Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.
Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.
Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.
Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.
Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.
Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Drama di Acara Kartini
Aula SMA pagi itu bertransformasi menjadi lautan warna yang memukau. Wangi melati yang segar menyeruak di antara wangi parfum mahal, menciptakan atmosfer yang sakral sekaligus meriah. Janur kuning dan kain-kain batik tersampir anggun di pilar-pilar ruangan, sementara lampu panggung memberikan efek dramatis pada setiap busana tradisional yang dikenakan oleh warga sekolah.
Para siswa yang biasanya terlihat santai dengan kaus kaki pendek dan baju dikeluarkan, kini tampil berbeda. Siswa laki-laki tampak gagah dengan beskap, batik, hingga pakaian adat luar Jawa yang gagah, sementara para siswi terlihat sangat anggun dengan kebaya dan sanggul yang ditata rapi. Tak ketinggalan, para guru pun ikut berpartisipasi, mengenakan pakaian adat terbaik mereka yang menambah kewibawaan suasana.
Acara pun dimulai dengan dentuman musik gamelan yang menggema. Pak Wiguna, sang Kepala Sekolah, naik ke atas podium memberikan sambutan pembuka yang penuh semangat tentang semangat Kartini di era modern. Suasana terasa formal saat Pak Yanto, selaku Pembina OSIS, memberikan laporan, diikuti oleh Dean yang naik ke panggung dengan tenang memberikan sambutan sebagai Ketua Pelaksana.
Di tengah riuhnya tepuk tangan, perhatian Vyan yang berdiri di sisi panggung teralihkan. Dari pintu samping, ia melihat Bu Dinda melangkah masuk, berdampingan dengan Pak Yoga. Keduanya tampak serasi, namun pemandangan itu justru membuat rahang Vyan mengeras. Tanpa membuang waktu, ia segera menghampiri mereka sebelum keduanya sempat mencari tempat duduk.
"Pak Yoga," tegur Vyan, memotong langkah mereka.
Bu Dinda dan Pak Yoga tersentak kaget. Mereka menatap Vyan yang berdiri tegak dengan tatapan yang sulit diartikan. Pak Yoga, dengan ketenangan khasnya, mencoba mencairkan ketegangan dan tersenyum ramah.
"Oh, Vyan. Kamu tampak sangat ganteng sekali pakai baju itu," puji Pak Yoga tulus.
Vyan tidak tampak sedikit pun tersanjung. Alisnya justru bertaut, seolah pujian itu hanyalah gangguan. "Oh, terima kasih. Bapak jadi salah satu juri lomba busana hari ini, kan?"
"Iya, benar sekali," jawab Pak Yoga.
"Oh, saya rasa, selain saya, anak-anak lain juga banyak yang berharap Bapak memuji mereka. Bukanlah baiknya, Bapak berkeliling daripada berdiri di sini?"
Pak Yoga tersenyum lebar. Ia sangat paham arah pembicaraan pemuda di depannya ini. Bahkan dia juga tahu terhadapnya Vyan lebih terbuka dalam menyindir.
'Aku mengerti sekali maksudmu, Vyan. Kamu ingin aku segera pergi agar tidak menemani ibumu di sini, kan?' batin Pak Yoga sedikit geli.
"Iya, kamu benar. Bapak memang berniat begitu," ucap Pak Yoga tenang. Ia menoleh ke arah Bu Dinda dengan tatapan sopan. "Saya permisi dulu, Bu Dinda. Ada tugas yang harus segera dimulai."
"Oh, iya. Silakan, Pak," jawab Bu Dinda datar. Pandangannya mengikuti kepergian Pak Yoga dengan sedikit rasa sesak.
Begitu Pak Yoga menjauh, Vyan mendekat ke arah ibunya. "Bun, hati-hati sama Pak Yoga...," bisik Vyan dengan nada memperingatkan.
"Memang, Pak Yoga kenapa, Vyan?" tanya Bu Dinda.
"Kurasa dia memiliki niat yang tidak baik," jawab Vyan seolah tidak mau menjelaskan lebih jauh.
Bu Dinda menatap putranya, lalu menghela napas panjang tanpa suara.
'Kamu terlalu berlebihan, Vyan. Harusnya kamu mengerti kalau aku belum punya banyak teman di sini, dan Pak Yoga adalah satu-satunya yang membuatku nyaman,' keluh Bu Dinda dalam hati.
Tanpa membantah, Bu Dinda segera melangkah pergi mencari tempat duduk di deretan kursi guru. Vyan memperhatikannya sampai sang ibu benar-benar duduk, barulah ia berbalik untuk kembali mengurus jalannya acara.
