NovelToon NovelToon
Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Ibu Tiri
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."

Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.

Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?

Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20: "Kehadiranmu Lebih Manjur dari Obat"

Dampak positif dari kehadiran Dr. Elena Mahendra di mansion keluarga Oliver mulai terlihat jelas dalam hari-hari berikutnya.

Suasana hati Viona terasa jauh lebih ringan.

Setiap kalimat yang disampaikan sang psikolog tentang penerimaan diri dan melepaskan status "kontrak" dalam pikirannya bertransformasi menjadi energi penyembuh yang nyata.

Efeknya pun menular pada Yoyo, yang kini sudah berani berlari-lari kecil di halaman rumput depan tanpa perlu terus-menerus memegang ujung baju Viona.

Benteng perlindungan yang dibangun Oliver secara perlahan tapi pasti telah memulihkan kedamaian yang sempat hilang dari rumah itu.

Namun, roda kehidupan selalu membawa ujiannya sendiri.

Kali ini, giliran sang ksatria pelindung yang tumbang.

Hari Senin berikutnya, kota itu diguyur hujan deras sejak subuh. Udara dingin bulan Juli menusuk hingga ke tulang.

Oliver, yang selama tiga minggu terakhir terus memacu energinya tanpa batas—memimpin restrukturisasi pasar pasca-tumbangnya keluarga Lin, mengurus administrasi hadiah Viona, hingga begadang menyelesaikan laporan demi bisa pulang lebih awal—akhirnya mencapai titik jenuh fisiknya.

Pria tirani yang dikenal tangguh bagaikan baja itu ternyata tetaplah seorang manusia biasa yang bisa kelelahan.

Pukul delapan pagi, Oliver belum juga turun ke ruang makan.

Hal ini merupakan anomali besar, mengingat jam biologis sang CEO biasanya sangat tepat waktu dan disiplin.

Viona, yang sedang menata mangkuk bubur gandum hangat untuk Yoyo, mulai merasa cemas. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit.

Mobil Rolls-Royce hitam yang biasanya sudah bersiap di lobi depan pun masih terparkir sunyi di garasi.

"Pak Pelayan,"

panggil Viona, memalingkan wajahnya ke arah pria paruh baya yang sedang berdiri siaga di dekat konter dapur.

"Apakah Oliver sudah bangun? Biasanya jam segini dia sudah selesai bersiap."

Wajah Pak Pelayan tampak diselimuti gurat kecemasan yang dalam.

 "Saya baru saja hendak memberitahu Anda, Nyonya. Tadi sekretaris kantor pusat menelepon karena Tuan Besar tidak menjawab panggilan penting. Saat saya memeriksa ke kamar lantai tiga, Tuan Besar masih berada di tempat tidur. Tubuhnya sangat panas, Nyonya. Tampaknya beliau demam tinggi karena kelelahan yang menumpuk."

"Deg."

Jantung Viona berdegup kencang.

Rasa khawatir yang teramat sangat mendadak menyergap dadanya.

Pria tegap yang selalu berdiri kokoh melindungi dirinya dan Yoyo, kini sedang terbaring sakit.

Tanpa membuang waktu, Viona berlutut di samping kursi Yoyo.

"Yoyo, Sayang, Ayah sedang tidak enak badan hari ini. Yoyo habiskan buburnya bersama Bibi Pelayan dulu ya? Bibi Viona mau naik ke atas untuk melihat Ayah,"

ucap Viona selembut mungkin agar tidak membuat anak itu panik.

Yoyo menghentikan sendoknya, mata bulatnya memancarkan kecemasan yang instan.

"Ayah sakit? Ayah tidak akan pergi seperti Ibu, kan?"

Viona segera menggenggam tangan kecil Yoyo, menyalurkan kehangatan.

"Tidak, Sayang. Ayah hanya kecapekan karena bekerja keras untuk kita. Bibi berjanji akan merawat Ayah sampai sembuh. Yoyo anak yang kuat, bantu Bibi dengan menjadi anak yang penurut hari ini, ya?"

Mendengar kata-kata penenang dari Viona, Yoyo akhirnya mengangguk patuh.

"Baik, Bibi. Tolong buat Ayah cepat sembuh."

Viona bergegas mengambil nampan berisi semangkuk bubur ayam hangat yang lembut, segelas air putih, dan kotak obat keluarga.

Ia melangkah menaiki tangga menuju lantai tiga—wilayah privat Oliver yang jarang ia masuki kecuali ada hal yang benar-benar mendesak.

Ketika Viona mendorong pintu kayu tebal kamar utama Oliver yang tidak terkunci, suasana di dalam ruangan terasa sangat sunyi dan redup.

