NovelToon NovelToon
Return To You

Return To You

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Wanita Karir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Delapan tahun merajut kasih, hubungan Zacheriyya Tengiz dan Evander Vale-Knight hancur lebur dalam satu malam akibat pengkhianatan yang tak termaafkan.

Alih-alih menyesal, Evander justru menyebut tindakan kejamnya sebagai pembalasan ego yang setimpal atas kesalahan masa lalu.

Terluka dan murka, Zacheriyya pergi dengan sumpah tidak akan pernah memaafkan pria itu sampai ia mati.

Dua tahun berlalu dalam pelarian, takdir dengan kejam mempertemukan mereka kembali.

Rasa cinta yang dulu membara kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi kebencian yang dingin dan mematikan. Pertemuan tak terduga ini seketika menyulut kembali sumbu dendam lama dan perang ego yang sengit di antara keduanya.

Mereka kini berdiri berseberangan sebagai dua mantan kekasih yang saling membenci setengah mati, siap saling menjatuhkan lewat tatapan tajam dan kata-kata berbisa.

Di tengah pusaran benci dan luka lama yang kembali menganga, siapakah yang akan hancur terlebih dahulu dalam permainan rasa yang berbahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#5

Malam semakin larut ketika Zacheriyya Tengiz akhirnya melangkah keluar dari taksi yang membawanya kembali ke gedung apartemen mewah tempat tinggalnya di kawasan pusat Los Angeles.

Angin malam bertiup cukup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut kecokelatannya yang terurai bebas.

Rasa lelah yang teramat sangat, baik secara fisik maupun mental setelah seharian menghadapi ketegangan di sirkuit dan pergulatan batin di restoran bersama para sahabatnya, membuat langkah Cherry terasa begitu berat.

Yang ia inginkan saat ini hanyalah mandi dengan air hangat, lalu menenggelamkan diri di balik selimut tebal untuk melupakan segala kekacauan hari ini.

Ia melangkah memasuki lobi, naik menggunakan lift khusus menuju lantai teratas tempat unit apartemennya berada. Koridor lantai atas itu tampak sunyi dan temaram.

Cherry berjalan mendekati pintu unitnya, membuka tas tangan kecilnya untuk mengambil kartu akses magnetik.

Namun, baru saja tangannya terulur dan hendak mengeluarkan kartu tempel apartemen dari saku tasnya, gerakannya mendadak terkunci.

Sesosok pria paruh baya dengan setelan jas formal yang tampak sedikit kusut berdiri menyandar pada dinding di samping pintunya.

Pria itu mendongak, menampilkan gurat-gurat penuaan yang sarat akan wibawa, namun sepasang matanya menyiratkan kelelahan dan kerinduan yang mendalam.

"Dad..." bisik Cherry, suaranya nyaris tercekat di tenggorokan.

Jantungnya berdegup tak menentu. Pria di depannya adalah ayahnya, sosok yang sudah dua tahun belakangan ini tidak pernah ia temui secara langsung sejak ia memutuskan untuk terus berpindah-pindah tugas di luar kota dan luar negeri.

Sebelum Cherry sempat mencerna situasi terjadinya pertemuan mendadak ini, sang ayah sudah melangkah maju dengan cepat.

Pria paruh baya itu langsung merengkuh tubuh ramping Cherry ke dalam pelukannya. Dekapan itu begitu erat, begitu hangat, seolah-olah sang ayah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, putri tunggalnya akan kembali menghilang terbang ke belahan dunia lain.

"Daddy sangat merindukanmu, sayang," bisik sang ayah dengan suara yang bergetar menahan emosi di dekat telinga Cherry.

"Kau benar-benar membenci Daddy, Nak? Sampai-sampai kau tidak pernah mau menginjakkan kaki di rumah kita lagi?"

Deg.

