NovelToon NovelToon
Dua Kali Jatuh Cinta

Dua Kali Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi
Popularitas:952
Nilai: 5
Nama Author: SAIDA VALE

Nadia mati mengenaskan akibat dikhianati. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan memindahkan jiwanya ke tubuh Chelsea Latief, gadis kaya raya yang sedang koma.

Terbangun sebagai Chelsea, Nadia tidak hanya harus mencari cara untuk menghancurkan orang-orang yang telah membunuhnya di masa lalu, tetapi ia juga harus bertahan hidup di rumah mewah yang penuh dengan konspirasi racun, sekaligus menghadapi Reynald—tunangan arogan yang tiba-tiba berbalik mengejar cintanya.

"Aku bukan Chelsea yang bisa kamu injak-injak lagi, Tuan Reynald."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAIDA VALE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Rahasia di Ruang Bawah Tanah

Langkah kaki Nadia yang berbalut sepatu hak tinggi menggema pelan di sepanjang lorong ruang bawah tanah Hotel Grand Hyatt. Tempat ini sangat kontras dengan aula megah di lantai atas. Di sini, tidak ada pendar lampu kristal ataupun denting gelas sampanye. Yang ada hanyalah deretan pipa besi yang merayap di langit-langit beton, pendar lampu neon yang berkedip suram, dan hawa dingin yang menusuk tulang.

Nadia berjalan dengan waspada, tangan kanannya mencengkeram tas kecilnya erat-erat. Di dalam tas itu, ia sudah menyiapkan sebuah pulpen logam berujung tajam yang bisa ia gunakan sebagai senjata darurat jika situasi berubah menjadi baku hantam.

Matanya menyusuri nomor-nomor di pintu besi abu-abu hingga akhirnya pandangannya terpaku pada sebuah papan kecil bertuliskan angka: 104. Kamar utilitas atau ruang kontrol cadangan.

Nadia menarik napas dalam-dalam, menstabilkan detak jantungnya. Ia meraih knop pintu besi tersebut, memutarnya perlahan, dan mendorongnya. Pintu terbuka tanpa suara, memperlihatkan sebuah ruangan yang remang-remang, hanya diterangi oleh sebuah lampu meja di sudut ruangan. Aroma debu dan kertas tua langsung menyergap indra penciumannya.

"Anda datang tepat waktu, Nona Chelsea. Atau... haruskah saya memanggil Anda dengan nama lain?"

Sebuah suara pria yang berat namun terdengar sangat tenang terdengar dari balik kegelapan sudut ruangan. Seorang pria dengan setelan kemeja hitam tanpa jas perlahan melangkah keluar ke arah pendar lampu. Wajahnya tampak masih muda, mungkin akhir dua puluhan, dengan kacamata berbingkai tipis dan sorot mata yang teramat cerdas sekaligus misterius.

Nadia tidak mundur. Ia justru menyipitkan matanya, mengamati pria asing di hadapannya. "Siapa kamu? Dan apa maksud dari pesanmu?"

Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak memancarkan permusuhan. Ia menyodorkan sebuah map cokelat tebal ke atas meja kerja di depan Nadia. "Nama saya Adrian. Saya adalah kepala tim analis data independen yang dulu pernah disewa secara rahasia oleh mendiang ayah Anda, Tuan Wijaya Latief, sebelum beliau meninggal dalam kecelakaan."

Mendengar nama ayah Chelsea disebut, Nadia sedikit tertegun. "Ayah Chelsea? Apa hubungannya dengan racun yang hampir membunuhku?"

"Hubungannya sangat erat, Nona," jawab Adrian, suaranya merendah penuh keseriusan. "Di dalam map itu ada salinan manifes pembelian zat kimia beracun jenis Arsenik-X dari pasar gelap internasional. Pembelian itu dilakukan seminggu yang lalu menggunakan akun bank samaran. Dan tebak siapa yang mencairkan dana untuk akun tersebut?"

Nadia membuka map cokelat itu dengan cepat. Matanya menyusuri deretan angka dan nama perusahaan cangkang yang tertera di sana. Di lembar paling belakang, terdapat salinan tanda tangan digital persetujuan transaksi dari Yayasan Latief.

