NovelToon NovelToon
Mr. Profesor

Mr. Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Cintapertama
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Amabillis.13

​Bagi dunia, Taritzuya Hazal Paradise (Zoya/20) memiliki segalanya. Namun dibalik semua itu, jiwa Zoya mati rasa. Setiap pencapaian luar biasa yang ia raih demi senyuman sang ayah dan perhatian ibunya, justru menyisakan kehampaan yang mencekik. Ia tidak tahu tujuan hidupnya dan mengapa ia harus melakukannya? Dan berharap dari orang yang tidak menjadikan-nya prioritas.

Lalu ia berpikir ia harus punya mimpi, karena mimpi adalah arti manusia hidup di dunia ini.

Ketika mimpi terbesarnya untuk menjadi aktris terbaik ditentang keras, Zoya memilih satu-satunya jalan keluar: Melarikan diri, membuang nama besarnya, dan hidup sebagai gadis biasa.

​Di tengah pelariannya, takdir mempertemukannya dengan Arlodiat Sadjatmiko... seorang profesor muda jenius yang sedingin es. Zoya mengerahkan segala trik rayuan untuk mencairkan hati sang Profesor.

​Namun, ketika rayuannya mulai membuahkan cinta yang tulus, kenyataan menghantamnya tanpa ampun, kenyataan apa itu? Mari simak ceritanya 🫣

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 7

Saat mereka menyadari, cahaya di luar jendela telah berubah. Langit perlahan dipenuhi warna keemasan sang senja yang hangat.

Zoya merapikan barang-barangnya, memasukkan catatan ke dalam tas dengan rapi.

“Terima kasih, Profesor,” ucapnya sopan.

Arlo hanya mengangguk.

Namun setelah Zoya pergi, ia tidak langsung bergerak. Ia tetap duduk di kursinya, menatap ke arah pintu yang baru saja tertutup.

Ruangan kembali sunyi.

Di luar kampus, Zoya berdiri di area penjemputan. Ia sendirian, menunduk sambil memainkan ponselnya. Angin sore berhembus pelan, menggerakkan rambutnya yang jatuh lembut di bahu.

Sebuah mobil melintas.

Dari balik kaca, Arlo melihat sosok itu sekilas. Ia langsung mengenalinya.

Di dalam pikirannya, muncul keinginan sederhana… menyapa. Bertanya apakah ia sedang menunggu jemputan. Bahkan… mungkin menawarkan tumpangan.

Namun keinginan itu berhenti di sana.

Kata-kata itu tidak pernah keluar.

Ia teringat penolakannya ketika Zoya ingin mentraktirnya makan membuatnya ragu. Ia tidak yakin bagaimana harus memulai percakapan tanpa terdengar aneh.

Pada akhirnya, ia hanya melanjutkan perjalanan.

Mobil itu pergi begitu saja.

Keesokan paginya, pukul enam.

Necki membuka pintu kamarnya dan langsung terdiam.

Di ruang tamu, Zoya tertidur di sofa. Naskah masih berada di tangannya, terlipat sedikit karena tertindih.

Ia tampak sangat lelah, namun tidur dengan tenang.

Necki mendekat, menatapnya beberapa saat. Namun ia tidak membangunkannya. Ia hanya menghela nafas pelan, lalu berjalan ke dapur.

Di dalam mobil, Zoya kini memegang buku matematika. Matanya fokus, seolah dunia di sekitarnya tidak ada.

Necki meliriknya beberapa kali sebelum akhirnya bertanya,

“Kenapa akhir-akhir ini kamu sibuk belajar? Ada ujian?”

“Tidak ada,” jawab Zoya santai. “Aku hanya merasa harus bekerja keras.”

Necki mengangkat alis.

“Besok kamu mulai syuting. Tapi aku hanya sekali melihat kamu belajar naskah.”

Zoya menoleh, tampak bingung.

“Aku sudah menghafalnya.”

Necki menatapnya tidak percaya.

“Kapan?”

“Semalam.”

Hening sejenak.

Necki akhirnya hanya mengangguk pasrah. Ia mengingat kembali siapa Zoya sebenarnya… dan memilih tidak bertanya lagi.

Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama.

Zoya datang lebih awal, duduk di barisan depan, dan mengikuti kelas dengan serius. Setelah kelas selesai, ia selalu mendekati Arlo dengan catatan penuh pertanyaan.

Hubungan mereka berkembang perlahan… bukan melalui percakapan ringan, tetapi melalui diskusi yang konsisten.