Cherry mematung di dalam pelukan hangat yang sudah lama tidak ia rasakan itu. Kedua tangannya yang semula tergantung kaku di sisi tubuh perlahan terangkat, namun ia menahannya, tidak membalas dekapan itu sepenuhnya.

Dadanya berdenyut perih mendengarkan pertanyaan sang ayah. Cherry terdiam sesaat, meresapi setiap getaran kerinduan dari pelukan itu.

Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, dia tidak membenci Daddy-nya. Bagaimanapun, pria inilah yang membesarkannya dengan limpahan kasih sayang sejak ibunya tiada.

Dia hanya kecewa. Dia teramat kecewa pada keputusan dan jalan hidup yang dipilih oleh pria di depannya ini satu tahun yang lalu.

Cherry perlahan mendorong pelan pundak ayahnya untuk merenggangkan pelukan. Ia menghela napas panjang, menatap sepasang mata tua yang kini tampak berkaca-kaca itu.

"Ayo masuk, Dad. Kita bicara di dalam. Tidak enak jika ada tetangga yang melihat kita bertingkah seperti ini di koridor," ucapnya dengan cepat, berusaha menyembunyikan getaran emosi di suaranya sendiri.

Cherry menempelkan kartu magnetiknya pada panel pintu, terdengar bunyi klik pelan, dan ia mendorong pintu itu terbuka, mempersilakan ayahnya masuk terlebih dahulu.

...oOo ...

Apartemen mewah itu terasa begitu sunyi saat mereka melangkah masuk.

Cherry menyalakan lampu utama yang berpendar hangat, meletakkan tasnya di atas meja konsol dekat pintu, lalu berjalan menuju konter dapur bersih ber-marmer gelap.

Ia mengambil sebuah gelas kristal kosong dan mulai menuangkan air minum dari dispenser, berniat untuk memberikannya kepada sang ayah yang kini duduk di sofa ruang tengah dengan punggung yang tampak sedikit membungkuk lelah.

Namun, di tengah keheningan malam dan suara gemercik air yang mengalir memenuhi gelas, tiba-tiba suara berat sang ayah memecah kesunyian dengan sebuah kalimat yang tak pernah Cherry duga sebelumnya.

"Daddy sudah menceraikannya, Cherry."

Tangan Cherry yang sedang memegang teko air mendadak mematung di udara.

Aliran air terhenti. Seluruh persendian tubuhnya seolah terkunci mendengar untaian kata yang keluar dari mulut ayahnya. Ia tidak berbalik, matanya menatap lurus pada dinding marmer di depannya, namun telinganya berusaha mendengar dengan sangat tajam, memastikan bahwa ia tidak salah dengar akibat efek kelelahan.

Pria paruh baya di ruang tengah itu menghela napas panjang, sebuah desahan yang sarat akan penyesalan mendalam dan rasa malu yang besar. Ia melanjutkan kalimatnya,

"Daddy mengira... Daddy mengira anak yang dikandungnya adalah anak Daddy. Tapi ternyata, setelah Daddy melakukan tes DNA, bayi yang dikandung itu bukan anak Daddy. Wanita itu hanya memanfaatkan usia tua Daddy untuk menutupi aibnya."

Cherry kembali terdiam, matanya menatap nanar pada gelas di tangannya. Ia berusaha mendengarkan cerita ayahnya tanpa memotong, membiarkan setiap kata itu meresap ke dalam kepalanya.

Kenangan beberapa bulan lalu berkelebat hebat.

Mengingat bagaimana jarangnya mereka berdua bercerita, lebih-lebih tentang kabar beberapa bulan lalu yang ia dengar saat dirinya sedang berada di New York untuk misi lanjutan EOD.

Saat itu, melalui sambungan telepon yang dingin, sang ayah meminta izin untuk menikahi seorang gadis muda yang usianya bahkan tidak jauh berbeda dengan Cherry.

Zacheriyya sama sekali tidak pernah melihat wajah wanita muda itu, juga tidak ingin tahu namanya.

