Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 8 Keluarga yang tidak Pernah Hangat
Jika kunjungan ke rumah orang tua Rania terasa seperti diterjang badai tropis, maka perjalanan menuju rumah keluarga Gavin malam itu terasa seperti menuju ruang sidang eksekusi.
Sunyi.
Dingin.
Menyesakkan.
Rania melirik pria di sampingnya untuk ketiga kalinya dalam sepuluh menit.
Gavin menyetir dengan fokus penuh.
Terlalu fokus.
Tidak ada candaan menyebalkan.
Tidak ada senyum santai khasnya.
Rahangnya terlihat mengeras.
Tangannya menggenggam setir sedikit terlalu kuat.
Dan untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Gavin tampak benar-benar tegang.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Rania akhirnya.
“Baik.”
Jawaban terlalu cepat.
Bohong.
Rania menyandarkan punggung ke kursi.
“Kamu kelihatan seperti mau menghadapi audit pajak.”
“Kurang lebih.”
Ia menoleh sekilas.
“Keluarga saya... berbeda," kata Gavin.
Rania mengangkat alis.
“Berbeda bagaimana?”
Gavin terdiam beberapa detik, seolah menimbang seberapa banyak yang perlu ia ceritakan.
“Kalau keluarga kamu tipe yang akan memeluk orang lima menit setelah kenal, keluarga saya tipe yang menilai kualitas seseorang dari cara dia memegang sendok saat makan malam.”
Rania berkedip.
“Oh.”
“Itu reaksi yang wajar.”
Ia mengembuskan napas.
“Kalau ibu saya bertanya sesuatu yang terdengar seperti interogasi diplomatik, jawab singkat.”
“Kalau ayahmu?”
“Jawab lebih singkat.”
“Menarik.”
“Kalau mereka diam terlalu lama...”
“Itu artinya?”
“Mereka sedang menghakimi.”
Rania menatap lurus ke depan.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa gugup.
Biasanya Gavin adalah orang yang selalu mengendalikan situasi.
Kalau bahkan dia terlihat setegang ini, berarti malam ini tidak akan mudah.
Rumah keluarga Atmajaya berdiri megah di kawasan elite pusat kota.
Bukan rumah.
Lebih tepatnya semacam mansion modern dengan pagar besi hitam tinggi, taman simetris, dan air mancur yang terlihat begitu mahal untuk sekadar menyiram batu dekoratif.
Saat mobil berhenti di depan pintu utama, Rania menatap bangunan itu cukup lama.
“Kamu tinggal di sini?”
“Sayangnya.”
“Aku mulai paham kenapa ego kamu sebesar gedung kantor kita.”
Gavin terkekeh pelan.
Untuk pertama kalinya malam itu, ketegangan di wajahnya sedikit mencair.
“Terima kasih. Saya anggap itu pujian.”
Seorang asisten rumah tangga membukakan pintu.
“Selamat malam, Tuan Gavin.”
“Papa dan Mama sudah di ruang makan?” Tanya Gavin pada asisten rumah tangga itu.
“Sudah menunggu.”
Kalimat itu terdengar seperti vonis.
Mereka melangkah masuk ke dalam mansion.
Suasana terasa dingin.
Tidak ada foto keluarga besar.
Tidak ada suara televisi.
Tidak ada bekas rumah yang ditinggali orang hangat.
Terlalu rapi.
Terlalu sunyi.
Bahkan ruang makan keluarga Mahendra terlalu sempurna.
Meja panjang dari kayu hitam mengilap.
Lampu gantung kristal.
Peralatan makan yang bahkan mungkin lebih mahal dari gaji bulanan beberapa manajer.
Dan di ujung meja, duduk dua orang dengan aura yang langsung membuat Rania mengerti kenapa Gavin bisa gugup.
Daniel Atmajaya.
Ayah Gavin.
Presiden komisaris salah satu grup investasi terbesar di kota.
Wajahnya tegas, tatapannya tajam, rambutnya sudah beruban rapi.
Di sebelahnya duduk Ambar Mahendra.
Elegan.
Anggun.
