Sejak kecil, Kiara hidup sebagai anak yang dibenci dan disiksa oleh keluarga yang membesarkannya. Ia tak pernah tahu bahwa semua penderitaan itu berawal dari sebuah pembunuhan yang terjadi dua puluh lima tahun lalu.
Demi merebut harta dan kekuasaan, pamannya membunuh ayah kandung Kiara, mengurung ibu kandungnya selama puluhan tahun, lalu membesarkannya dengan identitas palsu.
Saat kebenaran mulai terungkap, Kiara harus merebut kembali haknya dan membalas semua dosa yang telah merenggut keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
“Kiara, kenapa? Apa yang kamu lihat?” panggil Bara yang sejak tadi memperhatikan Kiara yang terus menatap bingkai foto di dinding dengan pandangan kosong.
Kiara lalu menunjuk ke arah foto itu, membuat Bara penasaran dan segera mendekat.
“Hmm… Foto siapa ini ya? Wanita ini kok wajahnya hampir mirip denganmu, Kiara,” gumam Bara, namun suaranya cukup jelas terdengar oleh Kiara.
“Aku juga tidak tahu, Mas Bara. Kenapa sekilas wajahnya terlihat mirip sekali dengan wajahku,” jawab Kiara.
Mendengar itu, Vera pun ikut mendekat karena rasa penasarannya memuncak.
“Apa sih yang kalian lihat? Sepertinya serius sekali wajah kalian,” tanya Vera.
“Lihat deh, wajah wanita ini sekilas mirip Kiara, dan pria di sampingnya juga…” kata Bara sambil menunjuk ke arah foto itu. Vera menatap lekat-lekat foto itu, lalu menoleh kembali ke wajah Kiara.
“Jangan-jangan ini orang tua kandung Kiara ya? Soalnya kemiripannya terlalu jelas,” bisik Vera dalam hati.
“Sudahlah, nanti kita pikirkan lagi soal itu. Ngomong-ngomong, Kiara, kamu mau tinggal di sini atau mau pulang dulu ke rumah orang tuamu… eh, maksudku ke rumah Anton dan Risma yang sifatnya seperti nenek sihir itu?” tanya Bara kemudian.
“Sepertinya aku pulang saja dulu. Soal tinggal di apartemen ini atau tidak, nanti kupikirkan lagi baik-baik,” jawab Kiara.
“Baiklah kalau begitu. Aku harus pamit dulu, ada rapat mendadak di kantor. Tidak apa-apa kan?”
“Tidak apa-apa, Mas. Justru aku yang minta maaf sudah merepotkan kamu dan kedua orang tuamu selama ini,” ucap Kiara tulus.
“Ah, tidak merepotkan sama sekali, Kiara. Ya sudah, aku pergi dulu. Oh iya, Vera, tolong jaga calon istriku ini ya!” perintah Bara sambil melangkah pergi.
Kiara yang mendengar ucapan terakhir itu terkejut bukan main. Wajahnya yang tadinya biasa saja kini seketika memerah padam, lalu ia menundukkan kepalanya berusaha menyembunyikan rasa malunya.
“Jangan terlalu dipikirkan omongan orang yang tidak punya perasaan itu. Memang suka sembarangan saja kalau bicara. Ayo, aku antar kamu pulang,” ajak Vera sambil tersenyum melihat reaksi Kiara. Keduanya pun segera keluar dari apartemen menuju lantai bawah.
.
.
.
Tak lama kemudian, Kiara dan Vera sudah berada di dalam mobil. Vera akan mengantarkan Kiara pulang, namun hatinya dipenuhi rasa khawatir kalau-kalau Kiara kembali disiksa di rumah itu.
“Kamu yakin benar mau pulang ke sana?” tanya Vera memastikan.
“Aku yakin, kok,” jawab Kiara tegas.
“Soal foto tadi, aku yakin itu memang orang tua kandungmu. Terlihat jelas dari garis wajah dan sorot matanya,” ucap Vera meyakinkan.
“Aku juga punya firasat yang sama, Vera. Tapi aku harus mencari tahu lebih dalam, apa sebenarnya tujuan Papa Anton membunuh ayah kandungku dulu. Apakah ada dendam lama di antara mereka, atau semuanya murni karena harta dan kekuasaan?” ungkap Kiara dengan nada serius.
“Aku yakin seratus persen alasannya adalah harta, Kiara. Soalnya dari cerita ayahku, kematian pemilik perusahaan itu terdengar sangat janggal dan penuh keanehan,” sahut Vera.
“Kalau begitu, aku minta tolong padamu, Vera.”
“Minta tolong apa saja, pasti aku bantu sebisa mungkin.”
“Dulu kamu dikenal sebagai mantan peretas ulung, kan? Tolong bantu aku cari tahu penyebab kecelakaan itu, dan juga temukan nama lengkap ayah dan ibu kandungku.”
“Baiklah, aku pasti akan cari semua informasi itu sampai tuntas. Kamu tenang saja, ya. Dan ingat, kalau terjadi apa-apa, segera kabari aku atau Bara.”
Kiara hanya mengangguk mantap sebagai tanda setuju.
Tak lama kemudian, mereka tiba di depan gerbang rumah megah milik Anton. Kiara segera turun dari mobil, namun ia melarang Vera untuk ikut masuk ke dalam.
Mendengar larangan itu, Vera hanya bisa mendengus kesal, namun ia tetap menghormati keputusan Kiara dan berpamitan untuk pulang. Kiara lalu membuka gerbang yang ternyata tidak terkunci, lalu melangkah masuk dengan langkah yang penuh keyakinan.