Pada malam telepon itu, Cherry memberikan izinnya dengan hati yang beku, namun ia memberikan sebuah ultimatum yang mutlak sebagai pembatas yang tegas.

"Jika Ayah memutuskan untuk menikahi gadis muda itu dan membawa jalang itu ke rumah kita, maka sejak detik ini, aku bukan lagi putrimu. Jangan cari aku, dan jangan harap aku akan kembali ke mansion."

Begitulah ucapannya yang dingin dulu sebelum menutup telepon dan pergi melanglang buana memeluk bahaya penjinakan bom untuk melupakan rasa sakit ganda yang ia terima dari kekasih dan ayahnya.

Di ruang tengah, sang ayah bangkit dari sofa, berjalan lambat mendekati konter dapur tempat Cherry berdiri mematung. Tatapan matanya menyiratkan penyesalan yang teramat besar saat menatap punggung putrinya.

"Mansion kita sepi, Cherry. Sama sekali tidak ada dirimu di sana," kata ayahnya dengan suara yang mendadak terdengar begitu melankolis dan parau.

Pria itu menatap langit-langit dapur dengan mata berkaca-kaca, membayangkan kilasan masa lalu yang andai saja bisa ia ubah.

"Seandainya saja... seandainya bayi yang kau kandung tidak keguguran waktu itu, apa mungkin mansion Daddy sekarang akan ramai dengan celoteh dan tawa anakmu, Nak? Daddy merindukan suara kehidupan di rumah kita."

PRANG!!!

Suara kaca yang pecah dengan sangat keras berdentang membelah kesunyian apartemen.

Gelas kristal yang baru saja diisi air itu langsung Cherry lemparkan dengan segenap kekuatannya ke arah lantai marmer, hancur berkeping-keping menjadi serpihan-serpihan tajam yang berserakan.

Air putih berhamburan menggenangi lantai.

Napas Cherry mendadak memburu hebat, dadanya naik turun dengan liar seiring dengan kilat kemurkaan dan rasa sakit yang luar biasa yang mendadak meledak dari dalam matanya. Tubuhnya bergetar hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Kenapa Daddy membahas itu lagi?!" teriak Cherry, suaranya melengking tinggi, pecah oleh tangisan yang selama dua tahun ini ia tahan di balik dadanya yang tebal.

"Kenapa, Dad?! Apa Daddy sengaja datang ke sini hanya ingin aku kembali teringat dengan bayiku yang sudah tiada?! Apa Daddy tidak tahu betapa berdarah-darahnya aku mencoba melupakan malam itu?!"

Terbongkar sudah sebuah rahasia besar yang selama ini terkunci rapat di dalam ingatan paling berdarah Zacheriyya Tengiz.

Ternyata dua tahun yang lalu, di malam terkutuk saat untaian kata-kata kejam keluar dari bibir Evander Vale-Knight untuk menyudahi hubungan delapan tahun mereka dengan kalimat "kita impas", Cherry tengah mengandung.

Ia sedang membawa sebuah kehidupan baru di dalam rahimnya—buah cinta yang sesungguhnya dari delapan tahun kebersamaan mereka.

Namun, malam di mana ia memergoki Evander bersama Gabriella di hotel itu, Cherry mengalami stres yang teramat hebat.

Guncangan emosional yang luar biasa, rasa kecewa yang memuncak, dan kehancuran jiwa yang bertubi-tubi membuatnya jatuh sakit.

Karena guncangan psikologis yang begitu dahsyat itu, ia bahkan tidak sempat memberitahukan kepada Evander soal kehamilannya.

Dan tragisnya, hanya dalam hitungan hari setelah malam itu, janin di dalam kandungannya yang baru menginjak usia 12 minggu itu harus tiada.

Keguguran itu merenggut sisa-sisa alasan Cherry untuk tetap bertahan di Los Angeles, membuatnya melarikan diri ke Florida dan New York, memeluk takdir sebagai penjinak bom agar ia bisa mati kapan saja bersama kenangan bayinya.

