Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AMBANG FAJAR
Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah gorden kamar Clarissa, memantul pada butiran tasbih biru yang melingkar di jemarinya. Hari ini adalah hari penentuan. Setelah seminggu dalam isolasi mandiri yang sunyi, Clarissa akan kembali ke rumah sakit untuk memeriksa kadar trombositnya. Jika hasilnya bagus, gerbang kampus kembali terbuka untuknya. Jika tidak, ia harus kembali bersahabat dengan ranjang rumah sakit yang dingin.
"Bismillah," bisiknya sambil merapikan jilbab instan berwarna abu-abu muda.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Pipinya mulai sedikit berisi, memberikan kesan lebih segar meski guratan lelah akibat kemoterapi belum sepenuhnya hilang. Namun, sorot matanya kini berbeda; tidak ada lagi api kebencian, melainkan ketenangan yang dalam.
Di dalam mobil, suasana terasa hangat. Bastian menyetir dengan santai, sementara Pak Gunawan duduk di sampingnya, sesekali memeriksa jadwal kerja di tabletnya namun segera meletakkannya saat Clarissa batuk kecil.
"Papa batalkan meeting siang ini," ujar Pak Gunawan tiba-tiba. "Papa mau tunggu hasilnya sampai keluar."
Clarissa tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu sang Ayah. "Pa, Clarissa nggak apa-apa. Papa kerja saja."
"Pekerjaan Papa nggak akan lari, Clar. Tapi kesehatan kamu adalah prioritas yang dulu sering Papa abaikan. Papa nggak mau mengulangi kesalahan yang sama," jawab Pak Gunawan sambil menggenggam tangan putrinya.
Sesampainya di rumah sakit, aroma antiseptik kembali menyambut. Dulu, Clarissa benci aroma ini. Baginya, itu adalah aroma kematian. Sekarang, ia melihatnya sebagai aroma perjuangan. Di ruang tunggu, ia melihat banyak pasien lain anak-anak kecil yang botak, orang tua yang dipapah dan hatinya kini dipenuhi empati, bukan lagi rasa jijik.
Dr. Kusuma keluar dari ruang laboratorium dengan wajah yang tenang. Ia mempersilakan keluarga Mahendra masuk. Di atas meja, terdapat selembar kertas yang akan menentukan nasib Clarissa seminggu ke depan.
"Trombositmu naik signifikan, Clarissa," dr. Kusuma tersenyum lebar. "Angkanya sudah di batas aman. Tubuhmu merespons pengobatan dan istirahatmu dengan sangat baik."
Clarissa mengembuskan napas lega yang panjang. Bastian langsung berseru "Yes!" sambil meninju udara, sementara Pak Gunawan berkali-kali mengucapkan syukur.
"Tapi ingat," lanjut dokter, "kamu tetap tidak boleh terlalu lelah. Dan Clarissa... aku melihatmu memakai jilbab sekarang. Itu pilihan yang bagus untuk menjaga kebersihan area kepala pasca-kemoterapi, dan jujur saja, itu memancarkan ketenangan yang membantu proses penyembuhanmu."
Clarissa mengangguk mantap. "Terima kasih, Dok. Bukan cuma untuk medisnya, tapi juga dukungannya."
Setelah keluar dari rumah sakit, Clarissa segera mengirim pesan pada Adrian. Tak butuh waktu lama, Adrian membalas dengan antusias. Sesuai janji, mereka bertemu di Masjid Kampus Universitas Nusantara pada jam salat Asar.
Ini adalah pertama kalinya Clarissa menginjakkan kaki di masjid kampus. Dulu, ia selalu melewati tempat ini dengan pandangan meremehkan, menganggap orang-orang yang masuk ke sana adalah orang-orang yang "kurang kerjaan". Sekarang, ia merasa seperti pulang ke rumah.
Ia melihat Adrian berdiri di dekat tangga masjid, mengenakan kemeja koko putih yang rapi. Adrian terpaku sejenak melihat Clarissa.
"Hasilnya bagus?" tanya Adrian saat Clarissa sudah berdiri di depannya.
"Alhamdulillah. Gue boleh masuk kampus lagi besok," jawab Clarissa ceria.
"Alhamdulillah," Adrian mengusap wajahnya dengan tangan sebagai tanda syukur. "Yuk, kita masuk. Kajian sore ini temanya tentang 'Ikhlas dalam Ujian'. Gue rasa ini pas banget buat kita berdua."
Di dalam masjid, Clarissa duduk di barisan wanita (saf mukminat), terpisah dari Adrian namun tetap dalam jangkauan pandang. Ia mendengarkan setiap kalimat dari ustadz yang berbicara. Tentang bagaimana setiap rasa sakit adalah penggugur dosa, dan bagaimana setiap perubahan menuju kebaikan akan selalu diuji.
Air mata Clarissa mengalir tanpa bisa dibendung. Ia merasa setiap kata itu ditujukan untuknya. Ia teringat masa-masanya saat masih mem-bully Maya, saat ia memuja kecantikan fisiknya, dan betapa kosong hatinya saat itu.
Usai kajian, saat Clarissa sedang memakai sepatunya di teras masjid, Bianca muncul. Mantan sahabatnya itu tampak ragu-ragu.
"Clar," panggil Bianca.
Clarissa berdiri dan tersenyum. "Eh, Bianca. Kenapa, Bi?"
"Gue... gue denger dari Bastian hasil tes lo bagus. Gue seneng banget," Bianca menunduk, memainkan jemarinya. "Gue mau minta maaf, Clar. Soal ucapan gue tempo hari tentang jilbab lo. Gue cuma... gue kaget dan gue takut kehilangan lo sebagai temen 'gaul' gue. Tapi setelah gue pikir-pikir, gue lebih takut kehilangan lo sebagai manusia."
Clarissa memeluk Bianca erat. "Gue nggak marah, Bi. Gue paham. Lo mau temenin gue beli buku agama besok?"
Bianca mendongak, matanya berbinar. "Serius? Boleh! Tapi ajarin gue pakai jilbab yang simpel kayak yang lo pakai itu ya? Gue ngerasa lo kelihatan lebih... adem."
Sore itu ditutup dengan Clarissa dan Adrian berjalan pelan di sepanjang koridor kampus yang mulai sepi. Cahaya senja (maghrib) mulai membayang, menciptakan siluet yang indah.
"Dri," panggil Clarissa.
"Ya?"
"Makasih ya. Kalau bukan karena lo yang narik gue ke sini, mungkin gue masih ngerasa kalau hidup gue ini cuma soal bertahan hidup dari kanker. Sekarang gue ngerasa hidup gue punya tujuan yang lebih besar."
Adrian menatap Clarissa dengan penuh kagum. "Tujuan apa itu?"
"Jadi bukti kalau seburuk apa pun masa lalu seseorang, dia tetap punya hak buat punya masa depan yang bercahaya."
Adrian tersenyum. Ia merasa Clarissa yang sekarang jauh lebih kuat daripada Clarissa yang dulu. Mahkotanya kini bukan lagi stiletto merah atau gincu mahal, melainkan kain jilbab yang melambangkan harga diri dan keteguhan hatinya.