Tujuh tahun lalu, malam penyerangan musuh menghancurkan segalanya.
Venus terpaksa pergi membawa rahasia kehamilan yang belum sempat diungkapkan pada suaminya—Dante.
Kini, Venus harus bertahan hidup bersama Sean, putra mereka yang memiliki tatapan sedingin es milik ayahnya.
Saat takdir mempertemukan mereka kembali, dunia Venus seketika runtuh. Dante telah menikah lagi dengan wanita yang menyelamatkan nyawanya.
Meski Dante tak pernah mencintai istri barunya dan terus mencari Venus, Venus memilih bungkam. Venus tak ingin menghancurkan rumah tangga pria itu.
Namun, saat mata Dante tertuju pada sosok Sean, rahasia tujuh tahun itu terancam
Akankah Dante berhasil menemukan Venus dan mengenali Sean sebagai putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 6 Pingsan
"Detektif Ve, ikut saya sarapan. Ada detail kasus yang harus kita bicarakan di luar kantor," ucap Dante.
Venus yang sedang merapikan tasnya tersentak. Ia menatap Dante melalui sudut matanya. "Saya rasa itu tidak perlu, Tuan Dante. Saya bisa mendengarkannya di sini. Lagi pula, bukankah anda atau orang-orang di sekitar anda akan merasa jijik melihat wajah saya di tempat umum?"
Dante terdiam sejenak, menatap lekat topeng luka bakar di wajah Venus.
"Saya yang mengajak, jadi saya yang bertanggung jawab. Saya tidak peduli apa kata orang dan saya harap anda juga begitu. Kita akan bertemu setiap hari karena saya adalah klien pribadi anda mulai sekarang. Biasakanlah."
Venus hanya bisa menghela napas pasrah. Ia mengangguk pelan, lalu berjalan lebih dulu menuju lobi. Ia masuk ke dalam mobil mewah Dante dengan perasaan campur aduk.
Aroma interior mobil ini, cara Dante memegang kemudi, semuanya memicu memori yang berusaha ia kubur dalam-dalam.
Keadaan menjadi semakin menyesakkan saat mobil itu berhenti di depan sebuah restoran klasik bergaya Eropa.
"Kenapa harus di sini?" gumam Venus dalam hati dengan jantung berdegup kencang.
Ini adalah restoran tempat mereka merayakan ulang tahun pernikahan pertama. Dulu, Dante akan menarikkan kursi untuknya, mencium punggung tangannya dan menatapnya seolah ia adalah satu-satunya wanita di dunia.
Kini, Venus masuk sebagai orang asing yang cacat di mata pria itu.
Mereka duduk di meja paling pojok. Venus terus menunduk, tak berani menatap pilar-pilar restoran yang masih sama seperti tujuh tahun lalu.
"Kau ingin makan apa?" tanya Dante sambil membuka buku menu.
"Terserah anda saja, Tuan," jawab Venus berusaha menahan sesak di dadanya.
Dante memesan beberapa menu, termasuk sup hangat dan hidangan pembuka lainnya.
Tak lama kemudian, makanan datang.
Bau harum kaldu memenuhi meja. Venus, yang memang belum sarapan karena terburu-buru, mulai menyuapkan sup itu ke mulutnya.
Rasanya sangat lezat, gurih dan kental.
Namun, hanya dalam hitungan menit, Venus merasakan sensasi panas menjalar di tenggorokannya. Kulit di balik topengnya mulai terasa gatal yang luar biasa.
"Ada apa, Nona Ve? Kau baik-baik saja?" Dante mengerutkan kening melihat gerakan gelisah Venus.
Venus tidak menjawab. Ia mencoba menggaruk lehernya yang mulai memerah. Bintik-bintik kecil muncul di permukaan kulitnya yang tidak tertutup topeng. Napasnya mulai memburu, terasa berat dan sesak.
"Sial, sup ini... ada ekstrak udangnya?" batinnya.
"Kulitmu kenapa memerah seperti itu?" Dante mulai panik. Ia berdiri dari kursinya saat melihat Venus terengah-engah.
"U—udang..." bisik Venus payah. Ia mencoba berdiri, hendak berlari menuju toilet untuk membasuh wajahnya atau mencari obat di tasnya.
Sayangnya, sekeliling Venus mendadak berputar hebat. Oksigen seolah menghilang dari sekitarnya.
"Nona Ve!"
Sebelum sempat melangkah, tubuh Venus limbung. Dante dengan sigap menangkap tubuh wanita itu sebelum menghantam lantai. Ia mendekap Venus, merasakan suhu tubuh wanita itu yang meningkat drastis.
"Sial! Apa dia alergi udang?" gumam Dante panik. Ia menatap wajah Venus yang pingsan di pelukannya.
