Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.
Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.
Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.
Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?
Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Sembilan
Hujan turun tanpa aba-aba. Rintiknya cepat berubah jadi deras, seperti langit yang tiba-tiba ikut runtuh bersama isi hati Hana. Jalanan yang tadi masih ramai kini mulai lengang. Lampu-lampu jalan memantul di aspal yang basah, menciptakan kilau yang dingin dan sepi. Namun Hana tidak peduli.
Motor yang ia kendarai melaju stabil, meski air hujan terus membasahi wajah dan tubuhnya. Jaketnya sudah basah kuyup. Rambutnya menempel di pipi. Tangannya dingin mencengkeram setang, tapi semua itu kalah jauh dari rasa sakit yang memenuhi dadanya. Ia tidak menangis.
Aneh, bahkan air mata pun seolah enggan keluar. Yang ada hanya sesak. Sesak yang menekan, yang membuat napas terasa berat, tapi tidak juga meledak.
Kalimat itu masih terngiang jelas. Aku yang akan mundur. Bukan karena ia lemah. Bukan juga karena ia kalah. Tapi karena ia sudah terlalu lelah.
Empat tahun. Bukan waktu yang sebentar. Ia bertahan, berusaha menjadi istri yang baik, menyesuaikan diri, menahan diri, bahkan sering mengalah. Tapi ternyata, semua itu tidak pernah cukup. Tidak pernah benar-benar dianggap.
Hana menarik napas panjang, meski dadanya terasa perih. Motor terus melaju, membelah hujan yang semakin deras.
Di rumah Mama Meri, suasana berubah setelah kepergian Hana.
Farhan berdiri gelisah di ruang tamu. Tangannya mengepal, langkahnya mondar-mandir tanpa arah. Pikirannya kacau. Bayangan Hana yang pergi begitu saja terus menghantuinya.
“Aku harus nyusul,” gumam Farhan akhirnya.
Ia meraih kunci mobil di atas meja, tapi belum sempat melangkah, suara Mama Meri menghentikannya.
“Farhan.”
Nada suaranya tegas. Tidak tinggi, tapi cukup untuk membuat langkah Farhan terhenti.
“Jangan kau kejar lagi.”
Farhan menoleh, keningnya berkerut. “Ma, Hana lagi hujan-hujanan. Aku nggak bisa biarin dia sendiri.”
Mama Meri menghela napas pendek, lalu bangkit dari duduknya. “Tadi kamu sudah bujuk dia, kan? Dia yang keras kepala, mau pergi sendiri.”
“Ma, ini beda—”
“Tidak ada yang beda,” potong Mama Meri. “Kalau sekarang kamu kejar lagi, dia makin besar kepala.”
Farhan terdiam. Rahangnya mengeras, tapi ia tidak langsung membantah.
“Biarkan saja dia pergi,” lanjut Mama Meri, suaranya lebih dingin. “Kadang orang perlu dikasih pelajaran supaya tahu diri.”
Kalimat itu membuat dada Farhan terasa tidak nyaman. Tapi ia masih ragu untuk melawan.
“Hari juga hujan,” tambah Mama Meri lagi. “Kamu menginap saja di sini malam ini.”
Farhan menghela napas berat. Tangannya yang tadi menggenggam kunci mobil perlahan melemah.
Di sudut ruangan, Chika sejak tadi hanya diam. Ia tampak tidak tenang, matanya sesekali melirik ke arah pintu, seolah masih memikirkan Hana.
“Tante …,” ucap Chika pelan.
Mama Meri menoleh. “Apa?”
Chika ragu sejenak, lalu berkata jujur, “Aku nggak enak sama Hana. Pasti dia marah sama aku.”
Mama Meri langsung menggeleng, ekspresinya berubah tidak suka. “Marah? Kenapa dia harus marah?”
Chika menunduk. “Karena semua ini ....”
“Bukan salah kamu,” potong Mama Meri cepat. “Salahnya dia.”
Chika mengangkat wajah, terlihat bingung.
“Dia sendiri yang tidak bisa kasih keturunan,” lanjut Mama Meri tanpa ragu. “Kalau dia mandul, apa kita harus diam saja?”
Kalimat itu terdengar sangat kejam. Farhan memejamkan mata sejenak, jelas tidak nyaman mendengarnya. Tapi lagi-lagi, ia tidak mengatakan apa-apa.
Mama Meri menepuk pelan bahu Chika. “Kamu tidak perlu merasa bersalah.”
Lalu ia menoleh kembali ke Farhan. “Kamu dengar kata Mama. Jangan pulang malam ini. Biar istrimu merenungi kesalahannya.”
Farhan menelan ludah. Hatinya tidak sepenuhnya setuju, tapi tubuhnya terasa berat untuk melawan.
“Sekarang kalian istirahat saja,” lanjut Mama Meri. “Sudah malam.”
Chika mengangguk pelan. “Iya, Tante.”
Ia kemudian berjalan menuju kamar tamu, langkahnya pelan, pikirannya masih penuh dengan rasa tidak enak.
Farhan tetap berdiri di tempatnya. Kunci mobil itu masih ada di tangannya. Ia menatap pintu yang sudah tertutup sejak tadi. Seharusnya ia pergi dan mengejar istrinya. Tapi entah kenapa, kakinya tidak bergerak.
