NovelToon NovelToon
Saat Takdir Menautkan Hati

Saat Takdir Menautkan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenangan Kecil yang Pahit

Malam semakin larut, menyelimuti kota dengan selimut kegelapan yang dingin. Di apartemen kecilnya, Vira masih terduduk di lantai, ponsel mati di genggaman tangan. Pikiran kalutnya tak hanya dipenuhi oleh masalah keuangan dan ancaman penjara, tapi juga dihantui oleh bayang-bayang satu nama yang kini menjadi satu-satunya harapan, namun juga sumber rasa gengsi terbesarnya.

Farzhan Ibrahim.

Jika saja pria itu bukan orang yang paling mampu membantunya, mungkin Vira sudah rela menyerahkan nasibnya pada takdir. Tapi masalahnya, sejak kecil hingga dewasa, Tuhan seolah memiliki selera humor yang sangat buruk dengan terus menyatukan jalan mereka. Dan setiap kali mereka bertemu, yang tersisa bukanlah kenangan manis seperti di film-film, melainkan tumpukan memori yang rasanya lebih pahit daripada jamu gendong.

Vira menghela napas panjang, matanya menatap kosong ke arah lampu tidur yang remang-remang. Perlahan, kesadarannya melayang kembali ke masa lalu, ke titik di mana segalanya bermula. Ke hari di mana ia pertama kali menyadari bahwa hidupnya akan selalu rumit karena kehadiran seorang Farzhan Ibrahim.

 

Tahun 2006...

Hari itu cerah sekali, atau mungkin justru sangat mendung, Vira tidak begitu ingat. Yang ia ingat jelas adalah aroma kue cokelat yang sangat wangi, suara tawa anak-anak, dan dekorasi balon warna-warni yang memenuhi ruang tamu sebuah rumah besar yang megah.

Saat itu usia mereka baru menginjak enam tahun. Hari itu adalah hari ulang tahun Farzhan yang keenam. Sebagai anak tunggal dari keluarga kaya raya, pesta itu digelar sangat meriah. Semua anak dari lingkungan elit dan rekan bisnis orang tua diundang. Termasuk Vira, yang datang bersama Evan dan Fenny, yang saat itu sudah sangat lama bekerja sebagai asisten atau tangan kanan ayah Farzhan, Zyan Ibrahim.

Vira saat itu masih kecil, gemas, dengan rambut dikepang dua dan gaun pita merah muda. Ia merasa dirinya adalah putri kecil yang paling cantik sedunia. Namun sayangnya, otak kecilnya belum seindah penampilannya. Ia ceria, lincah, dan... sangat aktif, sangat penasaran.

"Vi, main yang sopan ya, jangan nakal," pesan ibunya sebelum melepaskannya bermain.

Tentu saja pesan itu masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.

Saat itu, Farzhan berdiri di tengah ruangan. Ia mengenakan setelan jas kecil yang rapi, rambut yang disisir halus, dan wajahnya sudah menampilkan aura 'bos kecil' yang serius. Ia tidak berlari-lari seperti anak-anak lain. Ia berdiri tegak, menerima ucapan selamat dengan anggukan kepala yang sopan namun kaku.

Bagi orang dewasa, Farzhan adalah anak yang sempurna. Cerdas, tenang, dan sangat teratur. Tapi bagi Vira, pria kecil itu terlihat membosankan sekali. Seperti patung pajangan yang mahal tapi kaku.

"Hai!" seru Vira kecil dengan polosnya, mendekati Farzhan yang sedang memegang gelas jus jeruk. "Kamu kok diam aja di sini? Ayo kita main kejar-kejaran!"

Farzhan menoleh, menatap Vira dari atas ke bawah dengan mata bulatnya yang tajam. Waktu itu, di usia enam tahun, Farzhan sudah bisa mendefinisikan satu hal dengan sangat jelas: Gadis ini sangat berbahaya.

"Aku tidak suka main kejar-kejaran," jawab Farzhan kecil dengan suara datar, sedikit lebih dewasa dari umurnya. "Nanti bajuku kotor. Dan rambutku ikut berantakan."

