Di saat dunia memilih memihak yang kuat, Seline hadir bersama Sistem Balas Dendam untuk menghukum mereka yang lolos dari hukum.
Ia akan merayu pria yang paling dicintai targetnya, meruntuhkan kepercayaan, mematahkan kesetiaan, lalu membiarkan para pelaku menyaksikan kebahagiaan yang mereka bangun di atas penderitaan orang lain runtuh dengan tangan mereka sendiri.
Ia bukan malaikat. Bukan pula iblis.
Ia adalah keadilan yang gagal diberikan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucum_alattas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Mata Maxime mengedar ke segala arah. Melihat tidak ada Helena di sana, ia menghela nafas lega.
Semua tindakan itu membuat mamanya benar benar kesal.
“Apa arti tatapanmu itu, hah?” kesal Mama Maxime yang hanya dibalas tatapan datar putranya.
“Max!”
“Ma, aku hanya tidak ingin bertemu dengannya kecuali di persidangan,” ucapnya dingin.
Nafas mama Maxime naik turun. Ia ingin marah, dan memperingatkan putranya. Namun, mengingat rencana yang sudah ia susun hari ini, ia menekan semua kemarahannya.
“Tenang, setelah malam ini, Maxime tidak akan lagi memikirkan perceraian,” gumamnya dalam hati.
“Hmm, menginaplah malam ini di sini,”perintahnya tegas.
Alis maxime berkerut. “Tidak!” tolaknya tanpa ragu.
Wajah wanita paruh baya itu beubah muram. “Apa maksudmu selalu menentang Mamamu ini?”
“Ma, Selina sedang sakit. Aku tidak bisa meningalkannya begitu saja.”
Brak!
Wanita paruh baya itu langsung menggebrak meja. Ia benar benar kehilangan kendali saat mendengar Maxime menyebut nama wanita simpanannya itu.
“Selina, Selina, terus yang kau pikirkan. Mana yang lebih penting antara wanita itu, dan Mama?” tanyanya dengan mata menyala nyala.
Maxime menatap mamanya tak percaya. “Ma, apa mama yakin menanyakan hal seperti ini padaku?”
“Kenapa? Apa kau ingin mengatakan jika wanita itu jauh lebih penting dibanding Mamamu ini? Mama mu yang sudah mengandungmu, bahka sudah berjuang melawan kematian demi melahirkanmu. Apa kau sungguh sungguh ingin melawan Mama dengan wanita yang menghancurkan pernikahanmu?” tanyanya dengan dada naik turun.
Nafasnya memburu. Jelas sekali, kebenciannya terhadap Selina benar benar luar biasa.
Maxime yang bisa melihat kebencian di mata mamanya itu menggelengkan kepala. “Ma, dia sama sekali tak bersalah dalam hubungan ini. Hancurnya pernikahanku, semuanya disebabkan oleh diriku sendiri.”
“Kurang ajar,” marah mama Maxime yang tak habis pikir putranya bahkan rela menyalahkan diri sendiri hanya demi melindungi martabat simpananya.
“Ma, jika mama ingin aku datang hanya untuk memarahiku, dan menghina Selina, lebih baik aku pulang. Selina jauh lebih membutuhkanku dibanding Mama!” tegasnya yang ingin bangkit
Mama Maxime yang melihat itu langsung panik. “Duduk kembali!” perintahnya tegas.
Namun, Maxime sama sekali tak peduli. Ia tetap melangkah pergi, membuat mama Maxime benar benar khawatir jika rencananya malam ini akan kacau.
Ia langsung berdiri, bergegas menarik tangan Maxime yang membuat Maxime terpaksa menghentikan langkahnya dan menatap mamanya dengan pandangan lelah.
“Ma, aku benar benar lelah hari ini. Jangan membuatku semakin lelah untuk menghadapi Mama,” uapnya dengan nada tenang namun cukup membuat mamanya kembali marah.
“Bukankah kau ingin bercerai dengan istrimu?”
Maxime mengangguk. Matanya menatap mamanya, seolah menunggu kelanjutan kata katanya.
“Kalau begitu, tetaplah di sini. Mama sudah berbicara dengan papamu. Tunggu papamu kembali.”
Alis Maxime berkerut. Matanya menatap mamanya dengan curiga.
“Tatapan apa itu? Apa kau pikir Mama membohongimu? Manfaat apa yang Mama miliki untuk membohongimu?” kesal mama Maxime sambil berusaha menghindari tatapan putranya.
“Kembali ke tempat dudukmu,” putus mam Maxime yang kali ini tidak terlalu ditentangnya.
Helaan nafas lega diam diam wanita paruh baya itu keluarkan. Matanya menatap pelayan kepercayaannya. Melihat pelayan itu mengangguk, dan mengcungkan jempol, ia diam diam mersa lega.
“Kita makan dulu, sambil menunggu papamu pulang.”
Maxime yang mendengar itu ingin menolak. Namun, melihat wajah dingin mamanya, ia memilih mengangguk dan duduk dengan patuh.
