"Kakak, aku haus. Ambilin minum, dong!"
"Aku enggak sedih lagi, karena punya suami sebaik Kakak."
"Kakak udah maafin aku. Tapi Kakak enggak peluk aku."
Juan tak pernah mengira hidupnya akan berubah seperti ini.
Istri yang dulu bersikap dingin, tidak peduli, bahkan pernah meremehkannya karena kelumpuhannya, kini justru terus menempel di sisinya.
Sebuah kecelakaan telah merenggut sebagian ingatan Ailin.
Wanita itu melupakan tahun-tahun penuh kebencian di antara mereka. Melupakan luka yang pernah tercipta. Melupakan alasan mengapa ia begitu membenci suaminya.
Yang tersisa hanyalah Ailin dengan kepribadian ceria, banyak bicara, penuh perhatian, dan tanpa sadar terus membuat jantung Juan berdebar.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Juan kembali memiliki harapan.
Namun harapan itu datang bersama ketakutan.
Karena cepat atau lambat, ingatan Ailin akan kembali.
Dan saat hari itu tiba...
Akankah wanita itu tetap memilihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joy Jasmine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 ~ Tempat Untuk Bersandar
Ailin membeku. Untuk beberapa saat ia hanya menatap Juan tanpa berkedip. Dadanya terasa sesak. Bukan karena sedih, melainkan karena ada sesuatu yang hangat memenuhi hatinya.
Selama ini ia terus bertanya-tanya seperti apa dirinya di masa lalu. Berapa banyak kesalahan yang pernah ia lakukan. Berapa banyak orang yang terluka karenanya.
Namun untuk pertama kalinya, seseorang mengatakan bahwa semua itu tidak penting.
Yang penting adalah dirinya yang sekarang.
Tanpa sadar kedua matanya memanas, ia menarik napas lalu membuka mulutnya. "Kakak beneran enggak peduli?" tanya wanita itu lirih.
Juan langsung menggeleng. "Kalau aku peduli, aku enggak akan membiarkan kamu duduk di pangkuanku sekarang."
Mendengar itu Ailin kembali terdiam. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh satu per satu tanpa bisa dicegah. Juan tak tinggal diam, pria itu menyeka pipi sang istri tanpa berkata-kata, lalu mengelus rambut wanita itu pelan.
Sentuhan lembut itu membuat dada Ailin semakin sesak oleh perasaan yang sulit ia jelaskan. Tanpa sadar kepalanya ia sandarkan ke dada Juan, tangannya juga mencengkeram pelan piyama tidur pria itu.
"Terima kasih," ujarnya masih dengan suara lirih.
Kali ini Juan tak lagi terkejut. Ia hanya membalas dengan pelukan yang sedikit lebih erat di pinggang Ailin.
"Kak. Sebenarnya aku mau bilang sesuatu."
"Apa?"
Ailin mengangkat kepala dari dada Juan. Matanya masih sedikit merah karena menangis. "Kalau nanti aku lagi capek, Kakak pangku aku seperti ini lagi, ya?"
Juan mengernyit. "Kenapa?"
"Awalnya aku takut terjatuh, tapi ternyata nyaman."
Ia berhenti sejenak lalu menambahkan dengan wajah serius. "Dan seru juga."
Juan langsung tertawa pelan. "Baiklah."
Namun di detik berikutnya ia justru menggeleng pelan. "Kamu ini."
"Kenapa?"
"Baru saja habis nangis."
Ailin memanyunkan bibirnya. "Memangnya habis nangis enggak boleh minta dipangku?"
"Boleh." Juan kembali tertawa pelan. Ailin yang sekarang, memang selalu berhasil membuat suasana hatinya menjadi lebih ringan.
Sementara setelah mendengar jawaban itu, Ailin tersenyum puas. Ia lalu kembali menyandarkan kepalanya di dada sang suami. Kali ini tangannya melingkar dengan erat di pinggang pria itu, merasakan kehangatan yang pria itu berikan.
Kini ia tak merasa takut lagi untuk menghadapi masa lalu yang terlupa. Karena sekarang ada satu orang yang lebih memilih melihat dirinya yang sekarang.
...
"Kakak!" Kean yang ingin masuk ke kamar untuk mengganggu orangtuanya dihentikan Lian.
Anak itu menarik tangan sang kakak, membawa pria kecil yang lebih tua belasan menit darinya itu menjauh. "Kenapa menghentikanku? Aku mau marahin wanita itu. Sekalian mau ambil ponselku juga."
"Kakak enggak lihat papa mama lagi ngapain?"
"Aku enggak peduli."
"Kakak! Meleka lagi pelukan."
"Terus kenapa?"
"Tadi mama habis nangis."
"Aku juga lihat."
"Kalau nangis ya halus dipeluk."
"Siapa yang bilang?"
"Aku."
Kean memasang wajah tidak percaya, membuat Lian kembali menarik lengan sang kakak.
"Kemalin aku nangis kalena jatuh, telus papa peluk aku. Setelah dipeluk sakit aku jadi belkulang."
Mendengar itu Kean terdiam beberapa saat.
Ia teringat saat jatuh dari sepeda beberapa bulan lalu. Tidak ada yang memeluknya.
Nenek hanya menyuruh pelayan mengobati lukanya. Bahkan saat ia menangis kencang tadi, sang nenek hanya membantunya berdiri tanpa memeluknya.
Kean menunduk pelan. Jadi... dipeluk memang bisa membuat perasaan jadi lebih baik?
"Kalau begitu. Aku akan menunggu tiga menit lagi."
"Sepuluh menit."
"Terlalu lama."
"Delapan menit?"
"Baiklah."
Lian melompat girang dengan tangan sang kakak yang masih ia pegang. Namun lompatan itu terhenti ketika ia merasa menabrak sesuatu. Tubuhnya sontak jatuh ke lantai hingga ia mengaduh kesakitan.
"Aduhhh."
"Lian!" Kean refleks berjongkok untuk membantu sang adik bangun. Namun sang nenek menghentikan cucu lelakinya itu.
"Jangan dibantu! Biarkan dia bangun sendiri. Lagi pula salahnya sendiri yang lompat-lompat tidak jelas begitu."
Lian menunduk sedih, air mata perlahan mengalir dari kedua matanya. Namun tangis itu ia pendam, tak berani bersuara sama sekali.
"Lili!" Ailin yang mendengar teriakan sang putri bergegas keluar dari kamar. Melihat gadis kecil itu terduduk di lantai dengan kepala menunduk entah mengapa membuat hatinya terasa sakit.
Tanpa berpikir panjang, Ailin berlari menghampiri putrinya.
"Lili." Wanita itu berlutut di depan sang putri. Tangannya perlahan membawa wajah bulat itu mendongak untuk menatapnya.
Air mata masih menggantung di pipi kecil Lian. Namun yang membuat dada Ailin semakin sesak adalah kenyataan bahwa gadis kecil itu bahkan tidak berani menangis dengan suara keras.
Untuk pertama kalinya sejak kehilangan ingatan, ia merasakan dorongan kuat untuk melindungi seseorang.
Tatapannya perlahan terangkat ke arah Linda. Hanya dalam waktu kurang dari satu jam, wanita itu semakin buruk saja di matanya.
.
.
.