Seorang ayah angkat yang secara terpaksa menikahi putri angkat nya. Dia melakukan hal itu karena memenuhi janjinya kepada almarhumah sahabat nya untuk melindungi nya.
Sebenarnya dia telah gagal memenuhi janjinya karena nasib malang yang menimpa Artika. Ternyata masih memiliki hubungan darah dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MCT 22
Aldri membelai wajah Antika penuh kasih sayang. Terpaan rasa bersalah kembali bersarang dalam benaknya. Mungkin ini salah satu caranya untuk bisa menebus semua kesalahan yang ia lakukan. Menemani Antika agar bisa melewati setiap malam tanpa kehadiran mimpi-mimpi buruk yang menyertai tidurnya.
" Aku berjanji akan menemanimu melewati semuanya. Kamu tidak sendiri, Sayang."
Aldri berbisik. Pria itu dapat melihat seulas senyum di bibir mungil Antika. Pria itu kembali mendekat Antika dalam tidurnya dan ia pun memejamkan mata.
Sesuai harapan keduanya. Mereka kini berada di alam mimpi. Keduanya bertemu dan memadu kasih.
Aldri menatap Antika penuh kasih. Tangannya menggenggam kedua tangan Antika. Ia mencium kening gadis itu dengan lembut. Aldri memberikan pelukan hangat kepada sang istri.
Jantung kedua insan itu kini sedang berdetak melebihi batas normal. Aldri mendekatkan wajahnya. Perlahan ia mengecup kedua mata Antika, lalu ke kedua pipi dan hidung mancungnya. kemudian perlahan beralih ke bibir mengirim Antika. Seketika kedua beradu pandang. Tak lama keduanya pun mulai memperdalam kecupan menjadi sebuah ciuman yang semakin intens. Aksi berciuman yang cukup lama hingga membuat keduanya seolah kehabisan nafas. Di sela manisnya tumbuhan itu, Aldri berbisik di telinga Antika.
" Tika bolehkah aku menyentuhmu?" Atika menatap kedua manik sang suami. Wajah nya yang merona berusaha tersenyum. Meskipun malu gadis itu pun akhirnya mengangguk.
Tanpa menunggu lama Aldri menggendong tubuh Antika. Pria itu membawanya masuk ke kamar dan menutup pintunya.
Aldri tersenyum dalam mimpinya. Atika yang sudah terbangun lebih awal usai mendengar gema adzan. Memandang wajah tampan sang suami ketika tersenyum. Gadis itu sangat takjub betapa tampan sang suami.
Meskipun sempat terkejut mendapati seorang pria berada di sampingnya ketika terbangun, Antika sungguh bahagia. Tanpa sadar tangannya menyentuh tulang hidung Aldri dengan jari telunjuknya. Karena sentuhan itu, Aldri terbangun.
Antika berpura-pura masih tertidur. Ia malu karena diam-diam menatap dan menyentuh Aldri.
Aldri membuka mata. Sejenak pikirannya terlupa kalau semalam dirinya tidur di kamar sang istri. Aldri menoleh ke sampingnya. Ia tersenyum memandang wajah cantik istrinya.
Aldri melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul. 04.30 WIB. Dengan segera ia tersadar dirinya tidak pernah terbangun lebih dari ini. Biasanya iya rutin terbangun sebelum adzan Subuh memanggil. Senyenyak itukah tidurnya?
Aldri sengaja tidak membangunkan sang istri karena dirinya tahu saat ini Atika sedang tidak shalat. Aldri mengecup kening Antika lalu bergegas pergi ke kamarnya. Dengan segera dirinya mandi besar dan menunaikan shalat Subuh.
Dengan tangan yang menadah dan wajahnya mendongak teruntai ribuan doa dalam hati Aldri. Semoga Allah mengabulkan segala hajat dan harapannya.
Aldri keluar dari kamarnya dan mendapati kedua wanita yang dicintainya menunggu di meja makan. Ibunya memberikan kode yang membuatnya tersenyum malu.
Satu jam sebelumnya.
Antika membuka sebelah matanya. Ia mengintip kepergian Aldri usai mengejut keningnya. Antika bernafas lega karena suaminya tidak mengetahui bahwa dirinya telah memandang wajah Aldri ketika tertidur.
Hati Antika berbunga-bunga saat ini saking bahagianya ia berguling-guling hingga tubuhnya tertutup selimut. Saat ini posisinya menyerupai dadar gulung.
Antika menutupi wajahnya dengan bantal karena malu mengingat peristiwa semalam. Setelah iya tertidur kembali dalam dekapan Aldri. Seperti kata Aldri, mimpi buruk Antika akan tergantikan dengan mimpi yang indah. Bahkan mimpi itu terasa begitu nyata hingga membuatnya merasa malu.
Artika membalikan tubuhnya dan memukul kedua kakinya bergantian di kasur. Tingkah nya sudah seperti anak kecil yang kegirangan mendapatkan mainan yang diinginkan. Setelah sekian menit bergelut dengan bantal dan selimut. Antika memutuskan segera mandi dan membuat sarapan bersama ibu mertuanya.
