NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Andinirhein

Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Pertama.

Pintu itu akhirnya terbuka.

Tanganku gemetar saat melangkah masuk ke ruangan yang selama bertahun-tahun dilarang dimasuki Hwi Sol Oppa.

Dinding ruangan dipenuhi ratusan foto diriku.

Ada foto sejak aku masih balita.

Saat ulang tahunku.

Saat aku tidur.

Saat aku menangis.

Bahkan ada foto ketika aku diam-diam sedang bersama Eun Dam.

Di tengah ruangan berdiri sebuah meja kayu.

Di atasnya tergeletak sebuah buku harian berwarna hitam.

Dengan tangan gemetar kubuka halaman pertama.

"Aku tahu mencintai adikku sendiri adalah dosa."

Napasku berhenti.

"A-apa... maksud tulisan ini?"

Aku membalik halaman berikutnya.

"Seolhwa bukan adik kandungku..."

Dunia seakan runtuh saat itu.

Tiga hari sebelumnya...

Seolhwa.

Itulah namaku, yang berarti bunga salju.

Menurut Appa, aku diberi nama itu karena lahir tepat saat salju pertama turun di Seoul. Namun sekarang, nama itu justru mengingatkanku pada kenangan pahit yang ingin kulupakan.

Oh ya, usiaku saat ini dua puluh tiga tahun dan aku adalah pemilik sebuah bakery.

Aku memiliki seorang kakak laki-laki bernama Hwi Sol. Usia kami hanya terpaut dua tahun.

Dia adalah satu-satunya oppa yang paling kusayangi.

Selain memiliki wajah tampan, ia juga seorang CEO di perusahaan fashion yang dahulu dirintis oleh kedua orang tua kami. Ya, Oppa memilih melanjutkan bisnis keluarga.

Tiga tahun lalu menjadi masa paling berat dalam hidup kami.

Kami kehilangan Appa dan Eomma dalam sebuah kecelakaan mobil saat mereka sedang melakukan perjalanan bisnis ke Busan.

Rasa kehilangan itu nyaris menghancurkan kami.

Namun sebagai anak, kami tidak punya pilihan selain bangkit.

Bangkit untuk melanjutkan hidup.

Bangkit untuk mewujudkan impian yang selama ini diharapkan kedua orang tua kami.

"Seolhwa, pakai sabuk pengamannya, sayang."

Suara lembut Hwi Sol Oppa membuyarkan lamunanku.

Siap, Tuan!"

Aku menjawab sambil memberi hormat bercanda.

Hwi Sol oppa hanya menggeleng kecil sambil tersenyum.

"Nanti malam oppa jemput jam berapa?"

tanyanya sambil fokus mengemudi.

"Tidak usah dijemput. Malam ini aku mau makan malam dengan teman-teman kuliah. Mungkin aku juga pulang agak larut."

"Tetap saja oppa akan menjemputmu."

Ia mengusap puncak kepalaku dengan lembut.

"Tidak ada penolakan."

Aku mengembuskan napas panjang.

"Huft... kapan sih aku diizinkan membawa mobil sendiri?"

gumamku pelan.

Ia hanya tersenyum tipis sambil melirik ke arahku.

Ya, usiaku memang sudah dua puluh tiga tahun.

Namun sampai sekarang Oppa masih tidak mengizinkanku mengemudi sendiri.

Entahlah alasannya apa.

Mungkin karena ia tahu aku adalah gadis ceroboh yang sering bertindak tanpa berpikir panjang.

Sesampainya di bakery, aku langsung memulai pekerjaanku. Aroma roti dan mentega yang baru keluar dari oven menyambutku.

Aku memeriksa kualitas bahan-bahan yang ada di dapur, memilah mana yang masih layak digunakan dan mana yang harus diganti.

Setelah itu aku menghitung stok bahan baku dan mengawasi para karyawan yang sedang bekerja.

Meski masih muda, aku selalu berusaha profesional.

Lagipula memiliki toko kue sendiri memang sudah menjadi impianku sejak lama.

Sejak duduk di bangku sekolah, aku memang sangat menyukai dunia baking.

Walaupun harus kuakui, modal awal untuk membuka usaha ini berasal dari Appa.

Pukul tujuh malam.

Aku dan sahabatku, Minseo, sudah berada di sebuah restoran Italia untuk menghadiri reuni kecil bersama teman-teman kuliah.

Suasana terasa hangat dan menyenangkan.

Kami menikmati berbagai hidangan sambil mengenang masa-masa kuliah yang penuh kekonyolan.

Tawa terus terdengar di meja kami.

Empat tahun tidak bertemu membuat banyak cerita baru yang ingin dibagikan.

Tanpa terasa, tiga jam berlalu.

Jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam.

Satu per satu teman-temanku berpamitan pulang.

Kini hanya aku yang masih berdiri di depan restoran sambil menunggu jemputan dari Oppa.

"Aish... katanya lima belas menit lagi. Ini sudah setengah jam."

Aku menggerutu sambil memeriksa layar ponsel.

Namun tiba-tiba—

BRUK!

"Akh!"

Tubuhku terhuyung lalu jatuh ke aspal.

Seseorang tidak sengaja menabrakku dengan sepeda motornya.

Seorang pria berjaket kulit hitam segera turun dari motor Harley miliknya dan menghampiriku dengan panik.

"Kamu tidak apa-apa? Maaf! Aku benar-benar minta maaf."

Suaranya terdengar tulus.

Aku yang semula fokus pada lutut yang terasa nyeri perlahan mengangkat kepala.

Dan saat itulah aku melihat wajahnya.

Ya Tuhan...

Dia manusia atau karakter drama?

Tampan sekali.

Aku menjerit dalam hati.

Rahang tegas.