"Ah, kamu penakut!" ejek Vira, lalu terkekeh. "Kamu kayak orang tua aja. Membosankan!"

Vira tidak tahu bahwa kata 'membosankan' itu telah mencatat dosa pertamanya di buku catatan pribadi Farzhan. Sejak detik itu, Farzhan mencatat nama Vira Calista sebagai kategori: Gadis cerewet, tidak sopan, dan potensial sebagai pembuat onar.

Insiden besar pun tak terelakkan beberapa menit kemudian.

Saat acara pemotongan kue, semua anak berkerumun ingin melihat kue ulang tahun yang besar dan indah itu. Vira yang penasaran ingin melihat lebih dekat, mendorong-dorong teman-temannya dengan antusias. Sayangnya, kakinya yang kecil tersandung ujung karpet mewah.

Brak!

Dengan gaya gravitasi yang bekerja sangat cepat, tubuh mungil Vira melayang sebentar, lalu mendarat dengan sempurna... tepat ke arah kue ulang tahun Farzhan. Dan yang lebih parah, saat ia mencoba menahan badan, tangannya malah mendorong bahu Farzhan yang berdiri di sampingnya.

Akibatnya?

Kue cokelat seharga jutaan rupiah itu hancur lebur terkena tubuh Vira. Dan Farzhan? Jas rapinya terkena cipratan krim, wajah tampannya terkena sedikit cokelat, dan yang paling menyedihkan, sepatu kulit mahalnya terinjak-injak oleh Vira yang panik.

Suasana hening seketika. Semua anak menutup mulut. Farzhan berdiri kaku, menatap bajunya yang kotor, lalu menatap kue yang sudah menjadi bubur, lalu menatap Vira yang wajahnya dipenuhi krim.

Di usia enam tahun itu, air mata Farzhan hampir keluar, bukan karena sedih, tapi karena marah dan muak. Namun ia menahannya dengan gengsi tinggi. Ia hanya menunjuk Vira dengan jari telunjuknya yang gemetar.

"Kamu..." suara Farzhan kecil terdengar bergetar menahan emosi. "Kamu ceroboh! Kamu bodoh! Kamu penghancur!"

Vira yang ketakutan malah menangis lebih keras duluan. "Hikss! Aku nggak sengaja! Aku minta maaf, ya?" ucapnya dengan mata yang basah. Namun anak laki-laki itu acuh dan menjauh.

Sejak hari itu, label melekat pada diri Vira di mata Farzhan: Musuh Utama dan Sumber Masalah Nomor Satu.

 

Kenangan itu terus berlanjut hingga mereka masuk Taman Kanak-Kanak, lalu Sekolah Dasar. Dan sialnya, mereka selalu satu sekolah. Bahkan sering satu kelas. Bagi Farzhan, ini adalah bentuk penyiksaan batin terbesar dari Tuhan.

Farzhan adalah murid teladan. Buku catatannya rapi, tulisannya indah, seragamnya selalu licin seperti baru disetrika. Sementara Vira? Buku tulisnya sering hilang, pulpennya selalu habis tinta tanpa sebab, dan seragamnya seringkali ada noda entah itu tinta, tanah, atau sisa makanan.

Ingatan Farzhan tentang Vira adalah kumpulan bencana mini yang tak berkesudahan.

Insiden Tas Sekolah SD

Saat kelas 4 SD, Farzhan pernah meminjamkan tasnya. Tas sekolah bermerek mahal yang baru dibeli ayahnya. Ia meminjamkan kepada Vira karena tas Vira robek terkena paku. Farzhan melakukannya karena terpaksa diminta oleh orang tua, bukan karena ikhlas.

"Jangan di kotorin, ya. Jangan di rusak," pesan Farzhan ketat.

"Siap, Zhan!" jawab Vira ceria.

Hanya butuh waktu satu hari. Saat Farzhan ingin mengambil tasnya kembali, ia hampir pingsan melihat kondisinya. Tas itu tidak hanya kotor, tapi ada noda tinta merah yang tumpah di bagian dalam, ada bekas permen yang lengket, dan yang paling parah... ada bekas beberapa ekor semut pada bagian bawah karena Vira lupa membuang sisa roti di dalamnya.

