Rayya, seorang perawat yang terperangkap dalam permainan cinta dan kekuasaan Marsel, seorang ketua Mafia yang sangat di takuti.
Marsel tidak mau melepaskan nya, Rayya sudah memiliki pacar dan akan segera menikah, akan tetapi Marsel menyatakan kepemilikan terhadap Rayya.
Marsel membuat Rayya tidak bisa menikah selain dengan nya. Ciuman di pertemuan pertama mereka membuat Marsel tidak bisa tenang memikirkan Rayya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lancang
"Oh, jadi kamu yang bernama Rayya itu?"
Mona meneliti penampilan Rayya, sebetulnya Rayya cukup cantik. Tapi walau begitu, mereka tidak selevel sampai harus ada pernikahan.
"Benar, itu saya. Apa kita saling kenal?"
Rayya kira tadi temannya yang mungkin datang mencari nya, tapi nyatanya Ia tidak mengenal siapa Mona.
"Cih, siapa juga yang mau mengenal mu," kata Mona sinis. Bersamaan dengan itu, Mona meletakkan sebuah koper di atas meja.
"Aku ke sini hanya ingin memperingati mu. Jauhi Kakakku, kau tidak berhak menikah dengan nya. Dan uang dalam koper ini adalah kompensasi dari ku."
Mona menggeser koper uang tersebut tepat di depan Rayya.
"Aku tau, kau pasti mengincar kekuasaan dan kekayaan yang kakak ku miliki kan," lanjutnya lagi.
Rayya dan Sella saling tatap, seakan tidak mengerti dengan apa yang orang itu maksud.
"Sepertinya kamu salah paham, aku bahkan tidak tahu siapa kakak yang kamu maksud itu," balas Rayya masih berusaha ramah meladeni sikap sombong yang terlihat jelas pada tampang Mona.
"Hallah, nggak usah sok deh kamu. Ambil uang itu dan jangan mengharapkan pernikahan dengan kakak ku lagi!" suara ketus itu terkesan meremehkan.
"Kurt ajar! Kamu siapa, Hah? Kenapa berbicara begitu pada Rayya putriku?!"
Sella tidak suka dengan sikap gadis yang datang-datang seperti menuduh Rayya. Padahal Rayya sudah mengatakan tidak mengenal siapa kakak yang Mona maksud.
"Aku Mona, Adik Marsel. Apa masih mau berlagak tidak tahu?" kesal Mona pada Ibu dan anak itu. Ia juga mendorong kasar koper uang yang dirinya bawa.
"Oh, jadi kamu adik dari orang gila itu?!"
Suara Rayya langsung berubah saat tahu siapa Mona sebenarnya. Memang nya siapa juga yang mau menikah dengan Marsel yang gila itu.
"Kau sebut kakak ku apa?!" geram Mona dengan tangan mengepal mendengar perkataan Rayya yang sungguh lancang.
"Gila, orang gila! Aku rasa kalian memang gila sekeluarga. Memang nya siapa yang mau menikah dengan Marsel itu? Aku tidak sudi! Cepat pergi dari sini dan bawah uang kotor mu ini," balas Rayya tidak kalah sengit. Ia sangat puas melampiaskan kekesalannya pada Mona yang seperti nya juga tidak tahu diri seperti kakaknya.
"Lancang! Kau berani mengatai kami gila."
Tangan Mona terangkat hendak memberikan tamparan pada Rayya, namun ternyata ia kalah cepat dari lawan nya.
Plak!
Telapak tangan Rayya mendarat sempurna di atas wajah Mona, Mona memegangi wajah nya yang mendapat tamparan. Sebelum nya mereka memang sudah berdiri dari duduk masing-masing saat Rayya tahu kalau Mona adalah adik Marsel.
"Kau_"
"Apa? Mau marah? Memang nya siapa yang meminta mu datang di sini."
Mona kesal dan marah, Ia sadar kalau kalah telak dari Rayya, juga memang tidak ada yang menyuruhnya untuk mendatangi Rayya.
"Tunggu saja, aku akan lapor kan ini pada Kak Marsel," ancam Mona, Ia pikir Rayya akan takut.
"Bagus. Segera laporkan pada orang gila itu. Sekalian katakan padanya untuk tidak mengganggu kami lagi," balas Rayya tidak takut dengan ancaman tak berarti dari Mona.
Mona yang kesal hanya kembali memperingati Rayya, tidak lupa Ia mengambil uang yang tadi di bawanya lalu pergi dari sana dengan rasa dongkol yang terlihat jelas.