Melihat ledakan emosi putrinya yang begitu hancur, sang ayah melangkah maju dengan panik, wajahnya dipenuhi rasa bersalah yang teramat sangat. "Maafkan Daddy, Cherry... Maafkan Daddy. Daddy tidak bermaksud untuk membuka luka lamamu, sayang. Daddy hanya—"

"Keluar!" potong Cherry dengan teriakan yang parau, air mata kini mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. Ia menunjuk ke arah pintu keluar dengan jari yang bergetar hebat.

"Aku bilang keluar, Dad! Pergi dari sini! Kau... kau mengingatkanku pada seluruh kehancuranku! Kau mengingatkanku pada bayi yang tidak sempat kulihat wajahnya!"

"Daddy hanya ingin kamu melanjutkan hidup, sayang! Demi Tuhan, Daddy ingin kamu punya kehidupan yang normal kembali!" sang ayah memohon dengan air mata yang ikut menetes, mencoba meraih pundak putrinya.

"Daddy ingin melihatmu punya keluarga yang utuh, suami yang bertanggung jawab yang menjagamu, dan anak-anak yang menyayangimu... Daddy tidak mau melihatmu terus bertaruh nyawa di medan bom hanya karena masa lalu yang buruk!"

"KELUAR!!!"

Brak!

Cherry mendorong tubuh ayahnya menjauh dengan sisa tenaganya, menuntun pria paruh baya itu keluar dari pintu unitnya, lalu menutup pintu besi apartemen itu dengan hantaman yang sangat keras.

Suara dentuman pintu yang menutup seolah memutus garis komunikasi di antara mereka, menyisakan keheningan yang mencekik di dalam ruangan yang kini terasa begitu luas dan dingin.

Cherry menyandarkan punggungnya pada pintu yang tertutup rapat. Tubuhnya perlahan merosot jatuh hingga ia terduduk di atas lantai yang dingin, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut yang tertekuk.

Isak tangis yang begitu memilukan dan melankolis akhirnya pecah memenuhi sudut-sudut apartemen yang sunyi.

Tangisan seorang ibu yang kehilangan anaknya, dan seorang wanita yang kehilangan belahan jiwanya.

Di tengah kegelapan batinnya yang runtuh, ingatan Cherry mendadak melayang jauh ke masa lalu.

Bukan ke masa-masa penuh kabel bom atau sirkuit mobil sport yang berisik, melainkan ke masa-masa remaja yang penuh dengan ketulusan cinta antara dirinya dan Evander.

Masa di mana mereka berdua hanyalah sepasang remaja pada umumnya yang dimabuk asmara di bawah langit senja.

Tidak ada komponen mobil sport yang menyita waktu Evander, tidak ada misi militer yang memisahkan mereka. Yang ada hanyalah kehangatan pelukan dan janji-janji manis masa muda.

Ia ingat betul, di suatu sore yang hangat di pinggir danau, Evander pernah mendekap tubuhnya dari belakang, menenggelamkan wajahnya di leher Cherry sembari berbisik dengan nada suara yang begitu penuh cinta.

"Berjanjilah padaku, Cherry... kau hanya akan menikah denganku suatu hari nanti. Kita akan membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia."

Saat itu, Cherry tertawa manja dan bertanya, "Lalu kita akan tinggal di mana?"

Evander mengecup pelipisnya dengan lembut, lalu menjawab dengan mata yang berbinar penuh impian, "Kita akan memiliki bayi kembar yang lucu, Cherry. Kita akan tinggal di sebuah mansion yang indah di pinggir danau yang tenang, dan aku akan membangunkan sebuah rumah pohon yang besar untuk anak-anak kita bermain di halaman belakang. Bukankah itu terlihat sangat romantis, sayang?"

Flashback off.

