Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Tara mengembuskan napas berat. Dia merasa gugup sekali. Padahal ini bukan pertama kalinya dia bertemu dengan orang tua David. Dulu, saat mereka berpacaran, tak terhitung David mengajaknya ke sini. Tapi kali ini, David ingin menyatakan keseriusannya di hadapan kedua orang tuanya dengan membawa Tara ikut serta.
Tara mengerjap pelan saat David menggenggam tangannya lembut sambil menatapnya.
“Apa kita kembali aja?” David menatap lembut.
Tara menatap David lalu ke depan. Mereka sudah sampai di depan rumah David, tapi keduanya tak kunjung turun juga dari mobil. Sudah lima belas menit, mereka berada di dalam mobil. David memberi Tara waktu karena raut wajah Tara terlihat gugup sekali.
Tara menggeleng. Menghela napas panjang, dia mengangguk. “Ayo turun,” ajaknya.
David mengangguk. Melepas genggaman tangannya dan membuka pintu mobil. David turun mengitari depan mobilnya dan membukakan pintu untuk Tara.
“Terima kasih,” ucap Tara tersenyum sambil melangkah keluar.
“Sama-sama, Sayang.”
David menggenggam tangan Tara lagi dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Rumah tampak sepi. Tapi Tara yakin jika kedua orang tua David ada di dalam. Tak mungkin kan, David mengajaknya ke sini jika orang tuanya sedang tak ada di rumah?
David mempersilakan Tara untuk duduk di ruang tamu. Sementara dia melangkah ke dalam untuk memanggil kedua orang tuanya.
Tara memilin jari-jarinya. Matanya menunduk. Beberapa kali menghela napas panjang untuk menormalkan detak jantungnya yang berdebar.
Tak lama kemudian, dua pasangan paruh baya masuk ke ruang tamu dengan tersenyum sumringah.
“Tara.” Lia langsung mendekati Tara. Tara sontak berdiri dan tersenyum canggung. Lia langsung memeluknya.
“Kamu apa kabar, Nak?” tanya Lia seraya melepas pelukannya.
“Aku baik, Bu. Ibu bagaimana kabarnya?” Tara tersenyum ramah sambil mencium punggung tangan Lia. Rasa gugupnya sirna setelah Ibunya David itu menyambutnya ramah.
“Ibu baik.”
Tara mengangguk. Tara beralih ke Bram dan melangkah mendekat. Dia mencium punggung tangan Bram. “Bapak apa kabar?” Tara menyapa ramah.
Bram tersenyum, “Bapak baik, Nak. Ayo duduk kembali.”
Tara mengangguk dan duduk di sofanya lagi. Lia duduk di samping Tara, sementara Bram ada di depan Lia. David muncul dari dalam membawa penampan berisi minuman untuk keempat orang yang kini ada di ruang tamu.
“Kok pakai dibuatin air minum segala sih, Vid?” Tara menatap David.
David tersenyum. “Biar enak ngobrolnya.”
Tara ikut tersenyum. “Terima kasih.”
David mengangguk dan duduk di sebelah Tara. Sofa yang diduduki Tara memang sofa panjang, sehingga bisa muat untuk tiga sampai empat orang. Kini Tara diapit oleh Lia dan David.
“Tara sekarang kerja dimana?” Lia memandang Tara.
Sekian tahun tak bertemu, membuat Lia sedikit pangling dengan wajah Tara yang semakin cantik dan dewasa. Pantas saja putra sulungnya itu sangat tergila-gila pada wanita satu ini.
“Di salah satu perusahaan iklan, Bu,” jawab Tara.
Lia mengangguk. “Kamu semakin cantik, Ra. Ibu sempat pangling tadi.”
Tara tersipu malu. “Terima kasih, Bu atas pujiannya.”
“Ibu serius, Tara. Kamu sungguh cantik. Pantas saja David susah berpaling.”
Tara sontak menoleh pada David begitupun David yang sedari tadi memang menatap Tara. David juga mengakui, semakin Tara dewasa, wajahnya semakin cantik mempesona.