Hingga suatu hari, saat merapikan barang, Zoya berkata ragu,

“Profesor… bagaimana kalau saya mentraktir Anda makan?”

Arlo sempat terdiam. Ia memang sedang memikirkan cara untuk memulai percakapan. Tawaran itu membuatnya ragu sejenak… lalu ia mengangguk.

Namun yang tidak ia duga… Zoya tidak membawanya ke restoran.

Melainkan ke apartemennya.

Lokasinya tidak jauh dari kampus. Hanya sekitar sepuluh menit berjalan kaki.

Begitu Zoya membuka pintu, Beben, anjing peliharaannya, segera berlari menghampiri sambil menggoyangkan ekor dengan riang menyambut kepulangannya. Namun, saat melihat Arlo berjalan mengikuti di belakang Zoya, gerakan ekor Beben seketika terhenti.

Zoya tertawa kecil.

“Silakan masuk. Profesor.”

Zoya mempersilakan Arlo masuk, lalu menuangkan segelas jus untuknya. Setelah itu, ia berkata,

“Profesor selalu membantu saya menyelesaikan masalah. Jadi, saya tidak tahu bagaimana harus berterima kasih. Saya juga tidak bisa mengajak Anda ke restoran… mungkin nanti saja saya ceritakan setelah makan. Lagipula, makanan di luar terlalu banyak mengandung bahan tambahan, dan saya kurang menyukainya. Jadi, menurut saya memasak sendiri lebih terjamin kualitasnya. Saya harap Anda tidak keberatan.”

Arlo mengangguk cepat, sedikit canggung.

Arlo yang canggung sama sekali tidak menyadari kilatan licik di mata Zoya. Namun tetap bersikap tenang, meski dalam hati ingin tertawa melihat Arlo yang begitu kikuk.

Zoya tersenyum, lalu segera menyibukkan diri di dapur.

Tak lama kemudian, suara air mengalir dan pisau yang memotong sayuran terdengar dari dalam. Disusul desisan minyak panas di wajan serta dentingan sudip yang beradu dengan penggorengan. Perlahan, aroma harum yang menggugah selera mulai menyebar dari dapur.

Begitu mencium aroma itu, Beben berlari kecil menuju dapur, seolah meminta jatah makan. Zoya memang sudah menyiapkan porsinya. Ia pun meletakkan makanan ke wadah anjingnya, lalu kembali melanjutkan memasak.

Tak lama, meja terisi.

Empat hidangan tumis, satu sup, dan nasi hangat tersaji di meja.

Sederhana… namun terasa istimewa.

Arlo mulai makan.

Dan tanpa sadar… ia menikmati setiap suapannya. Mereka makan dalam diam. Namun anehnya… tidak terasa canggung.

Setelah selesai, Zoya menyajikan buah dan camilan. Arlo menyesap teh buah dengan ekspresi puas yang jarang terlihat.

Meskipun Arlo dikenal kaku dan teliti, ia memiliki satu kelemahan kecil yang jarang diketahui orang lain: ia sangat menyukai makanan dan sangat pemilih soal rasa. Namun, karena penampilannya yang selalu datar dan sikapnya yang jarang berkomunikasi, bahkan keluarganya sendiri tidak menyadari kebiasaan ini.

Kini, setelah mencicipi masakan Zoya, tatapan Arlo kepadanya perlahan melunak… Tanpa ia sadari, ia sudah “terkena”.

Zoya tidak menyadari bahwa ia secara tidak sengaja telah mengenai “titik lemah” Arlo. Ia justru sedang memikirkan cara meminta nomor ponsel pria itu agar bisa terus menjalin hubungan. Namun, Arlo-lah yang lebih dulu membuka suara.

“Jika kamu memiliki pertanyaan lagi di masa depan, jangan ragu untuk mencariku.”

Dalam benak Arlo, jika Zoya datang mencarinya dan ia membantu menyelesaikan masalahnya, gadis itu pasti akan mentraktirnya makan lagi. Membayangkan bisa menikmati makanan selezat ini, ia diam-diam berharap Zoya akan mencarinya setiap hari.

Zoya mengerjapkan mata, lalu berkata pelan, “Anu, Profesor… sebenarnya saya ingin mengatakan bahwa belakangan ini saya ada urusan. Jadi, mungkin untuk sementara waktu saya tidak bisa menemui Anda.”

“Ada urusan?” Arlo mengerutkan alisnya yang tegas.