Dan memiliki ekspresi yang begitu tenang.
Begitu Gavin dan Rania masuk, keduanya menoleh bersamaan.
Rania refleks meluruskan punggung.
“Selamat malam, Pa. Ma.”
Gavin terdengar formal.
Sangat formal.
Berbeda sekali dengan gaya santainya di kantor.
Daniel mengangguk singkat.
Sementara Ambar tersenyum tipis.
“Jadi ini Rania.”
Bukan pertanyaan.
Lebih seperti menilai.
Rania melangkah maju.
“Selamat malam, Om. Tante. Saya Rania Azarina.”
Ambar menatapnya dari ujung kepala sampai kaki.
Bukan tatapan kasar.
Justru terlalu halus.
Dan entah kenapa, itu jauh lebih mengintimidasi.
“Duduklah.”
Makan malam dimulai dalam keheningan.
Tidak ada obrolan ringan.
Tidak ada basa-basi.
Hanya suara denting alat makan.
Rania melirik Gavin.
Pria itu makan dengan tenang.
Terlalu tenang.
Seperti sudah terbiasa dengan suasana seperti ini.
Akhirnya Ambar membuka percakapan.
“Rania bekerja di divisi yang sama dengan Gavin?”
“Iya, Tante.”
“Posisi?”
“Manager Strategic Marketing.”
Ambar mengangguk.
“Kandidat direktur regional,” tanya nya memastikan.
Rania sedikit terkejut.
“Iya.”
Daniel akhirnya bicara.
“Prestasi bagus untuk usia dua puluh sembilan.”
“Daniel,” tegur Ambar pelan.
“Apa?”
“Kamu membuatnya terdengar seperti wawancara.”
“Bukankah memang begitu?”
Hening.
Rania menahan napas.
Lalu, di luar dugaan, Gavin meletakkan sendoknya.
“Kami datang bukan untuk evaluasi kandidat.”
Daniel menoleh.
Tatapannya tajam.
Untuk sepersekian detik, ruangan terasa makin dingin.
“Kami datang untuk memberi tahu bahwa saya dan Rania akan menikah hari Sabtu.”
Denting keras terdengar.
Garpu di tangan Ambar jatuh ke piring.
Daniel membeku.
Sementara Rania nyaris ikut menjatuhkan gelas.
Reaksi ini jauh lebih dramatis dari yang ia bayangkan.
Ambar berkedip beberapa kali.
“Sabtu ini?"
"Iya".
"Empat puluh delapan jam lagi?”
"Iya".
Daniel menatap putranya lama.
Lalu berkata datar,
“Apakah kamu sedang bercanda?”
“Tidak.”
Ambar meletakkan serbet perlahan.
“Gavin.”
Nada suaranya tetap lembut.
Tapi justru itu terdengar berbahaya.
“Kamu bahkan tidak pernah memperkenalkan perempuan kepada kami.”
“Saya tahu.”
“Lalu tiba-tiba datang membawa calon istri dan bilang menikah dalam dua hari?”
“Iya.”
Ambar menoleh pada Rania.
Tatapannya lebih lembut.
“Maaf kalau saya terdengar langsung. Tapi boleh saya tahu sejak kapan kalian bersama?”
Ini dia.
Pertanyaan jebakan.
Rania dan Gavin saling melirik.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu Gavin menjawab tenang.
“Dua tahun.”
Rania nyaris tersedak air.
Lagi?!
Kenapa selalu dua tahun?
Namun kali ini Daniel menyipit.
“Kalau begitu kenapa baru sekarang?” tanya Daniel.
Sial.
Mereka tidak menyiapkan jawaban.
Rania membuka mulut.
Menutupnya lagi.
Otaknya bekerja cepat.
Lalu akhirnya ia menjawab,
“Karena saya yang minta menunda.”
Semua mata langsung tertuju padanya.
Rania menelan ludah.
“Karier saya sedang berada di fase penting. Saya tidak ingin hubungan pribadi mengganggu profesionalitas kami.”
Ambar menatapnya lama.
Sangat lama.
Lalu—
ia tersenyum.
Senyum pertama yang benar-benar tulus malam itu.