Bu Dinda duduk dengan wajah cemberut, menatap ke arah panggung dengan pikiran yang kacau. Namun, tiba-tiba sebuah suara familiar berbisik pelan tepat di belakang telinganya.
"Ayo ikut keliling, sambil kucing-kucingan sama Vyan."
Bu Dinda tersentak dan menoleh. Di sana, Pak Yoga berdiri dengan senyum jenaka yang seolah mengajak melakukan kenakalan kecil. Wajah Bu Dinda mendadak memerah. Rasa kesalnya menguap, digantikan dengan binar senang di matanya. Ia mengangguk cepat, lalu dengan langkah ringan ia mengikuti Pak Yoga, menyelinap di antara kerumunan siswa agar luput dari pengawasan mata elang putranya.
...****************...
Aula semakin padat, keriuhan siswa yang antusias memenuhi setiap sudut ruangan saat Dean mengakhiri sambutannya. Ia turun dari podium, menyerahkan kendali panggung kepada Dila dan Tegar yang bertindak sebagai pembawa acara. Di tengah kerumunan itu, seorang gadis dengan baju kurung berwarna merah muda berdiri diam, matanya menyapu panggung dengan saksama.
'Kenapa dia tidak tampil?' batin gadis itu, ada sedikit nada kecewa dalam pikirannya.
Saat acara lomba tari daerah dimulai, gadis berbaju kurung itu melangkah menghampiri beberapa panitia di dekat panggung. Begitu ia mendekat, beberapa siswa yang mengenakan atribut panitia menoleh dan seketika berseru kaget. Wajah-wajah yang tadinya tegang karena mengurus acara berubah menjadi penuh binar antusias. Gadis itu tersenyum tenang, lalu segera terlibat dalam percakapan akrab yang tampak sudah terjalin sejak lama.
Di sisi lain pintu masuk, seorang wanita berpenampilan elegan berjalan dengan langkah teratur. Matanya yang jeli terus mengamati setiap pasang mata dan detail pakaian yang lewat di depannya. Ia adalah salah satu juri profesional untuk lomba busana hari ini. Tangannya sibuk mencatat pada papan klip, menilai setiap siswa dan guru yang telah menyematkan nomor peserta di baju mereka.
Langkah wanita itu tiba-tiba terhenti. Ia terpana saat sepasang remaja melangkah masuk menembus pintu aula. Gadis itu tampak sangat anggun, sementara siswa di sampingnya terlihat sangat protektif. Mereka adalah Yasmin dan Ray.
"Apa kubilang! Kita masih bisa masuk, kan?" ucap Ray dengan nada penuh kemenangan, meski napasnya sedikit memburu.
"I... iya. Tapi acaranya sudah mulai, Ray," bisik Yasmin cemas, merasa semua mata mulai tertuju pada mereka.
"Kak Ray, ini nomornya," panggil seorang adik kelas yang bertugas di bagian pendaftaran. Ia menyodorkan dua keping nomor kepada Ray.
Ray segera menyambarnya. "Kamu pakai nomor 130 ini," ia menyerahkan kepingan itu kepada Yasmin, sementara ia menyematkan nomor 131 di dadanya sendiri. Ray memperhatikan Yasmin yang tampak kikuk, tangannya gemetar mencoba menyematkan peniti ke kain brokat halusnya.
"Hah, kamu ini lelet banget. Sini, biar aku bantu," ucap Ray seraya mengambil alih nomor itu. Ia mencondongkan tubuh, mencoba menempelkan nomor tersebut di bahu kanan Yasmin.
"Di bawah saja, Ray! Jangan di bahu," protes Yasmin pelan.
"Nanti tidak kelihatan sama jurinya!" balas Ray bersikeras. Namun, saat jemarinya bersentuhan dengan kain tipis di bahu Yasmin, Ray merasakan debaran aneh. Tangannya mendadak gemetar.
'Kenapa aku jadi grogi begini?' batin Ray heran pada dirinya sendiri.
Akhirnya, nomor itu terpasang meski sedikit miring. Juri wanita yang sejak tadi memperhatikan mereka tersenyum tipis, lalu jemarinya dengan cepat mencoretkan sesuatu di buku catatannya.
Sementara itu, di sudut lain, Agil sedang berbincang serius dengan seorang anggota OSIS junior. Ia sedang menanyakan berkas final tentang nama-nama yang akan diumumkan sebagai juara Kartini SMA tahun ini. Agil menerima sebuah map biru dan segera membukanya.
