Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.
Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.
Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Viona terdiam menatap berita yang masih ditayangkan di televisi.
"Apa semua ini dilakukan Tuan Muda?" gumamnya pelan. "Kalau begitu, keluarga Jiang benar-benar menjadi bahan pembicaraan seluruh negeri. Nona Sanny juga pasti akan kesulitan menjalani operasi hati."
Viona menghela napas lirih.
"Tuan Muda benar-benar membalas mereka... meski begitu, Tuan Jiang tetap ayah kandungnya."
Sambil memegang segelas air, Viona masih larut dalam pikirannya. Ia sama sekali tidak menyadari Dylan telah masuk ke kamar dan berdiri tepat di belakangnya.
Saat berbalik, tubuhnya langsung menabrak dada Dylan.
"Ah!"
Air di dalam gelas tumpah dan membasahi bagian depan kemeja pria itu.
Wajah Viona langsung memucat.
"Ma-maaf, Tuan Muda! Aku benar-benar tidak melihat Anda."
Dylan menunduk menatap kemejanya yang basah, lalu mengangkat alis.
"Ini sudah kedua kalinya kau menyiramku," katanya datar. "Apa memang itu kebiasaanmu?"
Viona segera menggeleng kuat.
"Bukan! Aku benar-benar tidak tahu Anda berdiri di belakangku."
Tanpa berpikir panjang, Viona buru-buru berkata, "Aku akan mengambil handuk dan kemeja baru untuk Anda."
Baru saja ia hendak melangkah pergi, Dylan mengulurkan tangan dan menggenggam pergelangan tangannya, menghentikan langkahnya.
"Siapkan air hangat dan bantu aku mandi," perintah Dylan.
"Ha?" Viona membelalakkan mata, mengira dirinya salah dengar.
Dylan mengangkat sebelah alis.
"Kenapa reaksimu seperti itu?"
Viona menunduk gugup.
"Aku... aku tidak tahu cara memandikan orang dewasa."
Sudut bibir Dylan terangkat.
"Tidak tahu? Mudah saja. Lepaskan kemejaku, siramkan air hangat, beri sabun, lalu gosok punggungku."
Sambil berkata demikian, Dylan melangkah mendekat hingga Viona tanpa sadar mundur beberapa langkah.
Punggung Viona akhirnya menyentuh meja di belakangnya.
Dylan menopang kedua tangannya di atas meja, mengurung gadis itu di antara kedua lengannya. Tatapan mata mereka bertemu dari jarak yang sangat dekat.
"Kenapa?" tanyanya pelan. "Kau menolak?"
Viona menundukkan kepala, wajahnya memerah.
"Tuan Muda... kurasa tidak pantas jika aku yang memandikan Anda."
"Tidak pantas?"
Viona mengangguk pelan.
"Aku bisa memasak, membersihkan rumah, atau melakukan pekerjaan lain. Tapi... seorang gadis yang belum menikah memandikan pria dewasa... menurutku itu tidak pantas."
Dylan menatap wajah Viona beberapa saat.
Melihat gadis itu begitu gugup hingga jemarinya saling menggenggam erat, senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
"Ternyata dia benar-benar mudah panik," batinnya. "Benar-benar penakut."
Dylan kemudian menghela napas pelan dan mundur selangkah.
"Kalau begitu, siapkan saja air hangat untukku."
"Baik, Tuan Muda," jawab Viona sebelum segera melangkah keluar.
Dylan memandang punggung gadis itu yang terburu-buru meninggalkan kamar.
"Viona Lin... sudah cukup lama kau bekerja bersamaku, tapi kau masih saja menjaga jarak dan takut padaku," gumamnya sambil tersenyum tipis.
Beberapa saat kemudian, Viona mengisi air hangat ke dalam bathtub.
Dylan berdiri di ambang pintu kamar mandi sambil membuka kancing kemejanya satu per satu.
"Minggu depan aku menghadiri sebuah acara. Kau ikut denganku," ujar Dylan.
Viona menoleh ke arahnya.
"Tuan Muda, selama ini aku belum pernah menghadiri acara seperti itu."
"Tidak masalah," jawab Dylan singkat. "Kau hanya perlu menemaniku."
Setelah mengatakan itu, Dylan melepaskan kemejanya dan melangkah masuk ke kamar mandi.
Melihat atasannya mulai melepaskan pakaian, Viona buru-buru memalingkan wajahnya. Ia segera mematikan keran bathtub.
"A-Aku akan mengambilkan handuk dulu," ucapnya gugup sebelum cepat-cepat keluar dari kamar mandi.
Dylan hanya menatap kepergian Viona sambil menggeleng pelan.
"Dasar gadis pemalu," gumamnya, senyum tipis kembali terukir di sudut bibirnya.
***
Di kediaman keluarga Jiang.
