NovelToon NovelToon
Di Pacarin Brondong Kaya

Di Pacarin Brondong Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dya Veel

Kayla Daviena, seorang gadis konglomerat yang hidupnya suka foya-foya. Karena sikapnya itu, sang ayah mengambil seluruh kartu kreditnya dan bahkan menyuruh Kayla untuk tinggal seorang diri di kos-kosan sederhana di tengah kota! Hidup pas-pasan, tunggakan yang numpuk, piring belum di cuci, semuanya datang bertubi-tubi tanpa henti dalam hidup gadis itu. Siapa sangka ia tiba-tiba bertemu cowok aneh super menyebalkan yang tinggal di sebelah kosnya, dan mendadak di cowok itu memacari dirinya tanpa aba-aba! Apa yang akan terjadi dengan mereka selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tinggal di kos-kosan

"Aduh, bibi Dewi! Plis tolongin saya bi! Lihat tuh, masa ayah tiba-tiba pagi ini udah minta asisten rumah gotong semua barang aku keluar sih?!" ucap Kayla kepada wanita setengah parubaya itu yang tengah sibuk memasak di dapur.

Sedari tadi Kayla tak berhenti mengoceh, ia sangat kesal dengan sang ayah yang tiba-tiba mengambil keputusan mendadak seperti ini. Rasanya ia ingin mengamuk dan menjadi monster!

"Non, bibi beneran ngga bisa bantu. Non tahu kan tuan kayak gimana sikapnya sekarang? Mungkin non lebih baik bicara baik-baik deh sama tuan, siapa tahu dia mau kasih keringanan." saran Bibi Dewi.

Ia lalu memberikan sebuah totebag kepda Kayla. Kayla agak kaget dan tetap menerimanya, ia membukanya sekilas dan menemukan beberapa kotak makan serta persediaan bahan makanan.

"Itu cukup buat non selama beberapa hari, jadi non ngga perlu beli makanan di luar," kata Bibi Dewi.

Kayla menghela napas dengan senyum kecut di wajahnya. "Makasih ya bi, makanan bibi memang selalu paling enak deh!"

....

Dan di sinilah sekarang Kayla berada. Ia sudah sampai di kos yang ayahnya sewakan untuknya. Jauh dari kata kos elit seperti yang Kayla bayangkan!

Tempat ini sangat sederhana. Kos-kosan ini terletak di gang tepi jalan raya. Ada banyak petak, dan sangat luas. Namun tidak dengan kamarnya! Kamar di tempat ini sangat mungil, bahkan hanya muat satu kasur dan satu lemari, tak cukup untuk menaruh perabotan lain lagi.

Kayla tercengang begitu ia sampai di tempat tinggal barunya ini. Ia bahkan mengerjapkan matanya berulang kali, memastikan bahwa Pak Yono tidak membawa ke tempat yang salah.

"Pak? Ini beneran kos-kosan saya?" tanya Kayla hampir tak percaya.

Pak Yono mengangguk, "Iya, non! Dari alamatnya sih bener di sini!"

Tak lama kemudian seorang ibu-ibu menghampiri keduanya dengan senyum ramah. Itu Bu Arin, pemilik kos-kosan ini.

"Selamat pagi neng geulis, ini neng Kayla ya?" tanya Bu Arin dengan senyum mengembang pada wajahnya.

"Ah, i-iya ibu! Saya Kayla," jawab Kayla dengan wajah kikuk.

"Ayo neng, ikut saya. Saya tunjukin kamar neng!" ajak Bu Arin dengan ramah kepada Kayla dan Pak Yono.

Kayla hanya bisa pasrah dan melangkah gontai mengikuti Bu Arin, sementara Pak Yono mengekor di belakang sambil menggotong dua koper besar yang tampak keberatan. Mereka berjalan menyusuri lorong panjang yang diapit deretan pintu kamar.

"Mari neng, silakan lewat sini," ujar Bu Arin ceria,

"Nah, kalau deretan petak yang di depan tadi itu khusus buat cowok-cowok, Neng. Biar nggak terlalu 'berbaur' banget lah ya. Tapi kalau yang di bagian belakang sini modelnya campur, ada cewek ada cowok juga. Kebanyakan mahasiswa kampus seberang sih, jadi ya rame terus kayak pasar malam kalau sore!"

Kayla melirik pintu-pintu yang mereka lewati. Ada jemuran handuk di sana-sini, hingga aroma mi instan yang menyeruak dari salah satu kamar.

"Penuh banget ya, Bu?" tanya Kayla pelan.

"Wah, penuh pisan, Neng! Ini aja Neng beruntung dapet kamar terakhir. Kalau telat sedetik, mungkin Neng tidurnya di pos ronda depan," canda Bu Arin sambil tertawa renyah, membuat Kayla hanya bisa tersenyum kecut.

Akhirnya, Bu Arin berhenti di depan sebuah pintu kayu yang catnya sudah sedikit mengelupas. Ia merogoh saku daster dan mengeluarkan seuntai kunci.

Cklek!

