Laras demi membahagiakan ibunya yang menginginkan cucu, rela menerima suami temannya yang dijadikan barang jaminan agar bisa mendapatkan uang yang banyak.
Seiring berjalannya Waktu, Laras benar-benar jatuh cinta pada suami jaminannya yang bernama Rayyan. Demikian pula Rayyan yang ternyata amnesia karena kecelakaan dan ditemukan oleh istri pertamanya( Naya) ia jatuh cinta pada Laras.
Mengetahui suaminya ternyata kaya raya, Naya ingin kembali pada suaminya dan melakukan berbagai usaha untuk memisahkan Rayyan dan Laras.
Akankah Laras bahagia dengan Rayyan? Siapakah yang akan dipilih Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryani Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17
Di tengah kekecewaan Zerina yang kehilangan jejak mobil Laras, Rayyan tersenyum menyeringai.
"Maaf, Aunty. Afa sudah membuat aunty kesal. Tapi semua ini bukan salah Afa, Aunty Zerina dan juga aunty Cloe sendiri yang sudah mengajarkan Afa untuk kabur dari kejaran orang yang mencurigakan. Beruntung istri Afa walaupun polos, dia ternyata hebat juga! Aargh ... Tidak sabar baby cumiku bercocok tanam!"
Rayyan melirik ke arah sang istri yang sebenarnya memiliki body yang indah. Namun tidak terurus karena kesibukannya di dunia nyata. Atas bawah membuat seorang Rafael terus merasakan denyut yang aneh, apalagi semenjak ia minum jamu Mak Harti, diri Rafael merasakan tubuhnya semakin bertenaga.
"Mbak ... Cepat, kebelet pipis ini!" seru Rayyan menghalau hasrat yang tiba-tiba muncul jika menatap lama sang istri.
Laras terperanjat akan suara pekikan Rayyan, ia pun mempercepat lajunya secara spontan hingga kecepatan di atas rata-rata, hal itu membuat Rayyan tersenyum smirk namun dengan cepat mengubah raut wajahnya seperti orang kebelet buang air kecil.
“Pelan-pelan, Mbak .…” lirih Rayyan se-profesional mungkin memperagakan ekspresinya seolah dia benar-benar menahan pipis. Hal itupun sukses membuat Laras mengernyit bingung. Rayyan seperti anak kecil yang tidak bisa menahan pipis dan berakhir mengompol, dan Laras menjadi khawatir akan itu.
“Aduh, iya, iya! Kita ke kafe atau restauran, atau ke pom bensin saja ya terus cari toilet. Duh … Di mana ya, kok gak ada pom bensin sih di sekitar sini …” Laras mengigit bibir bawahnya panik. Pijakan pada gas full hingga mobil Laras melaju seperti kilat.
Rayyan melirik kaca spion dalam mobil, di belakang mobil asing yakni Zerina yang masih mengikuti Rayyan membuatnya berdecak tertahan. “Sial! Aunty Zerina sudah tidak mengejar, lantas siapa lagi orang di dalam mobil di belakang. Apa dia orang yang mengintai ku?" tukasnya dalam hati.
Rayyan kesal ternyata masih ada yang ingin mengejar dirinya. Zerina sudah bisa ia atasi, sekarang ada lagi yang ingin mengikutinya. Benar-benar hati Rayyan geram, ingin rasanya berhenti dan menghajar orang itu.
“Di sana ada kafe, ke sana saja ya mas?” tanya Laras manakala melihat palang semeter kemudian yang diyakini adalah kafe.
“Jangan!” tolak Rayyan. “Rayyan maunya di pom bensin, belok kiri saja nanti di depan saja, Rayyan tau kok Mbak pom bensinnya.” sambungnya yang mama membuat Laras melirik Rayyan rumit. Bagaimana tidak, kebelet tapi pilih-pilih toilet umum.
“Ya sudah.” mau tak mau Laras menurut saja, dia pun tidak menekankan laju mobilnya karena Rayyan yang meminta. Entah mengapa, Laras merasa dirinya sedang dilatih menjadi pembalap.
Brooom …
Benar saja, di persimpangan jalan Laras membelokkan mobilnya ke arah kiri secara tiba-tiba bahkan tepat itupun lampu hijau berganti merah, yang mana pengendara di belakang tidak bisa menerobos.
CIIITT!
“Sial! Kehilangan jejak lagi.” umpat pengemudi mobil yang mengikuti mobil Rayyan, memukul stir kemudi frustasi. Untung saja dia tidak labas lurus ke depan dan memperhatikan lampu merah, namun sialnya ia kehilangan jejak Rayyan.
