NovelToon NovelToon
Air Mata Di Atas Mahkota

Air Mata Di Atas Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Frenzy hrp

Saat hamil tujuh bulan, Kayla baru sadar bahwa pernikahannya hanyalah kebohongan.
Suaminya berselingkuh.

Mertuanya membencinya.
Dan rumah mewah yang dulu ia sebut rumah perlahan berubah menjadi neraka.
Padahal tanpa Kayla, Adrian Wijaya bukan siapa-siapa.

Dikhianati saat mengandung, dibuang ketika paling rapuh, Kayla memilih bangkit. Perlahan, wanita yang dulu diremehkan itu berubah menjadi sosok yang tak lagi bisa disentuh.

Kini saat semua pria mulai berlutut memperebutkan hatinya...
mantan suaminya justru kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frenzy hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kontrakan

Ban mobil taksi itu berhenti tepat di samping bak sampah beton besar yang menandai mulut Gang Haji Umar. Sopir menoleh ke belakang, melirik sekilas melalui kaca spion tengah.

"Mau masuk lagi, Mbak? Jalannya makin menyempit di dalam. Takutnya tidak muat kalau ada motor berpapasan," ujar sopir itu, nadanya agak ragu.

Kayla melirik keluar jendela. Gang semen di depannya tampak padat. Dia menggeleng pelan seraya membetulkan letak kain gendongannya. "Di sini saja, Pak. Terima kasih."

Kayla merogoh tas kecilnya, menyerahkan selembar uang lima puluh ribu rupiah, lalu menunggu kembalian dengan sabar. Setelah urusan ongkos selesai, dia menggeser tubuhnya lambat-lambat ke arah pintu.

Kedua kakinya turun menyentuh semen jalanan yang retak.

Sreeek.

Rasa ngilu yang tajam seketika menyengat perut bawahnya. Kayla refleks menahan napas, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga memucat. Tangan kirinya bergerak menekan korset perekat di balik gamisnya, mencoba meredam denyutan pasca-operasi sesar yang mendadak kambuh karena pergerakan yang terlalu mendadak.

Di dalam dekapannya, Arsen kecil menggeliat pelan, mencari posisi nyaman di balik selimut katun putih yang membungkus tubuhnya

Kayla berdiri diam di tepi jalan selama beberapa detik, mengatur napasnya yang memburu. Sore itu, hawa Jakarta terasa sangat gerah dan pekat.

Pemandangan di depannya jauh berbeda dari jalanan aspal mulus dan deretan pohon palem rapi di kawasan elite tempat mansion keluarga Wijaya berdiri. Di Gang Haji Umar ini, kabel listrik bergelantungan rendah dan saling melilit tidak beraturan di atas kepala.

Suara bising dari televisi salah satu rumah warga terdengar bersahutan dengan teriakan anak-anak yang sedang berlarian mengejar bola plastik. Tidak jauh dari sana, aroma minyak jelantah dan adonan gorengan dari warung kecil di sudut gang menyerbu indra penciumannya.

Kayla mengembuskan napas pendek. Dia memantapkan cengkeraman tangan kanannya pada tali tas besar yang berisi pakaian bayi, beberapa botol susu, dan gulungan kasur lipat busa tipis yang baru dibelinya.

Dengan langkah yang sengaja diseret pendek-pendek agar tidak memicu nyeri di perutnya, Kayla mulai memasuki gang.

Beberapa wanita paruh baya yang sedang duduk berkumpul di atas bangku kayu depan rumah langsung menoleh. Obrolan mereka mendadak berhenti. Sepasang mata mereka bergerak dinamis, mengamati jilbab Kayla yang tampak rapi, tas besar yang dibawanya, hingga bentuk buntalan kain di dadanya. Tatapan murni rasa penasaran yang pekat khas warga kelurahan saat melihat sosok asing yang asing di lingkungan mereka.

Kayla hanya menundukkan kepala sedikit sebagai tanda permisi, tanpa berniat membuka obrolan.

Langkah lambatnya terhenti di depan sebuah bangunan petak berpagar besi hijau yang catnya sudah mengelupas hingga memperlihatkan warna karat kemerahan.

Di halaman depan, seorang wanita bertubuh gempal mengenakan daster batik longgar sedang sibuk mengarahkan selang air ke arah pot-pot tanaman hias.

