Dibuang dan dicap sebagai ancaman oleh militer korup karena membangkitkan Morthas—Malaikat Maut Kelas Misterius yang arogan dan ditakuti sejarah—Kael Ardyn diselamatkannya oleh guild terlarang di luar dinding peradaban. Bersama tiga jiwa abnormal lainnya, Kael harus melatih ranah jiwanya di Lapisan Kedua yang mematikan. Ini adalah kisah persekutuan empat jiwa yang siap mengguncang hukum dunia yang korup!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KONTRAK SANG PENUAI
BAB 8: KONTRAK SANG PENUAI
Morthas tergemin. Perwujudan maut setinggi empat meter itu bergeming di tempatnya, sementara kilatan energi pekat di sekitar sayap hitamnya bergejolak tidak menentu.
Untuk pertama kalinya dalam tiga ratus tahun, keangkuhan sang Penuai Nyawa terusik oleh untaian kalimat yang keluar dari lisan seorang manusia.
Namun, sedetik kemudian, keheningan itu pecah oleh tawa sinis yang menggelegar, menggetarkan seluruh fondasi dunia batin Kael.
BAAAAMMMMM!
Tanpa ada tanda kasatmata, sebuah tarikan gravitasi Void yang masif menyentak raga spiritual Kael.
Tubuhnya terpelanting ke depan, melesat lurus ke arah cengkeraman lengan hitam Morthas.
Tangan sedingin es milik entitas itu mengunci leher Kael, mengangkatnya tanpa ampun di udara.
"Uhhh..." Kael mengerang pendek saat pasokan energi spiritual di tenggorokannya terputus seketika.
Morthas mendekatkan wujudnya, mengunci manik mata Kael dalam jarak yang teramat dekat.
Meski raga spiritualnya telah babak belur di bawah dominasi mutlak sang Penuai, tidak ada setitik pun getar ketakutan di mata Kael.
Sorot matanya tetap sedalam lautan, kokoh menantang bahaya.
"Kau terlalu lancang, Manusia Fana!" geram Morthas, membawa hembusan hawa kematian yang pekat dari sela suaranya.
"Kau tidak tahu apa-apa tentang lembaran sejarah yang sebenarnya!"
BAAM!
Morthas mengempaskan Kael ke atas, lalu dengan kecepatan yang melampaui batas logika, mendorongnya jatuh menghantam lantai dunia batin dengan daya hancur yang luar biasa.
"AAAKHHH!"
Kael memekik tertahan. Rasa sakit yang teramat sangat menusuk hingga ke pusat saraf jiwanya—sebuah penderitaan ekstrem yang belum pernah ia rasakan seumur hidup.
Aliran spiritualnya serasa dicabik-cabik paksa dari dalam.
Tetapi, Kael tetaplah Kael. Mentalitas didikan militer yang keras kepala menolak untuk membuat jiwanya bertekuk lutut.
Sambil menahan gejolak di dadanya, Kael memaksakan suaranya menembus tekanan udara,
"Morthas... aku memang tidak tahu... sejarah yang sebenarnya..."
BAAAAAM!
Sebelum Kael menyelesaikan kalimatnya, gelombang tekanan maut seketika menghantam raganya kembali.
Benturan hebat itu memaksa Kael terbatuk, memuntahkan seteguk darah spiritual pekat yang langsung menguap menjadi partikel Void di udara.
Namun, di tengah siksaan rasa sakit yang meremukkan itu, sudut bibir Kael perlahan terangkat.
Ia tersenyum tenang—sebuah senyuman penuh keteguhan yang ditujukan langsung pada sang hukum alam.
"Namun Morthas... manusia adalah makhluk yang dinamis. Mereka kerap melakukan kesalahan, tetapi mereka pun belajar dengan cepat dari kesalahan tersebut," tutur Kael.
"Jika kau berniat menuai jiwaku... lakukanlah sekarang!" tegas Kael mendesak.
"Mengapa... kau justru masih menahan sabitmu dan memberiku celah untuk bicara...?"
WHUUUUSSSSSS—!
Gejolak aura hitam pekat meledak, memutus kata-kata Kael.
Morthas melayang perlahan, berdiri tepat di atas tubuh Kael yang kini terlentang tak berdaya di atas lantai mistis.
Fisiknya mungkin telah runtuh, namun tekad yang memancar dari matanya masih membarakan api yang membara.
Morthas menatap dalam-dalam ke arah mata Kael, menembus lapisan batin sang pemanggil.
Di sana, ia tidak menemukan ambisi rakus seperti para penyihir tiga abad silam; yang ia temukan hanyalah keteguhan murni dan rasa hormat yang sejajar.