Sementara itu, Rayyan telah terkekeh kecil namun tidak lama kembali memasang raut menderita karena harus menemukan toilet saat Laras melirik ke arahnya.
Sesampainya di pom bensin, Rayyan turun namun Laras semakin aneh melihat betapa santainya Rayyan begitu menuju toilet, tidak seperti sebelumnya di mobil yang minta cepat-cepat sehingga Laras cosplay menjadi pembalap.
Laras tidak mengisi bensin lagi karena sudah full tank, ia pun hanya menunggu Rayyan dan mencari restauran untuk keduanya makan siang setelah itu kembali ke butik.
Namun, alih-alih ke dalam toilet pun Rayyan hanya berdiri di depan wastafel. Dia tidak benar-benar masuk ke dalam bilik kamar mandi, kebetulan di toilet tidak ada seorang pun selain dirinya.
Rayyan menatap pantulan dirinya dengan raut datar. Tidak ada lagi ekspresi menggemaskan yang Rayyan tunjukan ketika berada di dekat Laras, kini hanya ada Rayyan dengan sorot mata Rafael di dalamnya.
Lelaki itu menarik surut bibirnya tersenyum smirk, Rayyan mencuci tangannya lalu menyunggar rambutnya ke belakang.
“Aku punya rencana sendiri, siapapun tidak ada yang boleh menghalangi kehendak ku.” Rayyan menghela napas pelan, “Sebentar lagi, Ma. Afa akan kembali, tapi tidak sekarang.” timpalnya lalu keluar dari toilet, Rayyan kembali menemui Laras.
“Sudah?” tanya Laras tatkala Rayyan masuk ke dalam mobil. Lelaki itu mengangguk seraya tersenyum khas anak kecil hingga kedua matanya menyipit.
Sangat lucu dan menggemaskan, pikir Laras.
“Baiklah, sekarang kita cari restauran setelah itu kembali ke butik, ya, mas?” utar Laras yang langsung mendapat anggukan antusias oleh Rayyan.
“Okay, Sayang!” sahut Rayyan mengedipkan matanya genit.
Blush!
Pipi Laras kembali bersemu merah, dan hal itu lah yang sangat disukai Rayyan pada istrinya. Pipi yang berubah Semerah buah tomat itu lah menjadi favorit Rayyan. Jika tidak di tempat umum, mungkin Rayyan sudah menggigitnya.
***
Di rumah Laras.
Sore harinya, setelah lelah mengerjakan sebagian pesanan pelanggan, Laras mengajak Rayyan untuk pulang, takut Rayyan akan kecapekan dan berakibat pingsan lagi. Sungguh Laras sangat memanjakan suaminya dengan berlebihan.
Laras melirik Rayyan yang sedari tadi menggelendoti lengan kirinya, sebenarnya Laras tidak merasa keberatan Rayyan bersikap manja seperti ini jikalau dirinya sedang santai. Tapi, untuk saat ini Laras tengah mencoret-coret buku sketsa nya untuk mengukir sebuah desain gaun.
“Mbak, kenapa gambarnya masih stay di kepala? Badannya mana …” Rayyan mendongak menatap polos Laras, kemudian mengerjap pelan yang mana membuat Laras berkali-kali menahan napas akibat ketampanan Rayyan yang dominan ditambah wajah menggemaskan itu.
Demi apapun Laras ingin teriak sekarang. Bolehkah jika dirinya dahulu yang menerkam Rayyan? Jika seperti ini Laras tidak bisa, dirinya yang lemah akan sesuatu yang lucu.
Laras yang tidak bisa diatur hidupnya ataupun diperintah pun mendapat suami seperti Rayyan benar-benar suatu anugerah terindah. Rayyan tidak banyak menuntut, sehingga Laras merasa nyaman dengan statusnya sebagai wanita karir sekaligus seorang istri.
“Emm … Aku cuma mau buat desain asal aja kok, lagipula belum ada ide untuk membuat model gaun seperti apa,” jawabnya lalu menaruh buku sketsa nya di laci nakas. Kini Laras fokus pada Rayyan di sampingnya.
“Ada yang ingin Mas Rayyan katakan?” pancing Laras karena Rayyan sedari tadi menatap dirinya seperti anak kecil yang ingin meminta sesuatu.
Rayyan menundukkan kepalanya, memilin jemari jari Laras yang lebih kecil darinya, kemudian mengangkat pandangannya menatap sang istri.