"Hendra Latief," desis Nadia dengan rahang mengetat. "Paman tiriku sendiri."

"Tepat sekali. Tapi ada satu hal lagi yang harus Anda ketahui," Adrian melangkah lebih dekat, menatap langsung ke dalam mata Nadia dengan pandangan yang sangat intens. "Paman Anda tidak bergerak sendirian. Dia terlilit utang judi besar di kasino luar negeri yang dimiliki oleh aliansi bisnis Baskoro Corp."

Deg! Jantung Nadia serasa berhenti berdetak sesaat. Baskoro Corp? "Baskoro menggunakan utang-utang Hendra untuk menekannya," lanjut Adrian. "Skenario awalnya adalah membuat Anda mati karena bunuh diri, sehingga seluruh sisa saham warisan ayah Anda jatuh ke tangan Hendra. Setelah itu, Hendra akan menyerahkan saham tersebut kepada Baskoro sebagai pelunasan utang. Dengan begitu, Baskoro Corp bisa menguasai aset keluarga Latief secara legal tanpa perlu pertumpahan darah di dunia bisnis."

Nadia mencengkeram pinggiran meja besi dengan sangat kuat hingga buku jarinya memutih. Amarah yang membakar dadanya kini bercampur dengan rasa takjub yang mengerikan. Konspirasi ini jauh lebih besar dari yang ia duga. Musuh dari kehidupan masa lalunya (Baskoro) dan musuh dari kehidupan masa sekarangnya (Hendra) ternyata saling terhubung di dalam kegelapan!

Mereka berdua mengincar hal yang sama: melenyapkan Chelsea Latief dari dunia ini.

"Kenapa kamu memberitahukan semua ini padaku, Adrian? Apa keuntunganmu?" tanya Nadia, mencoba menguji loyalitas pria di hadapannya.

Adrian membetulkan posisi kacamatanya, lalu membungkuk sedikit memberikan penghormatan formal. "Mendiang ayah Anda adalah orang baik yang telah menyelamatkan karier saya. Sebelum beliau wafat, beliau berpesan agar saya terus mengawasi Anda dari jauh jika suatu saat keluarga tiri Anda mulai bergerak serakah. Selama ini, saya mengira Anda hanyalah gadis manja yang tidak bisa diselamatkan. Tapi..."

Adrian menatap Nadia dengan senyuman penuh kekaguman. "...melihat caramu berbicara dan menjatuhkan mental Baskoro di aula atas tadi, saya sadar. Chelsea Latief yang sekarang bukan lagi mangsa yang lemah. Anda adalah pemburu. Dan saya bersedia menjadi mata dan telinga Anda di dalam kegelapan."

Nadia menatap Adrian selama beberapa detik, membaca ketulusan dan ambisi di mata pria itu. Ia tahu, di dalam perang ini, memiliki seorang analis data jenius seperti Adrian adalah sebuah keuntungan yang tak ternilai harganya.

"Pilihan yang cerdas, Adrian," ucap Nadia, menyetujui aliansi rahasia mereka. Ia menutup map cokelat itu dan mendekapnya. "Simpan semua bukti digitalnya. Jangan biarkan Hendra tahu bahwa kita telah melacak transaksinya."

"Dimengerti, Nona Muda."

Nadia berbalik dan melangkah menuju pintu. Namun baru saja tangannya menyentuh knop pintu besi, pintu tersebut mendadak ditarik terbuka dengan kasar dari luar.

Sesosok tubuh tegap dengan aura dingin yang sangat familier berdiri di ambang pintu, menghalangi jalan keluar Nadia.

Reynald.

Pria itu berdiri di sana dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana tuksedonya. Sepasang mata elangnya menatap tajam ke dalam ruangan, beralih dari wajah Nadia ke arah Adrian yang berdiri di belakang, lalu berakhir pada map cokelat yang didekap oleh Nadia.

"Membadak wajah di ruang bawah tanah yang kotor, Chelsea?" desis Reynald, suaranya terdengar sangat rendah, berbahaya, dan dipenuhi oleh rasa tidak suka yang teramat sangat karena telah dibohongi. "Dan siapa pria ini?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!