Naya terpaksa menggantikan kakak tirinya yang kabur beberapa jam sebelum pernikahan dengan Adrian, seorang CEO dingin yang lumpuh akibat kecelakaan misterius.
Bagi Adrian, Naya hanyalah pengganti yang harus menanggung dosa keluarganya. Di rumah mewah yang terasa seperti penjara, Naya dipaksa menjalani kehidupan penuh penghinaan dan penderitaan.
Namun Adrian tidak mengetahui satu kebenaran besar.
Wanita yang selama ini ia benci adalah orang yang pernah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan dirinya dari maut tiga tahun lalu.
Saat perlahan rahasia itu mulai terungkap dan hati Adrian mulai luluh, Naya justru memilih pergi.
Kini Adrian harus menghadapi satu pertanyaan yang terus menghantuinya:
Masih adakah kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahannya sebelum wanita yang dicintainya menghilang untuk selamanya? ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 — PENGANTIN PENGGANTI
Suara pecahan kaca memecah keheningan rumah keluarga Mahardika.
Brak!
Naya yang sedang merapikan hijab di kamarnya langsung tersentak. Ia bergegas keluar dan mendapati ruang tamu dalam keadaan kacau.
Ibunya terduduk di lantai sambil menangis.
Sementara ayah tirinya berdiri dengan wajah merah padam.
"Apa maksud semua ini?!" bentaknya sambil melempar sebuah amplop ke atas meja.
Jantung Naya langsung berdegup tidak tenang.
"Ada apa, Bu?"
Wanita paruh baya itu mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.
"Naya..."
Suara ibunya bergetar.
"Kakakmu pergi."
Deg!
Naya membeku.
"Apa?"
"Dia kabur!"
Ayah tirinya menghantam meja dengan keras.
"Perempuan tidak tahu diri itu kabur bersama laki-laki simpanannya!"
Tubuh Naya langsung melemas.
Hari ini adalah hari pernikahan kakak tirinya, Laras.
Seluruh keluarga sudah bersiap sejak pagi.
Bahkan keluarga Amarta sudah mengirimkan sebagian tamu ke lokasi akad.
Lalu bagaimana mungkin Laras menghilang?
"Ini tidak mungkin..."
Naya mengambil surat yang tergeletak di atas meja.
Tulisan tangan Laras terlihat jelas.
Maaf.
Aku tidak bisa menikah dengan pria cacat itu.
Aku memilih pergi bersama orang yang aku cintai.
Jangan mencariku.
Tangan Naya mulai gemetar.
Ia membaca kalimat berikutnya.
Dan wajahnya langsung memucat.
Laras juga membawa seluruh uang yang disimpan keluarga mereka.
Termasuk mahar miliaran rupiah dari keluarga Amarta.
"Ya Tuhan..."
Air mata ibunya kembali mengalir.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Tak ada yang menjawab.
Karena semua orang tahu betapa berbahayanya keluarga Amarta.
Mereka bukan keluarga biasa.
Mereka adalah salah satu keluarga terkaya di kota ini.
Membatalkan pernikahan beberapa jam sebelum akad adalah penghinaan besar.
Belum lagi uang yang dibawa kabur Laras.
"Naya."
Suara ibunya terdengar lirih.
Naya menoleh.
Tatapan wanita itu penuh keputusasaan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Naya melihat ibunya terlihat begitu hancur.
"Naya..."
"Selamatkan ibu."
Kalimat itu membuat jantung Naya mencelos.
"Apa maksud Ibu?"
Wanita itu langsung menggenggam kedua tangannya.
"Kamu yang menikah menggantikan Laras."
Dunia seolah berhenti berputar.
Naya menatap ibunya tidak percaya.
"Aku?"
"Bu, ini tidak masuk akal."
"Bagaimana mungkin?"
"Dia calon pengantin mereka."
"Bukan aku."
Namun ibunya terus menangis.
"Kalau pernikahan ini batal, keluarga kita hancur."
"Kita tidak akan mampu mengembalikan uang itu."
"Rumah ini akan disita."
Naya menggigit bibir bawahnya.
Dadanya terasa sesak.
Ia tahu kondisi keluarga mereka.
Sejak usaha ayah tirinya bangkrut, mereka hidup dari bantuan sana-sini.
Jika keluarga Amarta menuntut ganti rugi, mereka benar-benar tidak akan mampu membayarnya.
"Aku mohon..."
Ibunya berlutut di hadapannya.
Membuat mata Naya langsung membesar.
"Bu!"
"Aku mohon, Nak."
"Sekali ini saja."
Air mata Naya akhirnya jatuh.
Mengapa selalu dirinya?
Mengapa selalu dia yang harus mengalah?
Namun saat melihat wajah ibunya yang penuh harap, pertahanannya runtuh.
Perlahan ia memejamkan mata.
Lalu mengangguk.
Satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya.
---
Beberapa jam kemudian.
Naya duduk di dalam mobil pengantin dengan tangan dingin.
Gaun putih yang dikenakannya terasa begitu berat.
Ia bahkan tidak ingat bagaimana dirinya bisa sampai ke sini.
Semuanya terjadi terlalu cepat.
Satu-satunya yang ia ingat hanyalah tatapan lega keluarganya saat ia setuju menggantikan Laras.
Seolah seluruh beban telah berpindah ke pundaknya.
Mobil akhirnya berhenti.
Gedung pernikahan sudah dipenuhi tamu.
Naya menundukkan kepala.
Rasa takut mulai menguasai dirinya.
Bagaimana reaksi keluarga Amarta saat mengetahui pengantinnya diganti?
Bagaimana reaksi pria yang akan menjadi suaminya?
Apakah dia akan marah?
Membenci dirinya?
Atau bahkan membatalkan semuanya di depan banyak orang?
---
Akad berlangsung tanpa banyak kata.
Naya hampir tidak berani mengangkat wajah.
Namun saat ijab kabul selesai diucapkan, ia merasakan seluruh tubuhnya gemetar.
Kini ia resmi menjadi istri seorang pria bernama Adrian Amarta.
Pria yang bahkan belum pernah ia ajak berbicara.
---
Malam hari.
Aroma bunga melati memenuhi seluruh kamar pengantin.
Rangkaian bunga putih menghiasi setiap sudut ruangan.
Begitu indah.
Begitu mewah.
Namun hati Naya justru terasa semakin hampa.
Ia duduk sendirian di tepi ranjang.
Air mata kembali jatuh.
Malam ini bukan miliknya.
Ia hanyalah pengganti.
Pengganti yang dipaksa masuk ke dalam kehidupan orang lain.
Klik.
Pintu kamar terbuka.
Tubuh Naya langsung menegang.
Seorang pria memasuki ruangan menggunakan kursi roda.
Adrian Amarta.
Suaminya.
Pria itu menghentikan kursi rodanya beberapa meter dari ranjang.
Tatapan mereka akhirnya bertemu.
Dan untuk pertama kalinya, Naya melihat luka yang disembunyikan di balik ketenangan pria itu.
Luka karena dikhianati.
Luka karena dipermalukan.
Luka karena dipaksa menerima seseorang yang tidak pernah ia pilih.
"Angkat wajahmu."
Suara Adrian rendah.
Naya menurut.
Dan malam itu...
Ia sadar bahwa pernikahan mereka tidak akan dimulai dengan cinta.
Melainkan dengan luka.
Luka yang mungkin membutuhkan waktu sangat lama untuk sembuh.