"Ada perubahan, Kak. Data barunya baru masuk semalam," lapor sang junior.
Mata Agil membelalak saat membaca daftar nama di dalamnya. "Apa? Kenapa bisa begini? Kenapa orang ini yang terpilih?"
"Tapi kata Dean, itu sudah keputusan mutlak dewan juri, Kak..."
"Apa kabar, Gil?" sebuah suara lembut namun tegas menyapa dari arah belakang.
Agil tersentak. Suara itu begitu akrab di telinganya, sebuah suara yang seharusnya tidak ada di sini hari ini. Ia segera berbalik dan seketika mematung. Di depannya, berdiri seorang gadis cantik dan anggun dalam balutan baju kurung berwarna pink yang sangat pas di tubuhnya.
"Zi... Zia...!" seru Agil tertahan.
Zia tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menanggapi keterkejutan luar biasa Agil dengan sebuah senyuman manis yang penuh rahasia.
Gema tepuk tangan penonton masih menyisakan keriuhan di dalam aula setelah klub teater mengakhiri pertunjukan opera mereka yang memukau. Namun, di barisan belakang, Vyan sama sekali tidak fokus pada panggung. Matanya tertuju pada pemandangan di sudut ruangan.
Ia memperhatikan Yasmin yang sedang duduk bersisian dengan Ray. Yasmin tampak sangat antusias menatap panggung, sementara Ray justru sebaliknya; ia seolah kehilangan minat pada acara dan hanya terpaku memperhatikan wajah Yasmin dari samping. Sebuah senyum tipis yang penuh arti terukir di wajah Vyan. Ia pun mulai melangkah menghampiri.
Ray menyadari kehadiran Vyan. Matanya melotot, memberi isyarat tajam agar Vyan tidak mendekat. Namun, alih-alih berhenti, Vyan justru melempar senyum mengejek dan terus melangkah dengan percaya diri.
"Ayo kita pindah tempat, Yasmin," bisik Ray gelisah. Ia segera berdiri, membuat Yasmin terperanjat.
"Ada apa, Ray?" tanya Yasmin bingung, ikut bangkit dari kursinya.
"Cantik, mau ke mana?" suara Vyan memotong, tepat saat ia sampai di depan mereka.
Yasmin menoleh. "Eh, Kak Vyan!"
Tepat saat itu, pandangan Vyan terlempar ke arah kerumunan di pintu belakang aula. Ia melihat Agil yang tampak sibuk mencari seseorang di tengah lautan manusia. Namun, bukan Agil yang membuat napas Vyan mendadak tertahan. Ia terpana, tubuhnya mendadak kaku dan gugup saat melihat gadis yang berdiri tepat di samping Agil.
Zia.
Jantung Vyan berdegup kencang. Dalam hitungan detik, ia melihat Agil sudah menemukannya. Agil tampak berseru pada gadis itu, "Itu Vyan, Zia...!"
Vyan berpikir cepat. Ia tidak boleh terlihat lemah atau goyah di depan Zia, apalagi setelah semua yang terjadi di masa lalu. Ia melirik Ray dan Yasmin yang baru saja hendak melangkah pergi. Vyan mengejar mereka.
"Cantik, tunggu!" seru Vyan.
Yasmin berhenti dan menoleh dengan wajah polosnya. "Ya? Ada apa, Kak Vyan?"
"Ada yang mau aku katakan..." ucap Vyan, suaranya merendah. Ia mendekat, memperkecil jarak di antara mereka hingga napasnya terasa di wajah Yasmin.
Agil melangkah mendekat dengan semangat, hendak mempertemukan Zia dengan sahabatnya itu. Namun, satu detik kemudian, langkah Agil membeku. Matanya melotot tak percaya.
Di depan mata Agil, dan tepat di bawah pandangan Zia yang baru saja tiba, Vyan mencondongkan tubuhnya, berbisik sejenak, lalu mencium bibir Yasmin.
Kejadian itu hanya berlangsung beberapa detik, tapi waktu seolah berhenti berputar di dalam aula. Suara riuh penonton mendadak senyap bagi orang-orang yang berada di titik itu dan kebetulan melihat adegan itu. Ray terpaku dengan tangan mengepal, Agil membeku dalam keterkejutan, dan Zia berdiri mematung dengan tatapan yang sulit diartikan. Sebuah aksi nekat yang berhasil membekukan perasaan setiap orang yang menyaksikannya.