Sebuah kerajaan terbesar punya misi menangkap semua petarung liar untuk kedamaian. Namun semua perguruan seni bertarung pedang menolaknya. Karena mereka tahu kalau kerajaan ingin mengatur masyarakat dengan menguasai sumber daya.
Sepasang pendekar pedang ini menjadi penyelamat untuk melawan sebuah kerajaan besar. Mereka melakukan perjalanan bersama untuk mengumpulkan rahasia teknik pedang tersembunyi dan dua pedang Sakti.
Pedang Zen Xi di Desa Win, lalu pedang Zoi Chu di Desa Hon. Namun mereka harus melewati rintangan dan tempat untuk bisa sampai di tujuan. Lalu mereka kembali untuk mengalahkan Kerajaan Sinpor.
Setelah masalah Kerajaan Sinpor selesai, kisah cinta mereka berdua sempat mendapatkan penolakan dari orang tua perempuan, karena perbedaan kelas sosial. Namun mereka berdua punya cara agar mereka berdua bisa menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firdaus Rangkuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Datang Lagi
Pagi telah menyinari desa, Jinsin melihat banyak suara. Lalu membuka mata dan bangun dari ranjang melihat keluar.
"Sepertinya aman." Jinsin melihat banyak aktivitas warga desa. Lalu meregangkan tubuh di depan pintu. Lalu Rio keluar dan menabrak tubuh Jinsin sampai kaget.
"Hei, siapa sih." ucap Jinsin.
"Oh maaf, maaf." Rio berjalan mata mengantuk lalu melewati Jinsin untuk mandi.
"Waah, pakaian ku sudah dijemur bersih."
"Suasananya cukup santai." Jinsin melihat para petarung Johin yang tertangkap.
Suasana ruangan yang ramai membuat Jinsin merasakan kebisingan. Para warga desa masih merawat mereka yang terluka. Sebagian para warga desa telah mengumpulkan semua senjata dan pedang mereka miliki. Semua senjata itu telah di kirim ke desa lain ke pedagang besi untuk membeli kebutuhan desa.
"Hei kamu, sudah di rawat, jangan banyak mengeluh."
"Plaaak.." Jinsin menampar seorang pria di balut perban di tangan, sedang berbaring. Dia diam merasakan kesakitan.
"Kau lagi, jangan banyak bergerak." Jinsin memarahi beberapa orang mengeluhkan keadaan. Sembari warga desa lalu lalang merawat mereka. Setelah Jinsin memeriksa sebanyak 45 para petarung yang sudah tertangkap. Jinsin keluar dari ruangan yang besar melihat keadaan desa. Dia berjalan dan menyapa warga desa penuh ramah. Lalu Rio berdiri di depannya.
"Hei Jinsin, kau tidak mandi?" tanya Rio.
"Hah. Iya aku akan mandi." Jinsin berjalan melewatinya. Rio mengikuti di belakang menuju pintu masuk desa.
"Hei, aman semua?" Jinsin bertanya menarik kursi lalu duduk melihat hutan.
"Aman, bu."
"Tidak ada tanda keberadaan mereka, apa sedang merencanakan sesuatu." ucap Rio.
"Apa sebaiknya kita buat perangkap. Mungkin ini efektif untuk mereka." ucap Jinsin.
"Tidak perlu perangkap, sebaiknya rawat saja yang sudah tertangkap. Aku akan mencari mereka di hutan." ucap Rio berdiri melihat hutan.
"Bukankah kau kemarin bilang biarkan saja mereka berlari. Lalu kenapa kau mencari mereka.?" Jinsin memukul meja lalu berdiri memarahi Rio. Dia diam melihat reaksi Jinsin.
"Benar, kalau kita menangkap mereka semua dengan berlari. Kemungkinan pasti ada yang lolos." ucap Rio menjawab reaksi Jinsin. Lalu Jinsin terdiam melihat Rio. Lalu duduk kembali memikirkan sesuatu sambil melipat kedua tangan.
"Jadi tuan akan pergi sendiri?" tanya pria pegang garpu rumput.
"Atas dasar apa kamu pergi mencari mereka Rio?" Jinsin menyela pembicaraan mereka. Lalu Rio menatap Jinsin atas ucapannya.
"Atas dasar untuk keamanan dan melakukan penangkapan terhadap mereka." ucap Rio.
"Aku tidak setuju kau pergi. Aku sarankan kamu tetap di desa." Jinsin berdiri dan menekan Rio tatapan mata melotot.
"Kalau itu saran kamu, aku akan mengikutimu dan tetap di desa ini." ucap Rio.
Jinsin diam tersenyum melihat Rio menuruti perkataannya. Rio kembali ke desa duduk di teras meletakkan pedangnya di samping. Sore telah tiba, suasana desa semakin damai dan sunyi. Suara orang menyapu menggema di sudut rumah. Lalu Ketiga pria di tendang ke dalam desa, terjatuh.
