Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Mata di Balik Pintu
Ruang makan utama mansion malam itu terasa seluas samudra yang mati. Alice duduk mematung di salah satu ujung meja makan panjang yang mampu menampung dua puluh orang itu.
Di hadapannya, deretan hidangan Italia yang ia masak dengan sisa-sisa tenaganya telah membeku total, menyisakan pemandangan menyedihkan tentang sebuah usaha yang berujung sia-sia.
Mbok Nem dan Tari masih berdiri beberapa meter di belakangnya, menunduk dalam-dalam dengan napas tertahan.
Mereka tidak berani bersuara, tidak pula berani mengangkat piring-piring dingin itu selama Alice belum memberikan perintah.
Di dalam keheningan yang mencekam itu, hanya terdengar suara detak jarum jam dinding antik yang berbunyi teratur, seolah-olah sedang menghitung serpihan-serpihan hati Alice yang runtuh satu demi satu.
Alice menatap layar ponselnya sekali lagi. Barisan kalimat dari Elvano yang mengabarkan bahwa ia harus menjaga Kenzo di rumah sakit seakan tercetak permanen di retina matanya.
Setiap kata di sana terasa seperti jarum-jarum yang ditusukkan langsung ke pusat dadanya. Sangat menyakitkan.
Perlahan, Alice menegakkan punggungnya yang terasa kaku. Ia mengembuskan napas panjang yang bergetar, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diri yang masih ia miliki.
Dengan gerakan yang teramat pelan, ia mendorong kursi makannya ke belakang, menimbulkan suara gesekan halus di atas lantai marmer.
"Mbok Nem... Tari..." suara Alice terdengar sangat lirih, parau karena air mata yang menyumbat tenggorokannya.
"Tolong bereskan semua ini. Buang saja... atau berikan pada para penjaga di depan. Jangan biarkan makanan ini ada di sini besok pagi."
"Nona Alice, Anda benar-benar tidak ingin mencicipinya sedikit saja? Demi kesehatan Anda dan janin—" Tari mencoba membujuk dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku tidak lapar, Tari," potong Alice lembut, namun ada nada yang tak bisa dibantah dalam suaranya.
Alice berbalik, melangkah meninggalkan ruang makan tanpa menoleh lagi.
Setiap langkah kakinya menuju lantai dua terasa begitu berat, seolah-olah ada beban ribuan ton yang tidak terlihat mengikat kedua pergelangan kakinya.
Air mata yang sejak tadi ia tahan di depan para pelayan kini mulai mengalir deras tanpa bendungan, membasahi pipinya, jatuh menetes di atas anak tangga marmer satu demi satu.
Begitu melangkah masuk ke dalam kamar utama, Alice segera menutup pintu kayu yang tebal itu dan menguncinya dari dalam.
Tubuhnya langsung merosot, bersandar pada balik pintu yang dingin.
Ia menekuk kedua lututnya, menyembunyikan wajahnya di sana, dan membiarkan isak tangis yang sejak tadi bergemuruh di dadanya pecah sepenuhnya dalam kesunyian kamar.
Kamar yang beberapa hari lalu terasa seperti surga kecil yang penuh dengan pelukan hangat Elvano, kini kembali berubah menjadi sebuah sel penjara yang megah namun mematikan.
Di dalam kegelapan yang hanya ditemani oleh cahaya bulan yang menembus gorden, Alice meratapi posisinya yang kembali goyah, bahkan berada di titik paling rapuh dalam sejarah keberadaannya di mansion ini.
Ia menatap jari manis tangan kanannya. Di sana, cincin emas putih dengan mata berlian emerald-cut dan safir biru warisan klan Salvatore masih melingkar dengan indah.
Kilau perhiasan itu seolah-olah menjadi ejekan yang kejam bagi kondisinya malam ini.
Cincin ini... lamaran itu... semuanya belum berarti apa-apa, batin Alice menjerit perih.
Sebuah kenyataan pahit menghantam kesadaran Alice dengan telak.
Statusnya di mansion ini masih menggantung.
Elvano memang telah melamarnya secara romantis, namun secara hukum, secara legalitas hitam di atas putih, ia sama sekali belum diresmikan sebagai istri sah sang Bos Mafia.
