NovelToon NovelToon
Wajah Kedua Seorang MAFIA

Wajah Kedua Seorang MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:760
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17- Alena’s Floral Boutique

Dalam waktu yang cukup lama Alena merenung di meja kerjanya. Dengan instingnya yang kuat ia menerka orang yang telah mengkhianatinya namun ia segera menolak prasangkanya. Tapi siapa? Dan bagaimana bisa?

Kemudian ia mulai berpikir, mungkinkah keberadaannya di ketahui seseorang dari masa lalunya? Tapi kalaupun iya, musuh tidak akan bertindak di belakang seperti ini.

Dalam waktu itu juga, para pelanggan berdatangan dan Alena pun melayani mereka seperti biasa. Bahkan rasanya hari ini terasa lebih sibuk dari biasanya.

Hingga hari menjelang sore...

Matahari mulai condong ke barat, memancarkan warna jingga kemerahan yang menembus kaca depan Alena’s Floral Boutique.

Hari ini benar-benar melelahkan bagi Alena. Sejak pagi, pesanan papan bunga pernikahan dan buket wisuda datang tanpa henti. Bahkan, tangannya sampai sedikit tergores duri mawar karena terburu-buru.

Karena kesibukan yang luar biasa itu, otak Alena otomatis menghapus memori tentang kedatangan toga orang pria berjas hitam tadi pagi. Pria yang dengan angkuh melontarkan kalimat ancaman: "Kosongkan tempat ini, atau kami yang akan membereskannya sore ini."

Alena benar-benar lupa. Sampai detik ini, hingga tiba saatnya kedatangan mereka lagi yang mengejutkan.

Brak!

Pintu kaca toko didorong kasar hingga membentur dinding. Lonceng kecil yang biasanya berdentang ramah di atas pintu, kini berdenting nyaring dan panik.

Tiga orang pria berbadan tegap dengan pakaian serba hitam melangkah masuk tanpa permisi. Langkah sepatu bot mereka menyisakan jejak tanah kotor di lantai keramik toko yang bersih.

Tanpa basa-basi, pria yang berada di depan, yang merupakan si pemimpin dengan tato ular di lehernya langsung berteriak.

"Waktu habis! Kemasi barang-barangmu sekarang! Kami bilang sore, dan sekarang sudah sore!" serunya dengan suara yang menggelegar.

Beberapa pelanggan yang sedang asyik memilih bunga langsung berjengit kaget. Suasana toko yang tadinya tenang pun mendadak berubah tegang dan mencekam.

Para pria itu tidak menunggu jawaban Alena. Mereka langsung bergerak maju, meraih vas-vas besar berisi bunga lili dan krisan, lalu menurunkannya begitu saja ke lantai dengan kasar.

"Ada apa ini? Kenapa mereka buat keributan?" bisik salah seorang pelanggan wanita paruh baya, wajahnya pucat sambil memeluk tas belanjanya erat-erat.

"Hei! Apa-apaan ini?! Tolong keluar dari toko saya!" teriak Alena. Jantungnya berdegup kencang, antara syok dan amarah yang tiba-tiba membubung.

Kemudian Alena berlari keluar dari balik meja kasir. Ia mencoba menghalangi tubuh tegap salah satu pria yang sedang bersiap merenggut paksa deretan pot bunga anggrek di rak gantung.

"Hentikan! Jangan sentuh bunga-bunga itu! Kalian tidak punya hak!" Alena mencengkeram lengan pria itu dan mencoba menariknya menjauh.

Namun, bukannya berhenti, tindakan Alena justru memancing emosi mereka. Pria bertato ular itu mendengus remeh dan dengan satu sentakan kasar, ia mengibaskan tangan Alena hingga wanita itu terhuyung ke belakang.

"Hak? Bos kami yang punya tempat ini sekarang! Karena kamu keras kepala, kami yang akan bantu kamu 'pindah'!" seru si tato ular lalu memberikan komando pada anak buahnya. "Bersihkan semuanya!"

Mereka pun menjadi semakin gencar dan brutal. Tangan-tangan kekar itu menyapu apa saja yang ada di hadapan mereka. Bunga-bunga mawar segar yang baru saja dirangkai Alena dilempar ke lantai, hingga kelopaknya hancur terinjak-injak.

Preee!!!

Sebuah pot keramik besar berisi tanaman monstera mahal hancur berkeping-keping setelah didorong jatuh dari meja pajangan.

Suara pecahan itu begitu memekakkan telinga, hingga membuat para pelanggan menjerit ketakutan dan berhamburan lari keluar toko untuk menyelamatkan diri.

"Jangan! Saya mohon, hentikan!" Suara Alena. Air mata kemarahan menggenang di pelupuk matanya saat melihat kerja kerasnya dihancurkan begitu saja.

Prak! Pyarr!

Satu per satu vas kaca hancur. Air merembes di lantai, bercampur dengan tanah, pecahan kaca, dan kelopak bunga yang malang. Toko bunga yang indah itu kini berubah layaknya medan perang dalam sekejap mata.

