Di tengah kehidupan yang penuh hinaan dan kesulitan, Xiao Chen kecil hanya memiliki satu mimpi—menjadi pendekar pedang terhebat di dunia.
Tanpa bakat luar biasa maupun latar belakang kuat, ia menapaki jalan pedang dengan tekad yang tak pernah padam. Bagi Xiao Chen, pedang bukan sekadar senjata, melainkan guru yang mengajarkannya tentang rasa sakit, pengorbanan, dan arti kehidupan.
Namun di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mampukah seorang anak dari keluarga buruk mengukir namanya hingga mengguncang langit dan bumi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Keputusasaan
Dunia seakan melambat di mata Xiao Chen. Punggung Gu Tian terkoyak hebat, menyisakan luka menganga yang mengerikan akibat tebasan brutal Yan Shou.
Darah segar menyembur deras, membasahi tanah lumpur dan menciprati wajah Qian'er yang memucat.
"Gu Tian! Bertahanlah! Kumohon jangan tutup matamu!"
Qian'er menjerit panik, suaranya pecah di tengah kegelapan yang mencekam. Dengan jemari yang gemetar hebat, ia mati-matian menancapkan beberapa jarum medis ke titik saraf Gu Tian dan menaburkan seluruh bubuk penghenti darah yang tersisa. Namun, cairan merah itu tetap merembes keluar seolah tak terbendung.
Gu Tian ambruk, jatuh bertumpu pada kedua lututnya. Napasnya tersengal-sengal dan kacau, meninggalkan jejak uap tipis di udara dingin.
Sret... Sret...
Beberapa meter di depan mereka, Yan Shou berjalan keluar dari kegelapan kabut. Ia mengangkat bilah belatinya, lalu menjilat darah Gu Tian yang menempel di sana dengan ekspresi penuh kepuasan.
Setelah melepaskan segel tato tengkorak merah di lengannya, aura pembunuh yang menguar dari tubuhnya berlipat ganda, menekan atmosfer hingga terasa begitu berat dan mencekik paru-paru.
Di sudut lain, Bao Hu mencoba bangkit kembali meski luka tusukan di perutnya teramat dalam. Sambil memuntahkan segumpal darah, ia menyeret langkahnya, berdiri kokoh di depan Xiao Chen dan Qian'er.
Tubuh tambunnya bergetar menahan sakit, namun tatapan matanya terkunci pada Yan Shou, menjadikan dirinya sebagai benteng pertahanan terakhir.
Sementara itu, Lin Hao dan satu-satunya anggota timnya yang tersisa telah kehilangan seluruh semangat bertarung. Senjata mereka terlepas dari genggaman. Menyaksikan jurang kekuatan yang terlampau masif, mereka hanya bisa gemetar ketakutan di atas tanah.
Yan Shou terus melangkah pelan, memainkan belatinya yang berputar di sela-sela jari. "Perlawanan kalian benar-benar sia-sia, Tikus-Tikus Kecil. Di hadapan kekuatan mutlak, perjuangan kalian hanyalah sebuah lelucon."
Xiao Chen menggertakkan gigi begitu keras hingga berdarah. Air mata kemarahan dan keputusasaan menggenang di pelupuk matanya.
Pikirannya buntu. Di tengah kepungan maut ini, ia tahu tidak ada jalan keluar. Satu-satunya pilihan yang tersisa adalah menyerahkan tubuhnya pada kekuatan gelap yang Ia miliki.
"Muncullah! Ambil tubuhku! Berikan aku kekuatan!" Xiao Chen berteriak di dalam hatinya, memanggil entitas di dalam pergelangan tangannya. "Pedang Iblis Surgawi... MUNCULLAH!"
Namun, keheningan total menyambutnya. Tidak ada kabut hitam, tidak ada simbol yang menyala.
Pedang itu tetap bergeming di dalam jiwanya, seolah-olah sedang mempermainkan keputusasaannya.
Yan Shou yang melihat Xiao Chen berteriak pada kekosongan terkekeh geli. "Haha! Apa ketakutan sudah membuat otakmu rusak, Bocah?"
Dalam sekejap mata, Yan Shou mengambil ancang-ancang rendah, lalu tubuhnya menghilang dari pandangan. Mata Xiao Chen membelalak, berusaha menangkap pergerakan musuh.
SRET! SRET!
Suara robekan kain dan daging terdengar beruntun. Di belakang posisi Xiao Chen, Lin Hao dan rekannya tiba-tiba menjerit kesakitan saat bahu mereka tersayat dalam.
Yan Shou tidak langsung membunuh mereka, ia sengaja bergerak secepat kilat hanya untuk mempermainkan, menyiksa mental, dan menguliti kewarasan mereka satu per satu.