"VIRA!" teriak Farzhan saat itu, suaranya melengking tinggi. "INI TAS ATAU TEMPAT SAMPAH?!"

Vira hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ahahaha, maaf, ya. Kan tasnya besar gitu, berarti fungsinya banyak, kan?"

Farzhan saat itu berjanji pada dirinya sendiri: Jangan pernah baik sama Vira. Nanti menyesalnya setengah mati.

Insiden Laboratorium SMP

Masuk masa SMP, sifat Farzhan semakin perfeksionis. Ia suka segala sesuatu yang presisi dan benar. Sedangkan Vira? Vira adalah definisi dari kekacauan yang estetik.

Saat pelajaran biologi di laboratorium, mereka ditugaskan mengamati sel hewan menggunakan mikroskop. Farzhan sudah menyiapkan kaca preparat dengan sangat hati-hati, menyesuaikan lensa dengan presisi tinggi.

"Sudah bisa dilihat, Vi. Jangan diubah-ubah settingannya," kata Farzhan sambil mencatat hasil pengamatan.

Vira mengangguk patuh. Tapi karena matanya kurang normal, ia memutar tombol fokus dengan sembarangan. Terlalu kencang.

Krek!

Suara tulang lensa mikroskop yang patah terdengar jelas. Lensa objektif yang terbuat dari kaca itu retak dan hancur bersentuhan dengan kaca preparat.

Guru yang datang melihat kejadian itu langsung marah besar. "Siapa yang melakukannya? Alat ini mahal sekali!"

Farzhan menghela napas panjang, merasa lelah hidup. Ia mengangkat tangan dengan wajah datar. "Saya, Pak. Atau lebih tepatnya... teman saya."

Sejak saat itu, Farzhan sadar bahwa berada di dekat Vira sama saja dengan mengundang malapetaka. Vira adalah badai. Vira adalah gempa bumi. Vira adalah segala sesuatu yang merusak keteraturan hidupnya yang indah.

 

Masa SMA pun datang. Farzhan tumbuh menjadi remaja tampan, tenang, dan disegani banyak orang. Vira tumbuh menjadi gadis cantik, manis, tapi tetap saja... ceroboh dan cengeng.

Hubungan mereka tidak membaik. Justru semakin runcing. Karena mereka sering bertemu di acara keluarga atau acara bisnis orang tua, interaksi mereka tak terhindarkan.

Farzhan ingat betul, setiap kali ada acara makan malam resmi, Vira pasti menjadi pusat perhatian... tapi karena kesalahannya sendiri. Pernah suatu kali, saat acara makan malam penting dengan banyak tamu penting, Vira yang sedang berjalan anggun tiba-tiba tersandung kaki meja, dan nasi goreng di piringnya tumpah tepat ke pangkuan Farzhan yang sedang memakai celana bahan mahal.

"Ya ampun, Vira!" bentak Farzhan saat itu, tidak peduli ada banyak orang. "Kamu itu jalan pakai apa? Mata atau punggung?"

Vira yang merasa bersalah dan malu, langsung menangis. "Hiks! Kamu jahat! Kenapa teriak-teriak didepan orang! Aku kan tidak sengaja! Kaki meja nya yang maju sendiri!"

Alasan Vira yang selalu tidak masuk akal itu semakin membuat Farzhan gemas. Bagaimana bisa seseorang secerdas itu (secara akademis Vira pintar) bisa seberuntung itu dalam hidup? Setiap kali berbuat salah, dia menangis, dan semua orang akan memarahi Farzhan karena dianggap tidak sabar.

"Farzhan, jangan galak-galak sama Vira dong, kan dia anak yang cantik," kata orang dewasa sering menggoda.

"Cantik tapi bahaya, Om. Seperti gunung berapi. Siapa yang tahu kapan dia meletus," jawab Farzhan sinis.

