"Tolong hentikan, tolong!" teriak Zena.
Saat ini gadis dalam ketakutan itu hanya pasrah, tidak bisa berbuat apa-apa, pria yang sudah pasti dipengaruhi alkohol itu melecehkannya dengan menyobek pakaian Zena.
Tidak ada satupun yang menolong gadis malang itu.
"Tolong jangan lakukan itu!"
"Tolong..."
"Tolong...."
Zena menghindar dengan memukul-mukul dada pria tersebut.
"Aaaaaaaaaa!" Zena seketika berteriak menahan rasa sakit disaat tubuhnya digagahi tanpa ampunan.
Zena pada akhirnya pasrah dengan air matanya menetes, dengan penuh hawa nafsu pria di atas tubuhnya terus mencari kenikmatan.
Zena tampak setengah sadar dengan mata yang terbuka, namun pasrah, sosok pria di atas tubuhnya benar-benar tidak terlihat dan hanya kalung yang tampak bergoyang dan perlahan mata Zena tertutup.
Siapakah sosok pria misterius tersebut dan apakah Zena mampu menjalani kehidupannya setelah kejadian kelam?
Jangan lupa untuk membaca dari bab 1 sampai akhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33 Mari Memperbaiki Pernikahan
"Zena!" Rain ternyata berlari menyusul dan melihat mobil itu sudah melaju sampai tidak terlihat lagi.
"Rain!" Rain menoleh ke belakangnya dan ternyata Samudra menghampirinya yang ternyata juga baru dari gedung tersebut.
"Kau ngapain teriak-teriak tidak jelas?" tanya Samudra.
"Samudra kamu tahu tidak jika Zena baru saja dari tempat ini," ucapnya membuat Samudra kaget.
"Apa?" tanya Samudra.
"Aku tiba-tiba saja menemukan dia berada di dalam dan ketika aku menegurnya, tiba-tiba saja berteriak dan penuh ketakutan, aku juga tidak tahu apa yang terjadi padanya dan lari begitu saja," jelas Rain.
"Ngapain juga Zena harus ke tempat ini malam-malam seperti ini dan apa urusannya ke tempat ini?" tanya Rain.
"Ini adalah gudang yang akan dirobohkan dijadikan tempat produksi," jawab Samudra masih terlihat menanggapi dengan biasa saja.
"Lalu perlukah datang malam-malam ke tempat ini dan apa tidak bisa di saat matahari terbit dan kenapa juga harus sendirian?" tanya Rain.
"Aku juga tidak tahu, dia memang sering mengecek gedung ini dan juga menunda untuk merobohkannya dan bahkan kami sesekali pernah bertemu di tempat ini," jawab Samudra.
"Samudra ini benar-benar aneh," sahut Rain.
"Sudahlah, jangan berpikiran terlalu berlebihan, tidak ada yang aneh. Ayo sebaiknya kita langsung saja pulang!" ajak Samudra yang ternyata tidak memikirkan apapun.
*****
Samudra dan Rain sekarang keduanya berada di dalam mobil dengan Samudra yang menyetir.
"Aku tidak akan mencari tahu lagi apa yang terjadi, mungkin cara salah satunya adalah menebus kesalahanku dengan menerima apa adanya Zena," ucap Samudra tiba-tiba di tengah dirinya yang sedang mengemudi.
"Maksudmu, kau akan berhenti dan tidak berusaha untuk mencari tahu siapa dia?" tanya Rain.
"Lagi pula untuk apa aku mencari tahunya, bukankah itu sebuah AIb dan aku juga sudah menikah, Allah sudah membalasnya dengan memberikanku istri yang mengalami pelecehan di masa lalu dan seharusnya aku menerimanya apa adanya, aku lebih baik menghentikan semua ini dengan fokus pada rumah tanggaku!" tegas Samudra.
"Jadi kau pada akhirnya akan memperbaiki rumah tanggamu dengan Zena?" tanya Rain.
"Iya, ini seharusnya aku lakukan sejak awal, aku terlalu marah kepadanya berekspektasi terlalu tinggi dan seolah-olah aku laki-laki suci yang harus mendapatkan wanita yang suci, tanpa aku menyadari perbuatanku di masa lalu yang membuat pernikahanku seperti ini dan sebaiknya memutuskan hubunganku dengan Ariana dan memperbaiki pernikahanku," ucap Samudra sudah bulat dengan keputusannya.
"Sebagai sahabat aku pasti mendukung yang terbaik untuk kamu, dan memang lebih baik untuk melupakan masa lalu yang kelam dan kembali memperbaiki memperbaiki mental Zena yang pasti terguncang karena mendapat tantangan dari kamu, Anggap saja ini adalah ujian dari rumah tangga kalian," sahut Rain sebagai sahabat mendukung penuh.
"Benar! Aku lebih baik fokus pada Zena dan menghentikan semua ini," sahut Samudra saat ini benar-benar baru menyadari.
********
Dratt-dratt-drat, dratt-dratt-drat
Suara panggilan telepon terdengar begitu keras yang diletakkan diatas meja di ruang tamu.
Panggilan telepon itu sangat mengganggu Zena yang berada di dapur membuat Zena berjalan menuju ruang tamu dan melihat panggilan telepon tersebut membuat Zena menghela nafas.
Ariana, kekasih dari suaminya yang ternyata sedang menelpon.
Suara pintu kamar Samudra terbuka, Samudra melihat ke arah ruang tamu bersamaan dengan Zena.
"Seharusnya bawa saja ke kamar, agar tidak menggangu," ucapnya menghela nafas dan kemudian langsung berlalu dari ruang tamu dan kembali ke dapur.