“Itulah sebabnya, Bu, Pak, aku bawa Tara kesini. Aku dan Tara berencana untuk menikah,” ucap David setelah dirasa cukup untuk berbasa basi.
Lia dan Bram saling pandang. Sudah mengerti apa tujuan David mengajak Tara ke rumah mereka. Mereka sudah menduganya saat David mengatakan akan membawa Tara kesini.
“Kalian sudah sama-sama dewasa. Sudah bukan jamannya lagi kalian pacar-pacaran. Kalian kan udah pernah pacaran saat sekolah dulu. Jika kalian memang saling mencintai dan ingin bersama, ada baiknya niat kalian di segerakan biar kalian nggak kebablasan,” ujar Bram menatap David dan Tara bergantian.
“Iya. Ibu juga setuju, Nak. Jika kalian serius, maka Ibu dan Bapak akan datang ke rumah Tara untuk melamarnya.”
“Tapi ada satu hal yang harus Ibu dan Bapak tahu tentang status Tara,” ucap David melirik Tara.
Tara tersenyum dan mengangguk. Tara ingin orang tua David mengetahui statusnya agar tak jadi masalah ke depannya.
Lia mengernyit. “Apa itu, Vid?”
“Tara sudah pernah menikah, Bu.”
Lia tersentak. Begitu juga Bram. Lia dan Bram saling pandang. Mereka tak mengetahui hal ini. Tara tersenyum lirih saat melihat raut wajah kedua orang tua David yang terkejut.
“Aku memang pernah menikah, Bu. Tapi aku sudah bercerai satu tahun lalu,” ujar Tara menambahkan.
Apapun yang terjadi, Tara siap jika seandainya Lia dan Bram keberatan dengan statusnya yang seorang janda.
Lia tersenyum dan memegang tangan Tara. Tara sontak terkejut dan menoleh.
“Ibu nggak masalah dengan status kamu, Tara. Yang terpenting kamu bukan lagi istri orang. Iya kan, Pak?” Lia menatap Bram.
Bram ikut tersenyum dan mengangguk. “Kami tak ada masalah dengan statusmu, Nak. Mau gadis atau janda, jika David mau menerimanya, kami sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan merestuinya. Dan sepertinya David memang hanya bisa mencintai satu wanita saja. Dan itu cuma kamu, Nak. Jadi, Bapak dan Ibu merestui hubungan kalian.”
Tara menoleh menatap David yang tersenyum lembut padanya. Tara tersenyum bahagia. Dia menoleh lagi pada Lia dan tersenyum haru.
“Terima kasih, Bu, Pak. Jujur aku takut jika statusku akan bermasalah. Aku yakin setiap orang tua pasti menginginkan anaknya yang perjaka untuk menikahi seorang gadis bukan malah janda sepertiku,” ucap Tara pelan.
Lia mengusap lengan Tara. “Jangan minder, Nak. Kami nggak tahu apa yang telah kamu lalui. Tapi kami percaya dengan pilihan David. Ibu sama Bapak sungguh-sungguh nggak mempersalahkan status kamu.”
Tara mengangguk. Tanpa sadar matanya berkaca-kaca. “Boleh aku peluk Ibu?”
Lia dengan senang hati mengangguk. Tara menghambur dalam pelukan calon mertuanya. Sungguh dia merasa bahagia. Rasa takutnya, rasa ketidak percayaan dirinya, semua menguap begitu saja saat dia merasakan pelukan hangat nan tulus dari Ibunya David. Tara merasa sangat diterima.
“Jangan bersedih lagi ya. Masa calon pengantin bersedih. Nanti dikira kamu dipaksa menikah sama David,” ucap Lia mengelus punggung calon menantunya.
Tara tersenyum dan menggeleng. “Aku mencintainya kok, Bu.”
Lia mengangguk dan menatap David. David tersenyum manis sekali. Kini, jalan mereka semakin terbuka untuk menuju gerbang pernikahan.
