedang berbincang dengan Kafa langsung menoleh.

"Kenapa, Ra?" tanya Azzam.

"Dara nggak ada!"

"Maksud kamu?"

"Dia nggak ada di toilet. Petugas bilang dari tadi toiletnya kosong."

Deg.

Aira spontan berdiri dari kursinya. "Ya Allah... Ke mana Dara?"

Azzam langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Andara.

Satu kali. Tidak diangkat.

Dua kali. Tetap tidak ada jawaban.

Wajah Azzam mulai dipenuhi kecemasan. "Teleponnya aktif, tapi nggak diangkat."

Azra ikut mencoba menghubungi. Hasilnya sama. Tidak ada jawaban.

Aira mulai menangis pelan. "Dia pasti sedih... Ya Allah, jangan sampai Dara kenapa-kenapa."

Azzam segera mengambil keputusan. "Azra"

"Iya, Bi."

"Kita cari Dara sekarang."

"Iya."

Azzam lalu menoleh kepada Kafa dan Giska. "Kafa, Giska, maaf Abi pamit dulu. Abi harus cari Andara."

"Apa boleh kami ikut mencari, Om?" tanya Giska.

Azzam menggeleng pelan. "Tidak perlu. Nanti kalau Andara sudah ketemu, Abi kabari."

Ia menatap Kafa dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Terima kasih ya, Kaf. Abi doakan semua rencana kamu berjalan lancar. Nanti kalau sudah menentukan waktu lamaran, kabari Abi."

"Iya, Bi."

Tak lama kemudian Azzam, Aira, dan Azra bergegas meninggalkan restoran.

Sesaat setelah keluarga itu pergi, suasana meja menjadi begitu sunyi. Kafa hanya menatap ke arah pintu keluar restoran.

Tatapannya kosong. Pikirannya sama sekali tidak berada di hadapan Giska. Ia membayangkan Andara yang berlari keluar dengan menahan tangis.

Membayangkan gadis itu sendirian. Membayangkan jika terjadi sesuatu padanya. Tangannya tanpa sadar mengepal di atas meja.

Jauh di dalam hatinya, ia ingin segera menyusul. Ingin memastikan Andara baik-baik saja.

Namun... ia menahan dirinya. Keputusan untuk melamar Giska adalah pilihannya sendiri. Tidak pantas rasanya meninggalkan perempuan yang baru saja ia minta untuk menjadi pendamping hidupnya demi mengejar perempuan lain. Meski perempuan itu adalah Andara.

Giska diam-diam memperhatikan perubahan ekspresi Kafa. Ia mengenal bahasa wajah. Dan wajah laki-laki di hadapannya sedang dipenuhi kegelisahan.

"Kaf..."

Kafa menoleh. "Iya?"

"Kamu khawatir sama Andara, ya?"

Kafa menggeleng pelan. "Nggak."

Jawaban itu terdengar terlalu cepat.

Giska tersenyum tipis. "Kamu nggak pandai bohong."

Kafa terdiam.

"Katanya... Andara suka sama kamu?"

Kafa mengembuskan napas pelan. "Semua orang yang mengenalnya juga tau."

"Iya. Dia nggak pernah menyembunyikan perasaannya." Giska mengangguk kecil. "Lalu, kenapa kamu nggak memilih Andara saja?"

Kafa terdiam. Pertanyaan itu membuat jemarinya yang sedang menggenggam gelas perlahan mengencang. Ia tersenyum tipis, namun senyum itu sama sekali tidak sampai ke matanya.

"Gak semudah itu, Gis."

Giska memiringkan kepalanya. "Karena dia adik angkat kamu?"

"Iya. Itu salah satu alasannya."

Kafa menatap kosong ke arah pintu restoran yang sejak tadi dilalui keluarga Azzam. "Dari kecil aku yang selalu jagain dia. Aku yang ngajarin dia banyak hal. Aku juga yang selalu janji sama Abi dan Bunda kalau aku bakal jadi kakak yang baik buat Andara."

Ia mengembuskan napas panjang. "Kalau sekarang aku menerima perasaannya, apa bedanya aku mengkhianati kepercayaan mereka? Aku merasa tidak pantas untuk dirinya."

Giska mengangguk pelan. Ia bisa memahami kegelisahan laki-laki di hadapannya.

"Tapi... Kamu menyayanginya, kan?"