Ada perasaan aneh yang menghantam dadanya, rasa takut yang sama saat ia kehilangan istrinya di tengah kobaran api tujuh tahun lalu.
"Bertahanlah, Nona Ve! Jangan mati sekarang!" Dante segera menggendong Venus keluar, mengabaikan tatapan heran orang-orang di restoran dan memacu mobilnya secepat kilat menuju rumah sakit terdekat.
Di dalam kepala Dante, satu pertanyaan besar muncul. Kenapa reaksi alerginya begitu identik dengan Venus?
Tapi, Dante mencoba menepis perasaan itu. Tidak mungkin wanita ini adalah Venus-nya.
******
"Wajahmu kenapa jadi mirip badut begitu, Sean?"
Leo ternganga saat melihat keponakannya keluar dari gerbang sekolah. Sudut bibir Sean pecah dan ada lebam kebiruan di tulang pipi kirinya.
Alih-alih meringis kesakitan, bocah enam tahun itu malah berjalan dengan punggung tegak seolah luka itu hanyalah hiasan wajah.
"Ini urusan lelaki," jawab Sean dingin sambil membuka pintu mobil dan duduk di kursi belakang dengan tenang.
Leo segera menjalankan mobilnya, namun matanya terus melirik melalui spion tengah. "Lelaki macam apa yang berkelahi sampai babak belur di hari pertama mamanya lembur? Kau tahu kita harus ke rumah sakit sekarang karena dia?"
Tubuh Sean menegang. "Mama kenapa, Paman?"
"Alergi udang. Dia pingsan saat makan siang dengan kliennya," jawab Leo cemas.
Sean memijat pelipisnya, helaan napas berat keluar dari hidung kecilnya.
"Sudah tahu alergi parah, kenapa masih dimakan?" makinya "Siapa klien bodoh yang memberinya udang itu?"
"Ayahmu," jawab Leo.
"Luar biasa. Baru bertemu satu hari, pria itu sudah hampir membunuhnya dua kali. Tujuh tahun lalu dengan api, sekarang dengan udang."
Leo berdehem, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Dengar, Sean. Berkelahi itu bukan cara cerdas menyelesaikan masalah. Kau punya otak yang pintar, gunakan itu untuk membalas, bukan otot. Bagaimana kalau mamamu melihatmu seperti ini? Dia bisa jantungan!"
"Paman Leo, dengarkan aku," sahut Sean. "Paman bilang berkelahi itu tidak cerdas? Lalu bagaimana dengan Paman yang tujuh tahun ini bersembunyi di balik topeng jelek dan tidak melakukan apa-apa untuk membersihkan namamu? Apa itu yang Paman sebut cerdas?"
Leo hampir tersedak ludahnya sendiri. "Itu demi keamanan!"
"Keamanan atau ketakutan?" skakmat Sean. "Tadi ada anak kelas tiga yang mengejek mama sebagai wanita cacat berwajah monster. Aku tidak akan menggunakan strategi untuk orang yang menghina ibuku. Aku memukulnya karena dia perlu tahu bahwa setiap ucapan yang keluar dari bibirnya ada konsekuensinya."
Sean menatap pamannya melalui spion dengan tatapan menusuk.
"Jadi, berhentilah menasihatiku tentang keberanian selama Paman masih takut melihat wajah sendiri di cermin tanpa topeng itu. Lelaki sejati melindungi apa yang miliknya, bukan hanya bersembunyi dan mengeluh."
Leo mati kutu. Ia meremas kemudi mobil, merasa martabatnya sebagai orang dewasa baru saja dilucuti oleh bocah yang kakinya bahkan belum sampai menyentuh lantai mobil.
"Setidaknya jangan pukul bagian wajah. Susah menutupinya dari Mama." Leo mencoba membela diri dengan suara lirih.
"Aku tidak berencana menutupi apa pun," sahut Sean sambil melihat ke luar jendela. "Aku ingin mama tahu bahwa saat pria yang dia cintai hampir membunuhnya dengan udang, anaknya sudah belajar membela diri demi kehormatannya."
Leo hanya bisa menggelengkan kepala, memacu mobil lebih kencang menuju rumah sakit.
Di dalam hati ia berdoa, semoga Dante tidak melihat Sean, karena jika pria itu melihat luka dan tatapan mata Sean sekarang, rahasia tujuh tahun ini akan tamat dalam hitungan detik.
sampe punya anak seJenius Sean??
Eh tapi kayaknya Anak seJenius Sean cuma ada di Novel deh
tapi loe masih punya istri lain???
Huweeeeekkkkkkk, Venus gak akan sudiii Oiiiiii 😠
Boleh juga idenya si Leo 🤪🤣🤣
gimana donk??
kata² cinta loe 7 tahun lalu itu Beneran pretttttttt pada waktunya 🙎