Zoya menatapnya, mendadak ragu. “Profesor… sebenarnya, saya akan syuting. Mm… saya seorang aktris.” Begitu mengucapkan kalimat itu, jemarinya tanpa sadar menegang pelan di atas cangkir teh.

Setiap kali memperkenalkan pekerjaannya, Zoya selalu merasakan perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Seolah-olah ia sedang bersiap menerima penilaian. Ia takut Arlo akan bereaksi seperti ibunya dulu. Menganggap dirinya menyia-nyiakan kemampuan yang ia miliki.

Ibunya pernah berkata dengan kecewa bahwa orang sepertinya seharusnya berada di laboratorium, ruang penelitian, atau setidaknya menjadi akademisi… bukan berdiri di depan kamera dan menjual emosi kepada publik.

Karena itu, setiap kali mengatakan bahwa dirinya seorang aktris, Zoya selalu merasa sedikit tidak percaya diri. Ia takut melihat tatapan kecewa yang sama muncul di mata orang lain.

Alis Arlo semakin berkerut. “Seorang aktris?”

Zoya segera menambahkan, “Iya, awalnya saya hanya seorang influencer makanan. Namun, belakangan ini saya mendapatkan peran dalam sebuah film dengan jadwal yang cukup panjang. Karena harus masuk lokasi syuting, saya mungkin tidak bisa mengikuti kuliah dan menemui Profesor untuk bertanya dalam waktu yang cukup lama."

1
Filan
emang cucunya
Filan
yah kan biar ditunda dulu misterinya
Filan
itu sengaja biar ga ketahuan itu keluarga tunangannya 🤣
Filan
ganti mobil doang
Filan
kekerabatannya bergaya china ya.
Filan
aih, ada catatan kakinya tapi di tengah.
fhallenopsis amabilis: iya nih, awalnya letaknya di bawah, tapi aku pernah edit, karena sebelumnya aku kn ga tau plig bagus 1000 kata. bab ku awalnya 700/800 kata.
total 1 replies
Filan
pasti pernah ada kejadian traumatis
Filan
ada apa dengan ayahnya?
Filan
oke. bagus tuan. kamu sekali-kali perlu cosplay jadi rakyat biasa atau pedagang kaki lima.
Filan
kubilang juga dia ga bisa tidak menonjol 🤣
selalu hadir dengan heboh.
Filan
bab ini full narasi Adelia.
Filan
oke. emang si Zoya nyamar ya. ga perlu ijazah dia.
fhallenopsis amabilis: Homeschooling (atau sekolah rumah) adalah metode pendidikan alternatif di mana orang tua memilih untuk mendidik anak-anak mereka sendiri di rumah, alih-alih mengirim mereka ke sekolah formal konvensional.
​Dalam sistem ini, orang tua memegang kendali penuh atas materi pelajaran, jadwal belajar, hingga metode pengajaran yang disesuaikan dengan minat, bakat, dan kecepatan belajar anak. Ada alasnnya zoya jenius, dia sudah melampaui teman² seusianya. Dia kuliah cuma pengen aja, namun lama² dia bosan, jadi dia tidak pernah masuk.
total 2 replies
Filan
karena dia cuma pura-pura ga peduli
Filan
ngapain lagi nih orang. jangan2 dia adiknya winarno itu ya? si pria cantik satunya?
Filan
yaudah. kamu putuskan saja tunangan sama Zoya buat mengejar Zoya. Kamu ga pernah ya, lihat nama Zoya di daftar absensi? Apa dalam pendidikan pun Zoya pakai nama palsu? Ijazahnya gimana ntar.
fhallenopsis amabilis: zoya kn home scholing
total 2 replies
Filan
bakal merasa tersaingi ceritanya
Filan
Sandiwaramu cukup melelahkan..
Lagian apa Zoya nggak pernah isi daftar hadir perkuliahan hingga ga tahu atau ga baca nama lengkap dosennya sendiri?
Pas dikasih tahu masuk kelas siapa dan lihat jadwal juga pasti ada sih nama Profesor, Dr, Arlo blablabla... nama lengkap dan gelarnya.
fhallenopsis amabilis: kalau pas semester dia pasti liat namanya, tapi arlo kn baru ngajar semester ini. sayang sekalii...🤭
total 4 replies
Filan
lah, udah jelas tahu sebabnya, karena kamu sendiri berusaha provokasi Arlo. Apa kamu pikun, pake marah segala.
Bukannya harus girang provokasi berhasil?
Filan
ya udah jadi pengawalnya Zoya
Filan
ya ampun mereka childish banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!