Bagaimana perasaan mu jika kau terpaksa harus menikah muda? Terutama dengan orang yang usianya jauh lebih tua dari mu? Inilah yang terjadi dengan Clara Adeline Ferguson. Ia adalah putri tunggal keluarga Ferguson yang terkenal kaya. Papa nya juga adalah salah satu donatur terbesar sekolah SMA Citra Kirana di kota X.
Kenapa? Scandal apa yang telah dia lakukan sehingga ia harus menikah begitu dini? Ya. Jawaban nya adalah. Clara itu sangat nakal dan juga tidak pernah mendengarkan kedua orang tuanya,ia bahkan bisa di bilang anak manja dengan perilaku buruk, tidak jarang ia membuat onar di sekolah, ia bahkan selalu mendapat nilai merah di raport nya dan terancam tidak naik ke kelas tiga karena sering bolos sekolah.
Sementara itu Zidan, adalah seorang guru laki-laki termuda di sekolah SMA Citra Kirana yang katanya adalah keponakan kepala sekolah, namun identitas Zidan ini tidak lah akurat seperti sedikit tertutup dan tidak ada yang tau tentang keluarga nya kecuali sang paman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Seminggu kemudian,
Ujian telah berkahir, Clara akhirnya bisa memperbaiki nilai nya berkat bimbingan Zidan, ia juga sudah bisa mengerjakan tugas nya dengan benar tanpa terlalu banyak kesalahan.
Namun sayang ia masih belum bisa meraih juara di kelas dua ini, ia masih ketinggalan jauh di belakang teman-teman nya.
Namun yang membuat Clara bahagia adalah, dirinya bisa naik ke kelas dua belas, ini untuk pertama kalinya Clara bahagia karena melihat nilai nya yang tidak ada merah lagi serta ia juga mulai mencintai pelajaran di sekolah.
"Yey, akhirnya kita naik ke kelas tiga sekarang kita bukan adek kelas lagi dong," kata Nola kepada Clara.
"Iya, untuk pertama kalinya gue akhirnya punya nilai sempurna gak ada merah nya lagi," kata Clara dengan semangat menatap nilai ujian nya.
"Oh iya Clara, itu artinya kak Brayen bakal segera lulus dan keluar dari sekolah ini ya?" ucap Nola lagi.
"Iya, dan itu gak ada urusan nya sama gue, gue udah gak tertarik lagi sama pacar-pacaran, gue mau fokus belajar biar lulus nanti dapat peringkat tertinggi," ungkap Clara yang sepenuhnya kini tidak menginginkan Brayen lagi.
Namun tampa sepengetahuan Clara, semua itu di dengar oleh Brayen yang saat ini berdiri di belakang mereka, bersama dengan Yuna.
"Lo beneran udah gak ada perasaan sama gue lagi? Ini cuma bercanda kan Clara?" ungkap Brayen tak percaya.
Hal ini membuat Nola dan Clara membalikkan badan dan melihat ada banyak orang yang berdiri di belakang mereka termasuk Yuna Clara dan Lana.
"Bagus deh kalo Lo denger, gue gak perlu capek-capek lagi jelasin, semua nya gue mau bilang sama kalian! Gue Clara Adeline Ferguson! Yang kalian tau selama ini ngejar-ngejar cowok yang namanya Brayen! Mulai hari ini dan seterusnya gue udah gak ada hubungannya dan gak ada perasaan lagi sama dia!" ucap Clara sambil menujuk wajah Brayen.
"Wahhh Clara uncrus woe,"
"Wahh padahal dia dulu suka banget sama Brayen.
"Asik Clara sekarang gak suka dia lagi kita ada kesempatan buat deketin Clara.
"Mampus Brayen, makanya jangan sok ganteng,"
Begitulah bisik-bisik para anak-anak sekolah Citra Kirana yang terdengar di kuping Brayen sekarang.
Kini Clara bahkan mengumumkan secara langsung kepada semua orang kalau dirinya sudah tidak mengejar-ngejar Brayen lagi.
"Clara Lo apa-apaan sih? Pake buat pengguman segala, emang Lo siapa bisa kayak gitu?" Lana maju menghadapi Clara mencoba untuk membela Brayen.
"Ini bukan urusan Lo, urus aja jabatan Lo yang sebantar lagi bakal di copotin itu," kata Clara sambil mendorong Lana ke samping dan kemudian berjalan pergi meningalkan kerumunan tersebut.
Sementara itu sepasang mata mengamati dari jauh dengan kedua sudut bibir yang tertarik menampilkan sebuah senyuman tipis yang siapapun belum pernah melihat semanis apa bahkan senyuman tipis ini.