Pagi ini tubuh Antika merasa lebih segar dan sehat dibanding hari kemarin. Ia pun lebih bersemangat. Mulutnya bersenandung lirih ketika memakai pakaian dan berdandan. Ia berharap semoga hari-harinya akan dipenuhi kebahagiaan seperti hari ini.
Sementara itu Aldri yang keluar dari kamar Antika berpapasan dengan sang ibu. Aldri sempat terkejut dan kikuk. Ia mengusap tengkuknya dan tersenyum kepada ibunya.
Indira pun tersenyum melihat tingkah putranya. Meskipun telah berusia lebih dari 40 tahun sang putra belum pernah sekalipun memiliki seorang kekasih. Wajar saja jika saat ini dirinya mendapati sang putra yang malu-malu.
" Ayo lekas Sholat. Nanti Ibu tunggu di ruang makan." Indira menepuk pelan lengan sang putra.
Aldri mengangguk. "Baik, Bu."
Keduanya berjalan berlawanan arah menuju ke tujuan masing-masing. Indira menggelengkan kepalanya Dan tersenyum, sedangkan Adri memejamkan mata sejenak merasa malu. Seakan dirinya tertangkap basah telah melakukan perbuatan tercela.
Itulah mengapa saat ini wajahnya merasa malu ketika memandang istri dan juga ibunya di meja makan.
" Kemarilah, Al. Ayo sarapan sudah siap. Tumben hari ini sepertinya sampai sekali?" Indira tersenyum ketika bertanya. Entah apa yang sedang dipikirkan wanita itu, tapi bisa membuat sepasang suami istri di hadapannya saling melirik malu.
"Hai, ada apa dengan kalian? Ibu tanya diam saja malah saling lirik-lirikan."
" Ah, enggak kok Bu. Tidak ada apa-apa." keduanya menjawab hampir bersamaan. Indira pun tertawa.
" Bagaimana tidur kalian semalam? nyenyak kan? Kamu sudah baikan kan, Tika? Ibu benar-benar khawatir, Nak."
Iya, Bu aku udah baikan kok. Alhamdulillah. Maaf udah buat ibu khawatir."
" Tidak apa-apa, Sayang. Yang penting kamu sudah sehat sekarang."
"Iya Bu terima kasih. Semalam aku juga tidur nyenyak banget. Apalagi semalam ditemani Mas Aldri jadi makin nyenyak boboknya." Antika melirik ke arah Aldri dan menggodanya.
Pria itu tersedak mendengar penuturan sang istri.
"Aduh, Darling hati-hati dong makannya. Pelan-pelan saja."
" Salah siapa? Ini gara-gara Kamu bicara begitu?"
" Lah, kenapa jadi aku yang salah?"
"Ooohhh, jadi semalam kalian tidur sekamar? Baguslah kalau begitu.
" Apanya yang bagus, Bu?"
" Ya.... Itu. Bagus."
" Maksud nya?"
" Al, apa kamu tahu? Ibu itu sangat khawatir dengan hubungan kalian. Jujur saja Ibu sangat kepikiran kalian sebagai suami istri bisa-bisanya tidur di kamar terpisah. Orang tua mana yang bisa tenang melihatnya?"
Antika dan Aldri terdiam. Mereka berdua sesekali menatap meski sebentar.
"Maafkan aku, Bu. Ternyata selama ini membuat Ibu juga Antika khawatir.".
"Tidak perlu minta maaf. Mulai malam ini kalian harus tidur satu kamar. Terserah mau kamar mana. Jangan lupa segera pindahkan barang-barang kalian jadi satu. Pokoknya Ibu mau sebelum Ibu kembali ke Surabaya kalian sudah sekamar."
"Apa? Tapi, Bu kenapa harus pindah-pindah barang? Yang penting kami sudah sekamar."
"Ibu tidak mau tahu pokoknya hari ini juga segera pindahkan barangmu ke kamar Antika atau barang Antika ke kamarmu. Silahkan pilih ibu tahunya kalian sudah sekamar. Titik. Tidak ada bantahan, Al."
Aldri tak mampu membantah. Bukan tipekalnya menjadi seorang pembantah orang tua karena baginya sang Ibu adalah sumber kebahagiaannya. Sejak ayahnya meninggal, ibunya satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Ibu nya seorang anak panti, sedangkan Ayahnya diusir dari rumahnya ketika orang tuanya menikah lagi. Mereka ketemu di panti asuhan yang sama dan merajut impian bersama hingga menikah dan menjalin rumah tangga. Apa daya ayahnya meninggal karena kecelakaan ketika Aldri berusia 10 tahun sejak saat itulah ibunya bekerja keras demi dirinya.
Apapun ya diinginkan ibunya Aldri akan menurutinya karena ibunya pun tak pernah meminta apapun darinya selama ini. Permintaan nya pun selalu demi kebaikannya.