Bagi Farzhan, kenangan tentang Vira adalah daftar panjang kerugian. Baju kotor, barang rusak, waktu terbuang, dan emosi yang terkuras. Vira adalah gadis sembarangan yang tidak bisa menjaga barang, tidak bisa menjaga diri, dan selalu membuat masalah yang sepele menjadi besar.

Farzhan sering berpikir, andai saja saat ulang tahun ke-6 itu Vira tidak menabrak kuenya, mungkin hidupnya akan jauh lebih tenang. Mungkin ia tidak akan terikat dengan gadis menyebalkan itu seumur hidup.

Tapi takdir memang lucu. Semakin Farzhan ingin menjauh, semakin dekat mereka dipaksa bertemu. Hingga akhirnya kuliah pun mereka ambil di universitas yang sama, di jurusan yang bahkan memang sama.

 

Kembali ke masa kini, di apartemen yang sunyi itu. Vira mengusap pipinya yang basah. Ternyata mengingat semua itu rasanya campur aduk.

Ia tersenyum kecut. "Pantesan dia benci banget sama aku," gumamnya pelan. "Dari kecil aku emang selalu bikin dia emosi. Baju kotor, kue hancur, alat sekolah rusak... Ya Tuhan, aku ini memang bencana alam berjalan, ya."

Tapi di balik semua kenangan pahit dan pertengkaran itu, Vira sadar satu hal. Farzhan mungkin selalu memarahi, mengomeli, dan mengejeknya. Tapi tidak pernah sekalipun Farzhan benar-benar membiarkannya sendirian saat masalah datang. Saat tas Vira hilang, Farzhan yang meminjamkan uang untuk membeli baru dengan syarat harus mencatat hutang dengan rapi (sesuai gaya dia). Saat Vira terlambat ujian, Farzhan yang memberinya tumpangan dengan wajah cemberut.

Farzhan Ibrahim itu memang dingin, memang kaku, memang mulutnya tajam seperti pisau dapur. Tapi hatinya... entahlah. Vira tidak pernah berani memastikan.

"Dan sekarang..." Vira menatap ponselnya lagi. "Aku mau minta tolong sama orang yang udah aku hantui dan kacaukan hidupnya berkali-kali sejak umur 6 tahun."

Bayangan wajah Farzhan saat tahu masalah ini muncul di kepala Vira. Pria itu pasti akan marah besar. Pasti akan mengomel panjang lebar. Pasti akan berkata, 'Sudah kubilang kan Vi, kamu itu nggak bisa diandalkan. Selalu aja bikin masalah besar.'

Gengsi Vira kembali membumbung tinggi. Rasanya ingin menghilang saja dari muka bumi. Tapi ancaman penjara dan rasa malu membuat orang tuanya jauh lebih menakutkan.

"Ah, sudah lah!" Vira menghentakkan kakinya ke lantai. "Mending dimarahin dia seumur hidup daripada masuk penjara. Farzhan... kamu memang musuh bebuyutanku. Tapi kali ini... tolong selamatkan aku ya."

Meski berat, meski rasanya ingin muntah karena gengsi, Vira tahu bahwa langit malam ini mungkin sedang menyusun skenario baru. Kenangan pahit masa kecil itu mungkin bukan sekadar permusuhan, tapi sebuah ikatan yang tak terputus, yang kini menuntut mereka untuk bertemu lagi dalam situasi yang jauh lebih rumit dari sekadar tumpahan kue ulang tahun.

1
Pich
kenapa ga di cium sekalian haeh🥱
Rocean: masih kicik🤣
total 1 replies
Sheer
asikkk ada yg cemburu🤣🤭
Sheer
boleh juga vira . diam diam 🤭
Rocean: diam diam menghanyutkan ya
total 1 replies
Sheer
demen bnget kalo cerita yang sangai gini.
Rosella
lucu bangets yaampun🤣
Pich
ihh gemas deh sama mereka🤭
Pich
dia pikir mau ngapain🤣
Rocean: 🤣🤣🤣🤣
entahlah
total 1 replies
Seai
🥴
Rosella
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!