NovelToon NovelToon
My Ice CEO Is A Tante

My Ice CEO Is A Tante

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Miko J

Hidup Gavin Wijaya berubah total dalam semalam. Mantan "sultan" Jakarta yang terbiasa hidup mewah harus meninggalkan kehidupan glamor dan menjadi buruh migran (TKI) di Taiwan. Dari pesta dan kemewahan, kini yang tersisa hanyalah kerja keras di sebuah pabrik.
Di sisi lain, Tiffany Chen adalah CEO muda jenius yang dikenal dingin dan perfeksionis. Baginya hidup hanya tentang bisnis, angka, dan kesuksesan. Namun sebuah tekanan dari sang ayah memaksanya mencari jalan keluar yang tidak pernah dia bayangkan.
Sebuah pertemuan tak terduga membuat Gavin masuk ke dunia Tiffany. Dengan sebuah rahasia dan kontrak pernikahan, seorang mantan sultan yang kini menjadi TKI mendadak berubah menjadi "suami penyamaran" seorang CEO Taiwan.
Ketika pria santai dan usil harus hidup bersama wanita dingin yang lebih mirip robot pekerja, kehidupan mereka mulai berubah. Akankah pernikahan kontrak ini tetap menjadi sekadar kesepakatan, atau berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miko J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian Malam Pertama

Cklek.

Begitu pintu kamar jati itu tertutup rapat dan kuncinya diputar dari dalam, keheningan langsung menyelimuti ruangan yang luas itu. Cahaya lampu tidur berwarna keemasan memantulkan nuansa hangat ke seluruh kamar. Ranjang king-size dengan seprai putih bersih berdiri megah di tengah ruangan, sementara aroma lembut lavender dari diffuser memenuhi udara.

Namun, suasana nyaman itu sama sekali tidak mampu menenangkan Tiffany.

Wanita itu langsung melompat mundur sejauh tiga langkah dari ranjang. Tubuhnya berdiri tegak dan kaku, kedua tangan mengepal tanpa sadar di samping tubuhnya. Matanya menyapu setiap sudut kamar dengan penuh kewaspadaan, seolah-olah kamar tidurnya sendiri baru saja disusupi musuh.

Seumur hidupnya, dia belum pernah berada di dalam satu kamar tertutup bersama seorang pria pada malam hari.

Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.

Kontras dengan Tiffany yang tegang seperti sedang menghadapi kebangkrutan total, Gavin justru menguap lebar tanpa beban.

Dengan gaya santai khas mantan sultan yang sudah terbiasa keluar masuk hotel berbintang, Gavin melempar bantalnya ke atas sofa panjang di sudut kamar. Setelah itu, dia menjatuhkan tubuh tegapnya ke sana, menyilangkan kaki dengan santai, lalu meletakkan kedua tangan di belakang kepala seolah sedang menikmati liburan.

"Aduh, Tante... mukanya biasa saja dong," goda Gavin sambil menyeringai jahil melihat wajah Tiffany yang pucat tegang. "Tegang sekali seperti mau disuntik vaksin."

Dia menunjuk ke arah ranjang dengan santai.

"Tenang saja. Sesuai  aturan rumah Tante, area ranjang itu suci dan tidak akan saya sentuh. Saya tidur di sofa ini. Aman, kan?"

Tiffany mengembuskan napas lega yang sejak tadi tertahan di dadanya.

Meski begitu, matanya tetap menyipit tajam penuh kewaspadaan.

Dia berjalan menuju lemari pakaian, mengambil selimut tebal berbahan wol, lalu tanpa basa-basi melemparkannya tepat ke wajah Gavin.

Pluk!

"Pakai itu," ujar Tiffany datar.

Lalu dia menunjuk lantai berkarpet di depan sofa.

"Dan ingat. Batas wilayahmu hanya sampai karpet bulu itu. Jangan berani-berani melewati garis."

Nada suaranya terdengar tegas, meski sebenarnya lebih banyak dipenuhi rasa canggung daripada ancaman.

"Iya, iya, Tante..." gerutu Gavin dari balik selimut sambil terkekeh pelan.

Ruangan kembali sunyi.