Kafa terdiam cukup lama. Matanya perlahan menunduk.

"Aku sayang. Sebagai adik." Jawaban itu terdengar begitu cepat.

Seolah-olah sudah ia siapkan berkali-kali.nNamun entah mengapa... Giska justru merasa jawaban itu terdengar seperti seseorang yang sedang meyakinkan dirinya sendiri.

"Yakin?"

Kafa tersenyum hambar. "Harus yakin."

Kalimat itu membuat Giska semakin curiga. "Harus? Bukan memang begitu?"

Kafa kembali terdiam. Beberapa detik kemudian ia menggeleng pelan. "Kalau aku mengikuti apa yang sedang aku rasakan sekarang, aku takut semuanya jadi salah."

"Salah?"

"Aku takut melukai Abi dan Bunda. Aku takut mengecewakan mereka. Aku takut orang-orang berpikir aku memanfaatkan hubungan keluarga. Dan yang paling aku takutkan, Andara nanti akan menyesal. Lagian aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan mempunyai perasaan apapun pada adikku sendiri."

Giska menatap wajah Kafa lekat-lekat. "Lalu kenapa kamu memilih aku?"

Pertanyaan itu membuat Kafa menoleh. "Karena kamu perempuan baik. Kamu dewasa. Kita saling mengenal. Dan aku rasa, aku bisa belajar mencintai kamu setelah menikah."

Ruangan mendadak terasa sunyi.

Giska hanya tersenyum kecil. Namun senyum itu menyimpan rasa pahit.

"Kaf... Aku boleh jujur?"

"Boleh."

"Aku memang menyukai kamu. Makanya waktu kamu datang dan bilang mau melamar aku, aku kaget sekaligus senang."

Kafa mendengarkan tanpa menyela.

"Tapi aku nggak mau jadi pelarian."

Tatapan Kafa perlahan berubah. "Maksud kamu?"

Giska menggeleng pelan. "Aku perempuan. Aku bisa membedakan laki-laki yang benar-benar mencintaiku dan laki-laki yang sedang berusaha melupakan perempuan lain."

Kafa spontan membalas, "Bukan begitu."

"Benarkah?"

"Iya."

"Lalu kenapa sejak keluarga Om Azzam pergi mata kamu nggak pernah lepas dari pintu restoran?"

Kafa membeku.

Giska melanjutkan dengan suara lembut. "Kenapa wajahmu sepucat itu saat dengar Andara hilang? Kenapa dari tadi kamu berkali-kali mengecek ponselmu? Dan kenapa... kamu terlihat seperti ingin berlari keluar sejak tadi?"

Kafa tidak mampu menjawab.

Semua yang dikatakan Giska benar adanya.

Giska mengembuskan napas pelan. "Aku gak tau sebenarnya apa yang kamu rasakan ke Andara. Mungkin memang hanya rasa sayang seorang kakak. Mungkin juga lebih dari itu. Tapi sebelum kamu melangkah lebih jauh pastikan dulu isi hatimu. Karna aku tidak ingin menikah dengan laki-laki yang setiap malam memikirkan perempuan lain."

Ucapan itu membuat Kafa terdiam sangat lama. Untuk pertama kalinya malam itu, ia mulai mempertanyakan keputusan yang baru saja ia ambil.

"Gis, jangan khawatir." Kafa menatap Giska dengan tenang. "Aku tidak memiliki perasaan apa pun pada Andara. Kekhawatiran aku sama dia murni karena dia adik aku. Aku sudah terbiasa menjaganya sejak dulu."

Ia berhenti sejenak sebelum kembali berkata, "Aku yang datang kepadamu. Aku yang meminta izin kepada Abi dan Bunda. Dan aku juga yang meminta restumu. Mulai sekarang aku akan berusaha menjadi laki-laki yang pantas untukmu. Aku akan mencoba mencintaimu."

Giska menatap Kafa cukup lama. Ia tersenyum tipis, namun sorot matanya masih menyimpan keraguan.

"Baiklah. Aku percaya sama ucapan kamu. Tapi, Kaf, kalau nanti kamu sudah menjadi milikku, aku nggak akan berbagi."

Kafa sedikit mengernyit. "Maksud kamu?"

Giska menghela napas pelan. "Kamu yang datang kepadaku. Bukan aku yang merebut kamu dari siapapun. Jadi kalau nanti kita sudah bertunangan atau menikah, aku ingin kamu benar-benar menjadi suamiku. Bukan suami yang hatinya masih tertinggal pada perempuan lain. Aku nggak akan bisa menerima itu."

