NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Jatuh Cinta

Sebelum Kita Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:772
Nilai: 5
Nama Author: Rosealyn

"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."

Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.

Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?

Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. Batas Waktu Tiga Puluh Hari

Keesokan paginya, Gedung Wijaya Group sudah dipenuhi aktivitas para karyawan yang berlalu-lalang. Lift eksekutif berhenti di lantai delapan, disusul langkah mantap Arga Wijaya yang keluar dengan setelan jas abu-abu gelap. Seperti biasa, setiap orang yang berpapasan menyapanya dengan hormat.

"Selamat pagi, Pak Arga."

"Pagi, Pak."

Arga membalas dengan anggukan singkat. Wajahnya tetap tenang, nyaris tak memperlihatkan apa pun. Laki-laki itu pandai menutupi wajahnya yang kelelahan karena semalaman ia hampir tidak memejamkan mata.

Begitu memasuki ruang kerjanya, Arga langsung melepaskan jas dan meletakkannya di sandaran kursi. Di atas meja telah tersusun beberapa map berisi laporan keuangan, proposal kerja sama, hingga agenda rapat dewan direksi yang harus dipimpinnya pagi itu.

Biasanya, sebelum pukul sepuluh semua dokumen itu sudah selesai ia baca. Hari ini berbeda. Hanya separuh dokumen yang Arga sentuh. Tatapannya justru berhenti pada kalender tatakan yang berada di meja kerja.

Tanggal dua puluh tujuh bulan ke tujuh. Sementara hari kelahirannya pada tanggal dua puluh lima bulan ke delapan. Jika wasiat itu benar, masih ada waktu untuk mempersiapkan pernikahan, bukan?

Arga menoleh ketika pintu ruangannya diketuk pelan. “Masuk,” ucapnya.

"Selamat pagi, Pak." Vania membawakan tablet dan secangkir kopi hitam yang menjadi kesukaan atasannya.

"Rapat dengan divisi investasi dimulai tiga puluh menit lagi. Setelah itu ada penandatanganan kerja sama dengan Sakura Holdings." Sebagai sekretaris, Vania sangat menjunjung tinggi integritas dan profesionalitas.

"Tunda semua jadwalku sampai siang." Arga terdiam beberapa saat. “Hubungi Pak Dimas Prakoso, saya mau berbicara empat mata dengannya. Untuk saat ini, saya mau mengurus sesuatu dengan pengacara itu. Setelahnya, baru kita atur agenda yang lain.”

"Baik, Pak. Akan saya hubungi segera." Vania langsung bertindak. Selang lima belas menit, dia kembali menemui Arga.

“Pak Dimas sudah mengkonfirmasi pertemuan  pukul sebelas."

"Saya berangkat sekarang."

Kantor hukum Dimas Prakoso berada tidak jauh dari kantor pusat Wijaya Group.

Ruangan itu terasa tenang. Rak-rak kayu memenuhi hampir seluruh sisi dinding, dipenuhi dokumen hukum yang tersusun rapi. Aroma kopi dan kertas memenuhi udara.

Dimas berdiri menyambut kedatangan Arga. "Silakan duduk."

Arga langsung mengambil tempat di hadapan meja kerja pria paruh baya itu.

"Saya ingin penjelasan lengkap,” ucap Arga cepat pada topik pembicaraan.

Dimas mengangguk pelan sebelum mengambil sebuah map cokelat dari laci mejanya.

"Ini salinan resmi surat wasiat mendiang Bapak Wijaya."

Map itu berpindah ke tangan Arga. Perlahan ia membuka halaman demi halaman hingga matanya berhenti pada satu paragraf yang sudah semalam disebutkan melalui telepon.

"Hak kepemimpinan penuh atas Wijaya Group diberikan kepada cucu saya, Arga Wijaya, apabila ia telah menikah sebelum genap berusia tiga puluh tahun."

Arga mengembuskan napas panjang.

"Kenapa syarat sepenting ini tidak dibicarakan sejak awal? Kakek saya sudah meninggal sejak lima bulan lalu."

“Anda tidak bertanya lebih lanjut tentang hal lainnya, Pak Arga,” Jawab Dimas yang umurnya sepuluh tahun lebih tua dari Arga.

“Itu kewajiban anda selaku pengacara untuk menerangkan pada saya.” Arga tak mau kalah.

“Anda terlalu senang menerima semua kekuasaan itu tanpa tahu persyaratan yang lain.”

Arga tersenyum sinis. “Anda berpihak pada siapa sebenarnya.”

"Almarhum pernah berkata bahwa perusahaan sebesar ini tidak cukup dipimpin oleh orang yang cerdas. Pemimpinnya juga harus mampu membangun keluarga. Tujuannya untuk menjaga keberlangsungan."

Dimas membuka lembar berikutnya. "Selama syarat itu belum terpenuhi, hak kepemimpinan penuh belum dapat dialihkan kepada Anda. Dewan komisaris berhak menunjuk pemimpin sementara untuk mengambil keputusan strategis perusahaan."

Arga mengernyit. "Jadi posisiku sebagai CEO bisa digantikan?"

"Bukan digantikan tetapi kewenangan Anda akan sangat terbatas." Dimas memilih kosa katanya dengan hati-hati. “Saya tidak memihak kepada siapapun, Pak Arga. Saya hanya menjalankan tugas.”

