Di bawah rindangnya pohon randu angker di sudut kampung, seorang pemuda bernama Langit tumbuh dewasa tanpa mengenal siapa orang tua kandungnya. Setiap senja, ia merenung di sana, merasa namanya seluas langit namun tak punya pijakan. Ia tak tahu, takdirnya sudah "terjerat" sejak hari ia ditemukan sebagai bayi di bawah pohon keramat itu oleh Nenek Wati.
Sembilan belas tahun kemudian, rahasia kelam masa lalu mulai terkuak, menyeret Langit pada sebuah pencarian identitas yang tak hanya mengancam hidupnya, tapi juga menguji perasaannya. Ketika ia dihadapkan pada sosok Intan, wanita yang sudah "terjerat" pernikahan namun begitu "layak diperjuangkan", akankah Langit mampu melepaskan diri dari belenggu masa lalu dan menemukan tempat sejatinya? Atau justru semakin dalam "terjerat" dalam takdir yang tak pernah ia minta?
Ikuti perjalanan Langit menemukan jati diri, cinta, dan rahasia yang terkubur di dalam novel TERJERAT.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 27: JANJI DI BAWAH POHON RANDU.
MALAM MINGGU PUKUL 21:00
Setelah memberikan instruksi terakhir kepada Rio dan orang-orang bayangan, Langit keluar dari ruang bawah tanah dan berjalan menuju kebun teh belakang rumah. Cahaya bulan yang terang menyinari dedaunan yang basah akibat embun, menciptakan suasana yang tenang dan romantis tanpa disadari.
Tiba-tiba, dia melihat sosok wanita yang sedang berdiri di dekat pohon randu tua yang pernah jadi saksi di mana seorang bayi di temukan oleh Aki Jui 19 tahun yang lalu.
"Teh Intan...? Kenapa di sini malam-malam? Dingin sekali, takut tidak aman," ucap Langit lembut seraya mendekat.
Intan menoleh. Wajahnya tampak sedikit memerah, entah karena hawa dingin pegunungan atau karena rasa gugup yang menyergap hatinya. Di tangannya tergenggam sebuah amplop putih bertuliskan cap resmi pengadilan.
"Aku tidak bisa tidur, Ngit... Pikiran ku kacau sekali. Aku menunggumu di sini. Hanya padamu dan Nenek Wati aku bisa mengadu," jawabnya pelan, wajahnya menunduk menyembunyikan keresahan yang mendera selama berhari-hari.
Langit diam, mendengarkan dengan sabar keluh kesah wanita di sampingnya. Rasa sakit batin yang diderita Intan selama bertahun-tahun di tangan suaminya, Jaji, begitu terasa.
"Ngit... menurutmu, apakah jalan yang aku pilih ini sudah benar?" tanya Intan ragu, lalu menyodorkan amplop itu. Surat gugatan cerai.
Langit menerima amplop itu dengan hati yang bergetar. Ia sadar betul keraguan di hati wanita itu. Antara ingin memutuskan rantai penderitaan atau masih terikat rasa sayang.
'Apakah ini maksud Abah Haruman? Memainkan jerat tipu daya... Tapi Intan adalah ibu dari Adi dan Adel, anak-anak yang harus kujaga. Namun jika aku terlalu dalam, akankah ini menjadi dosa merusak rumah tangga orang?' batin Langit bergumam, hatinya terbelah.
"Gimana menurutmu Ngit?" tanya Intan menatapnya dalam.
Langit duduk di atas batu besar yang menghadap hamparan kebun teh.
"Kalau kamu masih ragu... berarti di hatimu masih ada cinta untuk Jaji. Laki-laki yang sudah menyakitimu selama 4 tahun itu. Kalau begitu, kembalilah padanya. Aku akan menjauh. Tapi ingat... saat waktunya tiba dan kebenaran terungkap, jangan bilang aku kejam merebut apa yang paling berharga darimu."
Jantung Intan serasa copot mendengarnya. Namun sebelum Langit sempat berdiri pergi, tangan halus itu cepat menarik pergelangan tangannya.
"Bukan begitu Ngit! Kamu salah paham!"
Langit tersenyum licik dalam hati. 'Target mulai masuk jebakan.'
"Salah paham bagaimana, Teh?"
"Duduklah dulu. Sekarang aku belum bisa jelaskan semuanya, tapi aku minta kamu temani aku dan anak-anak. Nanti... setelah masalahmu selesai, aku akan cerita semua. Dari awal aku menikah dengan Jaji," ucap Intan serius, lalu menjulurkan jari kelingkingnya. Janji ya?"
Langit menghela napas, menyambut janji itu.
"Baiklah. Aku percaya. Jadi keputusanmu... lanjutkan sidang itu?"
"Lanjut! Tadinya aku bingung mikirin anak-anak, tapi nanti aku jelaskan semuanya. Masih ada waktu kan?"
"Ya," angguk Langit. "Besok mungkin badai besar akan datang di kampung ini. Aku ada janji bertemu Teh Sri dan Teh Dewi di saung sungai. Kalau mau ikut, bawa Adi dan Adel. Anggap saja piknik."
"Walaupun mereka sudah siap membantuku, tapi besok pertemuan itu berhubungan dengan suamimu dan suaminya Sri. Apa pun yang terjadi, tolong tetap tenang ya," pesan Langit.
Mereka duduk berhadapan, suasana semakin hangat. Intan membuka bungkusan kecil, mengeluarkan sebuah syal rajutan biru muda.