"Permisi... benar ini dengan Bu Haji Zainab?" tanya Kayla. Suaranya agak serak karena tenggorokannya kering sejak siang.

Wanita itu memutar kran kuningan di dekat dinding, menghentikan aliran air, lalu berbalik. Matanya menyipit, menatap Kayla dari atas ke bawah. "Oh, Neng Kayla ya? Yang kemarin telepon nanya kamar kosong lewat makelar Udin?"

"Iya, Bu Haji."

Bu Haji Zainab mengusap telapak tangannya yang basah ke bagian samping dasternya, lalu berjalan mendekati pagar besi. "Masih kosong kok, Neng. Kebetulan sisa satu yang pintu nomor tiga di ujung. Mau langsung lihat kamarnya?"

"Boleh, Bu."

Bu Haji Zainab merogoh kantong dasternya, mengeluarkan seuntai kunci dengan gantungan plastik murah berwarna merah, lalu berjalan di depan memandu Kayla menyusuri lorong semen di samping rumahnya. Lorong itu memanjang, membatasi empat pintu kontrakan yang saling berdempetan. Sepanjang berjalan, mata Bu Haji Zainab beberapa kali melirik ke arah dada Kayla.

"Pindahan sendirian saja, Neng? Barang-barangnya mana? Kok cuma bawa tas kain begitu?" tanya Bu Haji Zainab, nadanya polos.

Kayla tetap mempertahankan ritme jalannya yang lambat. "Barang yang lain menyusul, Bu Haji. Saya baru keluar dari rumah sakit, jadi bawa yang penting dulu."

"Oalah, baru lahiran toh?" Bu Haji Zainab menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kayu nomor tiga. Dia berjinjit sedikit, berusaha mengintip celah kain selimut Arsen. "Aduh, bayinya imut banget. Lah, terus suaminya mana, Neng? Kok tidak ikut bantu bawa barang? Tega amat ngebiarin istri baru lahiran begini sendirian."

Jantung Kayla berdegup sedikit lebih kencang. Memori malam saat Adrian mencengkeram lengannya dan mendorongnya keluar dari pintu gerbang mansion sempat berputar sekilas di benaknya.

Kayla menelan ludah, mencoba membasahi tenggorokannya yang kaku. Dia memaksa sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum tipis.

"Suami saya sedang ada urusan pekerjaan di luar kota yang tidak bisa ditinggal, Bu Haji," jawab Kayla

Bu Haji Zainab mengerutkan keningnya, tampak curiga dengan jawaban yang terlalu singkat itu. Namun, melihat bulir keringat dingin mulai bermunculan di pelipis Kayla dan wajah wanita muda itu yang tampak pucat, dia akhirnya mengurungkan niat untuk bertanya lagi.

Bu Haji Zainab memasukkan anak kunci ke lubang pintu, memutarnya dua kali hingga terdengar bunyi klik yang keras, lalu mendorong daun pintunya.

Krieeek...

Pintu kayu tua itu terbuka dengan bunyi berdecit nyaring karena engselnya yang berkarat. Aroma pengap udara yang terjebak terlalu lama langsung menyergap keluar.

Ruangan itu bermodel petak datar. Lantai keramik putihnya yang kusam ditutupi lapisan debu tipis, dengan menyisakan satu sekat kecil di sudut belakang untuk kamar mandi.

Kayla melangkah masuk, mengetukkan ujung sandalnya ke lantai untuk memeriksa kekokohan ubin. Cukup layak, pikirnya. Tanpa menunggu lama, dia membuka tas kecilnya, mengambil sepuluh lembar uang pecahan seratus ribu yang masih kaku dari dalam dompet, lalu menyerahkannya kepada Bu Haji Zainab.

"Saya ambil kamarnya, Bu Haji. Ini untuk sewa bulan pertama."

Wajah Bu Haji Zainab langsung cerah saat melihat lembaran uang itu. Dia menghitungnya dengan cepat menggunakan jempolnya yang basah, lalu menyerahkan untaian kunci ke tangan Kayla. "Sip, pas ya, Neng. Kalau nanti butuh sapu, ember, atau jemuran baju, bilang saja ke saya di depan ya. Selamat istirahat."