Semua hidangan yang di tata di meja adalah makanan kesukaannya. Namun, alih alih merasa senang, Maxime malah semakin measa tak nyaman.
“Makan yang banyak. Kau membutuhkan banyak energi nanti,” ucapnya yang membuat Maxime menatap mamanya bingung.
“Maksud Mama, berbicara dengan papamu membutuhkan energi. Kau tahu kan, seberapa keras kepalanya papamu itu.”
Maxime mengangguk. Namun, saat ia hendak menyendokkan makanannya ke dalam mulut, matanya menatap mamanya dengan tatapan dalam.
“Aku harap, Mama tidak akan melakukan hal hal yang membuatku membenci Mama,” ucapnya yang membuat wanita paruh baya itu tertegun.
Sebersit rasa bersalah kembali muncul. Ia bahkan tak berani menatap Maxime lagi.
Namun, berbagai pertanyaan muncul di otaknya.
“Apa layak dia menjebak putranya hanya demi pernikahan yang sudah hancur ini?” tanyanya dalam hati.
“Bagaimana jika semuanya tidak berjalan sesuai rencana. Tidak hanya menghancurkan putranya sendiri, dia juga akan menghancurkan hubungan antara anak dan orang tua?”
“Tidak! Di masa depan, Maxime akan memahami alasanku melakukan semua ini. Helena adalah wanita terbaik untuk Maxime. Aku melakukan semua ini demi masa depan putraku sendiri,” gumamnya meyakinkan diri sendiri.
***
“Ma, aku akan pulang ke mansionku sendiri,” tolak Maxime saat mamanya memaksanya untuk tinggal.
Mama Maxime sama sekali tak mendengarkan kata kata Maxime. Sebaliknya, ia membawa Maxime naik ke atas. Wajahnya dengan tegas menuntun anaknya ke kamar yang sudah diisi oleh Helena.
Maxime yang merasa tubuhnya di luar kendalinya hanya bisa menggertakkan gigi. Tubuhnya dituntun oleh mamanya dan seorang pelayan pria. Ia ingin mendorong pria itu, tapi entah kenapa kekuatannya melemah.
“Ma ... apa mama memasukkan sesuatu dalam makanan itu?” tanyanya berusaha tetap sadar.
Mama Maxime yang mendengar itu masih tak menjawab. Saat ia berhenti tepat di depan kamar Maxime, ia menghela nafas dalam dan mengetuk pintu. Tak lama kemudian, sosok Helena yang hanya berbalut handuk pendek muncul. Penampilan itu tidak hanya mengejutkan mertuanya, tapi semua orang.
“Ma,” sapa Helena lembut.
Maxime yang melihat itu langsung menatap tajam mamanya. “Mama benar benar menjebakku?” tanyanya dengan nada tercekat.
Wajah mama Maxime terlihat sedikit bersalah. “Maaf, mama melakukan semua ini demi masa depanmu, Max. Di masa depan, kau pasti aka berterimakasih pada mama.”
Tepat setelah mengatakan itu, ia meminta pelayan mendorong tubuh Maxime masuk. Membiarkan Maxime terkunci dalam kamar bersama dengan Helena.
Helena yang melihat Maxime yang tampak limbung dan berusaha berdiri menghela nafas lega.
Pelan, ia melangkah mendekat. Matanya menatap rakus ke arah tubuh Maxime.
“Max,” panggilnya pelan.
Maxime yang sedang mengumpulkan kewarasannya dan kekuatannya berkali kali menggelengkan kepala. Ia berusaha duduk tegak dengan tangan terangkat ke atas.
“Menjauh dariku,” peringat Maxime dengan mata mulai buram.
Namun, alih alih menjauh, Helena semakin mendekat dengan senyum lembut di wajahnya.
“Tidak bisa, Max. Mama memintaku untuk segera mengandung anakmu,” jelasnya lembut.
Namun, penjelasan itu membuat kemarahan Maxime benar benar memuncak.
Bukan hanya itu, pengaruh obat kuat yang diberikan mamanya juga membuat tubuhnya kepanasan. Pembuluh di kepalanya bahkan terasa menonjol, dengan urat urat matanya yang memerah.
“Max,” panggil Helena lembut.
Kali ini, ia bahkan dengan berani membuka handuknya, membiarkan tubuh polosnya terekspos sempurna.
Maxime yang melihat itu membuang muka. “Jangan membuatku jijik padamu,” desisnya berusaha memperingati Helena.
Namun, alih alih marah. Helena malah tertawa pelan. “Oh ya? Apa kau yakin akan merasa jijik padaku? Max, lihat tubuhku. Tubuhku lebih indah dibanding tubuh Selena,” jelasnya tenang.
Tangannya tanpa ragu menggenggam tangan Maxime, memaksa Maxime untuk menyentuh salah satu buah dadanya yang menggantung sempurna.
“Remas, Max. Cicipi tubuhku, dan kau akan tahu, betapa luar biasanya tubuh istrimu ini,” ucapnya penuh godaan.
“Yah, seperti itu,” lanjutnya yang memaksa Max meremas tubuhnya sendiri.