Di mata hukum dunia luar, ia tidak memiliki ikatan apa pun dengan Elvano.
Dan di mata hukum dunia bawah, posisinya jauh lebih lemah.
Sementara Viona? Wanita itu adalah mantan istri sah yang pernah diakui oleh seluruh klan Salvatore di Italia.
Viona membawa seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang memiliki bukti visual yang tak terbantahkan, wajah yang merupakan cetakan sempurna dari Elvano.
Anak itu adalah sebuah fakta sejarah yang nyata dari masa lalu Elvano, sementara janin di dalam rahim Alice hanyalah sebuah keajaiban tak sengaja kini mulai diragukan keberadaanya.
Alice menyadari dengan sangat jelas bahwa jika Elvano pada akhirnya memilih untuk memercayai masa lalunya demi ego dan tanggung jawab, maka Alice tidak akan memiliki kekuatan atau hak apa pun untuk melawan.
Ia bisa dicampakkan kapan saja, dikembalikan ke posisinya semula sebagai seorang tawanan, atau yang lebih buruk... diasingkan bersama bayinya agar tidak mengganggu posisi Kenzo sebagai pewaris tunggal yang sah.
Di tengah kegelapan kamar dan isak tangisnya yang mulai mereda menjadi cegukan kecil, perubahan emosional yang dingin mulai terjadi di dalam diri Alice.
Rasa percaya yang baru saja ia bangun dengan susah payah selama beberapa hari terakhir, rasa aman yang sempat membuatnya luluh dan memberikan senyuman termanisnya pada Elvano di balkon malam itu, perlahan-lahan mulai retak, pecah menjadi berkeping-keping.
Perasaan yang sempat mengaburkan akal sehatnya kini dipaksa bangun oleh tamparan realitas yang tak kenal ampun.
Alice perlahan menurunkan tangannya dari wajah, lalu mengusap sisa air mata di pipinya dengan kasar.
Ia membawa telapak tangan mungilnya turun, menempelkannya di atas perutnya yang masih rata dengan cengkeraman yang protektif.
"Aku sangat bodoh," bisik Alice pada kesunyian kamar, suaranya kini terdengar lebih datar dan dingin.
"Bagaimana bisa aku berpikir bahwa seorang monster bisa berubah menjadi pelindung sejati? Bagaimana bisa aku menyerahkan hatiku pada pria yang memegang senapan dan hidup di atas genangan darah?"
Kekecewaan malam ini menjadi pelajaran paling berharga sekaligus paling menyakitkan bagi Alice.
Kenyataan takdir dirinya telah menuntutnya untuk berhenti berharap pada Elvano.
Pria itu tidak akan pernah menjadi suami normal yang bisa ia miliki seutuhnya.
Elvano memiliki klan yang harus dia urus, memiliki putra yang harus dia beri tanggung jawab dan kini... Statusnya tak berarti lagi bagi Elvano setelah masa lalunya datang kembali.
Alice bangkit dari lantai dengan sisa-sisa kekuatannya.
Ia melangkah menuju ranjang king-size yang kosong, merebahkan tubuhnya di sisi paling pinggir, membelakangi ruang kosong yang biasanya ditempati oleh Elvano.
Di dalam kegelapan malam, dengan mata yang menatap kosong ke arah jendela, Alice berjanji pada dirinya sendiri dan pada janin di dalam rahimnya.
Mulai detik ini, ia tidak akan lagi membiarkan hatinya terombang-ambing oleh janji manis atau sikap posesif berlebihan dari Elvano.
Ia akan bertahan hidup di mansion ini, bukan lagi sebagai wanita yang mengharapkan cinta dari seorang mafia, melainkan sebagai seorang ibu yang harus menguatkan dirinya sendiri demi melindungi anak yang dibawanya, apa pun keputusan yang akan diambil oleh Elvano setelah ia kembali dari rumah sakit nanti.
Dinding hati Alice telah kembali tegak berdiri, jauh lebih tinggi dan lebih tebal dari sebelumnya.
hey elvano kmana insting mafia mu🤣🤣🤣
sebel elvano gak peka banget sm taktik licik ulat bulu viona😔🤔
ibu nya aja gak setia, pasti ada rencana jahat nih🤔🤔🤔