Berawal dari petaka sebuah konser band terkenal, seorang gadis harus membuatnya menerima reward besar karena baru putus cinta. Gadis itu tidak tau bahwa dirinya sedang di kerjai teman kuliahnya hingga membuat seorang Letnan terkena imbasnya.
Disisi lain, akibat petaka tak sengaja, sang Letnan terpaksa harus menanggung akibatnya. Bukan hal mudah menaklukan hati pria yang ternyata adalah Abang dari gadis tersebut, namun pada kenyataannya, lebih sulit menaklukan gadis yang tiba-tiba masuk dalam hidupnya tanpa permisi, apalagi jejak kehidupannya kini di mulai pada wilayah dengan resiko yang cukup tinggi, wilayah yang bisa di katakan rawan, KARANG HITAM.
KONFLIK.. Harap SKIP bagi yang tidak bisa ber KONFLIK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Tentang seorang bayi kecil.
Sepanjang jalan, pikiran Bang Riegan terus berputar. Ia terus menatap wajah mudi nya dari belakang.
"Menurut kalian, bagaimana kalau saya mengadopsi bayi tersebut?" Tanya Bang Riegan tiba-tiba.
"Waduhhh.. Ijin, Danton. Maaf kalau saya lancang. Tapi Ibu masih hamil muda, butuh perhatian ekstra dari Danton, apalagi dalam lingkungan seperti ini. Apa tidak sebaiknya di tunda dulu. Kasihan sekali, Ibu." Jawab Prada Rivan.
"Ijin.. Kalau saya.. Tidak apa-apa, Danton. Anak itu terlihat memiliki darah seberang, begitu pula dengan Danton. Rawat saja, Danton..!!"
Bang Riegan menyunggingkan senyum tipis, namun senyumnya terasa begitu berat untuk di artikan.
"Baang.. Rawat saja ya, bayi itu." Rengek Phia.
"Kita lihat nanti." Jawab Bang Riegan datar saja.
...
Malam hari. Saat Phia sudah tidur, Bang Riegan kembali terfokus dengan berkas yang ia minta dari kantor. Posisinya sebagai Danton membuat pergerakannya sedikit sulit, ia tidak paham alasan Abang iparnya menarik perintah penugasan dirinya sebagai PasieIntel hingga dirinya harus di tempatkan sebagai Danton menggunakan skep lokal.
"Tolong kirim berkas yang lain. Saya butuh sekarang..!!! Silent, ya..!!" Perintah Bang Riegan.
"Siap, Danton."
***
"Apa kamu bilang??? Mau mengadopsi anak??? Dimana pikiranmu, Riegan??" Tegur keras Bang Reigar mendengar iparnya berniat mengadopsi seorang bayi.
"Saya tidak akan membiarkan Phia susah, Bang. Saya akan menyiapkan pengasuh untuk anak-anak. Phia hanya tinggal mengawasinya saja." Jawab Bang Riegan.
"Jangan sembrono memutuskan..!!! Kasih sayang ibu dan pengasuh, jelas beda. Anak butuh di timang dan di sayang. Kamu jangan termakan rengekan istri yang hormon kehamilannya tidak stabil..!!!!" Suara Bang Reigar sampai meninggi di buatnya. "Dengar, Riegan.. Kamu belum bisa sepenuhnya membahagiakan Phia. Kenapa kamu malah memikirkan kebahagiaan orang lain???? Tugasmu hanya menjaga Phia sampai anak itu lahir. Setelah itu... Mau kau ambil anak dari kolong jembatan atau cari perempuan lain pun, saya tidak peduli."
Bang Riegan menjauhkan telinganya, kakak iparnya sudah mematikan panggilan teleponnya secara sepihak. Ia duduk termenung, harinya bersama Phia baru saja di mulai, tapi.. Ia pun menyadari bahwa langkahnya tidak semulus yang ia bayangkan. Apapun usahanya sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari Abang iparnya, Bang Reigar.
...
Pagi ini Phia merasa mual. Ia melihat ubi yang sudah di fermentasi bercampur jagung sedang di kukus dalam penanak tradisional. Bahan tersebut di masak sebagai pengganti nasi.
Kemarin Phia sudah sempat menikmati hidangan papeda, siangnya kapurung yang hampir serupa. Di hari selanjutnya, Phia sudah makan hidangan, orang menyebutnya jagung bose.