Kafa mengangguk pelan. "Itu wajar."

Giska kembali menatapnya. "Aku tau Andara mencintaimu, semua orang juga tau. Dan aku juga tau, dia pasti sangat terluka malam ini. Tapi aku tidak bisa mundur. Karena yang memilihku adalah kamu. Aku hanya ingin memastikan satu hal. Apa pun yang terjadi nanti jangan pernah membuatku merasa menjadi pilihan kedua. Kalau kamu sudah mendapat restu Papa dan Mamaku, jangan pernah mempermalukan mereka. Karena aku tidak akan bisa menerimanya."

Suasana kembali hening.

Kafa mengembuskan napas panjang. "Kamu tidak akan menjadi pilihan kedua. Kamu adalah perempuan yang aku pilih."

Giska akhirnya mengangguk. "Kalau begitu aku akan mempercayaimu."

Ia lalu berdiri dari kursinya. "Ayo pulang."

Kafa ikut berdiri. "Iya."

Mereka berjalan berdampingan meninggalkan restoran. Namun tanpa disadari Giska beberapa kali Kafa menggenggam ponselnya. Jempolnya nyaris menekan nama Andara di daftar kontak.

Berkali-kali. Tetapi setiap kali itu pula, ia mengurungkan niatnya. Ia hanya mampu berdoa dalam hati. "Semoga kamu baik-baik saja, Dara."

Sementara itu...

Andara terus berlari tanpa tujuan. Ia bahkan tidak tau sedang berada di jalan mana. Air matanya tak kunjung berhenti mengalir.

Beberapa pejalan kaki sempat menoleh heran melihat seorang gadis berhijab berlari sambil menangis. Namun Andara tak memedulikannya. Yang ia tau dadanya terasa begitu sesak.

Setelah entah berapa lama berlari, langkahnya mulai melemah. Napasnya tersengal. Kakinya terasa berat. Hingga akhirnya ia berhenti di sebuah halte yang cukup sepi.

Perlahan ia duduk di bangku besi halte itu. Kedua tangannya menutupi wajah. Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah tanpa sisa.

"Kenapa... Kenapa harus hari ini, Kak..."

Hari ulang tahun laki-laki yang paling ia cintai. Hari yang setiap tahun selalu ia nantikan. Namun justru di hari itu, ia mendengar kabar bahwa laki-laki tersebut akan melamar perempuan lain.

Andara tertawa kecil di sela tangisnya. Tawa yang terdengar jauh lebih menyakitkan daripada tangisan.

"Aku ini lucu banget ya... Udah ngejar sepuluh tahun..."

"Udah nulis 'future husband' di mana-mana..."

"Eh... future husband-nya malah mau nikah sama orang lain."

Air matanya kembali jatuh. Ia menengadah menatap langit malam.

"Kata orang kalau kita mencintai seseorang karena Allah, kita harus siap menerima takdir Allah juga. Bener ya..."

"Tapi..." Andara menggigit bibirnya kuat-kuat. "...kenapa sesakit ini?"

Tangannya perlahan menyentuh pipi kirinya. Pipi yang kemarin dikecup singkat oleh Kafa. Seketika dadanya kembali terasa nyeri.

"Kenapa, Kak... Kalau memang mau pilih Bu Giska. Kenapa kemarin Kakak ngelakuin itu ke aku? Kenapa bikin aku berharap kalau ujung-ujungnya harapan itu dihancurin di hari yang sama..."

Tangisnya kembali pecah. Ia menangis sendirian di halte itu.

Tidak tau bahwa di tempat lain, seluruh keluarganya sedang panik mencarinya.

***

Baru saja Kafa dan Giska tiba di area parkiran restoran. Kafa baru hendak membuka pintu mobilnya ketika seorang pelayan restoran berlari kecil menghampiri mereka sambil membawa sebuah paper bag berwarna cokelat.

"Maaf, Pak."

Kafa menoleh. "Iya?"

"Sepertinya ada barang yang tertinggal di kursi tadi."

Pelayan itu menyerahkan paper bag tersebut.

Kafa menerimanya. "Oh, iya. Terima kasih, Mas."

"Sama-sama, Pak."

Pelayan itu pun kembali masuk ke dalam restoran.

