Di dunia di mana batas tertinggi manusia hanyalah Saint Rank, Sander Duster—putra ketiga keluarga militer terkuat di Elegrand Kingdom—dianggap gagal karena tidak memiliki bakat Life Energy seperti para ksatria lain. Namun takdirnya berubah saat ia menyelamatkan seekor kucing hitam misterius di tengah badai salju.
Kucing itu ternyata adalah Behemoth, salah satu Legendary Beast pemegang Hukum Devouring yang hampir memusnahkan dunia di masa lalu.
Melalui ikatan Soul Resonance yang tak disengaja, Sander perlahan memperoleh kekuatan fisik abnormal yang melampaui logika manusia biasa. Di balik kehidupan akademi, intrik politik bangsawan, ancaman perang antar kerajaan, dan kebangkitan monster legendaris mulai mengguncang dunia.
Saat semua orang memperebutkan kekuasaan, Sander justru berjalan menuju sesuatu yang belum pernah dicapai siapa pun dalam sejarah—
God Rank, ranah sang Dewa Perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Malam yang Panjang
Hawa dingin malam hari mulai merayap turun menyelimuti kompleks Elegrand Royal Academy, membawa keheningan yang jauh berbeda jika dibandingkan dengan keriuhan siang tadi. Di salah satu sudut lapangan latihan belakang yang sepi dan hanya diterangi oleh pendaran obor sihir temaram, Sander Duster berdiri sendirian di tengah area marmer. Pemuda berusia empat belas tahun itu masih mengenakan pakaian latihan kainnya, menggenggam gagang pedang besi latihan dengan kedua tangannya yang kini tampak dipenuhi sisa memar kebiruan akibat hantaman api kegelapan Damian.
Sander mengembuskan napas panjang, membiarkan udara malam yang dingin mengisi paru-parunya. Ia kembali mengangkat pedang besinya tinggi-tinggi di atas kepala, lalu mengayunkannya ke bawah dalam sebuah tebasan vertikal lurus yang kuat. Suara deru angin murni tercipta dari tebasan tersebut, namun tidak ada setetes pun pendaran aura yang menyertainya. Ia mengulangi gerakan itu berkali-kali, mengabaikan rasa perih yang mulai menjalar kembali di otot-otot lengannya akibat kelelahan fisik murni yang dipaksakan sepanjang malam.
Rasa frustrasi akibat kekalahan pertamanya siang tadi masih membekas samar di sudut hatinya, memicu sebuah dorongan batin yang memaksanya untuk terus bergerak dan mencari batasan dari tubuh fisiknya sendiri. Di atas sebuah kotak kayu di tepi lapangan, Behemoth duduk diam dengan sepasang mata emasnya yang menyala redup dalam kegelapan malam, mengamati setiap ritme ayunan pedang partner manusianya dengan tatapan yang sulit ditebak.
"Kau terlalu memaksakan struktur ototmu, Sander. Berlatih dengan cara beringas seperti itu setelah terkena dampak elemental siang tadi hanya akan merusak fondasi fisik murni yang sudah kita bangun," sebuah suara merdu dan jernih tiba-tiba memecah keheningan lapangan belakang.
Sander menghentikan ayunan pedangnya secara refleks, menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Elena Aurelius sedang melangkah mendekat dari arah koridor taman. Putri Pertama kerajaan itu tidak lagi mengenakan pakaian formal, melainkan pakaian praktis kain wol yang santai. Di tangan kanannya, ia membawa sebuah botol kecil berisi ramuan herbal pemulih luka.
Elena berjalan mendekati Sander, memberikan seulas senyuman hangat yang laksana seberkas cahaya matahari di tengah malam yang dingin. Ia menyodorkan botol ramuan tersebut tepat di hadapan Sander. "Gunakan ini untuk mengolesi sisa memar di lenganmu. Aku sengaja meminta ramuan pemulih terbaik dari tabib istana sebelum datang ke sini."
Sander menerima botol tersebut dengan sedikit ragu, lalu menundukkan kepalanya secara sopan. "Terima kasih, Elena. Kau tidak perlu repot-repot melakukan hal ini untukku."
"Keluarga kita adalah pilar kerajaan, Sander, dan mengkhawatirkan kondisi temanku bukanlah sebuah kerepotan," ucap Elena dengan nada suara yang penuh kejujuran, langsung mengambil posisi duduk di atas bangku batu di tepi lapangan tanpa memedulikan debu malam.