Setelah langkah kaki Bu Haji Zainab menghilang di belokan lorong, Kayla segera membuka pintu

Kayla menyandarkan punggungnya pada permukaan pintu yang kasar. Dia memejamkan mata rapat-rapat, lalu mengembuskan napas panjang yang terasa menyumbat dadanya sejak tadi.

Kedua bahunya perlahan melonggar. Untuk pertama kalinya sejak malam pengusiran itu, Kayla merasakan kepalanya tidak lagi dipenuhi oleh rasa waswas. Pintu ini kecil, kayunya sudah mulai lapuk, dan kuncinya murah.

Namun, di balik dinding petak ini, tidak akan ada lagi bentakan dari Adrian, tidak ada tatapan merendahkan dari ibu mertua Ruangan pengap ini sepenuhnya berada di bawah kendalinya.

Kayla membuka matanya, lalu berjalan mendekati sudut ruangan yang dirasanya paling bersih dari debu. Dia meletakkan tas belanjaannya, lalu dengan hati-hati menggelar kasur lipat busa tipis di atas lantai. Gerakannya sangat lambat karena otot perutnya kembali menegang.

Setelah kasur terhampar, dia membaringkan Arsen di tengah-tengah. Bayi kecil itu hanya mengerutkan dahi sejenak sebelum kembali tertidur lelap dengan posisi tangan yang meringkuk di dekat pipi.

Kayla mengusap pelan pipi gembil putranya yang terasa hangat. "Maaf ya, Sayang... untuk sementara waktu kita tinggal di sini dulu," bisiknya lirih.

Dia tidak membiarkan dirinya duduk terlalu lama. Kayla berdiri, mengambil kain lap dari tas belanjaan, lalu menghidupkan kran air di kamar mandi. Suara gemercik air sanyo terdengar agak berisik, namun airnya keluar dengan jernih. Sambil memegang kain basah, Kayla mulai membersihkan ruangan.

Dia menyapu lantai keramik dengan sapu yang tertinggal di dekat dapur, mengelap kaca jendela yang buram oleh jelaga, dan membersihkan debu yang menumpuk di sudut-sudut plafon.

Keringat mulai mengalir deras dari balik jilbabnya, membasahi bagian punggung gamisnya hingga terasa lembap. Pinggangnya terasa pegal luar biasa, dan bekas jahitan operasinya beberapa kali berdenyut nyeri seiring dengan gerakannya yang membungkuk.

Namun, Kayla menolak untuk berhenti. Dia terus menggerakkan tangannya, menggosok noda hitam di dinding semen seolah sedang mengikis sisa-sisa masa lalunya.

Menjelang pukul lima sore, lantai kontrakan itu sudah tampak lebih bersih dan mengilat. Namun, seiring berjalannya waktu, masalah baru dari lingkungan padat mulai muncul.

Suara raungan knalpot motor yang sengaja digas di depan gang terdengar begitu memekakkan telinga. Dinding batako kontrakan yang tipis sama sekali tidak mampu meredam suara dentum musik dari televisi tetangga sebelah, belum lagi suara teriakan anak-anak yang saling berkejaran di lorong luar.

Oeeekkk... Oeeekkk...!

Tangis Arsen tiba-tiba pecah. Bayi itu tersentak bangun, kedua tangan mungilnya bergerak panik di udara.

Kayla yang sedang membilas kain lap di kamar mandi langsung menjatuhkan lapnya ke dalam ember. Dia setengah berlari menghampiri kasur lipat, lalu berlutut di samping anaknya.

"Sssttt... anak pintar, ini Ibu di sini. Sini, Sayang..."

Kayla mengangkat tubuh kecil Arsen, mendekapnya ke dada, lalu mulai berjalan mondar-mandir di dalam ruangan sembari mengayun sudut tubuhnya pelan.

Namun, tangisan Arsen justru semakin melengking nyaring. Wajah mungil bayi itu memerah padam, kedua kakinya menendang-nendang gelisah ke arah perut Kayla. Hawa ruangan kontrakan yang mulai terasa pengap dan panas membuat bayi itu merasa tidak nyaman di lingkungan barunya.

"Ibu di sini, Nak... cup, cup, jangan menangis..." Kayla terus membujuk, namun suaranya sendiri mulai bergetar. Tangisan Arsen yang tidak kunjung reda mulai memicu rasa panik di dalam kepalanya.