Cherry membuka matanya yang sembab di tengah kegelapan malam apartemennya. Tangan kanannya perlahan bergerak turun, meraba dan memeluk perutnya yang kini rata dengan begitu erat, seolah-olah ia masih bisa merasakan kehadiran detak jantung kecil yang dua tahun lalu pernah singgah di sana selama 12 minggu sebelum takdir merenggutnya dengan kejam.

Air matanya terus mengalir tanpa bisa dibendung, membasahi pakaian sutranya.

"Lalu bagaimana mungkin... bagaimana mungkin aku bisa memiliki keluarga baru dan menerima pria lain dalam hidupku, Dad..." bisik Cherry lirih ke dalam keheningan ruangan, suaranya bergetar dipenuhi oleh rasa cinta sekaligus keputusasaan yang mendalam.

"Sedangkan di dalam kepala dan hatiku... dari dulu hingga detik ini, setiap sudutnya hanya penuh dengan namanya... Evander."

1
Mei TResna Rahmatika
sedihh bangett part ini😭
Rosdianah 🌷: huhuhu🥲
total 1 replies
Hennyy exo
kurang banget🤭🤭

omg evander aku padamu😘😘
Rosdianah 🌷: heheh anak author 🤣
total 1 replies
Hennyy exo
sangat suka dengan alurnya dan penulisannya juga bagus mudah dipagami
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🫶🥰
total 1 replies
Hennyy exo
pliss thor sehari upnya 4 atau 6 bab ya🤭
Rosdianah 🌷: heheh nggak janji ya kak🤭
total 1 replies
Hennyy exo
wow makn menanyang thor babnya
Hennyy exo
sumpah thor alurnya makin bagus banget😍
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak sudah stay baca🫶
total 1 replies
Hennyy exo
baca di bab ini.kaya orang gila🤣🤣🤣
gemes deh ama merka berdua
Hennyy exo
di bab ini suka banget ma alurnya
nayla tsaqif
Apa kbr Gabriella margareth,,?? 🤭
Rosdianah 🌷: tunggu kak🤭🤣
total 1 replies
Bonny Liberty
emang minus kayanya ini laki,yang bengkokin siapa,yang lurusin siapa/NosePick/berasa yang paling ...banget deh/Hammer/
Rosdianah 🌷: perlu digampar 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
yaudah sih Evander bilang jujur aja ke Cherry kalo masih suka dan gak punya hubungan sama Gabriela 🤨 balikan lagi nih pasangan serasi 😍
Rosdianah 🌷: hihi🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Ati2 cherry,, awas kena PHP,, jangan gmpang luluh,, 😌
Bonny Liberty
denger dulu dong omongan si E,biar jelas /Shy/ suka banget sok pintar 🏏
Rosdianah 🌷: hihihi🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Buat misi penyelamatan lg thor,,, mungkin bom di sekolah ponakan evan,, 🤭 q suka tokoh heroik, 🤣
Rosdianah 🌷: Ok Kakak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
baru jelas nih alur ceritanya 🫡 ternyata wanita hamil itu Gabriela dan Evander blom nikah 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: kwkwkw🤭 Semoga suka ya Kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
😍😍😍 The vale knight series lover
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Bonny Liberty
maaf kisanak, bukan pecahan kaca tapi ranjau darat yang kena bayangan dirimu aja bisa meledak.../Grievance/
Rosdianah 🌷: kwkwkw🤣
total 1 replies
Bonny Liberty
kata cintanya murahan, ga sadar diri,harusnya kamu tau kurang mu apa,hubungan toxic jadinya kan,dah gitu kehilangan real love gara..gara EGO LAKI,dia ga mikir apa cewe juga punya
Rosdianah 🌷: Semoga suka cerita Baru nya kak🫶
total 1 replies
Bonny Liberty
salah satu masalah dunia EGO LAKI..LAKI../Smug/
Rosdianah 🌷: huhuhu 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!