Suasana di ruang tamu dipenuhi keheningan yang mencekam. Televisi masih menayangkan berita tentang skandal keluarga Jiang, sementara ponsel Delvin terus berdering tanpa henti.
Brak!
Delvin membanting remote televisi ke lantai hingga pecah berkeping-keping.
"Sialan!" raungnya dengan wajah memerah. "Siapa yang berani menyebarkan semua berita ini?"
Moly yang duduk di sofa tampak pucat. Tangannya gemetar saat membaca komentar-komentar di media sosial.
"Semua orang menghujatku..." gumamnya. "Mereka menyebutku perebut suami orang. Mereka juga menghina Sanny."
Air mata Moly mulai mengalir.
"Aku sudah menjadi istri sahmu, Delvin. Kenapa mereka masih memperlakukanku seperti ini? Dan lebih parahnya rumah sakit juga mengusir Sanny. Saat ini rumah sakit dalam negeri tidak ada yang bisa menerima anak kita. Lalu bagaimana dengan operasinya."
Delvin mengepalkan kedua tangannya hingga urat di punggung tangannya menonjol.
"Ini pasti ulah Dylan!" katanya geram. "Selain dia, tidak ada yang berani mempermalukan keluarga Jiang seperti ini."
Moly menatap Delvin dengan mata memerah.
"Perusahaan juga sedang kacau. Sejak berita ini muncul, banyak rekan bisnis membatalkan kerja sama. Harga saham terus turun. Kalau terus begini..."
"Diam!" bentak Delvin.
Moly langsung terdiam.
Delvin berjalan mondar-mandir dengan napas memburu. Selama puluhan tahun membangun nama keluarga Jiang, belum pernah sekali pun ia dipermalukan di depan publik seperti hari ini.
Saat itu, ponselnya kembali berdering.
Layar menunjukkan nama salah satu direksi perusahaan.
Begitu panggilan dijawab, suara panik langsung terdengar.
"Tuan Jiang! Para investor datang ke perusahaan. Mereka menuntut penjelasan dan meminta Anda segera mengadakan konferensi pers. Beberapa bank juga menghubungi kami. Mereka mempertimbangkan untuk menarik fasilitas pinjaman."
Wajah Delvin semakin gelap.
"Aku akan segera ke sana."
Tut.
Panggilan diputus.
Saat itu, ponsel Delvin kembali berdering.
Melihat nama sekretarisnya muncul di layar, ia segera mengangkat panggilan.
"Tuan, ada kabar baik," ujar sekretaris.
Delvin langsung berdiri.
"Kabar baik? Cepat katakan!"
"Ada sebuah perusahaan yang bersedia membeli seluruh saham keluarga Jiang."
Mata Delvin langsung berbinar.
"Apa? Ada yang mau membeli saham kita?"
"Iya, Tuan. Namun, mereka mengajukan dua syarat."
"Syarat apa?"
"Pertama, mereka hanya bersedia membeli dengan harga yang jauh di bawah harga pasar. Kedua, setelah transaksi selesai, mereka harus menjadi pemegang saham mayoritas dan mengambil alih kendali perusahaan."
Delvin langsung terdiam.
Sekretaris melanjutkan, "Tuan, jika kita tidak segera menjual saham, perusahaan akan kesulitan membayar utang yang jatuh tempo. Jika sampai perusahaan dinyatakan gagal bayar, nilai saham kita bisa anjlok hingga nyaris tidak bernilai."
Delvin mengepalkan tangannya.
"Mereka ingin menjadi pemegang saham mayoritas..." gumamnya.
Moly yang berada di sampingnya langsung bertanya, "Delvin, siapa yang ingin membeli perusahaan kita?"
Delvin menggeleng.
"Aku tidak tahu. Mereka menyembunyikan identitasnya. Yang kutahu, setelah mengambil alih perusahaan, mereka akan menyuntikkan dana dalam jumlah besar untuk menyelamatkan perusahaan."
Wajah Moly dipenuhi kekhawatiran.
"Kalau begitu, bukankah perusahaan ini akan sepenuhnya jatuh ke tangan orang lain?"
Delvin menghela napas panjang.
"Tapi kita sudah tidak punya pilihan."
Beberapa detik kemudian, Delvin mengangkat ponselnya lagi.
"Alun," katanya tegas, "hubungi pihak itu. Aku setuju menjual seluruh sahamku dengan syarat mereka benar-benar menyuntikkan dana dan mempertahankan perusahaan Jiang."
"Baik, Tuan. Saya akan segera menghubungi mereka."
Setelah panggilan berakhir, Delvin menatap keluar jendela dengan sorot mata yang suram.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa orang yang akan mengambil alih seluruh perusahaan Jiang adalah putranya sendiri... Dylan Jiang.