Tirai kelambu besar sengaja ditutup, menghalangi cahaya hujan dari luar.

Di atas ranjang king-size bernuansa abu-abu gelap, sosok tegap Oliver terbaring di balik selimut tebal.

Viona meletakkan nampan di atas meja rias, lalu melangkah perlahan mendekati tepi ranjang.

 Pemandangan di depannya membuat hati Viona berdenyuk ngilu.

Oliver, sang tirani bisnis yang selalu memancarkan aura dominasi yang mutlak, kini tampak begitu rapuh.

Napasnya terdengar berat dan pendek-pendek, wajah tampannya yang tegas terlihat merona merah akibat suhu tubuh yang tinggi, dan dahinya berkerut rapat seolah sedang menahan sakit kepala yang hebat.

Viona duduk dengan lembut di tepi ranjang.

Ia mengulurkan tangannya yang halus, mendaratkan punggung tangannya di atas dahi Oliver.

Panas sekali. Suhu tubuh pria ini pasti sudah melewati tiga puluh sembilan derajat.

Sentuhan dingin tangan Viona rupanya mengusik kesadaran Oliver yang sedang berkabut.

Mata elang pria itu terbuka perlahan, tampak sayu dan kemerahan.

Ketika manik matanya menangkap sosok jernih Viona yang sedang menatapnya dengan pandangan penuh kecemasan, sudut bibir Oliver yang kering bergerak sedikit, mencoba membentuk guratan tipis.

"Viona...?"

suara Oliver terdengar sangat parau, kering, dan kehilangan seluruh aksen wibawa tiraninya.

Ia mencoba menggerakkan tubuhnya untuk bangkit duduk, namun rasa pening yang luar biasa langsung menghantamnya.

"Kenapa... kenapa kau di sini? Aku harus ke kantor... ada rapat umum pemegang saham..."

"Tetap di tempat tidur, Oliver,"

perintah Viona tegas. Untuk pertama kalinya, ia menggunakan nada otoritasnya sendiri, sebuah ketegasan yang lahir dari rasa kepedulian yang mutlak.

Ia menahan bahu tegap Oliver dengan kedua tangannya, memaksa pria itu untuk tetap berbaring.

"Hari ini tidak ada kantor, tidak ada rapat umum, dan tidak ada urusan bisnis. Kau sedang demam tinggi. Tubuhmu butuh istirahat."

Oliver menatap Viona dengan tatapan sayu yang tidak berdaya, sesuatu yang sangat langka terjadi pada seorang penguasa Oliver Group.

"Aku tidak punya waktu untuk sakit, Viona... pasar pasca-kejatuhan keluarga Lin masih belum stabil..."

"Pasar bisa menunggu, Oliver, tapi kesehatanmu tidak,"

potong Viona lembut, suaranya melembut sempurna saat ia menyeka keringat dingin yang mulai bercucuran di pelipis Oliver menggunakan selembar tisu bersih.

"Selama sebulan ini, kau selalu menjadi ksatria pelindung yang memastikan jiwaku dan jiwa Yoyo aman dari segala rasa sakit. Hari ini, biarkan aku yang menjadi pelindungmu. Mengerti?"

Mendengar kalimat itu, kebekuan dan kedegilan di mata Oliver runtuh sepenuhnya.

Ia mengembuskan napas panjang yang panas, membiarkan tubuh tegapnya kembali rileks di atas bantal.

Tatapan matanya tidak lepas dari wajah jernih Viona, memancarkan rasa bersyukur yang teramat dalam.

Viona berbalik, mengambil mangkuk bubur ayam hangat dari nampan.

"Kau harus makan sedikit, lalu minum obat penurun panas ini."

Dengan penuh kesabaran, Viona menyuapi Oliver sendok demi sendok bubur hangat itu.

Oliver yang biasanya sangat tertutup dan enggan menunjukkan kelemahannya, kini berubah menjadi sangat patuh di bawah perawatan Viona.

Setiap suapan ia terima dengan baik, meskipun indra perasanya mungkin sedang terasa hambar akibat demam.

Setelah mangkuk bubur kosong setengahnya, Viona meletakkannya kembali dan menyodorkan dua butir tablet putih penurun panas beserta segelas air hangat.

Oliver meminum obat itu dengan patuh.

Namun, efek obat penurun panas sering kali membutuhkan waktu untuk bekerja, dan rasa pening di kepala Oliver tampaknya semakin menjadi-jadi.

Pria itu mengerang pelan, memejamkan matanya rapat-rapat sambil menekan pelipisnya sendiri dengan jemarinya yang gemetar.

Melihat suaminya—meskipun dalam status kontrak—sedang tersiksa oleh rasa sakit, naluri keibuan dan rasa kasih sayang yang terpendam di dalam dada Viona bergejolak hebat.