Setelahnya, Lia mengajak semuanya untuk makan bersama. Lia sudah mempersiapkan semuanya karena David sudah memberitahukan sebelumnya tentang kedatangan Tara. Tara dan David sesekali saling pandang dan melempar senyum, tanda mereka sangat bahagia.
Di sela-sela makan bersama dengan penuh kehangatan itu, ponsel Bram berdering. Dia langsung mengangkatnya. Wajahnya langsung terkejut dan memandang istrinya.
“Bu, barusan Budhe Rini nelpon bilang bahwa kita diminta ke rumahnya. Entah ada urusan apa,” ucap Bram setelah mengakhiri panggilannya.
Lia mengernyit. “Kok tiba-tiba? Oh.. ya ampun.. Ibu lupa, Pak. Itu loh Jaka. Dia mau merayakan kelulusannya dengan makan-makan bersama teman satu fakultasnya. Kita diminta bantu-bantu. Ibu lupa ngasih tahu Bapak,” ucap Lia baru ingat jika dia punya janji dengan kakaknya itu.
Bram menghela napas. “Kok bisa-bisanya lupa hal sepenting itu, Bu. Ya udah ayo kita berangkat. Kasihan Rini pasti kerepotan. Nunggu kita nggak dateng-dateng. Tahunya Ibu yang lupa,” gerutu Bram seraya berdiri.
Tara dan David saling pandang, bingung. Lia yang melihatnya tersenyum tak enak. “Aduh, maaf ya, Tara. Ibu dan Bapak harus segera pergi sekarang. Ibu lupa kalau ada janji sama kakak Ibu. Nggak papa kan, Ibu tinggal ?”
Tara mengangguk. “Iya, Bu, nggak papa. Maaf, mungkin karena ada aku, Ibu jadi lupa.”
Lia menggeleng dan mengusap bahu Tara. “Bukan salah kamu. Budhe Rini udah minta kami datang jauh-jauh hari, tapi Ibu saja yang kelupaan.”
“David, nanti kalau kamu keluar rumah, kunci aja semua pintu ya. Kami nggak tahu pulang jam berapa nanti. Tapi Bapak bawa kunci cadangannya kok. Vano juga bawa,” pesan Bram.
“Apa aku harus ke rumah Budhe Rini juga, Pak?” tanya David.
“Terserah. Acaranya masih nanti malam sehabis isya. Kamu kalau mau nyusul, ya malam aja. Sekarang paling cuma beres-beres rumahnya saja,” jawab Bram.
David mengangguk. Lia dan Bram pun pamit pergi. Menyisakan Tara dan David yang masih duduk di meja makan.
“Vano pulang jam berapa emangnya?” tanya Tara setelah meminum air putih. Makanan di piringnya sudah bersih.
“Jam lima sore. Paling dia langsung ke rumah Budhe Rini. Jaka itu teman main Vano dari kecil sampai sekarang. Tapi Vano sekolah lebih cepat, makanya dia lulus duluan,” jawab David lalu mengajak Tara masuk ke ruang keluarga.
Ada sofa yang memanjang, menghadap televisi yang ditempel di dinding. Ada begitu banyak foto keluarga. Tara pernah ke ruangan ini saat dulu berpacaran dengan David. Mereka mengobrol, kadang Tara juga mengerjakan tugas. Tara termasuk siswi yang rajin, sementara David asyik main game play station waktu itu. Di tempat ini juga, mereka dulu sering curi-curi ciuman dan pelukan, takut ketahuan orang tua David maupun Vano yang saat itu masih duduk di bangku SMP.
Tiba-tiba saja pipi Tara merona membayangkan adegan curi-curi ciuman dan pelukan mereka. David duduk di samping Tara, tak berjarak.
“Lagi bayangin apa sih? Kok pipinya merah?” David menatap menggoda.
Tara tersentak dan menoleh. Dia mengerjap. Jarak wajahnya dan David begitu dekat, sampai keduanya bisa merasakan napas mereka masing-masing.