"Apa tidak ada beras, Bang??" Tanya Phia.
"Ada, tapi harganya sudah lumayan mahal. Penduduk daerah sini juga kurang suka dengan nasi karena terbiasa dengan ubi." Jawab Bang Reigar.
"Phia punya uang, ayo beli beras." Ajak Phia.
"Kamu pikir Abang tidak mampu beli beras??" Kata Bang Riegan membuat Phia seketika diam.
Bang Riegan paham, Phia sangat kesulitan beradaptasi dalam lingkungan barunya. Beberapa hari ini Phia sangat susah untuk makan.
Pandangan Bang Riegan beralih pada 'ajudan' nya. "Rivan.. Masih ada sisa beras atau tidak di dapur barak??"
"Ijin, ada.. Sekitar dua cangkir, Danton."
"Tolong bawa satu cangkir kesini..!!" Perintah Bang Riegan.
...
Dengan skill memasak yang sedikit di pertanyakan, Letnan Riegan turun langsung ke dapur demi istri kecilnya.
Berbekal ilmu ngawur, Bang Riegan mencampur beras dan apapun yang ada di hadapannya menjadi bubur. Rasanya sedikit pedas, gurih, ada rasa manis yang terselip di dalamnya.
"Coba ini, siapa tau suka." Bang Riegan menghidangkan semangkok bubur yang tampilannya amat sangat tidak menyakinkan.
"Iniii.. Apa??" Tanya Phia ragu sambil menggigit kecil sendok di bibirnya.
"Ya bubur, masa cake coklat." Jawab Bang Riegan. "Ayo cepat di coba..!!!"
Mau tidak mau Phia mencobanya sesendok. Tidak ada pilihan lain, perutnya sudah terasa sangat lapar.
Tapi.. Begitu mencobanya, Phia langsung menyukainya. "Ini enak, Bang. Phia suka." Phia mendorong mangkok itu tepat di hadapan Bang Riegan.
"Lho.. Katanya suka." Kata Bang Riegan.
"Suka, tapi maunya di suapin." Pinta Phia dengan manja.
Bang Riegan menggeleng, tapi tak masalah baginya. Bang Riegan mengambil bubur itu sesendok lalu menyuapi Phia.
...
Bang Riegan hanya terdiam sesaat di ruang kerjanya. Pikirannya masih terfokus pada lempengan kalung perak itu, jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, seolah ada pukulan keras yang menyentaknya bangun, tapi ia segera memaksa hatinya untuk menguncinya rapat di dalam dada. Hanya tatapan mata yang terasa jauh, seolah pikirannya melayang ke tempat yang tak bisa dijangkau orang lain sekalipun Phia.
Ia menyentuh dadanya, mengingat akan detik demi detik perjalanan hidupnya.
Flashback Bang Riegan on..
"Katakan..!!! Saya anak siapa????"
"Sepenting itukah pertanyaanmu????" Balas pria yang selama ini merawat Bang Riegan dengan sepenuh hati.
"Iya, saya tidak pernah lupa kalau anda yang membesarkan saya. Tapi saya butuh tau.. Siapa orang tua kandung saya." Jawab Bang Riegan.
Pria tersebut masih diam. Ia nampak enggan menyatakan hal yang sejujurnya.
"Katakan, saya sudah sangat pantas mendengar apapun kenyataan dalam hidup saya." Ujar Bang Riegan
"Kamu.. Papa temukan di pematang sawah saat ada kegiatan bakti sosial, di daerah ujung utara. Kamu di letakan begitu saja dalam sebuah plastik dengan ari-ari belum terlepas dari pu*ar. Tidak tau siapa orang tuamu, mulai detik itu.. Kamu anak Papa, anak sulung Putra Da Era." Jawab Pak Putra.
Flashback Bang Riegan off..
"Walaupun saya tau siapa orang tua kandung saya, saya tidak akan pernah kembali pada mereka." Gumamnya pelan, matanya memerah menahan ribuan rasa sakit yang menyesakan dada.
.
.
.
.
lanjut mba Nara👍👍
Bang Jan...udah beri bang Hernad pencerahan tp knp jadinya kyk gini😄😄🤭
kocak ini ...lanjut mba Nara👍
lanjut mba nara🤭
semangat jg buat mba Nara👍