Samudra menghela nafas dan melihat panggilan telepon tersebut membuat Samudra menghela nafas, bukannya mengangkat dan justru mematikannya.
Zena yang berada di dapur dapat memperhatikan dari ujung kelopak matanya.
Ternyata Ariana tetap menghubungi Samudra, Ariana mungkin semakin kesal dan semakin bertingkah menelepon Samudra tetapi karena Samudra kesal membuat Samudra mematikan ponselnya agar tidak terdengar lagi suara panggilan tersebut.
Zena berusaha untuk cuek dan tetap melanjutkan, menyelesaikan pekerjaannya dalam membuat sarapan.
Samudra meletakkan ponselnya kembali di atas meja dan menghampiri Zena ke dapur, Zena tidak menyadari keberadaan Samudra yang membuat Zena kaget saat berbalik badan.
"Hah!" Zena sampai mengatur nafas.
"Kak....."
"Saya ingin bicara dengan kamu," ucap Samudra.
"Kalau mau bicara ya bicara aja, nggak harus tiba-tiba muncul membuat jantung hampir copot saja," ucapnya dengan kesal.
Samudra tiba-tiba menarik kursi yang ada di meja makan.
"Duduklah!" titah Samudra membuat Zena kebingungan.
"Ada apa dengannya....." batin Zena semakin tidak mengerti dengan sikap suaminya, tetapi Zena tetap menurut melakukan apa yang diminta Samudra.
"Ingin bicara apa? Jangan lama-lama, saya harus bertemu dengan klien setelah ini," ucap Zena.
"Saya mendapatkan tugas awal bulan ini di area perbatasan, ada permasalahan dengan negara Korea yang membuat pemerintahan mengarahkan seluruh tentara angkatan laut untuk menyelesaikan konflik ini," ucap Samudra.
"Lalu?" tanyanya dengan santai memang tidak mengerti mengapa suaminya tiba-tiba harus mengatakan hal itu kepadanya.
"Permasalahan di antara kita begitu banyak, mungkin kamu lelah dengan pernikahan ini dan begitu juga dengan saya, awal dari ketidakjujuran dan juga ekspektasi saya terlalu tinggi kepada kamu membuat pernikahan kita menjadi seperti ini," ucap Samudra.
"Kak, langsung saja pada intinya? sebenarnya maksud dari perkataan Kakak apa?" tanya Zena memang kurang memahami dengan maksud tujuan dari suaminya.
"Sudah cukup hentikan semua ini, seandainya sejak awal saya tahu bahwa apa yang terjadi kepada kamu bukanlah atas keinginan kamu sendiri tetapi justru petaka yang datang pada kamu dan mungkin saya tidak akan seperti ini kepada kamu, ini semua kesalahan saya, saya terlalu egois dan tidak bisa menerima kamu apa adanya.
"Pada Akhirnya saya menyadari, bahwa apa yang saya lakukan benar-benar menyakiti kamu tanpa mengerti bagaimana perasaan kamu dan dengan itu kita perbaiki rumah tangga kita dan menjalani apa yang sudah ada," ucap Samudra tiba-tiba saja punya niat ingin memperbaiki rumah tangganya Zena sudah pasti tidak mengerti.
"Cukup sampai di sini dan jangan berusaha lagi untuk mengingat apa yang terjadi, jika kamu sudah mulai tenang, kamu bisa cerita kepada saya apa yang pernah kamu alami selama ini dan kamu sembunyikan sendiri, saya akan berusaha menerima apapun itu," lanjut Samudra.
"Jadi maksud Kakak, Zena tidak perlu lagi membawa orang itu ke hadapan Kakak agar pernikahan ini selesai?" tanya Zena memastikan.
"Saya tidak menginginkan pernikahan ini selesai, ini bukan kesalahan kamu, saya pikir kamu tidak berhak berada di dalam situasi seperti ini," jawab Samudra.
"Tetapi semua sudah terlanjur, meski pada akhirnya Kakak mengetahui bahwa Zena dilecehkan 5 tahun yang lalu, luka itu kembali timbul dan membuat rasa penasaran Zena untuk membawa pelakunya ke hadapan kakak," ucap Zena.
"Saya tahu, kamu merasa hancur dan sakit hati atas apa yang telah saya lakukan, saya tidak meminta kamu untuk langsung menerima semua ini, saya tidak meminta kamu untuk setuju dengan apa yang saya katakan, tetapi saya yakin kamu juga memiliki keinginan untuk melanjutkan pernikahan ini dan pelan-pelan kita akan saling menerima satu sama lain," ucap Samudra.
"Di saat aku hampir saja menemukan pelakunya dan sekarang Kak Samudra membicarakan tentang pernikahan kami, lalu bagaimana jika dugaanku benar tentang pelaku yang sebenarnya? .... Tidak Zena, kamu jangan menarik kesimpulan begitu saja, kamu harus membuktikan benarkah orang itu pelakunya atau tidak, karena bagaimanapun kau harus tahu siapa ayah dari anakmu," batin Zena.
Di saat Samudra ingin berdamai dengan istrinya dan disaat itu juga Zena masih harus memikirkan secara matang-matang dan masih penasaran dengan orang yang telah memperkosanya.
Bersambung.....
dan Ariana kamu salah cari lawan, kamu harus dibinasakan
nah samudra mau jalankan tugas negara kan? kak penulis buat saja ceritanya samudra dan rain itu kena tembak gitu dan koma atau buat saja meninggal sekalian, apa kedua perempuan sombong itu masih tetap sombong dan angkuh?