Tiffany mulai berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian tidur. Dia berharap malam ini akan berlalu dengan tenang.

Namun harapan itu hanya bertahan beberapa detik.

Tiba-tiba Gavin mengangkat sebelah tangannya.

Telunjuknya menempel di bibir, memberi isyarat agar Tiffany diam.

Ekspresi santainya menghilang seketika, digantikan tatapan tajam yang penuh kewaspadaan.

Matanya lurus mengarah ke bagian bawah pintu kamar.

Tiffany ikut menoleh.

Di balik celah sempit bawah pintu yang diterangi cahaya lampu koridor, tampak sebuah bayangan hitam memanjang.

Bayangan itu sama sekali tidak bergerak.

Seseorang sedang berdiri tepat di depan pintu.

Menguping.

Pelayan Zhang!

Batin Tiffany menjerit panik.

Wajahnya langsung memucat.

Jantungnya yang tadi mulai tenang kini kembali berdetak kencang. Seluruh tubuhnya membeku. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.

Kalau sampai Pelayan Zhang curiga, semua sandiwara mereka bisa berantakan malam ini juga.

Melihat Tiffany yang mendadak berubah menjadi patung, Gavin yang memiliki intuisi tajam segera mengambil alih keadaan.

Tanpa banyak bicara, dia meraih sebuah bantal kecil.

Lalu...

Buk! Buk! Buk!

Dia mulai memukul-mukul sofa beludru itu dengan ritme yang teratur.

Suara empuk benturan bantal dengan sofa menggema pelan di dalam kamar.

Sambil menciptakan efek suara tersebut, Gavin mengubah nada suaranya menjadi sangat manja, nyaring, dan dibuat-buat seperti pria yang sedang dimabuk asmara.

"Aduh, istriku sayang... kamu kelihatannya lelah sekali setelah seharian memeriksa laporan bisnis."

Buk! Buk!

"Aduh, Sayang... kamar ini hangat sekali ya."

Buk! Buk!

"Sini aku peluk erat istriku yang lagi kecapekan ini... hmmm... muach!"

Sebagai penutup, Gavin sengaja membuat suara kecupan palsu yang terdengar sangat nyaring.

"Muaaach!"

Mendengar improvisasi gila itu, mata Tiffany langsung membelalak.

Jarak mereka bahkan masih beberapa meter.

Tidak ada yang saling menyentuh.

Namun dialog Gavin benar-benar membuat pipi Tiffany memerah.

Wajah Tiffany perlahan berubah merah seperti tomat matang.

Dia menggigit bibir bawahnya sendiri karena malu.

"Pria sinting..." batinnya.

Dengan langkah cepat namun tetap berusaha tidak menimbulkan suara, Tiffany menghampiri sofa.

Dia membungkukkan tubuhnya sedikit agar suaranya tidak terdengar keluar.

"Gavin Wijaya!" desisnya pelan dengan gigi bergemeletuk. "Hentikan suara kecupan menjijikkan itu atau utangmu kutambah seratus ribu dolar!"

Bukannya takut, Gavin malah mengedipkan sebelah mata dengan ekspresi jahil.

Lalu...

Buk! Buk! Buk!

Dia kembali memukul sofa.

"Aduh, Sayang... apa kamu enggak capek seharian bekerja, malamnya masih mau melayani suamimu ini? Hehehe..."

Kalimat terakhir itu sengaja diucapkan lebih keras.

Tiffany langsung mengepalkan kedua tinjunya.

Kalau bukan karena ada Pelayan Zhang di luar, rasanya dia sudah melempar sofa beserta penghuninya keluar jendela.

Dia hanya bisa berdiri mematung dengan wajah merah padam, melotot ke arah Gavin yang terlihat sangat menikmati pertunjukan tunggalnya.

Sementara itu...

Di luar pintu.

Pelayan Zhang masih menempelkan telinganya rapat-rapat pada daun pintu.

Wajahnya yang semula dipenuhi keraguan perlahan mulai melunak.

Suara benturan yang ritmis...

Dialog mesra...

Ditambah suara kecupan yang terdengar begitu meyakinkan...

Dalam benaknya, semua itu terdengar seperti suara ranjang yang sedang bergoyang.