"Rayya, sebenarnya kenapa mereka mengganggu mu, Nak?" tanya Sella geram dengan kelakuan mereka, apalagi Mona tadi yang sangat keterlaluan, tidak kalah dengan Marsel yang mengandalkan uang mereka.
"Rayya juga tidak tahu, Ma. Justru Rayya bingung dan tidak suka dengan Marsel itu. Apalagi hari ini sampai adiknya Mona itu ikut-ikutan," jelas Rayya.
Sella tidak bertanya lagi, mungkin memang Marsel yang gila seperti perkataan Rayya. Ia hanya mengatakan pada Rayya agar tidak banyak pikiran tentang yang lain selain persiapan pernikahan nya.
__________________
Kembali ke Mona, wanita itu memasuki halaman kastil dengan ugal-ugalan, hampir saja ia menabrak para penjaga kalau saja yang hampir tertabrak tidak segera menghindari mobil Mona yang melaju kencang.
Saat memarkirkan mobilnya, ia cukup senang karena ternyata mobil Marsel juga terparkir di sana. Itu artinya pria itu ada di rumah.
Dengan perasaan menggebu-gebu Mona berjalan cepat mencari keberadaan Marsel, karena tidak menemukan nya, Ia segera bertanya pada Alex yang kebetulan baru saja dari ruang kerja Marsel.
"Di mana Kak Marsel?" tanya Mona tidak sabaran.
"Bos ada di ruang bawah tanah," jawab Alex seadanya.
Tanpa menunggu lama Mona segera meninggalkan Alex, padahal pria itu ingin mencegah, Alex tentu mengikuti langkah Mona karena Ia juga memang akan kembali ke sana saat sebelumnya Marsel meminta nya mengambil sesuatu.
Sebelum membuka pintu ruang bawah tanah, Mona hampir ragu sejenak, Marsel pernah melarang mereka untuk masuk di sana. Tapi mengingat wajah songong Rayya saat menamparnya tapi membuat tekad Mona kembali menyala untuk segera mengadu.
'Kak Marsel tidak mungkin lebih membela wanita tak tahu diri itu daripada aku adiknya' batinnya meyakinkan diri dan akhirnya melanjutkan niat.
"Kak Marsel," panggil Mona.
Tatapan tidak suka Marsel berikan pada adiknya itu.
"Siapa yang menyuruhmu masuk di sini Mona? Kembali ke atas!" marah Marsel.
Ia memang melarang ular berbisa seperti Mona dan Lily memasuki ruang bawah tanah. Tapi kenapa Mona malah lolos hari ini.
"Alex_"
"Tidak kak, kak Marsel harus dengarkan perkataan ku dulu sebelum menyuruh Alex untuk menyeret ku keluar," potong Mona cepat.
Rasa kesal dan marahnya pada Rayya tidak membuat nya takut lagi melanggar larangan dari Marsel.
"Kakak lihat pipiku yang merah dan panas karena ulah wanita itu?"
Tunjuk Mona pada wajahnya sendiri, Marsel hanya melihat sekilas dan memang benar, itu seperti bekas tamparan.
"Wanita yang akan Kakak nikahi itu adalah pelakunya. Pokoknya aku tidak terima kalau dia menjadi kakak ipar ku," lanjutnya karena tidak ada respon sedikit pun dari Marsel.
"Apa yang kau lakukan pada Rayyaku?!"
Bukannya membela, Mona justru mendapatkan pertanyaan intimidasi dan membuat wanita itu gelagapan sendiri. Marsel tahu seperti apa watak Lily dan Mona, jangan sampai mereka berbuat yang tidak-tidak pada Rayyanya.
"A_aku tidak melakukan apapun," bohong Mona dan rasa takut mulai menghinggapi dirinya. Karena marah, Ia sampai tidak terpikirkan kalau Marsel akan menanyakan hal ini.
"Mau kau katakan sekarang atau tidak perlu."
Ancaman Marsel membuat Mona tidak punya pilihan.
Jika berkata jujur, Marsel pasti akan murka, dan kalau tidak berbicara pasti kemurkaan Marsel akan jauh lebih besar
"Aku mendatangi rumah nya dan menyuruh wanita itu untuk tidak menikah dengan Kak Marsel."
Walau gugup, Mona hanya punya pilihan untuk jujur. Karena percuma jika berbohong pada Marsel.
Plak!
"LANCANG!"