"Aku buat ini waktu dulu... tapi tak sempat kuberikan. Aku khawatir besok ada bahaya, tolong pakai ini ya."
Langit menerima syal itu, lalu dengan lembut justru membungkuskannya di leher Intan.
"Kamu saja yang pakai. Kamu kan paling gampang kedinginan."
Wajah Intan merona merah padam. Seumur hidupnya, belum pernah ia rasakan perhatian dan kehangatan seperti ini dari lawan jenis.
'Bolehkah aku berharap... Langit adalah takdir dan jodohku?' batinnya berharap.
Mata mereka saling bertaut, jarak semakin dekat. Intan menunduk malu-malu.
"Dulu aku melihatmu hanya sebagai adik kecil... tapi sekarang... kamu sudah jadi laki-laki yang kuat dan dewasa. Aku kagum padamu, Langit."
Langit tersenyum nakal, mengangkat dagu wanita itu perlahan.
"Aku pun tidak pernah melihatmu hanya sebagai kakak. Tapi sebagai Teteh yang suka menggoda, mau menjebak aku dalam kenikmatan tapi nggak pernah berhasil... hadeh, capek deh! Hahaha!"
Sifat asli Langit yang humoris dan "sableng" keluar lagi, memecah suasana romantis jadi tawa renyah.
"Dasar Langit edan! Sinting!" seru Intan kesal sambil mencubit pelan lengan Langit, bibirnya manyun lima senti. Justru pemandangan itu yang membuat hati Langit damai.
"Hidup jangan terlalu serius Teh. Kalau pikiran lagi ruwet, obatnya ya bercanda dan ketawa."
Di balik rimbunnya semak belukar, sepasang mata tajam mengintai. Sosok bayangan itu menggeram kesal dalam hati.
'Sialan! Dasar bocah gila! Kirain mau ciuman atau mesum-mesuman biar bisa aku ambil fotonya jadi bukti... eh taunya malah bercanda! Gak ada otak!'
Mata-mata itu kecewa berat. Rencananya ingin memotret bukti perselingkuhan untuk dihancurkan nama baik Langit dan Intan, gagal total. Ia segera menghilang saat melihat Rio, pengawal pribadi Langit, mulai berjalan mendekati area itu.
Sosok mata-mata itu ternyata tak lain adalah PARDI. Dia berjalan cepat kembali ke rumahnya dengan napas memburu namun wajahnya penuh amarah yang tertahan.
Baru saja ia melangkah masuk ke halaman, ia mendengar suara percakapan samar dari dalam ruang tengah. Dewi ternyata masih ada di sana, sedang bicara dengan istrinya.
"Besok jam sepuluh kita harus pergi ke saung sungai..." bisik Dewi yang tak sengaja terdengar jelas di telinga Pardi.
Mata Pardi langsung menyala licik. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang sangat menyeramkan.
'Oh, jadi kalian mau kumpul di saung sungai? Bagus... tempat yang pas buat jadi kuburan massal kalian!' batinnya penuh niat jahat.
Dengan cepat Pardi menyelinap ke sudut gelap, mengeluarkan ponsel bututnya dan mulai mengetik pesan dengan jari yang gemetar karena nafsu membunuh.
"UNO! Besok pagi di SAUNG SUNGAI. Bawa semua orang, bawa senjata tajam. BANTAI SEMUA YANG ADA DI SITU! Jangan ada yang tinggal nyawa!"
Tak berhenti di situ, dia mengetik lagi pesan kedua dengan hati yang busuk.
"Sementara kalian urus mereka di sana, aku sama Jaji dan orang-orang yang membayar kita akan meruntuhkan rumah tua nenek penyihir itu (Nenek Wati). Hancurkan semua sampai rata dengan tanah!"
Pesan terkirim. Pardi menyimpan ponselnya, tersenyum sangat lebar dan licik.
"Tunggu saja besok, Langit. Kali ini kau dan selirahmu tidak akan bisa lari lagi. Harta dan nyawamu akan jadi milikku!"
# JANJI HATI
Angin sepoi-sepoi berhembus, daun-daun teh berdesir lembut. Intan kembali menggenggam tangan Langit erat.
"Setelah semua ini selesai... apa rencanamu Ngit? Tetap di kampung atau pergi mencari jati diri dan keluargamu yang sebenarnya?"
Langit menatap jauh ke horizon gelap, tersenyum teduh.
"Kampung ini adalah rumahku. Kalian semua adalah keluargaku. Tak peduli seberapa jauh aku pergi nanti, aku pasti akan kembali. Dan aku janji... aku akan selalu menjaga Nenek, kamu, dan Adi-Adel dengan nyawaku sendiri."
Tiba-tiba suara langkah kaki ringan terdengar. Rio datang memberi isyarat bahwa semua sistem keamanan sudah aktif dan siap.
Intan berdiri, menepuk-nepuk bahu Langit lembut.
"Istirahatlah ya Nak. Besok akan menjadi hari yang sangat panjang dan berat."
Saat Intan berjalan menjauh, Langit memandangi punggung wanita itu sambil memegang syal di tangannya.
Di tengah badai besar yang siap meledak besok pagi, ia sadar ada satu hal berharga yang harus ia lindungi selain tanah dan nama baik... yaitu hati dan perasaan yang baru saja mulai tumbuh subur di antara mereka.
Bersambung.