Kelelahan fisik yang mendera tubuhnya sejak siang, dikombinasikan dengan suara bising dari luar yang tidak kunjung berhenti, membuat dada Kayla terasa semakin sesak.

Dia akhirnya menyerah untuk terus berjalan. Kayla menurunkan tubuhnya, duduk bersila di atas lantai keramik yang dingin sembari memeluk Arsen erat-erat. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini mulai menggenang di pelupuk mata, lalu meluncur jatuh melewati pipinya. Kayla menatap langit-langit kamar yang kusam.

Pertanyaan-pertanyaan buruk mulai berputar di benaknya: Apakah dia telah egois membawa bayinya yang belum genap berusia satu bulan ke tempat sepengap ini? Apakah dia benar-benar bisa membesarkan Arsen sendirian tanpa bantuan siapa pun di kota ini?

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan yang cukup keras di pintu luar membuat Kayla tersentak. Dia menghentikan ayunan tubuhnya sesaat, mengusap air mata di pipinya dengan punggung tangan secepat mungkin. Tangis Arsen masih terdengar merengek kecil di pundaknya.

Kayla berdiri, berjalan mendekati pintu, lalu membukanya sedikit.

Seorang wanita muda berdiri di depan lorong. Rambut hitamnya dicepol asal-asalan ke atas menggunakan jepit, dan dia mengenakan celana kulot santai.

Di tangan kanannya, wanita itu tengah menenteng sebuah kipas angin duduk berukuran kecil dengan kabel yang tergulung rapi di bagian lehernya.

"Maaf, Mbak," wanita itu tersenyum ramah, matanya melirik sekilas ke arah Arsen yang masih terisak. "Saya Rina, tetangga dari kamar nomor dua tepat di sebelah Mbak."

Kayla terdiam sesaat, tangannya masih memegangi gagang pintu dengan erat. "Eh... iya, Mbak Rina?"

"Tadi dari kamar sebelah saya dengar bayinya menangis terus tidak berhenti," Rina mengangkat kipas angin kecil di tangannya sedikit lebih tinggi. "Kamar nomor tiga ini posisinya memang paling ujung, jadi kalau sore hawa panas dari atap sengnya langsung turun ke bawah. Pengap sekali kalau belum pasang kipas. Kalau Mbak tidak keberatan, pakai punya saya dulu saja ini. Kebetulan saya punya dua di kamar."

Kayla menatap kipas angin plastik berwarna biru yang tampak sudah agak berdebu itu, lalu beralih menatap wajah Rina yang memandangnya dengan tulus tanpa ada sorot mata menghakimi. Tenggorokan Kayla mendadak terasa mengencang, ada rasa hangat yang aneh yang tiba-tiba merayap di dadanya.

Orang asing yang baru dia temui beberapa menit ini justru menunjukkan perhatian yang tidak pernah dia dapatkan dari keluarga Wijaya selama tiga tahun terakhir.

"Terima kasih banyak, Mbak Rina... ini sangat membantu saya," ujar Kayla, suaranya agak serak saat menerima gagang kipas angin tersebut.

Rina mengangguk, senyumnya semakin lebar. "Sama-sama, Mbak. Nanti kalau butuh air galon atau mau nanya tukang sayur yang murah lewat jam berapa, ketuk saja pintu kamar saya ya. Saya tinggal dulu."

Setelah pintu kembali ditutup dan dikunci, Kayla langsung mencolokkan kabel kipas angin itu ke stopkontak tunggal di dekat lantai. Baling-baling plastiknya mulai berputar dengan suara dengung halus, mengembuskan angin sejuk yang perlahan mengusir hawa gerah di sudut kasur. Kayla kembali duduk, membiarkan aliran angin itu menerpa wajah merah Arsen.

Perlahan-lahan, tangisan bayi itu mulai mereda, menyisakan isakan kecil sebelum akhirnya matanya kembali terpejam rapat, tertidur lelap di dalam dekapan ibunya.

Malam pun tiba memayungi kawasan Gang Haji Umar. Suara tawa anak-anak di luar lorong sudah berganti dengan suara jangkrik dan sesekali deru motor yang lewat dengan volume yang lebih pelan.

Kayla duduk bersandar pada dinding semen yang terasa dingin, memangku ponsel barunya di atas paha. Jarinya bergerak malas, membuka aplikasi media sosial yang algoritmanya mendadak menampilkan sebuah unggahan terbaru dari salah satu akun gosip kelas atas Jakarta.