"Dimana mereka?" Johin teriak lalu menarik kepala seorang pria di buat terduduk kesakitan untuk memberitahu keberadaan Rio dan Jinsin.
"Duaaaar..." para petarung mendadak masuk ke desa, menendang kendi air di halaman rumah.
"Dimana mereka."
"Cepat jawab."
Seorang petarung menarik baju ke atas dengan wajah menantang. Mereka diam tidak menjawab dan tidak melawan. Para warga keluar rumah, melihat mereka berkerumun di jalan setapak desa, melihat kelompok petarung berdiri di depan pintu masuk.
"Dimana mereka, cepat jawab!" seorang petarung memukul wajah pria hingga terjatuh kesakitan sampai jongkok. Lalu bertanya nada keras ke tubuh seorang warga desa.
"Jika kalian tidak menjawab. Kalian akan merasakan akibatnya."
Johin memberi ancaman kepada warga desa dan memberikan perintah kepada para petarung untuk melakukan sesuka hati kepada desa dan penduduk. Para penduduk berlari menyelamatkan diri. Para petarung mengejar mereka. Para wanita berteriak nada tinggi ketakutan melihat mereka bertindak. Seorang warga desa berlari ke arah sumur mandi. Lalu dua petarung terjatuh dan masuk sumur.
"Mau kemana kalian." empat petarung mengepung dua wanita cantik berdiri tidak tahu lari kemana. Kedua wanita itu berteriak.
"Kalian berdua tidak apa-apa. Berani sama wanita saja."
"Tidak apa-apa." Jinsin berdiri memukul empat petarung dari belakang sampai pingsan.
"Kalau begitu cari tempat berlindung. Hap." Jinsin melompat ke tempat persembunyian.
"Tolong. Tolong." para warga yang ke tangkap di kumpulkan di depan Johin sedang jongkok menunduk kepala. Lalu banyak petarung masih mengejar warga desa. Ada petarung sedang memeriksa setiap rumah untuk mencari mereka berdua.
Setelah semua warga desa di kumpulkan seadanya. Para petarung berdiri mengelilingi melihat Johin memberi reaksi. Johin mendorong kepala warga itu ke tanah. Lalu berjalan mendekati kerumunan warga yang di paksa jongkok. Para petarung mengarahkan pedang ke warga untuk tetap menunduk.
"Dimana mereka, jawab!" Johin menampar wajah setiap orang yang di tariknya, lalu menyuruh berdiri dengan wajah marah. Mereka tetap diam dan tidak memberi jawaban kepada Johin.
"Ayo jawab! Jangan macam-macam dengan saya!" Johin mengangkat tubuh seorang warga desa lalu memukul perutnya beberapa kali sampai kesakitan terduduk dengan napas terengah-engah.
"Hiii.. kenapa mereka tidak menjawab sih. Hei kalian, sudah di periksa setiap sudut rumah. Kau cepat periksa lagi. Cari mereka sampai dapat." Johin menyuruh anggota dengan menendang kepalanya lalu mendorong untuk menyuruh mencari Rio dan Jinsin.
"Di sini tidak ada bos."
"Di sini juga."
Para petarung keluar dari sebuah rumah, kemudian di halaman belakang rumah juga tidak ada. Johin menggaruk kepala berwajah suntuk karena tidak menemukan mereka. Para petarung berkumpul mengelilingi warga desa yang tertangkap. Mereka berdiri melihat tindakan Johin.
"Kalau mereka tidak datang juga aku akan bersenang-senang dengan wanita cantik ini." Johin menarik tangan gadis cantik, lalu dia berdiri di peluk olehnya dengan tertawa senyum. Gadis ini merasa ke gelian jijik, segera melepas pelukan dari Johin si mata satu.
Jinsin berlari cepat menebas tubuh para petarung sedang berdiri lengah dari belakang. Para warga desa juga memanah para petarung dari belakang sampai mereka semua terjatuh kesakitan. Rio melompat ke bawah, berdiri di belakangnya.
"Hiii. Hii." Johin melemahkan pelukan wanita itu karena heran para anggotanya terjatuh semua. Wanita itu bergegas berlari menjauh.
"Hei Johin sebaiknya kamu diam saja ya." Rio memegang pundak, lalu tersenyum kepadanya.
"Apa." Tiba-tiba kamu."
Johin kaget melihat Rio tersenyum. Dia ketakutan karena dia sudah terpojok dan anggotanya banyak yang tumbang. Jinsin terus menebas para petarung itu tanpa ampun. Para petarung yang mencoba menyerang Jinsin di tembak anak panah oleh warga desa. Lalu Pertarungan Jinsin dengan semua anggota Johin sudah berhasil di kalahkan tanpa ada yang kabur.
"Johin, menyerahlah!"
Rio terus memegang pundak Johin. Namun wajah dia merasa tidak suka. Lalu dia melepas tangan Rio yang masih di pegang. Wajahnya cemberut, dia langsung hendak mundur mengambil salah satu sandera wanita muda yang lehernya di arahkan pedang tajam.