"Clara sangat banyak kemajuan, dia bahkan mulai fokus dengan pelajaran nya, nyonya dan tuan Ferguson pasti akan semakin mempercayai anda tuan muda," kata Adnan menepuk pundak Zidan dari belakang.
"Aku tau itu, oh ya kapan acara pelepasan anak kelas dua belas di selenggarakan?" tanya Zidan mengalihkan pembicaraan.
"Setelah libur semester selesai, kenapa sepertinya anda sangat gelisah tuan muda?" tanya Adnan lagi.
"Itu artinya Minggu depan? Setelah anak-anak menikmati libur mereka? Bagaimana bentuk pesta akan di adakan?" tanya Zidan lagi.
"Seperti biasa, di adakan di malam hari, seperti pesta perpisahan yang sudah di selenggarakan di sekolah kita pada tahun-tahun sebelumnya," jawab Adnan sang kepala sekolah.
"Baik," setelah mengatakan hal itu Zidan langsung melangkah pergi meninggalkan kepala sekolah.
"Anak ini, masih saja sangat dingin," ungkap Adnan sambil geleng-geleng kepala.
Sementara itu ...
"Clara tunggu! Clara tunggu Clara," Brayen berhasil meraih pergelangan tangan Clara dan membuat gadis itu berhenti melangkah.
"Ngapain sih?" ujar Clara yang kemudian melepaskan tangan Brayen dari pergelangan tangan nya.
"Gue mau ngomong Clara, gue tau Lo masih sakit hati sama apa yang dulu pernah gue ucapin ke Lo, tapi gue yakin Lo gak serius kan mau nutup hati buat gue?" terlihat wajah penuh harapan dari Brayen yang kini berharap Clara akan kembali seperti semula.
"Lo salah, gue udah lupain semuanya, dan gue harus bilang makasih sama Lo karena Lo udah bikin gue sadar kalau Lo bukan yang terbaik buat gue, Lo bisa dapetin ya g lebih dari gue Brayen, Lana contoh nya karena dia suka sama Lo, kalau gue mah udah nggak, gue mohon jangan ganggu gue lagi," kata Clara dengan senyum tipis nya terlihat jelas kalau saat ini dirinya tak lagi mengharapkan Brayen.
"Tapi Clara bukan nya dulu Lo cinta banget sama gue? Gue janji bakal tebus semua kebodohan gue, gak lama lagi gue gak bakal ada di sini Clara gue bakal lulus tapi itu gak bakal jadi penghalang buat gue dapetin Lo," kata Brayen memaksa Clara untuk kembali membuka hati untuk nya.
Clara menarik nafas panjang, dan kemudian membuka tas nya, dia mengeluarkan kotak pensil dan mengeluarkan sesuatu dari dalam kotak tersebut.
"Nih ya Lo lihat," Clara mengambil sebuah pengaris dan kemudian mematahkan nya menjadi tiga bagian.
"Kenapa?" kata Brayen tak mengerti.
"Ini udah patah dan gak bisa di sambung lagi, kalau pun bisa gak bakal bisa di pake juga bakal patah lagi," kata Clara yang kemudian membuang pengaris tersebut lalu kemudian berjalan pergi dari hadapan Brayen.
Seketika Brayen terdiam, dia menyadari betapa bodohnya dia selama ini menyia-nyiakan seorang gadis cantik seperti Clara. Brayen bahkan kembali mengingat kejadian di mana ia memaki dan juga mengatakan kepada Clara kalau dirinya tidak akan pernah mencintai atau jatuh cinta kepada Clara.
"Gue emang bodoh, tapi gue gak bakal nyerah sedikit pun, gue bakal dapetin Lo meskipun nantinya gue gak sekolah di sini lagi," kata Brayen sambil mengepalkan tangannya.
Kring ... Kring ... Kring ...
Bel sekolah pun berbunyi, menandakan bahwa sudah waktunya pulang sekolah.
"Aaa akhirnya kita libur juga, oh ya Clara Lo mau liburan kemana?" tanya Nola kepada Clara sambil mereka berjalan menyusuri koridor menuju parkiran sekolah.
"Emm, gak tau deh kayaknya gak ada liburan kali ini," jawab Clara mengingat dirinya tak sebebas dulu lagi.
"Hmm kasian banget sih sahabat gue ini, tapi gue minta maaf ya gak bisa nemenin Lo, soalnya mama sama papa gue udah ada rencana mau liburan ke Eropa, jadi gue ikut deh andaikan Lo bisa ikut," kata Nola sedikit sedih karena liburan kali ini tidak bisa bersama dengan sahabat nya.
Bersambung ....