Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
"Om seram, papan catur ini terlalu berdebu untuk ukuran rumah orang kaya. Apa pelayanmu malas bersih-bersih?"
Leo berdiri di atas kursi makan jati yang tinggi, kedua tangan mungilnya bertumpu di pinggiran meja bundar di dalam ruang santai keluarga Adhitama Mansion.
Mata bulatnya menatap lurus ke arah sebuah papan catur kayu eboni kuno yang terletak di tengah ruangan, sementara kakinya sesekali berayun santai.
Devran yang baru saja melangkah masuk setelah memeriksa laporan medis Leo dari Dr. Gunawan, menaikkan satu alisnya. Pria itu melepaskan dua kancing teratas kemeja hitamnya, berjalan mendekat dengan aura dominan yang biasa.
"Itu bukan berdebu, Leo. Itu patina,efek usia dari kayu langka abad ke-19. Dan jangan panggil aku Om seram lagi di dalam rumah ini."
"Lalu Leo harus panggil apa? Om kaku? Om robot?" tantang Leo, cengkeraman jeniusnya mulai terlihat saat ia dengan berani memajukan bidak pion putih ke kotak e4 tanpa izin.
"Bagaimana kalau kita taruhan? Jika Leo menang main catur ini, Om harus kembalikan paspor Mommy dan biarkan kami pulang ke Swiss setelah Leo sembuh!"
Alana yang baru saja masuk membawa secangkir teh hangat langsung menegang mendengar ucapan putranya. "Leo! Jangan lancang."
"Turun dari kursi sekarang, Sayang. Kita di sini untuk pengobatanmu, bukan untuk bermain-main."
"Biarkan saja, Alana," potong Devran cepat, tangannya terangkat di udara untuk menenangkan Alana.
Senyuman sinis namun penuh ketertarikan terukir di wajah tampannya. Ia menarik kursi di seberang Leo, lalu duduk dengan anggun, melipat kakinya.
"Anak ini punya nyali yang besar. Baik, Leo. Jika kamu menang, aku akan mengabulkan satu permintaanmu, termasuk paspor Mommymu."
"Tapi jika kamu kalah... kamu harus memanggilku Papa mulai hari ini, dan kalian tidak boleh menyebut kata pulang lagi ke Eropa. Bagaimana?"
"Devran, jangan jadikan anak-anak sebagai alat taruhan bisnismu!" protes Alana, wajahnya memerah padam karena cemas.
Ia tahu betul Devran adalah mantan juara catur tingkat universitas di London dan pemain yang sangat kejam di papan perlombaan.
"Tenang saja, Mommy! Leo tidak akan kalah dari Om kaku ini," sahut Leo penuh percaya diri.
Jemari mungilnya bergerak cepat menyusun kembali bidak-bidak yang sempat bergeser. "Om jalan duluan. Putih untuk yang lebih tua."
"Sangat sombong untuk ukuran bocah lima tahun," kekeh Devran, matanya berkilat tajam.
Ia memajukan pionnya ke e4. "Silakan, tunjukkan kemampuan sibermu di atas papan kayu ini."
Leo tidak membuang waktu. Dengan gerakan kilat yang hampir tanpa berpikir, ia menggerakkan kudanya ke f6.
"Kuda melompat, Om! Jangan sampai kudamu terjebak di kandang."
"Pembukaan yang agresif," gumam Devran, langsung membalas dengan memajukan pion ke e5, menyerang kuda Leo.
"Kamu terlalu cepat membuka pertahanan, Anak Muda."
"Ini bukan pertahanan, Om. Ini umpan," balas Leo sambil menyeringai kecil, persis seperti ekspresi Devran saat menjebak rival bisnisnya. Leo menggeser kudanya ke d5.
Alana berjalan mendekat, berdiri di samping kursi Leo dengan dada yang berdebar kencang.
Ia tahu Leo sering bermain catur daring di Swiss dengan para profesor pensiunan, tetapi menghadapi Devran Adhitama adalah hal yang sama sekali berbeda.
"Leo, pikirkan baik-baik sebelum melangkah..."
"Mommy jangan berisik, nanti algoritma di kepala Leo bisa pecah," bisik Leo tanpa mengalihkan pandangan dari papan catur.
Devran tersenyum meremehkan, memajukan pion ke d4 untuk menguasai pusat papan. "Pusat papan sudah milikku, Leo. Dalam tiga langkah lagi, perwiramu akan habis."
"Ah, Om terlalu banyak membaca buku teori kuno," cibir Leo.
Jemari mungilnya meraih gajah hitam, lalu meletakkannya di kotak g7. Tuk. Bunyi kayu beradu terdengar nyaring di dalam ruangan yang sunyi itu.
Devran mengerutkan kening sejenak. Langkah Leo terasa tidak biasa, sedikit berantakan namun memiliki pola tersembunyi yang aneh.
Devran memajukan gajah putihnya ke c4, mengancam kuda Leo yang berada di pusat. "Kudamu terkunci, Leo. Mau lari ke mana?"
"Siapa bilang Leo mau lari?" Leo terkekeh geli. Bukannya menyelamatkan kudanya, bocah itu justru menggerakkan pion lain ke d6.