Sebelum Sander sempat memberikan tanggapan lebih lanjut, derap langkah kaki yang halus dan ritmis kembali terdengar dari arah jalur setapak taman. Sesosok gadis dengan rambut perak panjang berjalan mendekat dengan langkah yang agak ragu dan gugup. Di kedua tangannya, ia membawa sebuah nampan kayu berisi beberapa cangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap wangi.
Gadis itu adalah Sylvia Frost. Begitu melihat keberadaan Elena dan Sander, wajah cantiknya sempat memerah karena malu, namun ia tetap memaksakan dirinya untuk melangkah maju mendekati mereka.
"Maaf... saya tidak bermaksud mengganggu latihan Anda, Sander," bisik Sylvia dengan nada suara yang pelan dan sangat lembut. Ia meletakkan nampan teh tersebut di atas meja batu kecil di dekat bangku Elena. "Saya hanya berpikir bahwa udara malam di wilayah tengah ini terasa cukup lembap untuk ukuran anak Utara, jadi saya menyeduh teh herbal penghangat tubuh khas klan Frost untuk membantu memulihkan energi Anda."
Sander memberikan sebuah anggukan kepala yang hangat kepada Sylvia, merasakan ketulusan yang luar biasa dari gadis bermata es tersebut. "Terima kasih banyak, Sylvia. Teh ini sangat berarti bagiku malam ini."
"Wah, aroma teh ini benar-benar harum, Sylvia! Kau memang sangat telaten," puji Elena sembari langsung mengambil salah satu cangkir porselen tersebut dengan wajah gembira, membuat rasa gugup di hati Sylvia seketika mencair sepenuhnya.
"Kalian bertiga ternyata berkumpul di tempat terpencil seperti ini tanpa mengajakku? Sungguh sebuah kombinasi kelompok yang sangat tidak adil bagi seorang pengamat sepertiku," sebuah suara tenang dan halus yang sarat akan nada jenaka mendadak terdengar dari arah bayangan pilar menara latihan.
Gideon Valentine melangkah keluar dari kegelapan koridor dengan kedua tangan dimasukkan santai ke dalam saku jubah abu-abunya. Pemuda berambut perak itu berjalan mendekati meja batu, sepasang mata hijau zamrudnya melirik ke arah nampan teh sebelum beralih menatap Sander dengan senyuman tipis yang sangat bersahabat.
"Aku baru saja menyelesaikan urusan administrasi tambahan di asrama barat ketika mencium aroma teh herbal yang luar biasa ini," ucap Gideon sembari mengambil posisi berdiri di samping meja batu. Ia menatap pedang besi besar yang masih dipegang Sander, lalu menghela napas pelan. "Kekalahan siang tadi dari Damian tidak didefinisikan oleh kelemahan fisikmu, Sander. Aku bisa melihat bahwa kau memiliki kerapatan tubuh yang jauh melampaui kami semua. Kau hanya kekurangan metode pertahanan elemental tradisional untuk menahan sisa riak sihir api kegelapannya."
Sander menurunkan pedang besinya, meletakkannya bersandar di dinding pilar batu, lalu berjalan mendekati ketiga temannya. Ia menerima cangkir teh hangat yang disodorkan oleh Sylvia, merasakan kehangatan cairan dari porselen tersebut merambat perlahan ke telapak tangannya yang memar.
Di bawah temaram lampu minyak dan kilauan bulan purnama malam itu, untuk pertama kalinya sejak mereka menginjakkan kaki di Elegrand Royal Academy, sebuah ikatan persahabatan yang murni dan tanpa sekat politik mulai terbentuk secara alami di antara mereka berempat. Putri kerajaan yang hangat, pewaris dataran barat yang cerdas, gadis perbatasan utara yang pendiam, dan anak Grand Duke yang dinilai gagal menggunakan Life Energy tradisional kini duduk berkumpul bersama dalam sebuah harmoni yang sangat kontras.
Behemoth yang sejak tadi duduk diam di atas kotak kayu perlahan membuka sepasang mata emasnya. Kucing hitam itu menatap interaksi keempat remaja tersebut dalam keheningan malam yang panjang. Meskipun di dalam batinnya ia sering menggerutu mengenai betapa merepotkannya makhluk fana berumur belasan tahun, sepasang mata emas sang penguasa kuno memancarkan pendaran kilatan yang sangat mendalam. Melalui ikatan batin Resonansi Jiwa, Behemoth menyerap setiap sisa kekhawatiran dan tekad Sander, menyadari bahwa kelompok kecil yang berkumpul di sekeliling partner manusianya malam ini adalah awal dari berkumpulnya jiwa-jiwa yang kelak akan mengguncang jalannya sejarah dunia Aetheria bersama mereka di masa depan.
folback aku yah ehehe