David menyentuh pipi Tara lembut. “Sepertinya kamu masih ingat, apa yang pernah kita lakukan di ruangan ini,” bisik David menatap mata Tara lekat.
Tara terdiam. Jantungnya berdebar. David tersenyum tipis dan semakin mendekatkan wajah. “Apa perlu kita mengulanginya lagi? Kali ini, nggak perlu curi-curi kayak dulu, karena Bapak dan Ibu nggak ada di rumah. Vano juga nggak ada,” ucap David pelan lalu mencium bibir Tara lembut.
Tara terkesiap, karena David langsung menciumnya. David mencium pelan sambil menarik tubuh Tara agar menempel lebih erat pada tubuhnya.
Tara mulai menikmatinya, membalas ciuman David. Dari yang pelan penuh kelembutan, David semakin memperdalam ciumannya dan memeluk Tara erat.
Tara terbuai. Hasratnya mulai tinggi, begitupun David. Keduanya ada di dalam rumah. Berduaan. Apa saja bisa terjadi.
David beralih menciumi leher Tara dengan sedikit terburu-buru. David juga sudah mulai hilang kendali. Tubuh Tara adalah candunya. Maka tak butuh waktu lama, David menarik tubuh Tara untuk duduk di atas pangkuannya, agar dia bebas menciumi leher dan dada bagian atas Tara.
Tara melenguh, merasakan nikmat saat David terus menciumi dada atasnya. Tara bahkan mendongak. Tangan David menahan erat punggung Tara agar tak terjatuh.
David melepas ciumannya dan menatap Tara sayu. Dia suka melihat wajah Tara yang berhasrat seperti ini. Sungguh seksi.
“Mau disini apa di kamar kita?” Bisik David dengan tatapan penuh hasrat.
Tara terengah. “Kalau di kamar, kita bisa kebablasan.”
“Oke. Kalau gitu, disini aja.” David kembali mencium bibir Tara, leher, hingga dada atasnya. Tara kembali melenguh mendapat serangan tiba-tiba dari David.
David membaringkan tubuh Tara di sofa panjang tersebut sambil terus menciumi dada atas Tara. Tangannya aktif membuka kaos Tara. Tara terengah saat David kembali menyerang dadanya yang masih terbalut bra. David tak ingin berhenti. Dia terus membuat Tara melenguh nikmat dengan memasukkan jarinya ke dalam tubuh Tara. Tara tersentak dan refleks membuka kakinya lebar.
“Ahh.. Sayang… aku ingin masukin kamu,” ucap David sambil menggesek-gesekkan miliknya ke milik Tara yang masih di balut celana.
“Sabar, Sayang. Tunggu sampai kita menikah,” engah Tara juga menikmati gesekan itu.
Tak tahan, keduanya pun saling memasukkan tangan ke dalam celana masing-masing. Tara menggenggam dan mengurut milik David, sementara David memasukkan jarinya ke dalam milik Tara lagi.
Keduanya terus meracau nikmat dengan sentuhan jari satu sama lain. Hingga akhirnya Tara mengejang begitupun David, saat cairan itu keluar dan membasahi celana mereka.
Tara dan David terengah. Saling menatap dengan kepuasan. “Basah kan celanaku,” gerutu Tara merasa miliknya tak nyaman.
“Harusnya dibuka aja tadi,” ucap David mencium dada Tara.
“Nggak mau.”
“Ya udah. Aku beliin celana dalam deh,” ucap David.
“Nggak mau. Kita pulang aja. Aku risih kalau celanaku basah gini,” ucap Tara.
“Ya udah. Kita pulang. Tapi Abangmu di rumah nggak?” Tanya David.
“Abang futsal hari ini.”
David tersenyum sumringah dan mengangguk. Tara mendelik saat melihat senyuman David itu. “Jangan macam-macam lagi ya, Vid,” peringat Tara.
David tertawa. “Satu macam saja kok.”
Bersambung…