Tanpa ragu, Viona mengulurkan tangannya, mengambil alih tangan Oliver dari pelipisnya.

Dengan jemarinya yang halus dan hangat, ia mulai memijat lembut pelipis dan dahi Oliver dengan gerakan konstan yang sangat menenangkan—persis seperti apa yang dilakukan Oliver padanya saat ia tersiksa oleh efek samping obat penenang minggu lalu.

"Bagaimana? Apakah ini membantu?"

bisik Viona pelan, wajahnya merunduk dekat dengan wajah Oliver, memastikan kenyamanan pria itu.

Oliver tidak membuka matanya, namun ketegangan di rahangnya perlahan-lahan mengendur.

Usapan dan pijatan jemari Viona di dahinya terasa bagaikan sihir yang mengusir badai rasa sakit di kepalanya.

Sentuhan tangan wanita itu menyalurkan rasa aman yang begitu pekat, menembus kabut demam yang menyiksa jiwanya.

Mendadak, tangan kanan Oliver yang besar dan panas bergerak naik.

Ia menangkap pergelangan tangan kiri Viona yang sedang memijat dahinya, lalu menariknya perlahan ke bawah.

Oliver tidak melepaskan tangan Viona, melainkan menggenggam jemari halus wanita itu erat-erat, membawanya ke depan dadanya yang bidang dan menempelkannya tepat di atas jantungnya yang berdegup kencang.

Oliver membuka matanya kembali, menatap lurus ke dalam manik mata jernih Viona dengan intensitas emosi yang teramat dalam dan personal.

Di bawah temaram lampu kamar, manik mata elang pria itu tidak lagi memancarkan ketakutan atau tirani bisnis, melainkan sebuah deklarasi cinta yang mutlak.

"Viona..."

bisik Oliver parau, suaranya bergetar oleh kehangatan rasa di dadanya.

 "Obat penurun panas itu membutuhkan waktu yang lama untuk bekerja... tapi sentuhan tanganmu di sini... kehadiranmu di sampingku saat ini... rasanya jauh lebih manjur dari obat mana pun di dunia ini."

"Deg."

Jantung Viona berdesir hebat, degupnya berkejaran dengan detak jantung Oliver yang terasa nyata di bawah telapak tangannya.

Wajahnya seketika merona merah hangat. Kata-kata jujur dari pria yang biasanya sangat kaku dan dingin itu terasa jauh lebih kuat daripada deklarasi romantis mana pun.

Viona bisa merasakan detak jantung Oliver yang stabil dan kuat, sebuah bukti bahwa di dalam diri sang tirani, ada ruang yang teramat luas yang kini telah sepenuhnya menjadi miliknya.

Viona tidak menarik tangannya.

 Ia justru membiarkan jemarinya bertautan erat dengan jemari kokoh Oliver di atas dada pria itu.

 Dengan tangan sebelahnya, ia mengusap lembut pucuk rambut Oliver yang sedikit berantakan.

"Kalau begitu, aku tidak akan pergi ke mana-mana, Oliver,"

 bisik Viona tulus, sebuah senyuman manis dan paling bahagia terukir di wajahnya.

"Aku akan tetap di sini, memegang tanganmu, sampai demammu turun dan kau bisa tersenyum kembali. Istirahatlah. Ksatria pelindungku juga berhak untuk beristirahat di dalam dekapanku."

Oliver menatap senyuman manis Viona untuk beberapa saat, sebelum akhirnya sepasang mata elangnya perlahan terpejam kembali karena kantuk yang dibawa oleh efek obat dan kenyamanan batin yang luar biasa.

Genggaman tangannya di jemari Viona tetap terpasang dengan sangat posesif dan kuat, bahkan saat ia mulai memasuki alam bawah sadarnya.

Di luar jendela, hujan deras bulan Juli masih terus mengguyur kota dengan hawa dinginnya yang menusuk.

 Namun di dalam kamar utama lantai tiga mansion itu, kehangatan yang tercipta di antara dua pasang tangan yang saling bertautan di atas dada Oliver telah mengusir segala bentuk kedinginan dan penyakit.

 Viona duduk setia di tepi ranjang, menatap wajah tidur Oliver yang kini tampak begitu damai.

 Ia menyadari sepenuhnya bahwa di dalam momentum demam hari ini, batas formalitas kontrak satu tahun mereka telah meleleh sepenuhnya, digantikan oleh jalinan rasa yang nyata dan mutlak:

di mana kehadiran satu sama lain kini telah menjelma menjadi obat penyembuh yang paling sempurna bagi seluruh sisa hidup mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!