Lalu, si pemimpin maju selangkah dan menatap Alena yang terduduk di lantai dengan tatapan dingin. Ia mengangkat kaki botnya dan bersiap menginjak buket bunga terakhir yang ada di dekatnya.

Prak!

Satu pot lagi hancur di dekat kaki Alena.

"Ha ha ha ha ha..." Pria bertato ular itu tertawa puas melihat Alena yang terduduk di lantai, dikelilingi oleh puing-puing kaca dan kelopak bunga yang hancur.

"Bagaimana, Nona? Masih mau bertahan di sini?" tanya si pemimpin dengan nada mengejek. Ia lalu melangkah maju dan hendak meraih lengan Alena untuk menyeretnya keluar dari toko secara paksa.

Alena memejamkan matanya dan bersiap menghadapi skenario terburuk. Namun, sebelum tangan kotor pria itu menyentuh kulitnya, sebuah bayangan besar tiba-tiba menghalangi.

Bruk!

Sebuah cengkeraman tangan yang luar biasa kuat menahan pergelangan tangan si pemimpin tato ular. Pria itu meringis kesakitan dan merasakan tulang pergelangan tangannya seperti hendak remuk.

Alena kemudian membuka matanya dengan perlahan. Pandangannya terpaku pada punggung tegap berbalut kemeja kotak-kotak yang berdiri kokoh di depannya. Aroma parfum maskulin yang sangat familier menyeruak di antara bau tanah dan getah bunga.

"Bara...?" gumam Alena lirih, yang hampir tak percaya dengan penglihatannya.

Pria yang selama beberapa waktu ini bak hilang ditelan bumi, yang tidak pernah memberi kabar dan menyisakan banyak tanda tanya di benak Alena, kini mendadak berdiri di sini. Hadir tepat di detik saat Alena paling membutuhkan pertolongan.

Akan tetapi, Bara tidak langsung menoleh ke belakang. Dengan satu sentakan tenang namun bertenaga, ia mengempaskan tangan si pemimpin hingga pria bertato itu terhuyung mundur dua langkah.

Baru setelah itu, Bara membalikkan badannya dan berjongkok di hadapan Alena. Tatapan matanya yang tadi sedingin es, seketika melembut saat menatap wanita itu.

"Nona Alena, apa Anda baik-baik saja? Ada yang terluka?" tanya Bara dengan suara yang menenangkan.

Alena masih mengerjapkan matanya dan mencoba meyakinkan diri bahwa ini bukan ilusi. Di tengah rasa terkejutnya, ia hanya bisa mengangguk pelan sebagai jawaban.

Melihat Alena tidak terluka fisik, Bara pun mengembuskan napas lega. Ia lalu berdiri tegak kembali dan membalikkan tubuhnya menghadap ketiga pria berbadan besar yang kini mulai memasang posisi waspada.

Bara menegakkan tubuhnya, lalu melipat tangannya di dada.

"Dengar, aku minta Anda semua mengakhiri keributan ini. Sekarang," kata Bara. Suaranya tidak tinggi, namun setiap kata yang keluar terdengar bagai perintah yang tidak boleh dibantah.

Mendengar ucapan Bara, ketiga pria itu saling pandang sejenak sebelum akhirnya mereka meledak tertawa ,"HA HA HA HA HA!!".

Kemudian, si pemimpin tato ular maju dan berhadapan langsung dengan Bara. Ia mencoba menyejajarkan tinggi badannya walau ia tetap harus sedikit mendongak.

"Hah! Siapa lagi bajingan ini? Apa hakmu bicara begitu, hah?!" bentak pria bertato itu, sambil menunjuk wajah Bara dengan telunjuknya. "Asal kamu tau, tanah dan bangunan toko ini sudah sah menjadi milik bos kami! Jadi, tidak usah sok jadi pahlawan. Segera tinggalkan tempat ini dan bawa pacarmu yang menyedihkan itu pergi dari sini sekarang juga sebelum kami buat kamu cacat!"

Alena yang mendengar makian itu meremas ujung bajunya, ia cemas jika Bara akan terpancing emosi dan terjadi baku hantam yang tidak seimbang.

Namun, Bara sama sekali tidak berkedip. Senyum tipis yang sarat akan meremehkan justru terukir di sudut bibirnya. Berbeda sekali dengan penampilannya dulu yang nampak penakut.

Ia menatap pria di depannya dengan tatapan lurus lalu berkata, "Kalau begitu mudah saja, Aku akan membeli kembali tanah dan bangunan ini. Berapa pun harga yang diminta bosmu."

Bersambung...

1
𝐀⃝🥀Weny
keren kau Max👍🏻
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya dapat restu juga dari camer🤭 hati² kamu Sofia jangan sampai kamu membangunkan singa yang sedang tidur😁
𝐀⃝🥀Weny
dobel up thor
Aurora: siap... di usahakan ya.../Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!