Perubahan sikap Kael yang pantang menyerah meski fisiknya hancur perlahan meruntuhkan dinding pembatas keangkuhan sang Penuai Nyawa.
"Kau benar-benar keras kepala, Bocah," suara Morthas merendah, namun getarannya sanggup meruntuhkan mentalitas sebuah pasukan militer.
"Akan kuberikan satu kesempatan terakhir. Jawab pertanyaanku, bukan dengan bualan sejarah luar, melainkan dengan esensi jiwamu sendiri!"
Dengan satu sentakan daya tak kasatmata, Morthas menarik Kael hingga terduduk.
Detik berikutnya, bilah sabit panjang berwarna merah menyala yang haus darah telah melingkar erat, mengunci leher Kael.
"Jika jawabanmu gagal memuaskan ketetapanku... detik ini juga kepalamu akan terpisah dari ragamu!" ancam Morthas.
Atmosfer dimensi Void seketika membeku. Morthas menuntut jawaban mutlak,
"Apa yang kau cari dengan menjadi kuat? Apa yang kau inginkan dengan kekuatan itu? Dan apa tujuan sejatimu?!"
Napas Kael terengah-engah, memburu pasokan udara di tengah rasa sakit yang seolah tanpa akhir.
Darah segar mulai merembes dari lehernya akibat goresan tipis bilah sabit merah, namun kilat di matanya tidak meredup sedikit pun.
Ia justru tertawa lirih—sebuah tawa yang sarat akan keberanian mutlak di ujung tanduk kematian.
"Tujuan? Sederhana saja," ucap Kael lambat, menatap lurus sepasang mata Morthas yang mengerikan tanpa berkedip.
"Aku ingin menjadi satu-satunya manusia yang layak berdiri di samping sang Kematian tanpa pernah berkedip," tegas Kael.
"Jika jiwaku sekecil dan serapuh itu di matamu... potong saja leherku sekarang!"
Hening. Dimensi Void mendadak terkunci dalam kesunyian yang mencekam.
Buuuuuhhhh—!
"Hahahahaha!"
Morthas mendadak tertawa perlahan. Nada suaranya tidak lagi dipenuhi kebencian pekat, melainkan sebuah kepuasan yang agung.
Bersamaan dengan itu, tekanan aura yang menindas dada Kael lenyap seketika, dan bilah sabit merah yang melingkar di lehernya terlepas kembali ke dalam kegelapan.
"Menarik... Sangat menarik!" Morthas menggeram rendah, sepasang sayap hitamnya mengepak anggun.
"Baiklah, Manusia Fana. Aku akan meminjamkan kekuatanku padamu."
Morthas memberikan peringatan, "Namun ingat, jika jiwamu sedikit saja goyah di masa depan... aku sendiri yang akan merenggut nyawamu, bahkan menghancurkan seluruh dunia tempatmu berpijak!"
Wush!
Dalam hitungan detik, seluruh kegelapan dimensi Void runtuh dan pecah menjadi partikel cahaya.
Ikatan kontrak yang terjalin secara paksa di dalam dimensi Void memicu benturan energi masif, mengirimkan gelombang kejut yang mengguncang wadah jiwa fisik Kael di dunia nyata.
Kesadarannya tersentak hebat, ditarik kembali secara paksa menuju realitas.
"Uhuuuuukkkkk!"
Kael terbatuk keras di atas altar batu hitam markas guild.
Tubuh fisiknya langsung limbung, dan ia kembali memuntahkan darah segar karena wadah jiwanya yang berada di dunia nyata mengalami guncangan gila.
Kondisi jiwanya saat ini benar-benar sekarat akibat sisa tekanan spiritual Morthas.
Melihat Kael yang mendadak ambruk dengan darah yang keluar dari mulutnya, Grand Master Alden yang sedari tadi berjaga dengan wajah tegang langsung melompat maju menghampiri Kael.
"Minum ini! Jangan bicara dulu!" perintah Grand Master Alden dengan nada panik yang jarang terjadi, sambil menyodorkan sebuah pil penguat jiwa kelas tinggi ke mulut Kael.
Kael tidak membantah.
Dengan sisa kesadarannya yang menipis, ia langsung menelan pil tersebut bulat-bulat dan memejamkan mata, memicu sisa energinya untuk menyerap khasiat obat yang mulai menjalar hangat menambal wadah jiwanya.
Grand Master Alden berdiri, wajah tuanya kembali menegang penuh wibawa saat ia menoleh ke arah barisan petinggi guild.
"Gareth! Segera bawa Kael ke kamarnya!" seru Grand Master Alden tegas kepada pria kekar berzirah berat itu.
"Pastikan tidak ada satu orang pun yang berani mengganggu proses pemulihannya sampai jiwanya benar-benar stabil!"