"Nah, ini dia istananya Neng Kayla!" seru Bu Arin bangga.

Kayla meneguk ludah dengan susah payah. Begitu pintu terbuka, ia merasa seperti masuk ke dalam kotak sepatu.

Kamar itu benar-benar mungil—kalau Kayla merentangkan kedua tangannya, mungkin ia sudah menyentuh kedua sisi dinding. Di pojok ruangan hanya ada satu kasur lantai tipis dan sebuah lemari plastik bongkar pasang bergambar kartun.

"Ibu... ini TV-nya di mana ya? Terus Walk-in Closet saya ditaruh sebelah mana?" tanya Kayla dengan polosnya.

Bu Arin tertawa sampai terpingkal-pingkal.

"Aduh si Eneng mah lucu! TV mah nggak ada, Neng. Kalau mau nonton, tonton aja itu cicak di langit-langit lagi berantem, gratis! Kalau Walk-in-Walk-in apa tadi? Lemari plastik itu sudah mewah, Neng. Kalau nggak muat, bajunya dipake rangkap sepuluh aja biar ringkas!"

Kayla hanya bisa melongo. Lawakan Bu Arin terasa seperti petir di siang bolong bagi mentalnya yang terbiasa hidup mewah.

"Ya sudah, saya tinggal dulu ya. Kalau butuh apa-apa, teriak aja yang kenceng, pasti kedengeran kok sampai ujung gang. Selamat menikmati hidup baru, Neng Geulis!" Bu Arin pun melenggang pergi dengan tawa yang masih tersisa

Suasana seketika hening. Kayla berdiri mematung di tengah ruangan, menatap koper-kopernya yang tampak lebih besar daripada area lantai yang tersisa.

Pak Yono, yang sejak tadi hanya diam, merasa iba melihat majikannya yang malang itu. Ia mendekat dan mengelus pundak Kayla dengan lembut.

"Sabar ya, Non... Anggap saja ini lagi latihan jadi agen rahasia yang lagi menyamar," hibur Pak Yono berusaha melucu meski gagal total.

"Non Kayla pasti bisa. Manusia itu makhluk yang paling cepat beradaptasi, Non. Kemarin Non tidur di kasur raja, siapa tahu besok Non malah lebih nyenyak tidur di sini karena nggak capek muter-muter di kamar yang kegedean."

Kayla menoleh dengan mata berkaca-kaca.

"Pak Yono beneran mau ninggalin saya di sini?"

"Tugas saya cuma sampai sini, Non. Bapak pamit ya? Semangat, Non Kayla!" Pak Yono memberikan jempolnya sebelum akhirnya berbalik dan menghilang di balik lorong.

Kini, Kayla benar-benar sendirian. Ia duduk di pinggir kasur tipisnya, menatap totebag dari Bibi Dewi, dan menghela napas panjang.

Kayla perlahan membuka kotak makan dari Bibi Dewi. Aroma nasi goreng mentega dengan taburan telur iris dan sosis kesukaannya langsung memenuhi ruangan sempit itu. Hanya ini satu-satunya hal yang terasa "benar" hari ini.

"Cuma bibi yang paling tahu cara nenangin aku," gumamnya sambil menyuap nasi goreng itu dengan lahap.

Meski hatinya dongkol, perutnya tetap harus kompromi. Setelah tenaga sedikit pulih, ia mulai berbenah. Menjejalkan baju-baju bermereknya ke dalam lemari plastik bergambar beruang itu benar-benar menguras emosi. Lemarinya bahkan sempat oleng karena berat beban gaun-gaun Kayla yang tidak tahu diri.

Malam pun tiba. Benar kata Bu Arin, suasana kosan ini berubah 180 derajat. Suara deru motor yang parkir silih berganti, tawa mahasiswa di lorong, hingga aroma mie instan dan ayam geprek menyusup lewat celah pintu.

Dengan sisa energi mental yang nyaris habis, Kayla memaksakan diri untuk terlelap, berusaha keras menutup telinga dari kebisingan lingkungan barunya.

Baru saja ia terlelap menuju alam mimpi, sebuah suara sayup-sayup menembus dinding kamarnya yang setipis kerupuk.

"Mmh... pelan-pelan..."

Kayla tersentak. Matanya mengerjap di kegelapan. Ia terdiam sejenak, mengira itu hanya halusinasinya. Namun, tak lama kemudian terdengar suara lain. Kali ini suara berat seorang cowok yang terengah, disusul bunyi ritme yang sangat mencurigakan—seperti gesekan kayu tempat tidur dengan tembok.

Kriet... kriet... kriet...

"Aduh, itu apaan sih?!" batin Kayla panik.

Penasaran sekaligus ngeri, ia mendekatkan telinganya ke dinding. Seketika itu juga matanya membelalak. Suara rintihan halus dan gumaman manja makin jelas terdengar dari sebelah. Kayla langsung menarik kepalanya menjauh seolah tembok itu baru saja menyetrumnya.

"Gila! Ini kosan apa sarang penyamun?!" umpatnya dengan wajah memerah padam.

