NovelToon NovelToon
Lencana Cinta Sang Kapten

Lencana Cinta Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Militer
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Embun dan genggaman yang menguat

Subuh di pondok selalu punya aroma yang khas: perpaduan antara tanah basah, sisa-sisa wangi dupa yang samar, dan suara lantunan ayat suci yang mengalir dari pengeras suara masjid. Di dalam kamar masa kecilnya yang sempit, Adeeva terbangun lebih dulu.

Ia merasakan kehangatan yang asing namun mulai ia kenali. Lengan kekar Shaheer melingkar di pinggangnya, seolah-olah dalam tidurnya pun pria itu takut kehilangan dirinya. Adeeva menatap wajah suaminya dari jarak yang begitu dekat. Ia belum bisa mengatakan bahwa ia mencintai Shaheer dengan ledakan emosi yang membara, namun ia tidak bisa memungkiri bahwa kehadiran Shaheer telah menjadi oksigen yang ia butuhkan untuk bernapas di tengah tekanan keluarganya sendiri.

Adeeva bergeser pelan, mencoba tidak membangunkan sang Kapten. Namun, kewaspadaan seorang prajurit tidak pernah benar-benar tidur. Mata Shaheer terbuka, menatap Adeeva dengan sorot yang lembut namun dalam.

"Pagi, Deeva," bisik Shaheer. Suaranya serak, mengirimkan getaran aneh ke dada Adeeva.

"Subuh, Kapten. Nanti Abi marah kalau menantunya telat ke masjid," jawab Adeeva dengan nada menggoda, meski ia sendiri merasa canggung dengan kedekatan mereka.

Shaheer menarik napas panjang, lalu mengecup dahi Adeeva singkat sebelum melepaskan dekapannya. "Aku akan ke masjid. Kamu shalat dengan Umi di rumah?"

Adeeva mengangguk. Saat Shaheer bangkit dan merapikan baju koko yang dipinjamkan Abi, Adeeva memperhatikannya dari balik selimut. Ia mulai menerima kenyataan bahwa hidupnya kini terikat pada pria ini. Bukan lagi sebagai beban, tapi sebagai bagian dari dirinya yang mulai ia izinkan masuk ke ruang-ruang paling pribadinya.

Setelah shalat subuh berjamaah, Shaheer tidak langsung kembali ke rumah. Ia duduk di serambi masjid bersama Abi, terlibat dalam percakapan yang tampak sangat serius namun tenang. Dari jendela ruang tengah, Adeeva memperhatikan mereka.

"Abi sepertinya sangat menyukai suamimu," ujar Umi yang tiba-tiba muncul di samping Adeeva sambil membawa nampan berisi teh.

"Shaheer memang punya cara untuk menjinakkan orang-orang galak, Mi," canda Adeeva, meski hatinya berdesir melihat keakraban dua pria yang paling berpengaruh dalam hidupnya itu.

"Bukan menjinakkan, Deeva. Dia menghargai. Itu bedanya," koreksi Umi lembut. "Dia tidak pernah memaksa Abi setuju, dia hanya memberikan alasan kenapa Abi harus percaya. Sama seperti dia memperlakukanmu, bukan?"

Adeeva terdiam. Kata-kata Umi menghantam tepat di ulu hatinya. Benar, Shaheer tidak pernah memaksanya untuk menjadi istri yang sempurna. Shaheer memberikan ruang baginya untuk tetap menjadi Adeeva yang berontak, sembari pelan-pelan menjaganya agar tidak jatuh.

Saat matahari mulai naik, mereka bersiap untuk kembali ke asrama. Di depan teras, Abi berdiri dengan tangan di belakang punggung. Suasana tidak lagi sebeku kemarin.

"Bawa ini untuk di asrama," Abi menyerahkan sebuah bungkusan berisi kitab klasik dan beberapa cemilan khas pondok. Matanya tertuju pada Adeeva. "Jaga dirimu baik-baik di sana. Jangan buat suamimu pusing dengan kelakuanmu."

Adeeva menunduk, namun kali ini ia tidak merasa ingin membangkang. "Iya, Bah. Adeeva akan mencoba."

Shaheer menyalami Abi dengan takzim. "Terima kasih atas izin dan kepercayaannya, Kyai. Mengenai Adiba, saya akan terus memantau perkembangannya di Mesir."

Saat mobil mulai bergerak meninggalkan gerbang Al-Arjun, Adeeva menoleh ke belakang, menatap bangunan pondok yang perlahan mengecil. Ia merasa sebagian dari beban masa lalunya tertinggal di sana.

Di dalam mobil, Shaheer kembali meraih tangan Adeeva, mengaitkan jemari mereka di atas tuas transmisi. Adeeva tidak menarik tangannya. Ia justru membalas genggaman itu, menyandarkan kepalanya di bahu Shaheer saat mobil melaju menuju kehidupan mereka di asrama.

"Shaheer," panggil Adeeva pelan.

"Ya?"

"Aku mungkin belum bisa jadi seperti Kak Adiba, atau seperti istri perwira idaman Ibumu..."

Shaheer meliriknya sekilas, lalu kembali fokus ke jalan. "Aku sudah bilang berkali-kali, aku tidak butuh Adiba di rumahku. Aku butuh kamu. Dan selama kamu masih mau duduk di sampingku seperti ini, itu sudah lebih dari cukup."

Adeeva tersenyum tipis. Ia belum mencintai sepenuhnya, tapi ia tahu, di sisi Shaheer, ia telah menemukan tempat di mana ia tidak perlu lagi bersembunyi.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Fauziah Rahma
👍
Ana
lbjut
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍😍😍
Ana
lnjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!