Pelayan senior itu mengangguk-angguk pelan.

Rasa curiga yang sejak sore mengganjal pikirannya akhirnya perlahan menghilang.

"Syukurlah..." gumamnya lirih.

"Nona muda akhirnya benar-benar menerima suaminya."

Dengan perasaan lega, Pelayan Zhang berbalik meninggalkan pintu kamar.

Langkahnya pelan menuju balkon belakang yang sepi agar tidak mengganggu siapa pun.

Dia merogoh saku bajunya, mengeluarkan ponsel lama yang sudah mulai usang, lalu menekan nomor rumah utama keluarga Chen.

Beberapa saat kemudian panggilan tersambung.

"Halo, Tuan Besar," bisiknya dengan suara yang sangat pelan.

"Seharian ini saya mengamati Nona Muda Chen dan Tuan Muda Wijaya. Awalnya saya memang sedikit ragu, tetapi dari apa yang saya lihat, hubungan mereka terlihat harmonis ."

Pelayan Zhang berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis.

"Bahkan malam ini... mereka tampaknya benar-benar menikmati waktu berdua sebagai pasangan suami istri."

Di dalam kamar...

Begitu bayangan di bawah pintu akhirnya menghilang, Gavin langsung menghentikan aksinya.

Bantal kecil itu dilemparkannya ke samping.

Lalu dia ambruk telentang di atas sofa sambil memegangi perut.

"Hahaha..."

Tubuhnya sampai bergetar menahan tawa.

"Tante... mukanya merah banget!"

Dia menunjuk wajah Tiffany sambil terus terkekeh.

"Santai saja. Itu tadi cuma akting."

Tiffany yang sejak tadi masih berdiri mematung akhirnya tersadar.

Rasa malu yang menumpuk sejak beberapa menit lalu langsung berubah menjadi kesal.

"Diam kamu, Gavin!" bentaknya.

Tanpa pikir panjang, dia menyambar sebuah guling dari atas ranjang.

"Woi—"

Bugh!

Guling itu melayang lurus dan menghantam wajah Gavin dengan telak.

"Astaga!"

Belum sempat Gavin membalas, Tiffany sudah berlari sekencang mungkin menuju kamar mandi.

Brak!

Pintu kamar mandi langsung ditutup rapat dari dalam.

Di balik pintu itu, Tiffany menyandarkan punggungnya sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangan.

Jantungnya masih berdebar tidak karuan.

Entah karena panik...

Atau karena dialog-dialog memalukan yang baru saja didengarnya.

Sementara di luar, Gavin hanya mengusap hidungnya yang terkena guling sambil tersenyum geli.

"Misi berhasil," gumamnya puas.

Malam pertama mereka sebagai pasangan suami istri memang berhasil dilewati tanpa membongkar penyamaran sedikit pun.

Namun, Tiffany mulai menyadari satu hal.

Selama pria bernama Gavin Wijaya itu masih tinggal bersamanya, setiap hari kemungkinan besar akan menjadi rangkaian sandiwara baru yang jauh lebih melelahkan, lebih memalukan, dan jauh lebih menguras emosinya.

1
helena
ada batas teritorial nya🤣
helena
tante🤣
helena
kursi panas/Doge/
helena
jari jemari tim kevin /Proud/
Zed Analytical Number Nine
ngga bener nih, si Gavin
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
Lasa Hardianti
WKWKWK Gavin langsung semangat banget pas dengar kartu kredit tanpa limit🤣 Lanjut baca dulu ah, penasaran rumah tangga kontraknya bakal seseru apa🤣😍
white star ⭐: "Terima kasih kak, dah mampir 😆"
total 1 replies
Lasa Hardianti
Premisnya unik Kak. dari awal udah bikin penasaran gimana Gavin bisa berubah jadi TKI di Taiwan. Semangat update😁
Cilia
Lanjutin terus kak! Kepo sama kelanjutan cerita Gavinnn
white star ⭐: trimakasih kak, jadi semakin semangat buat nulis kelanjutan cerita ini
total 1 replies
helena
lanjut thorr💪
helena
😇
yugi chan 👧
lanjuuttt ....
white star ⭐: siap kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!