Sebelum Xiao Chen sempat berbalik, Yan Shou tiba-tiba sudah bermanifestasi tepat di depannya. Bilah belati yang dingin melesat secepat kilat, melakukan tusukan lurus yang mengincar mata Xiao Chen.
Menggunakan insting murninya, Xiao Chen melempar kepalanya ke bawah untuk menunduk. Namun, Yan Shou sudah memprediksi gerakan itu. Sebuah tendangan lutut yang dilapisi Qi hitam menghantam dada Xiao Chen dengan telak.
BOOM!
Tubuh Xiao Chen terlempar jauh, berguling-guling di atas tanah berbatu sebelum akhirnya—
BRUUK!
Punggungnya menghantam batang pohon raksasa dengan keras. Xiao Chen batuk darah, dadanya terasa remuk, dan seluruh tulang di tubuhnya menjeritkan rasa sakit yang tak terperikan. Penglihatannya mulai mengabur.
"K-Kakek... Roh..." bisik Xiao Chen dalam hati, suaranya parau dan penuh keputusasaan. "Tolong aku..."
Hening. Tetap tidak ada jawaban dari ruang kesadarannya. Rasa putus asa yang teramat pekat mulai menenggelamkan jiwanya. Ia merasa benar-benar sendirian, tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk menyelamatkan teman-temannya.
Yan Shou berjalan mendekati pusat reruntuhan sambil tertawa puas. Tatapannya beralih dari Xiao Chen ke arah Qian'er yang sedang mendekap tubuh Gu Tian, lalu ke arah Bao Hu yang sudah kepayahan.
"Karena target utama dari pesanan ini adalah kau, Xiao Chen... aku memutuskan untuk membunuh semua teman-temanmu terlebih dahulu di depan matamu. Aku ingin melihat ekspresi hancur seperti apa yang akan kau tunjukkan sebelum kepalamu sendiri kupenggal."
Mendengar kata-kata itu, sepasang mata Xiao Chen yang mulai meredup seketika melotot lebar. Karena Xiao Chen? Jadi seluruh pembantaian ini terjadi karena dirinya diincar? Rasa bersalah yang teramat besar menghantam dadanya, bercampur aduk dengan amarah yang membakar.
Saat Yan Shou melangkah pelan mendekati Qian'er dan Gu Tian yang tak berdaya, Xiao Chen menggigit bibir bawahnya sendiri hingga robek dan mengucurkan darah. Rasa sakit fisik itu ia gunakan untuk memaksa kesadarannya tetap terjaga.
"Jangan... JANGAN SENTUH MEREKA!"
Xiao Chen berteriak dengan sisa kekuatannya. Ia bangkit berdiri dengan tumpuan kaki yang gemetar hebat. Tanpa kekuatan Pedang Iblis Surgawi, tanpa arahan dari Roh Pedang, ia benar-benar hanya mengandalkan tubuh manusianya yang lemah.
Tik... Tik... Tik...
Tepat pada momen itu, langit Lembah Seribu Roh yang kelam mulai menumpahkan rintik hujan. Setetes demi setetes air dingin membasahi wajah dan luka-luka Xiao Chen.
Dengan langkah yang sempoyongan namun sarat akan tekad, Xiao Chen mulai berlari maju menuju arah Yan Shou.
Yan Shou melirik ke belakang, menyeringai licik saat melihat tatapan putus asa namun penuh amarah dari Xiao Chen. Sengaja ingin menghancurkan mental bocah itu, Yan Shou justru berbalik dengan cepat dan melesat ke arah Lin Hao yang sedang terpuruk.
"Tonton ini dengan baik, Bocah!" Teriak Yan Shou sambil mengayunkan belatinya ke leher Lin Hao.
SRET!
Tepat saat ajal menjemput Lin Hao, rekan satu timnya mengerahkan sisa tenaga terakhir untuk mendorong tubuh Lin Hao ke samping. Alhasil, bilah belati Yan Shou tertancap dalam, menembus lurus leher rekan Lin Hao tersebut.
"Akh... ukh..." Darah segar menyembur dari tenggorokan murid itu.
Mata Xiao Chen, Bao Hu, dan Qian'er membelalak sempurna menyaksikan pemandangan mengerikan itu. Tubuh murid itu ambruk secara perlahan ke atas tanah lumpur, kehilangan nyawanya demi menyelamatkan sang ketua tim.
Lin Hao yang terduduk di tanah membeku, air matanya menetes deras menatap tubuh rekannya yang tak lagi bernyawa. "Tidak... tidak... KUMOHON TIDAK!"