NovelToon NovelToon
Penantian 7 Tahun

Penantian 7 Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:561
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.

Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 - Hal Yang Sama

Hari-hari setelah itu tetap berjalan dengan pola yang hampir sama, namun ada perbedaan halus yang tidak bisa lagi diabaikan. Airel Virellia masih datang ke kampus dengan waktu yang teratur, masih duduk di kursi yang sama, dan masih mencatat setiap penjelasan yang diberikan dosen dengan rapi. Dari luar, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk mengira bahwa ada sesuatu yang berubah, karena ia tetap terlihat tenang dan tidak banyak bicara seperti biasanya.

Namun di dalam dirinya, ada pergeseran kecil yang terus terjadi tanpa henti. Perhatiannya tidak lagi sepenuhnya berada pada apa yang ada di depannya, karena sebagian dari pikirannya kini selalu terbagi. Ada bagian yang tetap menjalankan rutinitas, dan ada bagian lain yang terus bergerak, memperhatikan, dan mengingat sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami.

Nama itu masih terlintas.

Zevarion Hale.

Ia belum terbiasa memikirkannya tanpa jeda, seolah setiap kali nama itu muncul, ada ruang kosong yang ikut terbuka bersamanya. Tidak ada ingatan yang langsung terhubung, tidak ada gambaran masa lalu yang muncul dengan jelas, namun ada perasaan yang tetap tinggal, seolah nama itu membawa sesuatu yang lebih dari sekadar identitas.

Airel tidak mencari sosok itu, setidaknya ia mencoba meyakinkan dirinya seperti itu. Ia tetap berjalan ke kelas, tetap melewati lorong yang sama, tetap duduk di kantin pada waktu yang biasa. Namun setiap kali tanpa sengaja melihatnya, langkahnya selalu melambat sedikit, dan napasnya berubah tanpa ia sadari.

Seperti siang itu.

Kampus tidak terlalu ramai, hanya suara percakapan ringan yang menyebar di beberapa sudut. Cahaya matahari masuk dari jendela besar, membentuk bayangan panjang di lantai yang sedikit mengilap. Airel berjalan tanpa tujuan khusus, hanya ingin menjauh sejenak dari suasana kelas yang terasa terlalu penuh.

Saat melewati tangga menuju gedung sebelah, ia kembali melihatnya.

Zev berdiri di tempat yang hampir sama seperti sebelumnya. Tidak bergerak banyak, tidak berbicara dengan siapa pun, hanya berdiri dengan satu tangan di saku dan bahu bersandar ringan pada dinding. Tatapannya mengarah keluar jendela, namun sulit memastikan apa yang sebenarnya ia lihat.

Airel berhenti beberapa langkah dari sana.

Ia tidak berniat mendekat, namun juga tidak langsung pergi. Matanya tertuju pada sosok itu lebih lama dari yang ia rencanakan, mencoba memahami sesuatu yang terasa samar tapi terus berulang.

Cara Zev diam.

Cara ia tidak terburu-buru.

Cara tubuhnya tetap tenang meski orang-orang di sekitarnya terus bergerak.

Semua itu terasa terlalu familiar.

Airel mengerutkan kening pelan, mencoba mengingat di mana ia pernah melihat hal yang sama. Namun setiap kali ia merasa hampir menemukan jawabannya, ingatan itu justru menghilang sebelum sempat terbentuk dengan jelas.

“Rel?”

Suara Kalista membuatnya kembali sadar.

Airel menoleh, lalu menggeleng kecil. “Enggak apa-apa.”

Namun sebelum benar-benar melangkah pergi, matanya kembali ke arah Zev.

Kalista mengikuti arah itu, lalu tersenyum tipis. “Kamu sadar enggak sih?”

Airel tidak langsung menjawab.

“Sadar apa?”

“Dia selalu kelihatan di sekitar kamu,” lanjut Kalista pelan.

Airel terdiam sejenak. Ia ingin menyangkal, namun kata-kata itu terasa tertahan di tenggorokannya. Karena yang dikatakan Kalista bukan sesuatu yang sepenuhnya salah.

Ia memang melihatnya.

Bukan sekali.

Bukan dua kali.

Dan setiap kali itu terjadi, perasaan yang sama selalu muncul tanpa gagal.

Airel akhirnya mengalihkan pandangan. “Mungkin cuma kebetulan.”

Kalista tidak langsung membalas, hanya mengangkat bahu ringan seolah tidak ingin memperdebatkan. Mereka melanjutkan langkah, melewati tangga itu, melewati Zev yang masih berdiri di tempatnya.

Namun saat jarak mereka semakin dekat, sesuatu berubah.

Zev sedikit menggeser posisinya.

Gerakannya tidak mencolok, namun cukup untuk membuat Airel menyadarinya. Ia tidak langsung menoleh, tetapi ada jeda kecil sebelum akhirnya pandangannya bergerak.