“Eh, Nona Kiara? Kenapa baru pulang, Nona?” sapa Pak Samsul, petugas keamanan yang berjaga di pos.
“Apakah mereka mencari ku, Pak Samsul?” tanya Kiara tenang.
“Iya, Nona. Bapak dan Ibu sangat marah dan terus menanyakan keberadaan Nona sejak tadi,” jawab Pak Samsul dengan wajah cemas.
“Baiklah, terima kasih atas informasinya. Aku masuk dulu ya,” ucap Kiara santai.
“Duh, Nona… semoga saja Nona tidak disiksa dan dipukuli lagi. Hati saya benar-benar tidak tega melihat penderitaan Nona selama ini,” gumam Pak Samsul penuh rasa prihatin sambil menatap punggung Kiara hingga gadis itu menghilang di balik pintu utama rumah.
.
.
.
Di dalam rumah, Kiara melangkah tanpa rasa ragu maupun takut sedikit pun. Sikapnya tampak berbeda total—ia bukan lagi Kiara yang lemah lembut dan penurut seperti sebelumnya.
Di ruang tengah, Anton sudah duduk menunggu dengan raut wajah yang dipenuhi amarah.
“Baru pulang juga kamu! Dari mana saja kamu selama ini, hah?!” bentak Anton keras. Namun Kiara justru menoleh menatap balik Anton dengan tatapan datar dan berani.
“Memangnya kenapa kalau aku baru pulang?” jawab Kiara dengan nada santai tanpa rasa takut.
“Sudah berani melawan bicara ya kamu!” desis Anton geram. Ia segera meraih sebatang rotan yang sudah disiapkan di atas meja.
Di sana, Nenek Amira yang melihat kejadian itu segera berlari menghalangi Anton. “Berhenti, Anton! Jangan sampai rotan itu menyentuh tubuh cucuku! Apakah kamu tidak punya hati sedikit pun untuk merasa kasihan padanya?” teriak Nenek Amira.
Tak lama kemudian, Risma pun muncul dan mendekat ke arah mereka.
“Tidak usah ikut campur, Nenek tua! Sudah, Mas, lakukan saja! Hajar anak tidak tahu diri ini!” seru Risma menyemangati suaminya.
Anton sama sekali tidak menghiraukan larangan ibunya. Ia hanya mematuhi perintah Risma dan segera mengayunkan rotan itu ke arah Kiara. Namun, sebelum rotan itu sempat menyentuh punggung Kiara, gadis itu dengan sigap menangkis serangan itu dan menggenggam erat ujung rotan itu hingga gerakan Anton terhenti.
“Papa selalu memukulku padahal aku tidak pernah berbuat salah. Sedangkan kedua kakakku yang selalu pulang larut malam dan berbuat seenaknya, tidak pernah sekalipun ditegur apalagi dihukum. Sebenarnya aku ini anak kalian atau bukan? Jawab aku!”
Suara Kiara terdengar dingin dan tajam, tatapan matanya menusuk tepat ke arah Anton. Entah kenapa, tatapan itu seketika mengingatkan Anton pada sosok Yuda dan peristiwa kelam saat ia menghabisi nyawa sahabatnya sendiri itu.
Amarah yang tadinya memuncak seketika lenyap berganti rasa takut. Anton melepaskan genggamannya pada rotan itu, dan tubuhnya mulai gemetar tak terkendali.
“Jawab aku, Papa! Jangan hanya diam saja!” desak Kiara lagi.
“Dasar anak kurang ajar! Kalau begitu biar aku sendiri yang menghukum mu!” bentak Risma. Ia segera maju dan mencoba merebut rotan dari tangan Kiara, namun Kiara dengan tenang melemparkan benda itu ke lantai.
Tak kehabisan akal, Risma langsung melayangkan tamparan keras ke arah wajah Kiara. Namun sebelum punggung tangan itu sempat menyentuh kulitnya, Kiara dengan cepat menangkap pergelangan tangan Risma dan menahannya kuat-kuat.
“Tidak ada seorang pun yang berani menyentuhku lagi mulai hari ini. Ingat baik-baik itu, Mama Risma. Kalau kamu berani menyakitiku sedikit saja, aku pastikan kamu akan sangat menyesal seumur hidup,” ancam Kiara dengan suara berat dan penuh penekanan.
“Lepaskan tanganku! Berani sekali kamu mengancam ku, hah?!” pekik Risma kesakitan karena cengkeraman Kiara yang kian erat.
Kiara pun melepaskan tangannya yang sudah memerah itu. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Anton dan berbisik pelan namun jelas terdengar, “Beritahu aku… siapa sebenarnya ayah kandungku?”
Mendengar pertanyaan itu, Anton terkejut seketika. Ia menoleh cepat menatap Kiara, namun yang dilihatnya hanyalah wajah dingin Kiara yang disertai senyum tipis yang penuh makna.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Kiara berbalik dan berjalan menuju kamarnya, sama sekali tidak menghiraukan tatapan penuh kebingungan dan ketakutan dari Anton.
“Kiara… Dia… Apakah dia sudah mengetahui segala kebenarannya?” gumam Anton dalam hati. Ia masih tak percaya melihat perubahan sikap Kiara yang begitu drastis—bukan lagi gadis lemah yang selalu mengalah dan menurut seperti dulu.
Bersambung