“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”
Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Sandiwara Sempurna dan Jejak yang Tertinggal
Genap dua puluh empat jam setelah menelan pil dari dr. Raditya, Alika seolah merasakan keajaiban semu. Kortikosteroid dosis tinggi itu bekerja layaknya sihir hitam; meredam peradangan di persendiannya secara paksa dan memudarkan ruam di pipi hingga nyaris tak terlihat di balik pulasan tipis concealer.
Nyeri hebat yang biasanya menyiksa setiap langkah kini mereda menjadi rasa kebas yang masih sanggup ia tahan. Namun, Alika sadar ini hanyalah bom waktu. Jantungnya berdegup lebih kencang dari frekuensi normal, sementara lambungnya mulai terasa perih—sebuah efek samping yang lazim muncul akibat mengonsumsi obat keras saat perut hampir kosong karena stres.
Malam itu, di dalam private dining room Restoran Bistecca di kawasan SCBD, Alika duduk dengan postur yang sangat terjaga. Ia mengenakan gaun koktail berwarna emerald green dengan potongan leher sabrina yang menonjolkan bahu rampingnya. Rambutnya disanggul modern dengan rapi, terbantu oleh hairpiece yang dijepit kuat-kuat pada sisa akar rambutnya yang kian rapuh.
Di sampingnya, Narendra Pradipta memainkan perannya sebagai suami idaman dengan sempurna. Pria itu terus melingkarkan tangannya di pinggang Alika, sesekali mengusap punggung sang istri saat mereka berbincang hangat dengan Tuan Lee, investor utama asal Singapura, beserta istrinya.
"Saya harus mengakui, Pak Narendra, istri Anda sungguh memukau," puji Nyonya Lee dalam bahasa Inggris beraksen apik sambil menatap Alika penuh kagum. "Malam ini beliau tampak sangat segar dan bercahaya. Apa rahasianya, Nyonya Alika? Apakah rutin melakukan perawatan di Swiss?"
Alika memaksakan senyum anggun, meski sebenarnya perutnya sedang melilit menahan mual. "Hanya gaya hidup sehat dan istirahat yang cukup, Nyonya Lee. Mas Narendra sangat ketat dalam memantau waktu istirahat saya."
Narendra tertawa kecil, suara baritonnya yang berat memberikan kesan karismatik bagi siapa pun yang mendengar. Ia mengangkat gelas wine-nya sembari menatap Alika dengan sorot mata yang maknanya hanya bisa dipahami oleh wanita itu sendiri. Di balik tatapan memuja tersebut, terselip peringatan yang dingin.
"Istri saya adalah aset paling berharga yang saya miliki, Nyonya Lee. Tentu saja saya harus menjaganya dengan... sangat protektif," ucap Narendra, memberi penekanan pada kata terakhirnya.
Cengkeraman tangan Narendra di pinggang Alika mengeras, mengirimkan rasa ngilu ke tulang rusuknya. Alika menahan napas, berusaha keras agar senyumnya tidak luntur. "Permisi sebentar, saya perlu ke powder room," pamit Alika sopan tepat saat pramusaji mulai menghidangkan menu penutup.
Begitu pintu ruangan tertutup, ketegangan di bahu Alika seketika luruh. Ia melangkah tergesa menuju toilet bermarmer hitam, mencengkeram pinggiran wastafel sambil menarik napas panjang berkali-kali. Keringat dingin mulai membasahi tengkuknya. Obat penekan imun itu memang berhasil menyamarkan gejala fisiknya, tetapi tubuhnya yang sudah terlampau lelah menolak keras zat kimia berdosis tinggi tersebut.
Ia membuka clutch bag miliknya, mencari obat mual yang sempat ia selipkan di sana.
Pada saat yang sama, di dalam private dining room, ponsel Narendra bergetar. Ada pesan masuk dari Joshua. Setelah melirik Tuan Lee yang sedang sibuk membalas pesan di ponselnya sendiri, Narendra membaca laporan dari asisten pribadinya itu.
Joshua mengabarkan bahwa melalui rekaman CCTV dan pelacakan aktivitas rumah, asisten rumah tangga bernama Murni tidak sekadar belanja kemarin sore. Ia sempat mampir ke Apotek K24 Cikini untuk mengambil paket obat pesanan tanpa resep resmi.
Alis Narendra bertaut rapat, rahangnya mengeras seketika. "Obat apa? Dan dari siapa?" tanyanya melalui pesan singkat.
Jawaban Joshua datang beberapa detik kemudian, memicu amarah dalam diri Narendra. Pihak apotek menyebutkan bahwa obat tersebut dipesan lewat telepon oleh seorang dokter dari Rumah Sakit Medika Utama bernama dr. Raditya Mahendra.
Narendra mencengkeram ponselnya hingga buku jarinya memutih. Amarah meledak di dadanya. Raditya lagi.
Ego Narendra yang liar mulai menyusun prasangka terburuk. Ia sama sekali tidak berpikir bahwa itu adalah obat untuk penyakit serius. Pikirannya justru melantur: Untuk apa Raditya mengirimkan obat secara sembunyi-sembunyi?
Pikiran buruk mulai menguasai benaknya. Apakah itu pil kontrasepsi darurat? Obat penggugur kandungan? Atau sekadar vitamin yang dipakai sebagai dalih agar dokter itu tetap bisa berkomunikasi dengan Alika?
Baginya, tindakan Alika yang melibatkan asisten rumah tangga untuk menyelundupkan barang dari pria lain adalah pengkhianatan yang fatal. Meski mereka memiliki kesepakatan open marriage untuk urusan ranjang, Narendra tidak akan pernah menoleransi kebohongan yang merongrong otoritasnya.
Pintu ruangan kembali terbuka. Alika masuk dengan wajah yang sudah kembali rapi dan senyum yang tertata sempurna. Ia duduk di sebelah suaminya, tanpa menyadari badai besar yang sedang berkecamuk di kepala Narendra.
Narendra meletakkan ponselnya dalam posisi terbalik di atas meja, lalu menoleh ke arah Alika dengan senyum miring yang dingin. Tangannya kembali merangkul pinggang sang istri, namun kali ini jari-jarinya menelusuri punggung Alika dengan gerakan lambat yang terasa mengancam.
"Kamu tampak lebih pucat, Sayang," bisik Narendra di telinga Alika, suaranya terdengar setajam desisan ular. "Apa makanannya tidak cocok? Atau... kamu sedang memikirkan suplemen rahasiamu yang ada di rumah?"
Jantung Alika seakan berhenti berdetak. Darahnya berdesir hebat. Ia menatap mata Narendra yang tampak gelap dan tak terbaca. Pria itu sudah tahu. Narendra tahu soal Murni dan obat tersebut.
"Sepertinya kita harus segera pulang," lanjut Narendra dengan nada bicara normal yang tetap sopan kepada Tuan Lee, kembali mengenakan topeng keramahannya. "Istri saya butuh istirahat panjang malam ini. Ada banyak hal yang perlu kami... bicarakan."
Alika menelan ludah dengan susah payah. Ia tahu, di balik dinding rumah mereka di Menteng nanti, sebuah interogasi tanpa ampun sudah menanti. Dan kini, obat penekan imunnya berada di ambang penyitaan, yang berarti nyawanya sedang dipertaruhkan.