"Kamu mengorbankan kudamu sendiri? Bodoh sekali," ujar Devran, langsung memakan kuda Leo di d5 dengan pion e5nya.
"Permainan selesai, Leo. Kamu kehilangan perwira utamamu di langkah kelima."
"Jangan senang dulu, Om seram. Lihat ini!" Leo dengan cepat memajukan menterinya, sang ratu hitamke kotak h4. Tuk!
Mata Devran yang awalnya tenang mendadak terpaku pada posisi menteri hitam tersebut. Jantungnya berdegup satu kali dengan ritme yang salah.
Ia melihat pola serangan yang mendadak berubah arah secara radikal. "Tunggu... pola ini..."
"Reno, kemari," panggil Devran dengan suara yang mendadak merendah, memecah keheningan.
Reno yang sejak tadi berjaga di dekat pintu ruang santai melangkah mendekat. "Ya, Tuan Besar? Ada masalah?"
"Lihat papan ini," perintah Devran, matanya tidak berkedip menatap pergerakan menteri hitam Leo.
Reno memandangi susunan bidak di atas meja, dan dalam hitungan detik, wajah asisten pribadi itu berubah pucat pasi.
"Ini... ini tidak mungkin... Tuan Besar, apakah Anda yang mengajari Leo trik ini malam tadi?"
"Aku bahkan baru melihatnya menyentuh papan catur ini satu menit yang lalu, Reno!" desis Devran, suaranya bergetar hebat oleh rasa syok yang luar biasa.
"Ada apa? Kenapa kalian berdua terlihat seperti melihat hantu?" tanya Alana bingung, menatap Devran dan Reno bergantian dengan cemas.
Leo melipat kedua tangan mungilnya di depan dada, menggoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri dengan senyuman kemenangan yang sangat lebar.
"Langkah keenam, Om. Silakan jalankan rajamu sebelum terlambat."
Devran menelan ludahnya dengan susah payah. Tangannya yang gemetar perlahan memajukan pion ke g3, mencoba memblokir serangan menteri hitam Leo. Ini adalah langkah pertahanan terbaik yang tersisa di kepalanya.
Namun, Leo hanya mendengus geli. Dengan ketukan jemari yang mantap, ia menggerakkan gajah hitamnya dari sudut kotak g7, meluncur lurus melintasi diagonal papan, dan memakan pion Devran di g3. Tuk!
"Skakmat, Om seram!" seru Leo lantang, suaranya yang melengking memenuhi seluruh penjuru ruangan.
"Tujuh langkah! Om kalah!"
Devran terpaku di kursinya, tubuh tegapnya mendadak kaku seperti batu. Mata elangnya menatap nanar ke arah raja putihnya yang kini terkunci total, tidak memiliki ruang satu kotak pun untuk bergerak karena terperangkap oleh kombinasi gajah dan menteri hitam Leo.
"T-Tuan Besar... ini adalah Gambit Sayap Adhitama," bisik Reno dengan suara yang sangat bergetar, matanya membelalak sempurna menatap papan catur.
"Trik serangan tujuh langkah mematikan yang diciptakan oleh kakek buyut Anda, Jenderal Adhitama, yang hanya diwariskan secara turun-temurun melalui garis darah utama keluarga ini... Trik yang bahkan tidak pernah dipublikasikan di buku catur mana pun di dunia!"
Alana tersentak kaget, langsung merangkul bahu Leo. "Leo... dari mana kamu belajar cara bermain seperti ini?!"
"Leo tidak belajar dari buku, Mommy," jawab Leo polos, menunjuk kepalanya sendiri.
"Kakek guru misterius di Swiss yang sering kirim pesan siber ke laptop Leo yang mengajarinya lewat permainan komputer. Kakek guru bilang, ini adalah kode sandi rahasia keluarga pemilik darah murni."
Devran perlahan bangkit dari kursinya, menatap anak laki-laki berusia lima tahun di depannya dengan tatapan yang dipenuhi oleh badai emosi,rasa takjub, kebanggaan yang meledak-ledak, dan kengerian yang mendalam akan konspirasi besar yang melibatkan garis keturunannya.
"Siapa..." suara Devran terdengar sangat serak, ia mencengkeram pinggiran meja hingga kayu jatinya berderit.
"Leo... katakan pada Papa, siapa nama asli kakek guru yang mengajarimu di Swiss itu?!"
Leo mengerjapkan mata, tampak bingung dengan perubahan ekspresi Devran yang begitu intens.
"Leo tidak tahu nama aslinya, Om. Tapi di akun obrolan rahasia kami, namanya adalah The Old Adhitama."
Mendengar nama samaran itu, dokumen medis di tangan Reno langsung terjatuh ke lantai. Devran melangkah mundur satu langkah, wajah tampannya mendadak kehilangan warna.
Rahasia besar tentang siapa yang menghapus data medis Leo di Swiss dan siapa yang melindungi Alana selama lima tahun ini akhirnya mulai menampakkan bayangan sekilasnya yang paling mengerikan, seseorang dari dalam masa lalu keluarganya sendiri yang seharusnya sudah tiada.