Dan sekali lagi, tatapan mereka bertemu.

Tidak lama.

Namun juga tidak sekilas.

Ada jeda di sana, cukup untuk membuat waktu terasa sedikit melambat. Airel tidak berhenti berjalan, tetapi langkahnya kehilangan ritme untuk sesaat. Ia memaksakan diri untuk tetap maju, meski ada dorongan kecil yang ingin membuatnya menoleh lagi.

Setelah mereka melewati tangga, Kalista kembali bersuara.

“Aku enggak salah lihat, kan?” katanya ringan.

Airel menghela napas pelan. “Enggak tahu.”

Jawaban itu jujur, dan justru karena itu terasa lebih berat.

Beberapa hari berikutnya, hal-hal kecil mulai semakin terlihat. Airel tidak mencarinya, namun tanpa sadar ia mulai memperhatikan detail yang sebelumnya terlewat. Seperti cara Zev berbicara ketika ia mendengar suaranya dari kejauhan.

Nada suaranya rendah, tidak tergesa, dan tidak banyak variasi. Ia tidak berbicara panjang, tetapi setiap kata yang keluar terdengar jelas dan terarah. Tidak ada kesan ragu, namun juga tidak terdengar keras.

Cara itu terasa tidak asing.

Airel tidak tahu kenapa, namun setiap kali mendengarnya, ada bagian kecil dalam dirinya yang seperti mengenali sesuatu.

Lalu cara Zev melihat.

Bukan sekadar menatap, melainkan memperhatikan dengan tenang. Tidak tergesa, tidak berpindah-pindah dengan cepat, seolah ia memberi waktu pada dirinya sendiri untuk memahami apa yang ada di depannya.

Airel mulai menyusun semua itu di dalam pikirannya.

Perlahan.

Tanpa ia sadari.

Seperti potongan kecil yang tidak lengkap, namun terus bertambah sedikit demi sedikit.

Sore hari, saat ia kembali ke halte, perasaan itu kembali muncul. Namun kali ini tidak hanya berupa gelisah atau harapan yang tidak jelas. Ada sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih dekat dengan kesadaran.

Ia duduk di bangku yang sama, menatap jalan yang mulai berubah lebih sepi. Tangannya melihat jam, angka yang sudah terlalu ia kenal.

17.44.

Namun kali ini, ia tidak langsung fokus pada waktu.

Pikirannya kembali pada hal-hal kecil yang ia perhatikan.

Cara Zev berdiri.

Cara ia berbicara.

Cara ia menoleh.

Semua itu berputar di kepalanya, membentuk sesuatu yang hampir bisa ia pahami, namun belum sepenuhnya jelas.

Airel menunduk sedikit, rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah. Ia mencoba menyusun semuanya, mencoba menghubungkan perasaan dengan logika, namun hasilnya tetap sama.

Ada yang mirip.

Namun tidak sepenuhnya sama.

Seperti bayangan yang mengikuti bentuk aslinya, tapi tidak pernah benar-benar menyatu.

Ia menggenggam tasnya pelan, merasakan napasnya yang sedikit lebih berat. Ia tidak berani menarik kesimpulan, karena setiap kali mencoba, selalu ada bagian yang terasa tidak cocok.

Nama itu.

Waktu yang sudah berlalu.

Semua itu berdiri di sisi yang berbeda.

Namun perasaan ini tetap bertahan.

Tidak berkurang.

Tidak juga hilang.

Airel mengangkat wajahnya lagi, menatap jalan yang perlahan semakin sepi. Orang-orang datang dan pergi seperti biasa, kendaraan lewat tanpa berhenti lama, dan suara kota tetap terdengar di latar.

Namun baginya, semua itu tidak lagi terasa sama.

Ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya.

Perlahan.

Tanpa suara.

Ia tidak lagi hanya menunggu seseorang datang.

Ia juga mulai menunggu pemahaman.

Tentang apa yang sebenarnya ia rasakan.

Tentang kenapa semua ini terasa begitu dekat, meski tidak ada satu pun yang bisa ia ingat dengan jelas.

Airel menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Matanya tetap tertuju ke depan, namun pikirannya terus bergerak, mencari sesuatu yang belum ia temukan.

Dan di antara semua itu, satu kesadaran kecil mulai terbentuk.

Belum utuh.

Namun cukup jelas untuk dirasakan.

Bahwa apa yang ia hadapi sekarang bukan sesuatu yang bisa diselesaikan hanya dengan menunggu.

Ada sesuatu yang harus ia pahami.

Dan sampai ia menemukannya, perasaan ini tidak akan benar-benar pergi.

1
𝐀⃝🥀Weny
wah jangan² itu orang yang ditunggu selama ini.. tapi mereka sudah lupa dengan wajahnya😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!