Melihat respon Arga yang hanya mematung, membuat Dimas kembali bersuara. "Syaratnya hanya menikah. Tidak cukup berat menurut saya. Apalagi kalau tidak salah, Anda sudah bertunangan dengan Nona Bianca."

Arga tersenyum hambar. "Hubungan kami sedang tidak baik."

"Apakah masih bisa diselamatkan?"

Arga tidak langsung menjawab. Ia mengingat beberapa bulan terakhir Bianca semakin sering menolak makan malam bersama. Pesan-pesannya mulai dibalas singkat. Telepon yang biasanya berlangsung berjam-jam kini hanya beberapa menit. Mereka masih bertahan, tetapi sama-sama tahu ada sesuatu yang berubah.

"Saya tidak tahu,” singkat Arga menjawab.

Dimas mengangguk pelan. "Saya tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi Anda."

"Tidak apa-apa."

"Namun, jika memang Anda ingin memenuhi wasiat itu ..." Sebagai pengacara, Dimas berhak memberikan solusi. "... Anda tidak punya banyak waktu."

Keluar dari kantor Dimas, Arga langsung menuju mobilnya. Baru saja pintu tertutup, ponselnya bergetar. Nama yang muncul membuatnya terdiam beberapa detik.

Bianca Calling...

Tanpa berpikir panjang, ia mengangkatnya.

"Ga ..."

Suara Bianca terdengar pelan.

"Kita bisa ketemu hari ini?"

Arga memejamkan mata sejenak. "Aku juga memang mau ketemu kamu."

"Sore nanti?"

"Boleh."

"Aku tunggu di cafe biasa."

Telepon terputus. Selama beberapa detik Arga hanya menatap layar ponselnya yang kini kembali gelap. Entah kenapa, ada firasat yang membuat dadanya terasa tidak nyaman.

Sore harinya, di cafe kecil kawasan Senopati mulai dipenuhi pengunjung yang baru pulang bekerja. Tempat itu bukan sesuatu yang asing bagi Arga maupun Bianca.

Di sinilah mereka pertama kali sepakat menjalin hubungan tiga tahun lalu.

Arga datang lebih dulu. Secangkir americano di depannya sudah mulai dingin ketika Bianca akhirnya muncul. Perempuan itu masih secantik biasanya. Blazer krem dipadukan dress putih sederhana membuat penampilannya tetap elegan. Namun, senyumnya tidak lagi sehangat dulu.

"Maaf, buat kamu menunggu.” Bianca menyapa.

Arga tersenyum sambil menggeleng. Menatap Bianca yang mengambil kursi di depannya. Padahal dahulu, perempuan itu senang sekali menyandar di bahunya sehingga mereka sering duduk bersebelahan.

Tidak ada yang langsung berbicara.

Suara mesin kopi dan percakapan pengunjung lain justru terasa lebih jelas dibanding keheningan di antara mereka.

"Aku dengar kamu sibuk." Bianca membuka percakapan.

"Seperti biasa."

"Kamu kelihatan capek."

Arga tersenyum tipis. "Semalam memang nggak tidur."

Bianca menundukkan pandangan. "Ga..." panggilnya lirih.

"Hm?"

"Aku rasa kita harus menyelesaikan semuanya."

Kalimat itu membuat jemari Arga yang menggenggam cangkir berhenti bergerak. "Maksud kamu?"

Bianca menarik napas panjang. "Aku nggak bisa lanjut."

Arga memandang perempuan di depannya cukup lama, seolah berharap kalimat berikutnya akan mengubah arti ucapan itu.

"Aku minta maaf."

"Karena pekerjaanmu?"

Bianca menggeleng.

"Lalu?" tanya Arga lagi.

"Aku cuma merasa..." Bianca tersenyum pahit. "...hubungan kita sudah lama berubah."

Arga ingin menyangkal. Ingin mengatakan bahwa semuanya masih bisa diperbaiki tetapi jauh di dalam hati, ia tahu Bianca tidak sepenuhnya salah.

Kesibukan membuat mereka semakin jauh. Pertemuan berubah menjadi formalitas. Telepon hanya membahas jadwal. Tidak ada lagi mimpi yang mereka bangun bersama.

"Jadi ini keputusanmu?"

Bianca mengangguk pelan.

"Sudah tidak bisa berubah?"

"Maaf."

Arga mengembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Bianca bangkit dari kursinya. Sebelum pergi, ia menatap Arga dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Percayalah..." Ia berhenti beberapa detik. "...aku nggak pernah berniat menyakitimu."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Bianca berbalik dan berjalan meninggalkan cafe.

Arga tetap duduk di tempatnya. Tidak mengejar ataupun memanggil Bianca supaya kembali kepadanya. Beberapa jam yang lalu ia masih berpikir Bianca adalah jawaban atas syarat wasiat kakeknya. Kini Perempuan itu juga telah pergi.

“Padahal aku mau mengajaknya menikah.” Arga tersenyum hambar. Menyayangkan segalanya berakhir disaat yang benar-benar dia butuhkan.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Arga tidak hanya berpacu dengan waktu. Ia juga harus mencari seseorang yang bersedia menjadi istrinya sebelum hitungan itu berakhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!