Mata tajam.

Tubuh tinggi dan proporsional.

Belum sempat aku mengatakan apa-apa, cahaya lampu mobil menyorot dari kejauhan.

Sebuah mobil berhenti mendadak di pinggir jalan.

"SEOLHWAAA!"

Hwi Sol berlari ke arahku dengan wajah panik.

"Kamu kenapa, sayang?"

Ia langsung berjongkok dan memeriksa keadaanku.

Pria berjaket kulit itu berdiri dan menatap Hwi Sol.

"Maaf. Saya tidak sengaja menabrak pacar Anda. Tapi saya akan bertanggung jawab."

Mendengar kalimat itu, ekspresi Hwi Sol langsung berubah dingin.

Aku bahkan bisa merasakan amarah yang sedang berusaha ia tahan.

Aku tahu.

Kalau bukan karena diriku, mungkin pria itu sudah dipukul saat ini.

Aku segera menggenggam tangan Oppa.

"Aku baik-baik saja, Oppa. Hanya lecet sedikit."

Aku tersenyum menenangkan.

"Tidak apa-apa."

Hwi Sol menarik napas panjang sebelum akhirnya mengembuskannya perlahan.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia membantu Seolhwa berdiri dan membawanya masuk ke mobil.

Sedangkan pria itu hanya bisa memandangi kepergian Seolhwa dengan rasa bersalah.

Sesampainya di rumah, Hwi Sol langsung mengambil kotak P3K.

Ia berlutut di depan Seolhwa sambil membersihkan luka di lutut dan telapak tangannya dengan hati-hati.

"Maaf..."

Suara lirihnya membuatku menoleh.

"Maafkan Oppa."

Aku mengernyit.

"Kenapa Oppa minta maaf?"

"Karena Oppa tidak bisa menjagamu dengan baik."

Tangannya berhenti sesaat.

"Kalau Oppa tidak terlambat menjemputmu, kamu tidak akan terluka seperti ini."

Hatiku terasa hangat sekaligus sedih.

Aku mengangkat dagunya pelan agar ia menatapku.

"Oppa."

Tatapan kami bertemu.

"Dengarkan aku baik-baik."

Ia diam.

"Oppa tidak salah apa pun. Selama ini Oppa sudah menjagaku dengan sangat baik."

Aku tersenyum lembut.

"Ini hanya kecelakaan kecil. Musibah kecil."

Aku menunjukkan luka di lututku.

"Lihat. Aku masih baik-baik saja, kan?"

Tatapan sendu di matanya perlahan melunak.

Aku tahu.

Hwi Sol oppa selalu seperti ini.

Ia terlalu mengkhawatirkanku.

Terlalu menjagaku.

Terlalu menyayangiku.

Dan menurutku, wanita yang kelak mendapatkan hatinya pasti akan menjadi wanita yang sangat beruntung.

Di tempat lain, seorang pria sedang duduk sendirian di dalam kamar apartemennya.

Ya.

Pria berjaket kulit yang menabrakku tadi malam.

Namanya Eun Dam.

Seorang atlet taekwondo nasional dengan segudang prestasi.

Namanya dikenal luas di Korea.

Banyak wanita mengaguminya karena kemampuan, ketampanan, dan karismanya.

Saat ini Eun Dam tinggal seorang diri di Seoul, sementara kedua orang tuanya menetap di Daegu.

Sejak kecil ia sudah terbiasa hidup mandiri.

Karena itu, tinggal sendiri saat dewasa bukanlah hal yang sulit baginya.

Meski begitu, ia tetap tidak pernah melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang anak.

Eun Dam menatap langit malam dari jendela apartemennya.

"Apa wanita itu benar-benar baik-baik saja?"

gumamnya pelan.

Keesokan harinya aku berangkat bekerja seperti biasa.

"Kamu yakin sudah tidak apa-apa?"

tanya Hwi Sol untuk kesekian kalinya.

"Iya, Oppaku sayang."

Aku tertawa kecil.

"Aku baik-baik saja."

Aku membuka pintu mobil.

"Sudah ya. Aku masuk dulu. Oppa hati-hati di jalan dan jangan ngebut!"

Aku melambaikan tangan lalu berlari kecil menuju bakery.

Saat jam makan siang, toko sedang cukup ramai.

Beberapa pelanggan membeli kue untuk dibawa pulang.

Sebagian lainnya memilih duduk menikmati kopi sambil mengobrol bersama teman.

Ada juga yang sibuk bekerja dengan laptop di sudut ruangan.

Sebagai pemilik toko, pemandangan seperti ini selalu membuatku bahagia.

Namun di tengah kesibukan itu, pandanganku tertuju pada seorang pelanggan baru yang baru saja masuk.

Aku mengerjap beberapa kali.

Bukankah itu...

Pria yang menabrakku semalam?

Aku terus memperhatikannya dari kejauhan untuk memastikan.

Dan tepat saat itu, ia menoleh ke arahku.

Mata kami bertemu.

Selama beberapa detik, tidak ada satu pun dari kami yang mengalihkan pandangan.

Selama beberapa detik, tidak ada satu pun dari kami yang mengalihkan pandangan.

Entah mengapa, ada perasaan aneh yang sulit kujelaskan saat melihatnya.

Aku hanya tersenyum kecil, lalu mengalihkan pandangan dan kembali melayani pelanggan lain.

Aku sama sekali tidak menyadari...

Bahwa sejak hari itu, hidupku akan berubah selamanya.

Aku akan kehilangan orang yang paling kucintai.

Aku akan mengetahui rahasia yang selama ini disembunyikan keluargaku.

Dan aku akan dipaksa memilih...

Antara cinta...

Atau keluarga yang selama ini kupercaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!