"Bener-bener ya, tetangga nggak ada akhlak! Ini kan bukan hotel bintang lima yang kedap suara!"

Merasa otaknya baru saja terkontaminasi hal-hal yang tidak seharusnya ia dengar di malam pertama, Kayla tidak tahan lagi. Ia menyambar jaketnya, membuka pintu kamar dengan kasar, dan keluar dari sana dengan langkah gontai.

Ia berjalan menuju lorong depan sambil merengut masam, menyilangkan tangan di dada dengan perasaan campur aduk. Marah, lelah, dan syok jadi satu. Rasanya ia ingin berteriak pada ayahnya saat itu juga.

"Bagus banget ya, Yah... Fasilitas diambil, dikasih kamar sekecil liang lahat, sekarang bonusnya konser live orang lagi khilaf di sebelah kamar! Lengkap sudah penderitaan Kayla!" gerutunya sepanjang jalan dengan muka ditekuk seribu.

Kayla berjalan menghentak-hentakkan kakinya ke arah area depan kosan. Amarahnya sudah di ubun-ubun. Rasanya ia ingin meledakkan kos-kosan ini sekarang juga. Saat melewati deretan parkiran motor, matanya menangkap sebuah ember plastik warna pink norak yang tergeletak di tengah jalan lorong.

Gubrakkk!

"AAARRGGHH! NYEBELIN BANGET SIH SEMUANYA!" teriak Kayla frustrasi sambil meluapkan emosinya dengan menendang ember itu sekuat tenaga.

Ia berharap ember itu menggelinding jauh. Tapi sialnya, ember yang ternyata masih ada sisa air sabunnya itu malah melayang ke udara dengan estetik.

PLAK! DUAK!

Ember pink itu mendarat dengan telak di bokong seorang cowok yang sedang menungging khusyuk menggosok ban motor sport-nya. Cowok itu tersentak kaget, kehilangan keseimbangan, dan langsung tersungkur mencium ban motornya sendiri. Wajahnya sukses belepotan busa sabun dan oli.

"WADUH! SIAPA SIH YANG ISENG NGELEMPAR GRANAT PINK?!" raung cowok itu sambil berusaha bangun dan mengusap wajahnya yang cemong.

Kayla membeku. Alih-alih minta maaf, rasa kesalnya malah membuatnya makin galak. "Heh! Makanya kalau nyuci motor jangan nungging-nungging gitu! Ngabisin jalan tahu nggak! Lo naruh ember juga sembarangan!"

Cowok berkaos oblong itu menatap Kayla dengan ekspresi tidak habis pikir.Dia memegangi bokongnya yang sepertinya agak nyut-nyutan.

"Heh, Mbak Kunti nyasar! Lo yang nendang ember gue, kenapa jadi gue yang disalahin?!" semprot cowok itu dengan nada ceplas-ceplos.

"Udah nendang bokong gue pake ember, bikin muka gue jadi kayak ondel-ondel begini, bukannya minta maaf malah ngomel! Lo waras nggak sih?"

"Heh! Gue lagi emosi tingkat dewa ya! Lo jangan cari gara-gara sama gue!" Kayla balik melotot, matanya seperti mau keluar. "Gue stres denger konser dangdut koplo dari kamar sebelah, sekarang ketambahan lo lagi nungging-nungging di jalan!"

Cowok itu melongo, lalu tawa sinis keluar dari mulutnya yang belepotan oli. "Oh... habis denger 'rekaman horor' dari tetangga sebelah ya? Terus keluar-keluar ngamuk kayak naga pms? Elah Mbak, biasa aja kali. Kalau lo sirik bilang, jangan bokong suci gue yang jadi korban!"

"LO...!!!" Kayla kehabisan kata-kata, wajahnya merah padam antara malu dan marah.

"Apa?! Mau nendang gue lagi? Nih nendang nih!" cowok itu malah membalikkan badannya dan menepuk-nepuk bokongnya yang kena ember tadi dengan wajah menantang yang sangat menyebalkan. "Nama gue Juna. Kalau lo mau ganti rugi biaya urut bokong atau mau ajak kenalan, kamar gue nomor satu. Tapi jangan ngetok malem-malem ya, gue takut lo khilaf nerkam gue!"

"IDIH! NAJIS TRALALA! MENDING GUE KENALAN SAMA KECOA DARIPADA SAMA LO!"

1
Arin
Udah gak usah dengerin tuh si mantan. Cuman mau gertak aja sama kamu Kayla. Jangan mau balikan lagi ya
Arin
Hari apesmu Kayla.... memang gak boleh pindah kos-kosan.... 🤣🤣🤣🤣
Nah akhirnya ketemu Juna. Lumayan ngirit ongkos balik ke kos-kosan
Arin
Saingan Juna malah ikut kos disana juga😁😁😁. Makin seru persaingan buat menarik Kayla
Arin
Lah ibu.... orang cuman jalan berduaan diributin. Itu sebelah kamar Kayla apa kabar??? Lagi mendesah bersama..... Udah halal apa belum???? 🤭🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!