Kafa memandangi paper bag itu sesaat. Belum sempat ia membuka isinya, Giska yang berdiri di sampingnya ikut melirik.

"Kayaknya itu dari Andara buat kamu, deh."

Kafa mengangguk pelan. "Mungkin."

Tangannya sempat ingin membuka paper bag itu saat itu juga.

Namun kemudian ia mengurungkan niatnya. "Nanti aja. Aku buka di rumah."

"Iya, nggak apa-apa."

Kafa membuka pintu bagasi kecil di belakang kursi penumpang, lalu meletakkan paper bag itu dengan hati-hati.

Entah mengapa ia merasa tidak siap melihat isi hadiah tersebut. Apalagi mengingat bagaimana Andara berlari meninggalkan restoran dengan mata yang nyaris menangis.

Perasaannya kembali terasa sesak. Ia segera menutup pintu mobil.

"Yuk."

"Iya."

Keduanya masuk ke dalam mobil. Kafa menyalakan mesin.

Brumm...

Mobil perlahan keluar dari area parkiran. Sepanjang perjalanan menuju rumah Giska, suasana kembali dipenuhi keheningan.

Radio mobil dimatikan. Tak ada percakapan. Sesekali pandangan Kafa tanpa sadar melirik ke arah kaca spion tengah.

Bukan untuk melihat jalan melainkan ke arah paper bag yang tergeletak diam di kursi belakang. Hadiah ulang tahun dari gadis yang baru saja ia patahkan hatinya.

Ia menggenggam setir sedikit lebih erat. Dalam hati, ia hanya mampu berbisik, "Maafkan aku, Dara..."

Sementara itu, Giska yang duduk di kursi penumpang hanya memandang ke luar jendela. Ia menangkap perubahan ekspresi Kafa sejak paper bag itu diterima.

Namun ia memilih diam. Karena ia tau... beberapa perasaan tidak bisa dipaksa selesai hanya dalam satu malam.

1
Aidil Kenzie Zie
padahal Giska takut Kafa yg akan berulah e e e ternyata bapaknya yang nyari 3B 🤭🤭🤭
Syti Sarah
kok Willy jdi sprti itu ya .anak2 yg gak brdosa yg. mnjdi kroban nya
syora: ulh yg gmna nih takutnya udh yg dibuat over dosis,bikin kita trauma 🤭🤭🤭🤭
total 4 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh kasian nasib keluarga yang anaknya diculik
cutegirl
sok deh bapak bapak
Syti Sarah
mungkin ini lh nanti pnyebab Giska sama Kafa gak jdi mnikh kli ya.org tua Giska trllu mrndahkn org lain yg di anggap nya tidak setara dgn nya .jngan trllu mrndahkn org lain nnti akan nyesel sndiri pak
Syti Sarah: kata aku dong Thor 🤭🤭🤣🤣🤣
total 2 replies
Syti Sarah
yg kuat ya dar 🥺
Aidil Kenzie Zie
kamu masih berharap Dara ngejar???😡😡 sakit kamu Kaf🤣🤣🤣🤣
Syti Sarah
mulai deh Tristan bikin ulah


mntapkn hti kamu dar,kamu juga brhak bhgia
cutegirl
bagus dar lanjutkan
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kayaknya sekarang giliran kafa yang mendekati
Syti Sarah
Bru Mrsa khilngan kn kamu kaf ,itu lh juga yg dara rasakan
Ayudya
mampir kak
cutegirl
up lgi dong ka😋
Syti Sarah
ciiie,ada yg lgi cmburu tuh 🤭🤭

selicik itu mmang Tristan ya ,dia lbih dulu mngmbil hati Azzam untuk mlncarkn rncan nya .smoga aja sellu DLAM lindungan Allah SWT 🥰
Nifatul Masruro Hikari Masaru
yang cemburu gantian
Anak manis
ikut sedih🥲
Shabrina Darsih
jd ukut sedih
Syti Sarah
ikhlasin aja dar,Toh nanti ujung2 nya Kafa sndiri yg mngjar kamu.biar dia MRSA apa yg kamu rasain dar.mncintai seseorang tpi tak bisa untuk menggapai nya
Aidil Kenzie Zie
nggak usah dipedulikan lagi Dar cuex bebek aja🤣🤣🤣
Syti Sarah
ya udh dar,lupain aja .kamu juga hrus bhgia dara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!