“Mbak Laras, Rayyan boleh minta dibelikan laptop yang canggih?” pinta Rayyan dengan mata berbinar ingin segera dikabulkan permintaannya. “Dengan begitu Rayyan bisa dengan mudah memasarkan gaun-gaun yang indah di toko butik Mbak Laras. Bolehkah jika Rayyan meminta dibelikan laptop yang baru?” kali ini Rayyan semakin menggelendoti lengan Laras, lelaki itu pun menggesekkan pipinya pada punggung tangan Laras.
Penuh pertimbangan Laras diam sejenak, ia ingin membelikan Rayyan laptop baru. Namun, jika untuk memasarkan produk pakaian di toko butiknya pun Laras mempunyai laptop kantor yang memang disediakan di toko butiknya.
Namun, alih-alih menolak Laras pun tidak tega. Mau bagaimana pun niat Rayyan sudah baik ingin memasarkan gaun di butiknya hingga Laras tidak punya alasan untuk menolak permintaan suami bayarannya itu.
Mengingat suami bayaran, terkadang Laras tidak rela kedekatannya dengan Rayyan hanya sebatas suami istri bayaran. Lambat laun Laras akan kehilangan suaminya itu, namun tidak mungkin Laras menyewa Rayyan untuk selamanya. Lantas bagaimana dengan Naya? Pikirnya sampai detik ini.
“Sayang …” Rayyan membuarkan lamunan Laras. “Kenapa malah bengong?” timpalnya lalu menyandarkan kepalanya di bahu Laras, tempat yang membuat Rayyan merasa nyaman.
Demi apapun Rayyan sangat menyukai aroma khas wanita ini.
“Boleh kok mas, besok kita beli laptop nya, ya. Sekarang aku mengantuk, Mas Rayyan juga ‘kan. Ayo tidur.” Laras menarik pelan lengannya dari pelukan Rayyan, lalu merendahkan tubuhnya berbaring dan menarik selimut. Setelah itu Laras memejamkan matanya tertidur.
Hal yang sama dilakukan oleh Rayyan, lelaki itu ikut bergabung menyelimuti dirinya dan memejamkan mata.
“Terima kasih Laras, kau telah menolong ku. Aku tidak semata menggunakan laptop itu untuk kebutuhan butik mu, aku harus mencari tahu siapa dalang di balik kecelakaan saat itu. Aku harus menyelidikinya,” batin Rayyan begitu kepingan memori ingatannya pulih, maka dia akan mengumpulkan bukti seseorang yang membuatnya celaka.
Bugh!
"Aduh!" Rayyan terpekik ketika kaki jenjang Laras menindih tubuhnya tiba-tiba. Hal yang menjadi kelemahan seorang Laras adalah jika tubuhnya terlalu capek maka dia tidur seperti kerbau tidur, mau diapakan saja Laras tidak akan bangun.
"Astaga, Mbak! Jika begini terus mungkin aku mati bukan karena sakit kepala, tapi ngilu baby cumi ku!" pekik Rayyan kesal mana kala kaki indah nan menggoda milik Laras tidak sengaja menindih baby cuminya.
Perlahan Rayyan menyingkirkan kaki Laras,akan tetapi sial. Hal yang dilakukan Rayyan malah membuat kimono Laras tersingkap ke atas. Tenaga Rayyan yang sudah pulih karena Jamu Mak Harti, secara otomatis membuat baby cuminya berdiri tegak. Melayangkan signal untuk berkembang biak.
"Kyaaak ... Kenapa dia bangun! Astaga ... Boleh gak sih, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Tidak! Aku tidak boleh melanggar janjiku, tidak akan menyentuh mbak Laras jika dia tidak memintanya. Tapi kalau begini terus, gimana coba?! Kasihan kau baby cumi, lama tertidur, kini sekali bangun bingung mencari sarang!" lirih Rayyan mengusap lembut baby cuminya.
"Mak ... Jangan pergi! Laras janji akan memberi cucu buat Emak! Tapi emak harus sabar, mas Rayyan baru saja sembuh! Nanti Mak. Kalau mas Rayyan sudah sehat kembali !" igau Laras meracau di sela tidurnya yang nyenyak.
"Apa? Jadi selama ini Mbak Laras memikirkan hal ini? Dia mengira aku masih sakit? Pantas aja, dia terlihat punya beban pikiran yang berat. Aku kira dia sedang memikirkan orderan dari customer, ternyata ini yang dia pikirkan! Astaga ... Rafael kamu harus bagaimana? Apa iya tiba-tiba sembuh dan bertenaga begitu saja?!" geram Rafael.