Sementara itu, Hana akhirnya sampai di rumah. Motor yang ia kendarai berhenti pelan di depan teras. Hujan masih turun, meski tidak sederas sebelumnya. Nafasnya terasa berat saat ia mematikan mesin. Tubuhnya basah kuyup.
Air menetes dari ujung rambut, dari lengan, bahkan dari ujung bajunya. Tapi ia tidak langsung bergerak. Ia hanya duduk diam beberapa detik, menatap kosong ke depan.
Rumah itu terasa berbeda. Sepi. Dingin. Dan entah kenapa, terasa asing. Padahal ini rumahnya. Tempat ia pulang setiap hari. Tempat ia berharap menemukan ketenangan.
Hana turun dari motor dengan langkah pelan. Kakinya terasa lemas. Ia membuka pintu dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu masuk ke dalam. Sunyi. Tidak ada suara siapa pun.
Ia menutup pintu, lalu bersandar sebentar. Matanya terpejam. Baru sekarang ia benar-benar merasakan dingin itu. Bukan hanya di tubuh. Tapi sampai ke dalam.
Hana menghela napas panjang, lalu berjalan ke kamar. Setiap langkah terasa berat, seperti ada sesuatu yang menahannya. Ia membuka lemari, mengambil baju kering, lalu masuk ke kamar mandi.
Air hangat mengalir membasuh tubuhnya, tapi tidak benar-benar menghangatkan hatinya. Semua terasa kosong.
Setelah selesai, ia mengenakan baju tidur sederhana. Rambutnya masih sedikit basah, tapi ia tidak peduli. Ia duduk di tepi ranjang. Pandangan kosong.
Empat tahun. Semua kenangan itu tiba-tiba datang satu per satu. Tawa, harapan, janji, bahkan pertengkaran kecil yang dulu terasa biasa. Sekarang semuanya seperti tidak berarti.
Hana memejamkan mata, menahan pusing yang mulai datang. Kepalanya terasa berat. Ia bangkit pelan, mengambil obat dari laci, lalu meneguknya dengan air.
“Cukup,” gumamnya pelan. Ia tidak ingin berpikir lagi malam ini. Tidak ingin mengingat lagi.
Hana kemudian berbaring, menarik selimut sampai ke dada. Tubuhnya masih terasa lelah, pikirannya pun sudah terlalu penuh. Dan tanpa sadar, ia tertidur.
Pagi datang menjelang. Cahaya matahari masuk melalui celah tirai, menyinari kamar yang masih terasa dingin. Hana perlahan membuka mata.
Kepalanya masih sedikit berat, tapi jauh lebih baik dari semalam. Ia menatap langit-langit sebentar, mencoba mengumpulkan kesadaran. Lalu semuanya kembali. Semua yang terjadi semalam. Hana menarik napas panjang, lalu bangkit dari tempat tidur. Ia tidak menangis. Entah karena sudah terlalu lelah, atau karena hatinya benar-benar sudah mengeras.
Ia berjalan keluar kamar. Dan langkahnya langsung terhenti. Di ruang keluarga, sudah ada Mama Meri dan Farhan. Duduk berdampingan. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Tatapan Mama Meri langsung tertuju pada Hana. “Aku kira kau sudah pergi,” ucapnya dingin. “Ternyata cuma bisa menggertak saja.” Kalimat itu terdengar menusuk.
Tapi Hana tidak langsung bereaksi. Ia hanya menarik napas perlahan, menahan sesuatu di dadanya. Lalu ia melangkah mendekat. “Apa Mama menginginkan aku segera pergi?” tanyanya tenang.
Farhan langsung menoleh. “Sudahlah, Hana. Jangan mulai pertengkaran lagi.”
Nada suaranya terdengar lelah. Hana tersenyum tipis. Getir. “Aku yang memulai?” ulangnya pelan. “Apa Mas tidak melihat siapa yang sebenarnya memulai?”
Farhan menghela napas. “Mama cuma tanya karena kamu sendiri bilang mau pergi.”
Hana terdiam sejenak. Lalu ia tersenyum lagi. Kali ini lebih jelas, tapi penuh kepahitan.
“Jangan takut,” ucapnya. “Aku memang akan pergi.”
Ruangan itu kembali sunyi. Mama Meri menyilangkan tangan di dada, wajahnya tidak menunjukkan sedikit pun rasa bersalah.
“Ya sudah,” ucapnya ringan. “Segeralah pergi.”
Hana menatapnya. Dan kalimat berikutnya datang seperti tamparan.
“Agar anakku bebas dari wanita sial sepertimu!”
Dada Hana langsung terasa sesak. Kata-kata itu terlalu kasar. Terlalu kejam. Bahkan untuk seseorang yang sudah berusaha sekuat tenaga selama ini.
Namun anehnya, Hana tidak membalas. Ia hanya menatap Mama Meri beberapa detik. Lalu menunduk. Bukan karena kalah. Tapi karena ia sadar, tidak ada lagi yang perlu diperjuangkan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Hana berbalik. Ia berjalan kembali ke kamar. Langkahnya pelan, tapi pasti.
Ia membuka lemari. Mengambil koper yang tersimpan di sudut. Hana meletakkannya di atas tempat tidur. Lalu membuka resletingnya. Tangannya bergerak perlahan. Satu per satu, ia mengambil pakaiannya. Memasukkan ke dalam koper.
dan dia yg bkln meratukan kan membhgiakan kmu Hana....