“Itu jawaban yang cerdas.”
Rania sedikit lega.
Namun Daniel belum selesai.
Ia menatap Gavin.
“Dan kamu menunggu?”
Gavin mengangguk.
“Iya.”
“Tanpa protes?”
“Kalau seseorang layak diperjuangkan, menunggu bukan masalah.”
Untuk sesaat— bahkan Gavin sendiri membenci betapa mudah kebohongan itu keluar dari mulutnya.
Karena semakin lama berada di dekat Rania— semakin sulit membedakan mana bagian sandiwara… dan mana yang mulai terasa nyata.
Rania membeku.
Apa-apaan ini?
Kalimat itu terlalu mulus.
Terlalu meyakinkan.
Dan entah kenapa membuat dadanya terasa aneh lagi.
Daniel menatap putranya cukup lama.
Lalu bersandar.
“Saya harap ini bukan keputusan emosional.”
Nada suaranya tetap datar.
“Karena dalam keluarga ini, keputusan impulsif biasanya berakhir buruk.”
Kalimat itu terdengar biasa.
Tapi jemari Gavin berhenti bergerak.
Sangat kecil.
Hampir tidak terlihat.
Tapi cukup membuat Rania sadar—
kalimat itu melukai sesuatu.
Sepertinya ada hal lain dalam keluarga ini yang belum ia pahami.
“Baik, jika itu sudah menjadi pilihan kalian" Lanjut Daniel.
Kata-kata itu cukup untuk membuat suasana mencair.
Untuk pertama kalinya sejak mereka datang, ekspresinya sedikit melunak.
Ambar mengembuskan napas lega.
“Kalau begitu kita harus mulai mempersiapkan semuanya.”
Rania menatap Gavin.
Ekspresi pria itu tetap tenang.
Tapi di bawah meja, jemarinya terkepal.
Tegang.
Refleks.
Tanpa berpikir panjang, Rania mengulurkan tangan dan menyentuh punggung tangannya sebentar.
Sekadar isyarat kecil.
Seakan memberi tahu.
Tenang.
Saya di sini.
Begitu menyadari apa yang ia lakukan, Rania langsung menarik tangannya.
Terlambat.
Gavin sudah menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk sepersekian detik, tidak ada protes.
Tidak ada ejekan.
Hanya keheningan aneh yang membuat jantung Rania berdetak sedikit lebih cepat.
Lalu Ambar tersenyum tipis.
“Cocok.”
Rania tersentak.
“Apa?”
“Kalian.”
Beliau menyesap tehnya.
“Cara kalian saling menjaga itu tidak bisa dipalsukan.”
Rania langsung menegang.
Kalau saja beliau tahu.
Satu jam kemudian, saat mereka akhirnya keluar dari mansion itu, Rania mengembuskan napas panjang.
“Ya Tuhan.”
Gavin menatapnya.
“Separah itu?”
“Sekarang saya paham kenapa kamu gugup.”
Ia menoleh padanya.
“Dan saya resmi menarik semua ejekan saya sebelumnya.”
“Semua?”
“Sebagian besar.”
Gavin tersenyum kecil.
Lalu berhenti melangkah.
“Rania.”
“Apa?”
“Terima kasih.”
Ia mengernyit.
“Untuk?”
“Tadi.”
Rania tahu maksudnya.
Sentuhan singkat di bawah meja.
Ia mendadak salah tingkah.
“Itu refleks biologis.”
Gavin menatapnya beberapa detik.
Lalu terkekeh.
“Sekarang kamu pakai kalimat saya.”
Rania mendecak dan langsung berjalan lebih dulu menuju mobil.
Namun saat membuka pintu mobil, ia sadar satu hal.
Karena untuk pertama kalinya— saat Gavin mengatakan:
“Kalau seseorang layak diperjuangkan, menunggu bukan masalah.”
Ada bagian kecil dalam dirinya…
yang berharap kalimat itu tidak sepenuhnya bohong.
Dan kesadaran itu jauh lebih menakutkan daripada bertemu kedua orang tua Gavin sekaligus.
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.