Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang di Sektor Selatan
Pesawat kargo militer yang membawa Arkan dan Liana mendarat di landasan pacu darurat di pinggiran kota saat hujan badai melanda Jakarta. Dengan identitas yang disamarkan oleh Unit 9—yang kini mereka curigai memiliki agenda ganda—keduanya melompat dari pintu belakang pesawat tepat sebelum menyentuh landasan pacu yang licin.
Sektor Selatan telah berubah.
Dulu, tempat ini adalah labirin kumuh dengan aroma sampah dan keputusasaan. Kini, gedung-gedung beton bertulang baja berdiri angkuh dengan papan reklame holografik yang menampilkan janji-janji kesejahteraan dari pemerintah. Namun, Arkan bisa merasakan denyut nadi yang sama: ketakutan yang disembunyikan di balik dinding-dinding kaca yang mengkilap.
"Tempat ini terasa asing," bisik Liana sembari mengeratkan jaket hitamnya.
Mereka berjalan menembus gang sempit menuju dermaga tua, tempat kedai The Old Anchor berada.
"Arsiteknya mungkin berubah, Liana, tapi pondasinya tetap dibangun di atas darah keluarga kita," balas Arkan, matanya terus memindai setiap sudut jalan.
The Old Anchor adalah sebuah bar kayu yang tampak rapuh di antara bangunan-bangunan modern di sekitarnya. Bau kayu lapuk dan tembakau menyambut mereka saat pintu berderit terbuka. Di pojok ruangan yang remang-remang, Gideon duduk dengan satu botol wiski yang tinggal separuh. Tato kalajengking di punggung tangannya tampak lebih pucat, seperti bekas luka yang enggan hilang.
Gideon tidak mendongak saat Arkan dan Liana duduk di depannya. "Kalian terlambat dua jam. Unit 9 punya pengawal yang payah atau kalian memang rindu dengan udara Alpen?"
"Berhenti berbasa-basi, Gideon," Arkan meletakkan kunci perak yang dikirimkan ke Swiss di atas meja. "Apa maksud pesanmu? Siapa yang membiarkan ibuku pergi?"
Gideon menuangkan wiski ke gelas kosong, lalu mendorongnya ke arah Arkan.
"Varo. Dia bukan kapten biasa, Arkan. Dia adalah bagian dari faksi 'Eksodus' di dalam Unit 9. Mereka tidak ingin menghancurkan Project Phoenix. Mereka ingin memilikinya. Malam itu di Pandora, ledakan itu adalah pengalihan. Varo secara pribadi mengevakuasi Elena ke fasilitas rehabilitasi rahasia di bawah tanah Sektor Selatan ini."
Liana terperanjat. "Di bawah kita? Tapi untuk apa? Ibuku... Elena sudah tidak punya apa-apa lagi."
"Dia punya kuncinya, Gadis Bunga," Gideon menatap Liana dengan mata satu-satunya yang tersisa.
"Sinkronisasi semalam berhenti di 99.9%. Ada satu fragmen kode yang hanya bisa aktif melalui trauma psikologis yang ekstrem. Varo sedang menunggu saat itu tiba. Dia memelihara ibumu seperti hewan percobaan."
"Dan Hendra?" tanya Arkan, suaranya sedingin es.
"Hendra adalah hantu. Dia bekerja untuk penawar tertinggi. Saat ini, dia berada di bawah perlindungan konsorsium internasional yang ingin membeli Phoenix dari Varo," Gideon mencondongkan tubuhnya. "Kalian dikirim ke Swiss bukan untuk diselamatkan, tapi untuk diparkir sampai mereka membutuhkan 'pemicu' biometrik dari kalian lagi."
Tiba-tiba, suara langkah sepatu bot yang berat terdengar dari luar kedai. Gideon segera merogoh senapan pendek dari balik meja. "Sial, mereka melacak frekuensi kunci perak itu. Varo tidak akan membiarkan rahasianya bocor lebih jauh."
Brak!
Pintu depan kedai hancur diterjang tim taktis Unit 9. Cahaya laser merah menyambar-nyambar di dalam ruangan yang gelap.
"Ke dapur! Sekarang!" teriak Gideon sembari melepaskan tembakan yang menjatuhkan dua penyerbu pertama.
Arkan menarik Liana, merangkak di balik meja bar yang tebal. Ia mengambil Glock-nya, membalas tembakan dengan presisi yang menakutkan. Di tengah kekacauan itu, Liana melihat sebuah panel kontrol di bawah kasir bar.
"Arkan, cover aku! Aku akan meretas jaringan mereka untuk mematikan visi malam mereka!" Liana merogoh perangkat kecil dari sakunya, menyambungkannya ke kabel LAN yang tersembunyi.
"Cepat, Liana! Kita terkepung!"
Tiga puluh detik yang menentukan. Cahaya di dalam bar meledak, lalu mati total dalam kegelapan yang pekat. Suara kepanikan terdengar dari tim Unit 9 karena sensor penglihatan malam mereka mengalami feedback cahaya yang menyilaukan.
"Sekarang! Lewat pintu bawah tanah!" perintah Gideon.
Mereka melompat ke dalam sebuah lubang rahasia yang menuju ke sistem gorong-gorong kota tua. Di bawah sana, air setinggi lutut menyambut mereka. Gideon memimpin jalan, napasnya memburu.
"Varo akan menutup seluruh sektor ini dalam hitungan menit," ucap Gideon sembari berhenti di sebuah
persimpangan terowongan.
"Ambil kunci ini. Ini adalah akses menuju fasilitas rehabilitasi bawah tanah tempat ibumu disekap. Aku akan memancing mereka ke arah pelabuhan."
"Gideon, kau tidak akan selamat jika sendirian," ucap Liana, menahan lengan pria tua itu.
Gideon tersenyum kasar, memperlihatkan gigi peraknya yang tersisa. "Aku sudah mati sepuluh tahun lalu di malam kebakaran itu, Nak. Ini hanya masalah waktu untuk mengubur jasadnya. Pergilah! Selamatkan ibumu, atau bunuh dia sebelum Varo mendapatkan apa yang dia inginkan!"
Gideon berlari ke arah berlawanan, melepaskan tembakan ke udara untuk menarik perhatian pasukan pengejar. Arkan dan Liana berdiri di kegelapan terowongan, menatap kunci akses di tangan mereka.
"Arkan, jika apa yang dikatakan Gideon benar... kita sedang berjalan menuju jebakan Varo," ucap Liana lirih.
Arkan menatap ke depan, ke arah kegelapan yang menuju jantung Sektor Selatan.
"Mungkin. Tapi kali ini, kita tidak akan menjadi bidak di papan catur mereka. Kita akan membakar papannya."
Mereka mulai melangkah jauh ke dalam kegelapan, menuju tempat di mana Elena Dirgantara—dan masa lalu mereka—menunggu dalam sunyi.