Itu adalah foto dokumentasi acara makan malam privat keluarga Wijaya di sebuah restoran hotel berbintang. Di tengah foto, Adrian tampak duduk dengan kemeja flanel rapi, senyum tampannya mengembang lebar ke arah kamera. Di sampingnya, Valerie Amanda tampil mencolok dengan gaun tanpa lengan berwarna merah hati, jemarinya yang dihiasi cincin berlian tampak bergelayut manja di lengan Adrian.

Di ujung meja, ibu mertuanya juga ikut tersenyum bangga, memamerkan deretan gigi rapinya. Mereka semua tampak begitu sempurna dan bahagia, seolah-olah keberadaan Kayla dan bayi yang dibuang dua minggu lalu tidak pernah meninggalkan bekas apa pun di dalam hidup mereka.

Dulu, melihat pemandangan seperti ini akan membuat dada Kayla terasa seperti dihantam godam besar hingga hancur berkeping-keping. Namun malam ini, sepasang mata Kayla hanya menatap foto itu dengan tatapan kosong dan dingin selama beberapa detik. Tidak ada air mata, tidak ada kemarahan yang meluap-luap.

Dia menggeser ibu jarinya, menutup aplikasi tersebut, lalu menekan tombol daya hingga layar ponselnya menggelap total.

Kayla menoleh ke samping bawah, menatap lurus ke arah Arsen yang tertidur sangat pulas di atas kasur lipat tipis. Di luar, suara sayup-sayup televisi dari kamar sebelah masih terdengar menembus dinding.

Tempat ini memang sempit, pengap, dan jauh dari kemewahan mansion yang dulu selalu dia bersihkan setiap sudutnya. Namun, untuk pertama kalinya sejak tiga tahun terakhir, Kayla merasakan sebuah keheningan yang murni.

Tidak akan ada lagi suara bentakan yang mengejutkannya di tengah malam, tidak ada makian yang merendahkan harga dirinya sebagai wanita, dan tidak ada lagi rasa takut yang mencekik dadanya setiap pagi.

Kayla mengulurkan tangan kanannya dia menyusupkan jari telunjuknya ke dalam genggaman jemari kecil Arsen yang langsung mencengkeramnya dengan erat secara instan. Kayla menarik sudut bibirnya, sebuah senyuman tipis yang sarat akan ketenangan baru.

"Selamat datang di rumah kita, Sayang," bisik Kayla sangat pelan ke arah telinga anaknya.

Malam itu, di atas kasur busa murah Kayla memejamkan matanya dan tidur dengan perasaan damai yang belum pernah dia rasakan sepanjang hidupnya.

catatan penulis : terimakasih teman-teman dan kakak kakak cantik udah baca dan dukung karya ini, author belum punya pengalaman soal bayi jadi maaf ya kalo ada beberapa logika yang gak sesuai oh iya kalian boleh kok ngasih saran di komen :)

1
Mundri Astuti
bukannya Kayla dpt bonus ma dp byran tenaganya yak, knapa ga ambil kosan yg bersihan minimal, kan anakmu masih merah kayla
marwah: abis biaya rumah sakit kak Kayla disana 2 minggu devan bayar nya cuman seminggu
total 1 replies
Hari Saktiawan
cerita yang bagus lanjut
Mundri Astuti
next thor
Mundri Astuti
masih kurang thor 😄
Mundri Astuti
tegang juga euy
Mundri Astuti
kereennn kamu Kayla
Mundri Astuti
jangan lupa gugat cerai si bunglon Kayla, tapi sebelumnya kamu harus kuat dulu secara finansial biar bisa melindungi arsen
Yusria Mumba
ya nangung cerita ny pendek, nda seru ahh
marwah: terimakasih kakak cantik udah mampir dan dukung ceritaku mohon sabar ya author lagi bingung bikin jalan Kayla kedepannya, kan dia gak punya apa-apa sekarang kalo langsung ngemis ke devan jadinya gak seru😇😇
total 1 replies
Yusria Mumba
laki2 kurang ajar,
Yusria Mumba
nayla kenapa mesti berhan,pergi aja
rumah poke
mau nyimak dl
𝚔𝚞𝚌𝚒𝚗𝚐 ამოყჹ
🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!